I'm Fine

1116 Words
“Kurasa sekarang kamu bakalan punya fans, Nai. Pasti senang rasanya, seperti yang dulu aku rasakan.” Rinai masih iseng memainkan tuts piano milik Aiden. Meskipun pria itu bilang studio atau villanya tidak diketahui banyak orang, bukankah Anya tahu tempat ini? Tapi, kenapa sekalipun mereka tidak pernah berpapasan? Atau sebenarnya wanita itu tidak lagi mengkhawatirkan hubungannya? Ah, bodo amat! “Maybe aku juga ingin punya fans di jalan dan meminta tanda tangan. Rasanya jadi orang terkenal pasti melelahkan, kan?” Aiden menyuruh Rinai membuka almari kayu dengan depan bahan kaca, padahal dari luar saja sudah nampak apa yang ada di dalam. “Bukalah,” ucap Aiden. Ini pertama kalinya dia memperbolehkan seseorang untuk menyentuh penghargaan yang dia punya. Bahkan Anya saja tidak pernah memiliki kesempatan itu. Lalu, Rinai akhirnya bisa menatap banyaknya trofi, piala kemenangan dan juga piagam konser. Prestasi membanggakan. Ada satu foto di mana Aiden muda sangat menggemaskan. Ah, pria itu tidak sadarkah kalau dia tampan? Tangan Rinai menyentuh patung dengan bentuk cahaya matahari di atasnya, meskipun Rinai tidak tahu patung piala itu berbahan dasar apa? Tapi, Rinai sangat itu, itu piala kemenangan besar bagi Aiden. “Saat itu aku ikut kompetisi besar di Singapura. Dan juga, ada banyak anggota Star yang ikut, Ziao, Anya, Zein dan Max. Mereka satu timku, kami menang!” Betapa senangnya ekspresi Aiden. Mendadak Rinai ingat kalau Zein lah dalang kecelakaan Aiden terjadi. Akhirnya dia sudah memegang kunci, tinggal mencari dan mengumpulkan bukti. Satu-satunya cara adalah menggeledah tempat tinggal pria itu, pria yang merasa dari dulu Aiden adalah saingan, hanya saja pura-pura berkedok sebagai teman. Kenapa mereka bisa akrab sebagai teman? Kasihan sekali, Aiden. Punya banyak teman yang berusaha menjatuhkannya. “Ngomong-ngomong, apakah kamu kenal Orion?” Rinai menatap langit-langit tembok, matanya menerawang ke atas dan berpikir seseorang yang disebutkan Aiden. Orion? Siapa ya? “Drummer bukan?” akhirnya Rinai ingat, jadi pria itu. Aiden mengangguk, sempat beberapa kali melihat Rinai bersama dengan pria itu. Bahkan saat ada acara latihan sesama anggota star, Orion sering mengamati Rinai dari kejauhan. Hanya karena mereka saling mengenal, mungkin Aiden merasa berkewajiban memberitahu pria seperti apa yang mendekati kenalannya itu. Padahal, mereka tidak pernah ikut campur urusan masing-masing dari awal pertemuan. “Kita lumayan dekat. Aku banyak berutang padanya, Orion punya aura positif. Why? Kalian juga dekat? Dia salah satu temanmu ya?” Aiden menggeleng, baginya Orion masih juniornya. Tapi mereka memang tidak dekat-dekat amat, Aiden lebih sering berteman dengan sesama pianist ataupun bahkan komposer. Itulah mengapa para drummer sering tidak dianggap saat ada konser besar, padahal suara permainan mereka juga berpengaruh. “Jangan terlalu dekat, Nai. Bisa saja dia punya niat buruk,” tudingnya asal. Rinai menghela napas panjang. Asumsinya soal segala bentuk larangan agar tidak sembarangan dekat dengan banyak pria di star membuat Rinai bingung. Sebenarnya, Aiden punya urusan apa soal percintaannya? Toh, selama ini Rinai tidak pernah sekalipun bertanya tentang hubungan pria itu dengan Anya Gwen. “Orion tidak seburuk itu kok, dia teman yang baik.” “Kamu membelanya? Kamu menyukainya?” Hanya menghela napas panjang. Dari tadi permainannya tidak ada yang benar, tangannya tidak fokus sama sekali karena Aiden suka memancing emosi. Ya, begitulah mereka. Kadang suka saling menyalahkan, tapi di sisi lain, hanya Aiden yang paling takut Rinai terluka. Pun dengan Rinai yang tidak mau Aiden lebih dijahati oleh orang-orang terdekatnya. “Kenapa kalau aku menyukainya dan tidak menyukainya, Aiden?” Diam membisu. Aiden tidak tahu alasannya. Mungkn karena sudah menganggap Rinai lebih dari teman dekatnya, pria itu ingin yang terbaik bagi Rinai. Sedangkan Rinai mengharapkan seseorang yang mustahil, bernama Aiden. Siklus yang membingungkan bukan? (Bagian Kedua) Seperti biasa, kebiasaan Rinai saat malam hari adalah mengendap-ngendap. Ini sudah menjadi malam ke 4 dia menjadi mata-mata. Entah siapa yang paling Rinai curigai? Matanya sibuk mengawasi, hanya ada penjaga yang mondar-mandir. Menyoroti setiap sudut ruangan dan memastikan tidak ada penyusup. Bagaimanapun caranya, ada banyak agensi di Jakarta dan star selalu punya musuh. Rinai tahu, banyak ingin melihat kehancuran star atupun sebaliknya. Tapi Rinai yakin, tempat ini keamanannya sangat terjaga. “Lagi apa sih?” Ya ampun! Rinai menoleh dan mendapati Wintang yang menegurnya. Sejak kapan perempuan itu ada di sini? “Kamu juga ngapain?” Hadeh, Wintang paling sebal pertanyaan dibalas dengan pertanyaan. Kebiasaan Rinai dari dulu, untung saja Wintang tidak heran. Dia juga melakukan apa yang Rinai lakukan, mengamati apakah ada orang yang melintas dan bersiap-siap untuk bersembunyi, meskipun tidak tahu sebenarnya mereka menghindar dari apa dan siapa. Takut dicurigai, akhirnya Wintang ditarik Rinai dan akhirnya mereka berakhir di taman semalam ini. Meskipun Jakarta, pasti Rinai akan kedinginan juga. Taman di star memang punya sisi dinginnya dengan pohon yang menjulang. Biasanya dia ditemani Aiden. “Jangan bilang lu mau ke ruang latihan?” tebak Wintang mulai mengira-ngira, Rinai menggeleng. “Jangan membuat gue berpikir lu mau jadi maling. Hanya itu alasan paling masuk akal, Rinai. Pencurian kan gak melulu soal uang, bisa jadi stick drummer? Atau apa saja yang bisa dijual bukan? Banyak barang berharga yang dari tempat ini.” Ayolah! Mana mungkin Rinai mencuri? Kurang kerjaan banget. Rinai tidak tahu harus beralasan apa lagi. Awalnya, dia ingin mengajak pria bernama Orion bergabung. Meskipun tidak dekat dengan Aiden, setidaknya Orion masih menganggap pria itu adalah senior. “Jadi, gini..” Mulut Rinai mulai berkomat-kamit, Wintang mendengarkan dengan seksama. Baru kali ini dia melihat Rinai lincah menjelaskan sesuatu secara detail dan bahkan membuatnya ingin bergabung. Dari dulu, Wintang memang suka tantangan, apalagi yang berbau pengamatan secara sembunyi-sembunyi. “Begitu. Oke, gue ikut.” “Ikut apaan? Emang ini lomba 17 agustusan apa! Enggak, bahaya, Wintang. Gue gak masalah kalau didepak dari star. Mimpi gue gak cuma dari agensi ini aja.” Siapa bilang! Wintang ke sini kan hanya penasaran dengan apa yang dilakukan Rinai. Tapi tidak menyangka kalau mereka akan sedekat itu, bahkan sekarang menjadi bestie. “Satu-satunya alasan gue mau adalah karena dari dulu gue penasaran dengan kasusnya, Nai. Dan jangan ngebantah, gue tahu lu ada rasa sama ni orang. Meskipun gue juga penasaran kapan kalian dekat? Gue pikir lu hanya punya kenalan pria Jo dan Ajun. Sedangkan katamu, mereka bukan pria yang lu suka.” Ah, jadi karena itu. Apa tadi? Wintang sudah bisa menebak kalau Rinai kelihatan sangat menyukai Aiden lebih dari yang siapa pun tahu? Apakah terlalu kentara? Apakah terlalu kelihatan? Apakah pria itu juga mengetahuinya? Mereka kembali lagi masuk dan cepat-cepat sembunyi lagi karena melihat sosok yang memasuki ruangan kesayangan Aiden. Meskipun memakai hoodie kebesaran serba hitam, Wintang bisa menebak itu adalah tubuh seorang wanita. Bukan sosok Zein ataupun Max, pikir Rinai. Lalu, siapa? Otaknya tidak bisa jalan sekarang. Dia tahu kalau Aiden memang sering mendapatkan hadiah dari fans kaum hawanya. Tapi, dengan keadaannya yang sekarang, Rinai pikir sosok itu bukan sekedar fans saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD