Karena setuju untuk jadi partner penyelidikan atas kecelakaan yang menimpa Aiden, Wintang bahkan sudah membeli satu set pakaian yang menunjukkan kalau dia akan jadi seorang detektif.
Rinai berkali-kali menolak untuk mengenakan pakaian yang 11-12 plek dengan apa yang dipakai Wintang.
“Kalau bukan karena harga pakaian ini, demi apa pun aku gak bakalan mau! See? Aku malah ngerasa jadi ondel-ondel Jakarta.”
Keluhan Rinai hanya dianggap sebagai protes biasa. Mereka akan pergi keluar dari star, kebetulan dari sumber yang terpercaya, Rinai tahu jadwal Zein malam ini adalah mengunjungi guru besar Felix. Aiden pasti juga mengenalnya, sayang sekali pria itu tidak mau percaya dengan apa yang dikatakannya.
Mungkin memang harus ada bukti yang kuat. Setidaknya, Rinai memegang salah satu kartu As peristiwa di mana Aiden mengalami kecelakaan di Hongkong.
“Jujur deh, kalian tuh mau ngapain? Ada acara 3 Angels atau kostum atau apa sih!” Gena kesal melihat teman-teman unitnya tidak mau memberitahu kenapa mereka pergi dengan pakaian aneh itu.
“Kalau semuanya udah jelas, gue bakalan jelasin. Itu pun kalau masih ada harapan, Gen. See you ya, jaga diri. Salamin pacar lu, bukannya lu setiap hari selalu vidcall kan?”
Keduanya melenggang cepat keluar dari star. Wintang memang sudah menelpon supir pribadi menuju tempat di mana Zein tinggal. Dia gampang mendapatkan kode sandi apartemen pria itu, bukan hal yang sulit.
Sedangkan Rinai tidak salah memilih partner. Dia memang membutuhkan koneksi paling mumpuni agar usahanya tidak sia-sia.
Di mobil, Wintang sudah memeriksa ruangan apartemen yang patut dicurigai. Dia memang memiliki orang kepercayaan yang bisa melakukan semuanya, tapi Wintang merasa akan seru kalau dia sendiri yang turun tangan bersama Rinai.
“Nanti gue ke ruang baca lu ke kamar tidurnya. Gue bakalan kirim sinyal semisal ada orang yang masuk. Oke?”
“Baiklah. Apa ada hal lain yang harus ku lakukan? Ini sangat menegangkan, Win?”
Hah, katanya mau berjuang untuk yang tersayang. Belum pergi berperang saja sudah mengeluh di awal. Rinai memejam, menarik napas pelan-pelan dan akhirnya mantap melakukan tugasnya demi siapa? Ya, benar sekali, demi Aiden. Pria yang mulai mengusik isi otaknya belakangan ini.
Ternyata Zein tinggal di gedung Ganias Putra, apartemen mewah yang bahkan memiliki tempat berendam di setiap kamar mereka. Itu pun Rinai tahu karena Wintang yang memberitahunya.
“Ingat, jangan gugup kalau ada orang yang masuk ke apartemennya, Nai.”
“Iya-iya. Kamu ngomong itu udah lebih dari 7 kali tahu!”
Mereka saling melihat ke kanan dan kiri, memastikan kalau tidak ada orang yang sedang melintas ke lantai di mana Zein tinggal. Kamar no. 405, lantai 20. Wah, Rinai membayangkan betapa tingginya gedung itu.
Mereka berhasil masuk dan mulai memencar. Saling mengangguk untuk mulai pekerjaan mereka. Wintang bahkan memakai penutup wajah, sarung tangan dan jangan sampai rambutnya ada yang keluar dan jatuh. Bisa jadi itu akan jadi identitas yang terbongkar.
Baik Wintang maupun Rinai, mereka memeriksa satu per satu meja dan melati bahkan menggeledah ranjang yang biasa ditiduri oleh pria itu. Merambah ke walk in closet. Di manapun tempat-tempat tertutup, Rinai akan memeriksa.
Beda dengan Wintang. Dia membuka banyak sepatu, lukisan dan vas bunga. Sangat tahu Zein bukan orang bodoh. Pasti pria itu menyembunyikannya di tempat yang tidak bisa orang lain tebak.
Wintang melihat sesuatu yang mencurigakan. Ya, sebuah pintu dan sayangnya Wintang tidak bisa membukanya. Pintu apakah ini? Apakah pintu yang menuju ruang rahasia dengan semua rahasia yang dipunya Zein?
Dia berusaha mencari alat yang bisa membuka pintu tersebut. Tapi mendengar seseorang dan Wintang yakin itu adalah Zein.
“Siapa kamu? Dan apa yang kamu lakukan di kamar Zein?”
(Bagian Kedua)
Satu-satunya alasan kenapa Rinai tidak setia kawan atau istilahnya meninggalkan rekan satu kamarnya dari kamar Zein adalah karena Wintang ngotot menyuruhnya kabur tanpa jejak. Wintang bisa kabur dari sini, dia bukan perempuan yang bodoh.
“Jelaskan pada gue, siapa lu dan apa urusan lu masuk ke apartemen gue, sialan!”
“Siapa gue dan apa urusan gue bukan urusan kalian, yang penting gue cuma mau minta keadilan soal Aiden. Teman yang sudah kalian celakai di Hongkong. Iya kan? Ngaku aja!”
Zein mendelik kesal. Dari mana ada orang yang tahu selain Max dan Felix? Apakah Aiden? Tapi, bukankah pria itu sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali? Atau asistennya?
Max membisikkan sesuatu dan membuat Zein tertawa licik. Wintang jadi merinding, tapi dia tidak boleh gugup. Entahlah, rasanya percuma juga hidup kalau orang tuanya saja tidak terlalu memperdulikan kehidupan putrinya sendiri.
"Kalau dilihat-lihat, lu cantik juga. Sebelum lu mengungkapkan kebenaran, bagaimana kalau kita bersenang-senang?”
Meskipun sedikit takut, tapi Wintang menyembunyikan ketakutannya, “Of course, Tuan. Gue tipe orang yang let's get it on.”
Pada saat yang sama, orang kepercayaan Wintang masuk dan membuat Max sekalian Zein terpental. Pria bernama Ajun akhirnya bisa membuat dua orang yang mencoba pacarnya hampir dilecehkan.
Sempat ada pertengkaran dan hampir dipukul dengan tongkat golf, Ajun pandai menangkis gerak-gerik Zein. “Siapa pun yang menyakiti dia, berarti harus berurusan dengan gue. Ingat itu!”
Dugggh!
Satu bogem mentah dari Ajun membuat Zein terpikul meja dengan tidak sengaja. Pria itu benar-benar tumbang, Wintang segera melepaskan ikatan yang membuatnya tidak bisa bergerak sejak tadi.
“Rinai ada di mana?”
“Dia bersama temanku, Adit. Kamu ini, dalam bahaya saja masih memikirkan orang lain. Ayo keluar, biar mereka diurus oleh orang-orangku.”
Wintang malah nyengir, dia dibantu Ajun berjalan dengan dipapah. Sampai di lantai dasar, Rinai yang menunggu selama hampir semalaman langsung memeluk temannya, memukul Wintang karena membuatnya hampir sesak.
“Kalau sampai kamu kenapa-kenapa aku pasti bakalan nyalahin diri sendiri, juga bakalan disalahin sama keluarga kamu, pacar kamu dan semua orang yang kenal sama kamu!”
“Gak ada yang perlu dikhawatirkan, Rinai. See? Gue beneran gak apa-apa, dan kita mendapatkan ini.”
Wintang menunjukkan sebuah memori telepon yang berada di saku celananya. Itu adalah sebuah benda yang memang sangat rahasia, sebelum tangannya diikat, Zein langsung merogoh sesuatu di bawah pot bunga. Ya, Wintang mengingat tempat persembunyian sesuatu yang lebih bersifat rahasia.
Tak tahu harus mengatakan apa, tapi Rinai sangat berhutang budi pada Wintang dan Ajun, juga teman-teman pria itu. Mungkin setelah ini dia akan menceritakan semuanya. Meskipun mereka bisa percaya atau tidak.
“Kalian jangan ke agensi dulu. Pasti Max akan mencari siapa kamu sebenarnya, kamu aman bersamaku.”
Ajun sangat perhatian kepada perempuan yang ternyata memiliki perasaan tulus kepadanya. Rinai lega, akhrinya ada satu orang yang sangat menyadari betapa baiknya Wintang.