Hope For We

1061 Words
Sudah tidak ada kesempatan bagi Zein dan Max. Mereka bahkan tidak bisa memiliki waktu untuk sekedar buang air kecil. Meskipun ruangan yang mereka tempati lumayan, tidak ada bau menyengat atau apa pun yang membuatnya tidak betah. Wintang memberitahu Ajun agar orang kepercayaannya saja yang mengurus soal ini, urusan Felix, biar Rinai yang menyelesaikannya. “Tapi, ada yang bikin gue heran. Ketika Aiden bangun, semoga aja. Apa yang bakalan lu katakan sama publik? Soal hubungan kalian yang gue rasa, abu-abu.” Wintang mengatakannya dengan bimbang. Tapi karena tahu kalau Rinai terlihat ragu-ragu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Daripada nanti dicari oleh Gena, Wintang harus pulang ke asrama dengan Rinai. Mereka jangan sampai ketahuan kalau menginap di tempat pria lajang. Jangan sampai ada kabar miring. (Bagian Kedua) Tidak ada kabar sama sekali dari Zein. Pria yang selalu memakai wig karena takut penampilannya akan diketahui umum akan terbongkar. Ya, pria itu adalah Felix. Pria yang dari dulu sangat dihormati Aiden karena merupakan senior baginya. Aiden bisa tumbuh besar karena didikan Felix sangat berpengaruh besar. “Tidak ada kabar apa-apa. Tidak ada pemberitahuan apa-apa. Bahkan, lokasi terakhir dari ponsel masih di sekitar apartemen Zein. Apakah pria itu punya konser?” “Entahlah, Ayah. Hanya saja, kurasa mereka tidak sedang dalam baik-baik saja. Apakah Zein sudah tercium kebusukannya selama ini?” Tidak. Fellyta tidak mau misinya berjalan makin memburuk. Sekarang Anya sudah mulai terpancing rayuan Ziao agar melupakan sosok Aiden. Karena yakin, bisa saja Aiden tidak selamat di sana. Nah, pada saat itulah Fellyta akan pasang badan dan seolah terlihat melindungi pria itu. Ini tidak sesederhana yang dipikir Felly. Dia memang bucin setengah mati pada Aiden, sayang seribu sayang, pria itu tidak pernah menganggap Felly seorang kenalan yang bakalan menjadi temannya. Nyatanya tidak, ternyata Felly memang punya niat buruk lain. “Perasaanmu belum berubah?” Bukannya menjawab, Felly malah mengelilingi almari kaca di mana piala Felix penuh. Koleksi dari berbagai konser di tanah air dan juga penghargaan. Dari awal, semenjak Aiden datang ke Star, pria itu terlalu menarik, bahkan humble sekali. “Perasaanku masih sama, Ayah. Tapi aku hanya ingin membuat dia harus tetap hidup. Aku banyak hutang budi dengannya." Hanya bisa berharap pria itu segera sadar. Dan saat itulah, Felly akan menyebarkan banyak video tentang Anya di mana wanita pilihan Aiden sama sekali tidak terintimidasi dengan perbuatan Anya sewaktu dirinya koma. Tawa sumbang Felly membuat orang-orang yang lewat heran. Pengurus rumah, tukang kebun. Mereka sudah tahu kebiasaan anak kebanggaan Felix yang selalu dimanja. Dan dari tempat yang berbeda, Wintang sedang berusaha agar Gena tidak salah paham atas kepergian dia sahabatnya. “Kalian curang. Liburan bareng dan tanpa konfirmasi dulu. Tahu gak, aku capek lari-lari sendirian. Mana ke kantin juga sendirian, di pojokan. Tahu kan? Kiara dan gengnya selalu jadi bos ketika di kantin. Kalian sebenarnya pergi ke mana sih? Luar angkasa?” Hanya saling tertawa. Alangkah baiknya Gena tidak tahu kalau Wintang hampir saja disekap, kalau bukan karena ada Ajun, pasti Wintang sudah diapa-apakan sama Zein dan Max. “Lebih baik gak ikut. Tahu kan? Kalau sebenarnya, aku jarang makan. Lebih sering gak makan saat keluar sama Rinai kemarin. Iya kan?” Rinai mengangguk, takut Gena akan marah dengannya. Kenapa gak terbuka dengan Gena tapi mengajak Wintang bergabung atas penyelidikan kasus kecelakaan Aiden. Membahas makanan, Gena jadi lapar. Dia jarang ke kantin karena ada Kiara dan gengnya. “Gue bakalan maafin kalian asal traktir makan dan kalian mau.” Itu sih gampang! (Bagian Ketiga) Sudah lama tidak bersua dengan hantu misterius, Rinai tidak tahu caranya memanggil Aiden. Apakah harus menggosok benda ajaib yang bisa mengeluarkan makhluk pemberian yang datang sendirinya. Aiden berkali-kali berharap Rinai akan pulang. Sengaja tidak sopan, Aiden ke kamar Luna. Jujur, sangat ramai. Penuh dengan pernak-pernik juga banyaknya novel dan membaca. “Ternyata kamu ada di sini? Kurasa tempat favoritmu sudah berubah. Tapi ternyata masih sama saja. Apa kabar, Aiden?” Terpaku. Jujur, semenjak mengenal Rinai, Aiden jadi lebih mengkhawatirkan ke mana dan apa yang dilakukan oleh Rinai. “Baik. Sibuk sama dunia nyata, juga aku penasaran bagaimana keluargamu tidak pernah mengharapkan kabar-kabar yang baik darimu.” Yeah. Bukan hal umum lagi. Arlita hanya diharapkan bantuan dan support dari keluarganya. Orang-orang memang kadang bertingkah semaunya. “Aku tidak begitu menangis terus di sana. Padahal tubuhku sakit, Nai. Andaikan aku bisa tembus, tidak tergantung berapa ikhlasnya aku membantu menghilangkan kepanikanmu.” Ternyata Aiden tahu kalau Rinai kadang juga berpikir demikian. Kasihan tante Arlita yang tidak pernah sedikit pun lengah. Aiden hanya ingin kembali pada tubuhnya. Tapi, hal itu memang sudah diprediksi Rinai. Sebentar lagi, santai saja. “Aku akhir-akhir ini sedang malas ngapa-ngapain? Hanya menunggu waktu yang tepat.” Aiden tertarik, “Menunggu apa?” “Semuanya jelas. Bukankah karena itu misi kita berjalan. Gaya banget kan? Tapi aku pastikan bukan karena ingin pergi secepatnya dari hidup kamu. Terkadang, rasanya aku ingin mengobrol sesama manusia.” ejek Rinai. Rinai pikir hanya yang pernah menganggapnya begitu. Tapi dia yakin kalau Aiden bakalan sembuh. “Ada perubahan sebenarnya. Apakah kamu tidak pernah merasa ada sesuatu dalam tubuhmu?” Haruskah Aiden jujur kalau tubuhnya seperti terpontang-panting. Apalagi saat ada angin, mau berpindah ke tempat yang bisa menahannya hanya ke tempat Villa. “Aku penasaran. Sejak kapan kamu tahu ruangan itu ruangan favoritmu?” Rinai mengarang, tahu dari beberapa coach karena sangat sering membahas tentang Aiden. Padahal saat itu Rinai tahu dari penjelasan Orion, pria yang sangat memuji alat drummernya sendiri. “Hanya menebak. Kadang berharap kamu ada di sana dan sibuk dengan kebiasaanmu di ruangan itu. Ya, itu hanya permintaan sederhanaku. Meskipun aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah kamu sadar nanti.” Ada nyeri di bagian dadanya Rinai. Perasaan berkecamuk karena perasaannya makin tumbuh dan Aiden makin kelihatan tak peduli. Hanya sok sibuk dengan Anya Gwen. Mereka saling terdiam sesaat. Padahal jauh di lubuk hati Aiden, pria itu juga mengharapkan yang sama. “Semoga Tuhan berbaik hati ya, Nai?” “Dalam hal?” Aiden mengangkat bahu. Tidak ingin menduga dulu. Dia juga takut akan melupakan jasa Rinai setelah sadar nanti. Ya, karena untuk sekarang, yang diinginkan Aiden hanya tahu siapa yang berusaha jahat padanya. “Banyak. Terlalu banyak malah. Bahkan lebih banyak dari semua dugaanmu.” Sama-sama getir. Aiden dan Rinai menatap langit, berharap ada harapan di atas sana. Rinai dengan harapan masih diingat Aiden dan juga isi otak Aiden yang berharap akan dipertemukan kembali dengan Rinai setelah nanti kembali dengan keadaan semula.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD