Secret

1119 Words
Kalau bukan karena Orion, Rinai pasti belum pernah sekalipun hafal ruangan satu ke ruangan lainnya. Setiap lorong di star seperti dibuat membingungkan, hanya melihat foto Aiden sebagai wajah utama membuat Rinai merasa ditemani. Mendadak dia berhenti tiba-tiba, bukan karena melihat hantu atau semacamnya. Rinai tidak takut dengan makhluk seperti itu, bukankah Aiden adalah mahluk yang sama? Dia menyelinap masuk ke ruangan yang setengah terbuka. Lalu mencari tempat persembunyian yang aman, di balik gorden. "Kan aku udah bilang, Max, Aiden gak ada harapan buat kembali ke Star. Dan satu-satunya cara agar aku bisa mendapatkan Anya adalah dengan membuat pria itu pergi dari dunia ini. Santai, aku memanipulasi semua orang. Kamu tahu kan? Ziao dari dulu tidak menyukai hubungan Anya dan Aiden karena apa?" Max menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia sangat berteman baik dengan Ziao, dan sekarang bagaimana mungkin Max harus melakukan sesuatu yang mengancam nama baiknya. "Baik, baik, baik. Tapi setelah ini jangan ganggu aku lagi. Aku mau hidup tenang di Star, kamu tahu kan hukuman apa yang didapatkan kalau di antara penghuni di sini melakukan tindakan kriminal? Apalagi ini perencanaan pembunuhan, Zein?" "Kita tidak membunuhnya. Hanya kesalahan pada mobil yang dia kendarai. Bukan salah kita sepenuhnya, Max." Max tetap khawatir, paling mengerikan selain masuk penjara adalah Max tidak akan pernah bisa diterima di agensi musik manapun. Dan juga, wajahnya bakalan di blacklist dari media. Parahnya lagi, Max dan darah dagingnya dilarang mendaftar ke Star sampai kapan pun. Jadi, pria itu namanya Zein? Tapi siapa? Dan tadi kalau tidak salah, pria itu menyebut nama Felix, tidak asing. Aiden pernah menyebutnya beberapa kali, sayang, Rinai punya otak yang tidak terlalu jernih mengingat nama seseorang. Dan soal Max, Rinai tidak menyangka. Kenapa banyak sekali kasus yang disembunyikan di sini? Kenapa orang sebaik dan sejujur Aiden punya banyak musuh hanya karena takut jadi hambatan untuk setiap musisi? Mereka semua sudah pergi dari ruangan yang entah ruangan apa, napas Rinai seperti diburu. Sayang sekali, dia tidak bisa merekam pembicaraan mereka. Apakah Rinai harus meletakkan alat perekam di sini suatu hari nanti? Dia keluar dari persembunyiannya dan akhirnya bisa sampai ke kamar. Gena sudah tertidur sedangkan Wintang selalu main game sampai tengah malam. "Dari mana?" "Keliling." "Penjaga aja gak serajin lu, Nai. Lagi jadi detektif atau gimana sih?" Sebenarnya Rinai butuh partner, tapi apakah Wintang akan percaya semua yang dikatakan olehnya? Apalagi tentang Aiden yang bisa hadir dalam bentuk hantu? Tidak. Rinai tidak ingin dianggap aneh. Mungkin suatu hari nanti Rinai bakalan meminta bantuan, untuk sekarang dia bisa melakukannya sendiri. "Nothing. Kadang kalau gak bisa tidur suka uji nyali sendiri. Nyatanya sampai sekarang aku aman-aman aja tuh. Gak ada yang katanya kursi di lorong bisa gerak sendiri atau lukisan Aiden bisa kedip-kedip. Emang mereka aja yang pikirannya horor." Banyak memang yang selalu bilang Star akan jadi tempat menyeramkan terkhusus lorong menuju tempat-tempat latihan atau pertemuan. Rinai lebih sering melewati tempat itu dan berharap bisa masuk lagi ke ruangan favorit Aiden. Sudah lama sekali Rinai tidak berbincang dengan pria itu, apalagi semenjak Aiden pergi begitu saja saat Rinai menjelaskan sesuatu yang penting. Dan lucunya, dia malah berakhir tumbang di kamar apartemen juga digendong Jo. Ah, Rinai lupa lagi kalau dia harus mengucapkan terima kasih pada Jo. "Ya mungkin gak sebagian orang seberani lu. Besok ada jadwal jogging, bangunin gue ya! Dan juga, jam 10 pagi ada tamu spesial sih. Gak tahu siapa, lupa. Tadi Kak Tere chat aku." "Oke. Tapi, kamu mau nggak nemenin aku ke suatu tempat?" Wintang membuka lagi selimutnya dan menunggu Rinai menyebut tempat tujuannya. Kalau bersama Gena, mereka lebih sering ke tempat belanja atau paling parah pasti Wintang dan Rinai jadi tukang nyamuk karena menunggu Gena cap cip cup dengan pacarnya. Yang lain ngontrak di dunia ya, Mbak! "Ke club. Ada orang yang harus kutemui." Wintang kaget, ternyata Rinai pernah ke tempat seperti itu. Dia tidak jadi bertanya karena Rinai sudah masuk ke kamar mandi. (Bagian Kedua) Hosh. Hosh. Hosh. Wintang istirahat untuk yang kesekian kalinya, Gena ikut menyusul. Beda dengan Rinai yang gesit sejak tiba di lapangan. Ada banyak sekali keganjalan yang muncul dadakan di otaknya. Ayolah! Rinai butuh istirahat. Masa bodo dengan Max, Felix, Zein! "Nai, udahan yuk! Laper. Lu gak mau kan balik ke kamar sambil gendong gue!" Suara Wintang yang memanggilnya akhirnya menyadarkan Rinai. Dia berbalik dan tersenyum, tak sadar kalau Rinai belakangan ini sangat aneh. Kadang curhat sendiri, ngamuk sendiri dan banyak lagi kerandoman yang terjadi pada dirinya. Kantin tidak lebih ramai, mungkin mereka bertiga terlalu pagi datangnya. "Makan dulu apa mandi dulu, hm?" "Nanti kalau ada coach yang ikut ke sini, kitanya belum mandi jadi malu dong?" cemas Gena. Rinai mendelik kesal, "Apa hubungannya mandi, makan dan dilihatin coach? Kalau laper ya makan, mereka juga gak bakalan protes kok?" Gena memasang wajahnya cemberut, akhirnya mandi dulu karena Wintang selalu mengutamakan bau badannya ketimbang isi perutnya. Sedangkan Rinai melirik setiap orang yang bersimpangan. "Jangan masang wajah horor gitu, Nai. Dikira kita cari masalah sama mereka." "Siapa?" Wintang menyebut nama, Rinai tidak kenal. Katanya beberapa orang yang masuk seperti Wintang, bagian orang dalam. Orang-orang seperti itu pasti merasa bisa menguasai star dan nilai tambahan dari para coach. Sebut saja, jalur VIP. Rinai hanya tersenyum, dia memang tidak sengaja menatap anak-anak jalur VIP dengan tatapan sengak. Gena memperingatkan teman satu unitnya beberapa kali. "Mereka bukan siapa-siapa. Lagian, gak ada strata sosial di aturan Star, Gena. Gak usah ketakutan gitu, kita di sini karena kemampuan kita." Wintang setuju, dia lebih dulu sampai di kamar dan langsung mandi. Sadar diri kalau di kamar mandi, Wintang akan menjadikan itu rumahnya sendiri dan lupa kalau ada dua manusia yang sudah tidak sabar mengantri. Ketiga-tiganya sudah rapi, wangi dan pede. Gena menggandeng tangan Rinai dan Wintang, baginya sudah serasa keluarga. Rinai yang tidak pernah berasalan saat dimintai bantuan dan Wintang yang kelihatan gak peduli padahal perhatian. Wintang pun merasa demikian. Baru kali ini merasakan eratnya kekeluargaan dari dua orang yang punya karakter aneh. "Kita duduk di situ yuk, dekat jendela. Lumayan kan bisa absenin cogan. Apalagi yang namanya Orion, beih! Ganteng banget tahu gak sih." Ucapan Gena membuat Rinai mengangkat satu alisnya. Siapa Orion? Sepertinya nama itu tidak asing? Wintang langsung blabas mengambil makan, bolak balik karena Gena dan Rinai menjaga meja. Mendadak saja, satu orang tengil menaruh makanannya dan menyuruh Gena juga Rinai pergi. "Gak lihat, kami di sini lebih dulu?" Semua orang bisik-bisik. Rinai melihat dari atas sampai bawah, branded, ori. Apakah ini yang katanya anak-anak jalur VIP? Bakat gak ada, dananya ada. Cih, Rinai malah merasa kasihan. "Pegel tangan gue nih, minggir. Teman gue juga mau makan." Melihat teman-temannya diganggu, Wintang langsung melingkis kaosnya dan meletakkan piring dengan keras. Tatapannya tajam menatap Kiara, mereka saling kenal tapi tidak pernah bicara. Akhirnya satu geng itu mengalah, ya, untuk kali ini saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD