Harapan Rinai hanya sederhana, bisa menjadi seseorang yang dikenal dengan bakatnya. Bisa membuat mamanya bangga. Bicara soal mama, Rinai ingin ke sana dan mengajak Gena sekalian Wintang.
“Kita makan di luar aja yuk? Males banget aku ketemu gengnya Kiara.”
Gena menyudutkan bahwa semenjak Wintang dan Rinai pergi tanpa pamit hidupnya seakan terancam. Apalagi Kiara merasa Wintang selalu menguasai banyak hal. Termasuk antrian di kantin.
Wintang juga mengenal satu-persatu keluarga Kiara juga masalah mereka. Itulah mengapa Kiara selalu menciut setiap bertemu dengan Wintang.
“Daripada nanti lama dapat busnya, makan di kantin aja. Ada gue, gak ada yang perlu lu khawatirin, Gen.”
Baiklah. Gena langsung menggandeng lengan temannya. Berjalan seiringan dengan Rinai. Meskipun mereka tidak saling menceritakan masalah masing-masing, tetap saja, baik Gena, Wintang dan Rinai mereka selalu saling support.
Kantin terlihat ramai. Ada beberapa orang yang sibuk membicarakan kalau Aiden mungkin sudah sadar. Wintang menyenggol lengan Rinai, waktu yang sangat ditunggu-tunggu. Tapi, apakah itu benar?
Rasanya sudah tak sabar untuk bertemu dengan pria itu di alam yang sama. Apakah Aiden akan mengingatnya?
“Kalian percaya itu? Tapi syukurlah, meskipun ada yang bilang tubuh Aiden seperti robot. Tidak bisa bergerak sama sekali. Coach Ziao saja bilang kalau Anya hampir tidak berselera mengajar lantaran sudah takut kehilangan pasangannya.”
Meskipun Gena adalah manusia yang bisa dikatakan jarang dekat dengan penghuni star yang lain, tapi kupingnya selalu ada di mana-mana. Layaknya spons yang menyerap semua berita di sini.
Hanya anggukan saja sejak tadi. Rinai rasanya sibuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada di kepalanya. Sudah lama mengenal Aiden, tapi pria itu juga tidak pernah menceritakan apa yang dirasakan tubuhnya selama koma. Hanya memenuhi obrolan dengan rencana-rencana mereka.
Soal Zein dan Max, Ajun sudah membuat banyak barang bukti. Tinggal satu orang lagi yaitu Felix. Apakah pria itu akan diam saja ketika dua orang anak buahnya hilang tanpa jejak?
(Bagian Kedua)
“Tidak apa-apa. Mereka mungkin sedang liburan karena bosan. Tahulah kalau Max memang sudah lama ingin pensiun, hanya saja dia belum kesampaian untuk berkolaborasi dengan sahabatnya satu panggung. Apa kabar, Anya?”
Wanita yang baru saja datang dan mengadu adalah Anya Gwen. Mereka saling mencurahkan semua kebimbangan pada Felix, bahkan Aiden selalu meminta pendapat setiap Star memiliki peraturan baru.
Sudah lama tidak ke sana, Felix tetap dibutuhkan. Hanya kadang-kadang saja dan sesempatnya datang ke Star agensi.
“Seperti yang Anda lihat, guru. Beginilah, tapi aku tidak tahu apakah aku sanggup menanggung beban. Kabar sadarnya Aiden hanya dibuat para fans saja, entahlah. Aku bosan dengan merindukannya.”
Sejak tadi, Felly iseng membuat rekaman. Ini adalah jejak digital yang akan membuat Aiden segera sadar, Anya Gwen tidak benar-benar mencintai kekasihnya. Dan saat itulah kesempatan Felly mendekati pria incarannya selama ini.
Felix hanya bisa menghela napas panjang. Siapa pun orangnya, mana bisa menunggu kabar dari seseorang yang membuatnya tidak jelas begini. Tapi di sisi lain, Anya sangat bergantung pada Aiden.
Semenjak tidak adanya sang bintang, namanya mulai meredup. Seakan tidak punya kesibukan. Padahal dulu, saat Aiden ada, mereka hampir tiap minggu ke luar kota bahkan luar negri untuk konser duet. Makanya, banyak yang mendoakan agar Aiden segera sadar dan bisa bersama dengan Anya lagi.
“Ibunya masih membencimu? Kudengar kamu ke London bersama Ziao.”
Hanya anggukan saja. Anya juga masih mengingat hari di mana Arlita tidak pernah menyambutnya sebagai seseorang yang dicintai Aiden. Pria itu padahal hampir setiap hari mengatakan bahwa Anyalah wanita yang dicintainya.
Mungkin insting seorang ibu memang kuat. Tidak kecocokan di antara mereka, tapi Arlita tidak pernah menampilkan gesture sikap tidak suka pada Anya.
“Begitulah, guru. Hubungan kami selalu seperti ini, hanya ikut arus saja. Oh iya, guru apa kabar? Star sangat merindukan anda, semoga saja kesehatan guru tetap terjaga.”
Felix sangat jarang terlihat. Hanya saat ada acara besar dan saat Aiden ingin sekali mendapat wejangan dari gurunya. Tapi, Aiden memang sering ke sini untuk sekadar bertemu dengan seniornya.
Tidak ingin mengganggu kesibukan Felix, Anya pamit dan mungkin akan main ke sini lain kali. Tidak ada acara yang begitu menyibukannya. Anya tahu, ada beberapa orang yang lumayan terkenal yang hanya mengundangnya saat ada Aiden saja. Itulah mengapa, peran Aiden sangat besar dalam hidupnya.
Melihat penggung Anya yang sudah keluar dari halaman rumahnya, barulah Felly keluar. Mereka tidak bisa dibilang akrab. Hanya kadang-kadang mengobrol saja.
“Ternyata dia masih memperalat Aiden ya, Yah? Kurasa Aiden sangat kasihan. Tapi aku bakalan jadi orang pertama ketika nanti dia tahu orang-orang terdekatnya lah yang membuatnya terluka sampai koma.”
“Kamu jangan terlalu ikut arus kasus ini, Fel. Ayah gak mau kamu tersangkut.”
“Tenang saja, nanti bisa aku pikirkan jalan keluarnya.”
(Bagian Ketiga)
Pulang dari rumah orang tuanya, Rinai pura-pura ingin kembali ke apartemen. Beralasan bertemu dengan Rose. Pasti temannya akan ngamuk, Rinai sangat sulit dihubungi belakangan ini.
“Oke. Nanti kabari aja kalau mau pulang. Jakarta rawan, Nai. Lu gak boleh matiin ponsel.”
Rinai mengangguk. Sejak kejadian hampir tertangkap Zein dan Max, yang ditakutkan Wintang adalah semisal ada yang tahu tentang kejadian itu dan berusaha menyakiti mereka.
Rinai sudah mendapatkan bus menuju ke tempat Aiden. Dia ingin meluruskan kesalahpahaman tentang Zein dan Max. Bagaimanapun caranya, Rinai harus membuat Aiden percaya kalau mereka bukan teman yang baik.
“Hai. Akhirnya kamu datang juga. Malam itu, kamu kayaknya lagi banyak pikiran. Iya kan, Nai? Kenapa?”
Mungkin kelihatan dari wajah Rinai. Tentang Aiden yang katanya sadar, tentang sikap Anya dan yang terakhir adalah kerja sama antara Max dan Zein, mungkin juga ada sekelompok orang yang masih belum terdeteksi siapa orangnya. Dalang semua ini belum tentu adalah Zein.
“Memikirkan bagaimana caranya agar kamu mempercayaiku, Aiden. Ayolah, kenapa sih kamu terlalu terbawa perasaan dan hanya menganggap mereka itu selalu baik?”
Padahal tadinya Aiden ingin menghibur Rinai, tapi sepertinya perempuan itu semakin ngelunjak. “Masalah Zein lagi? Nai, harus berapa kali aku bilang sih?”
Hah! Rinai kesal. Kalau saja Aiden bisa disentuh, sudah pasti mereka akan beradu banting sampai kekesalan Rinai hilang.
Ya, Aiden selalu bersikeras Zein, Max bahkan Ziao bisa saja hanya berkedok muka dua saja bukan? Mereka tahu, bintang utama star adalah Aiden. Dengan cara meninggalkan pria itu tentu saja jalan mereka akan semakin mudah.
Mau tak mau, Rinai menceritakan semuanya yang terjadi dan Aiden sulit untuk mempercayainya. “Kamu pintar banget jadi pengarang, Nai.”
“Mungkin kamu mengira mereka nggak sejahat itu. Tapi baiklah, weekend nanti kamu ikut denganku dan melihat teman-temanmu sebenarnya adalah musuh dalam selimut.”
Rinai berbalik badan dan langsung meninggalkan studio Villa untuk menuju ke agensinya.