Threaten

1049 Words
Bersembunyi di tempat Ajun, Wintang dan Rinai pun tetap merasa tak aman. Sudah satu malam mereka bersama di sana, juga bingung bagaimana caranya bisa memberitahu publik tentang kebenaran kasus Aiden. “Melihat kejadian ini, meskipun hanya rekaman tapi tetap saja ada yang aneh. Kebetulan aku lumayan paham tentang mobil. Ban yang dikendarai supir Aiden mendadak kempes, padahal setahuku, Orang-orang Hongkong selalu teliti soal pekerjaan mereka.” Juga ada CCTV yang menjelaskan di mana seseorang terlihat mencurigakan di basement hotel di mana Aiden menginap, yang dibingungkan Ajun adalah bagaimana caranya mereka mengungkapkan tentang barang bukti ini. Tentu saja Ajun tidak tahu apakah Rinai punya hubungan khusus dengan Aiden? Kini dua manusia sebagai pasangan itu melirik ke arah Rinai, bertanya dengan pikiran masing-masing. “Ada apa sih?” Rinai memang paling anti dicurigai. Tapi dia juga harus punya alasan paling masuk akal ketika orang-orang bertanya tentang kedekatannya dengan Aiden. Kenal dari mana? Sudah berapa lama dan juga kenapa tidak ada berita apa-apa soal mereka. “Kamu tidak termasuk fans yang fanatik kan, Nai?” “No. Aku hanya merasa kehilangan sosoknya saja, gak ada yang lebih setelahnya.” Omong kosong! Wintang membisikkan sesuatu pada Ajun dan seketika pria itu terkejut. Lalu mengangguk-angguk dengan penjelasan Wintang. Meskipun belum lama dekat dengan Rinai, tapi perempuan itu tahu kalau Rinai pasti punya hubungan spesial atau tidak sengaja pernah punya urusan dengan Aiden di kehidupan nyata mereka. Tunggu saja sampai sang bintang comeback. Ya, apalagi Wintang sama sekali tidak suka dengan tingkah sok kalem dari Anya Gwen. Wanita itu terlalu beresiko, suka melebih-lebihkan saat ada Rinai di sekitarnya, tapi saat dengan yang lain Anya Gwen selalu merasa keduanya adalah rival. “Kalian butuh makan kan? Sudah aku pesankan. Soal papamu, santai. Aku hanya membual kalau kamu sedang menikmati liburan karena Star begitu padat.” Semua sudah diatur oleh Ajun, seolah-olah pria itu punya skill khusus berurusan dengan kasus beginian. Rinai merebahkan kepalanya lagi, dia berkali-kali menolak panggilan Rose, untuk sekarang Rinai hanya tidak ingin diganggu saja. Sudah berapa lama Rinai tidak melihat keadaan Aiden. Apakah pria itu baik-baik saja? (Bagian Kedua) Ruangan gelap. Penerangan yang minim dan juga bau besi di sekitarnya. Ajun menolak membawa Max dan Zein ke pihak kepolisian karena uang akan membungkam para pekerja negara itu. Makanya mereka akhirnya di sekap di ruangan di mana Ajun sering menyimpan peralatan tak terpakainya. “Kita ada di mana?” itu adalah suara Max. Badannya serasa digempur oleh kiloan barang, ada bau darah di sekitar kepalanya. Mungkin itu adalah bekas di mana Max ingat ada seseorang yang memukul kepalanya, untung tidak sampai remuk. Zein masih belum sadar juga, tapi mendengar suara rintihan rekannya, akhirnya dia terbangun dan menanyakan hal yang sama dengan Max. Matanya menilai sesuatu, mengingat-ngingat mereka ada di mana. Sebenarnya ini hanyalah kecerobohan Zein, karena tidak tahu betapa terkenalnya Aiden, mungkin saja ada orang yang tidak terima dengan kecelakaan yang menimpa sang bintang. Dari atas, ada cahaya karena papan terbuka. Itu adalah jalan satu-satunya untuk sampai ke ruangan yang mereka tempati. “Kalian sudah sadar?” Ajun mengenakan kacamata agar keduanya tidak mengenali. Jangan salahkan Ajun, meskipun dari luar terlihat sangat kalem dan tidak nyeleneh, tapi yang sebenarnya terjadi adalah pria itu sedang menyekap dua pelaku kejahatan yang tidak pernah terungkap di media. Kabar kecelakaan Aiden murni karena ada yang tidak beres dengan mobilnya. Ajun tidak percaya itu karena dia bukan orang yang bodoh. “Siapa kamu dan kenapa kamu mengikat kami? Tidak tahu kami siapa? Kamu bisa saja mendapat masalah jika tidak melepaskan kami!” Ajun tertawa, Max memang pria panikan. Itulah mengapa Zein lebih sering mengerjakan semuanya sendiri, palingan hanya mendapatkan kabar terbaru tentang star. Satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan mereka adalah Felix. Tapi terlalu bahaya karena akan semakin mengungkapkan siapa orang yang berperan licik atas kecelakaan yang menimpa Aiden dulu. Sepertinya ada yang datang, Max langsung berteriak melihat siapa yang mengunjungi mereka. Ya, Wintang. Perempuan yang masuk ke tempat Zein beberapa hari yang lalu. Mereka tidak sempat mencari tahu tentang siapa perempuan yang sepertinya ingin ikut campur dalam insiden kecelakaan itu. “Kalian apa kabar? Sehat?” Wintang memang sengaja tidak mengajak Rinai karena kunci dari semua ini adalah teman satu unitnya yang tidak boleh ketahuan kalau sedang merencanakan sesuatu. “Aku bahkan tidak akan pernah lupa. Bagaimana cara kamu bersikap di mana kalian ingin melecehkan seorang perempuan, Zein. Apakah seperti ini juga kamu memperlakukan Anya? Wanita yang sebenarnya sudah ada di pikiranmu sejak kamu masuk ke agensi Star? Lalu, kamu mulai menyingkirkan orang-orang yang sedang mendekatinya. Tapi sayangnya wanita yang kamu suka itu malah memilih Aiden. Ah, kisah yang sangat memilukan bukan?” Rahang Zein mengeras, tapi dia juga tidak bisa mengelak. Siapa perempuan gila ini? Dan kenapa mengetahui kalau Zein pernah menghancurkan karir satu persatu banyaknya anggota star yang mulai mendekati Anya? Mereka tidak bisa melepaskan ikatan karena Ajun sudah memborgol tangan mereka dengan rantai besi. Terlalu beresiko menggunakan tali karena kekuatan seseorang akan bertambah saat merasa marah. Bisa saja Zein lebih kuat dari dugaannya. “Gimana ini, Zein!” panik Max. Zein menyolotkan matanya, berusaha tetap tenang. Inilah yang paling menyebalkan bagi Zein, Max tidak pernah bisa mengontrol sikap karena selalu takut duluan ketika ada sesuatu yang membahayakan nyawa mereka. Ajun menertawakan bagaimana Max sejak tadi menyikut kaki Zein. Ingin sekali memberontak, tapi terlalu sulit untuk bergerak. “Kalian tahu, kejahatan sekecil apa pun pasti akan cepat terungkap, hanya membutuhkan sedikit kesabaran. Dan sekarang, kalian hanya menunggu pihak berwajib menangani semua ini.” “Apa sebenarnya yang ingin kalian dapatkan dari kami? Uang? Rumah? Sebutkan saja nominalnya, kalian bisa mendapatkan kalau saling menghubungi managerku. Itu kan yang kalian inginkan?” Bukannya tertarik, baik Wintang dan Ajun, mereka tertawa. Wintang tidak membutuhkan semua itu, dia bisa saja lebih kaya dari Zein. Terlalu bosan mendapatkan uang dengan mudah. Hal yang paling diinginkan Wintang adalah kebebasan. “Tidak butuh uangmu, tuan sok. Kami sudah mendapatkan barang bukti yang selama ini kalian sembunyikan. Berdoa saja semoga Tuhan masih memberi kalian kesempatan. Karena asal kalian tahu? Pria ini, pacarku tidak pernah setengah-setengah saat menghukum seseorang yang tidak pernah mengakui kesalahan mereka. Ah, sayang, bukankah ini tempat terakhir kamu membunuh Frengky? Lalu, di mana persisnya kamu menghabisinya? Di sana? Atau di sana?” Wintang sengaja menakut-nakuti dua orang pria agar mereka jera akan perbuatannya. Max merinding membayangkan tubuhnya akan diapakan oleh orang-orang ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD