Please, Comeback

1110 Words
Sebenarnya, Wintang sangat mengenal siapa Kiara sampai ke akar-akarnya. Perempuan seumuran yang selalu merasa punya kelas atas di Star. Merasa lebih rendah dari siapa pun karena bukan dari orang kaya, Rinai tidak mau bikin ulah. Beda dengan Wintang. Mana mau mengalah padahal sudah mengantri lama? "Sepertinya dia masih satu marga denganmu. Kusuma? Iya kan? Biasa, orang-orang kaya selalu saja berlagak." "Termasuk gue?" Gena mengangkat dia jari, tanda peace. "Dulu emang iya, lu tuh nyebelin banget. Gak ada masalah eh diada-adain. Hidup itu apa adanya, Tang. Kayak Rinai tuh, dia mah diajak nyebur got juga mau." Lebih dari dua bulan lebih tinggal di asrama menjadikan Gena lebih akrab. Apalagi Rinai melarangnya untuk memanggilnya dengan embel-embel Kakak Rinai. Baiklah, Wintang akan mengingat pesan Gena untuk lebih apa adanya. Dia memang cuek tentang penampilan. "Nanti ada les kan sama coach kalian? Gue absen kayaknya. Ada urusan." "Bilang aja mau kencan sama Ajuna." Uhuk-uhuk! Rinai tersedak minumannya. Jadi, pria itu sudah sadar kalau sebenarnya yang menyukai Ajun bukan Rinai, tapi Wintang. Congrats deh! So, apakah cuma Rinai yang akan jomblo saja? Malu-malu untuk mengaku, Rinai memelototinya. Akhirnya Wintang angkat bicara, jujur pada Gena kalau Ajun pernah nembak Rinai tapi tidak diterima. Katanya sih ada yang disukai Rinai. "Oh, kalian terjebak cinta segitiga. Gila sih, tapi ya udah biasa." datar Gena. Rinai menyangkal, apalagi dia tidak pernah merasa punya hubungan spesial sebelumnya dengan Ajun. Pria itu seratus persen adalah teman kampus saja. Urusan absen, Gena bisa mengakalinya. Kebiasaannya dulu saat masih sekolah. Apalagi Wintang tidak pernah dilakukan begitu buruk karena memiliki jalur VIP juga di sini yaitu Kak Tere. Usai sarapan, Gena langsung menuju tempat les, berpisah dengan Rinai. Tatapan tak suka dari Kiara membuat Gena merinding. Rasanya seperti berhadapan dengan komplotan mafia. Kalau boleh jujur, Rinai sedang banyak masalah. Masalah kampusnya yang mungkin sebentar lagi akan sidang pertama. Juga masalah Aiden yang kini sudah mulai terbongkar busuknya orang-orang di sini. Bukan cuma Zein, tapi Max ikut terseret. Ah, pasti akan sangat menyakitkan kalau Aiden tahu masalah ini. Apalagi setelah mencari tahu, ternyata Felix yang membuat mereka bisa merencanakan kecelakaan tunggal di Hongkong. "Nai, hei, malah ngelamun. Kebanyakan begadang sih, makanya lemes." "Ah, sorry-sorry. Congrats buat kamu Wintang. Bye-bye." Rinai memang tidak tahu bagaimana cara mendapatkan barang bukti. Apakah dia akan bergerak malam ini demi sebuah misi? Lalu, siapa yang akan menjadi partner penyelidikannya? Sedangkan Gena hanya geleng-geleng saja melihat keanehan Rinai. (Bagian Kedua) Sekitar satu jam, Rinai terjebak di antara kebosanan. Dia menatap Ziao yang sedang melatih ada sekitar 10 pemula yang hendak ingin bisa bermain piano. Di star memang tidak hanya bernyanyi dan olah vocal saja yang bagus. Ada olahraga rutin, teknik pengambilan napas saat berada di konser besar juga tepat waktu. Meskipun bukan peraturan yang ketat, tapi tepat waktu memang diunggulkan di sini. "Karena sudah terlalu banyak kalian mendengarkan lagu-lagu lawas, kalian tahu dan kenal Rinai Asmara?" Deg! Apa-apaan? Kenapa Ziao memanggil namanya secara acak? Pria itu menyuruhnya maju. Meskipun tidak akan disuruh apa-apa, Rinai paling anti memberi motivasi. Hidupnya saja tidak termotivasi apa pun kecuali masalah uang. "Hello, saya Rinai. Sebenarnya saya tidak punya bakat apa-apa. Suara biasa-biasa saja, punya ketakutan terhadap kamera dan banyak lagi yang tidak bisa saya lakukan. Tapi, melihat berapa banyaknya orang hebat di sini, membuat saya berpikir. Kalau mereka bisa, kenapa saya tidak?" Tepuk tangan membuat Rinai membungkuk, dia kini duduk atas perintah Ziao lagi dan wajib kembali ke tempat duduknya setelah selesai memainkan satu lagi. Dan yeah, setelah lama tidak melihat Aiden, pria itu tiba-tiba saja datang ke tempatnya. Tepat berada di hadapannya, hanya terjengkal jarak satu meter saja. Aiden mengedipkan mata dan wush! Tubuh Rinai memberi reaksi aneh, Ziao bertanya apakah Rinai baik-baik saja. Mungkin karena gugup dan belum bersiap-siap. "Saya baik-baik saja, Coach." Permainannya mulai terdengar. Lagu Always You ciptaan Aiden sendiri membuat siapa saja yang sedang berlatih ikut menonton. Always you pernah besar di beberapa negara. Lagi sesedih itu adalah lagu di mana Aiden sedang kehilangan diri sendiri sebagai seorang penyanyi. Tapi, dengan kemampuan Rinai yang mengemas lagu menjadi penghibur, beberapa orang ikut menangis bukan karena cengeng, tapi terharu. "Mirip dengan Aiden kan, Nya?" tanya Tere. Anya mengangguk, hatinya patah. Dia kehilangan seseorang yang membuat dirinya merasa utuh. "Aku hanya merasa kesal kenapa aku tidak pernah berhasil seindah Rinai." "Mungkin kamu benar-benar belum mengenal Aiden." "Lalu, siapa Rinai? Perempuan itu ancaman, Tere. Dia bukan siapa-siapa." Meskipun tidak suka ikut campur dengan urusan orang lain, tapi Wintang tidak suka temannya dibicarakan oleh orang lain di belakang. Dia baru saja terlambat dan ikut nimbrung ke tim saudaranya, Tere. Mendengar Anya menyebut nama Rinai, sepertinya wanita itu tidak suka punya saingan. Hish, dasar bermuka dua. Ini yang dibilang banyak pria kalau Anya adalah wanita paling kalem di star? Apanya! "Sudahlah. Mungkin di dunia ini ada orang yang bisa bermain seperti Aiden. Aiden saja meniru pemain barat, hanya saja dengan keunikan sendiri. Kamu juga bisa seperti dia, nanti. Ya, suatu saat nanti." Bersamaan dengan itu, Rinai sudah selesai. Keringatnya membasahi punggung, Aiden tersenyum juga ikut bertepuk tangan. Seandainya pria itu nyata, pasti Rinai akan memeluknya. "Kayaknya kita baru saja menonton konser besar meskipun tanpa MC dan pembukaan ya?" canda Ziao. Tapi, tatapannya kini mengarah pada Anya. Jelas sekali wanita itu iri, Always You adalah lagu yang sulit. Butuh puluhan kali Anya mengingat cara Aiden memainkannya. Sedangkan Rinai masih berusaha menghilangkan kegugupannya. Dia menatap tembok kosong, padahal ada Aiden di sana. Meskipun dia dulu sangat sebal diganggu hantu itu, tapi sekarang sudah beda lagi. Aiden, pria itu juga menjadi alasan lain kenapa Rinai mau masuk ke star agensi. "Permainan kamu bagus. Kukira kamu hanya peniru saja. Video kamu saat dulu ikut gelombang pertama lewat daring sempat viral. Kebetulan, kakekku adalah seorang pianis, hanya saja dia jarang berada di Indonesia. Dia sangat mengagumi Aiden. Aku yakin, setelah melihat permainan kamu tadi, kakek juga akan mengagumimu." Rinai tersipu malu. Dia memang harus bersiap-siap untuk lebih sering menyapa orang-orang yang memuji permainannya. "Salahkan untuk kakekmu ya, Jes. Pastikan nanti kita bisa bermain dan collab, aku juga ingin menantang Aiden duel denganku." Jessi tertawa dan mengangguk setuju. Aiden mendengar semua itu, menunggu apa yang baru saja diucapkan Rinai benar-benar terjadi. "Oke. Ini hanya sebagai pemanasan, kita bisa lanjut tiga hari lagi. Star selalu memiliki kompetisi dadakan agar mental kalian terlatih. See you next time and bravo, Star!" "Bravo!" jawab anak-anak serentak. Akhirnya. Apa tadi kata Ziao? Pemanasan? Mana ada pemanasan lebih dari satu jam? Gena lebih dulu berlari ke kamarnya, pasti kebelet. Wintang mendekati Rinai, dia malah mengira tadi Rinai kebingungan dan tidak setuju Wintang bertemu dengan Ajun. "Aku gak cemburu, hey! Ada seseorang yang kusuka dan bukan dia." bisik Rinai pada Wintang. Mereka tertawa, membuat Aiden penasaran. Sedang menertawakan apa?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD