Jaya masih berada di apartemen miliknya. Dia ada di kamar dengan marimar, sedang bermain diatas ranjang dengan marimar. Satu permintaan jaya. Dia tak ingin punya anak dulu. Jadi marimar dan jaya selalu menjaga itu.
"Om kenapa gak mau punya anak?" tanya marimar yang kini ada dibawah jaya. Jaya dan marimar sudah melepaskan pakaian mereka masing-masing. Mereka hanya bertutup selimut. Mereka ada dibalik selimut itu.
"Emang kamu mau punya anak? Kalau kamu punya anak? Hamil? Kamu bakalan gendut, tambah berat badan, terus kuliah kamu gimana?" kata jaya mencium bibir marimar sekilas.
"Iya sih om. Nanti habis melahirkan juga perutnya buncit, kendor, ada strit marknya gitu." marimar juga setuju dengan ucapan jaya.
"Saya itu gak butuh anak. Saya cuma butuh kamu."
"Ok om. Kapan pun saya siap."
Marimar dan jaya akan kembali melanjutkan permainannya. Dari mulai jaya yang mengecup ceruk leher marimar yanh mulus dan terasa manis seperti kecanduan. Sampai ponsel jaya berbunyi..
Kringg
Kringgg
Beberapa kali. Tadi jaya tak ingin mengangkatnya. Sialnya lagi dia lupa mematikan ponselnya agar tak menggangu permainannya. Dan sekarang terbukti menggangu.
Kringg...
Sekali lagi ponselnya berdering, berisik dan mengganggu kemikmatan permaianan mereka. Jaya mendengus kesal. Marimar melirik untuk menyuruh jaya mengangkat telponnya. Dia akan diam dan menunggu. Jaya terpaksa mengangkat telponnya.
Jaya meraih mengambil ponselnya dengan posisi yang masih sama. Marimar masih dibawahnya. Baru saja jaya memasukan miliknya. Tapi jaya tak berniat mengeluarkan. Dia akan menelpon dengan keadaan yang sama.
Halo
Jaya melirik nama yang tertera dilayar ponselnya. Jaya langsung mengangkat telponnya untuk berbicara pada orang disebrang sana yang menelponnya.
Ada. Gue ada. Persis kayak permintaan lo. Masiu segel. Pinter lagi.
Kata jaya pada temannya ditelpon. Itu adalah gio. Jaya menatap marimar. Ingin memberitahu kalau pucuk dicinta bulan pun tiba. Lisa teman marimar sangat beruntung kebetulan sahabatnya sendiri yang butuh jasa lisa.
Ok. Nanti gue kirim resum dan dokumen tentang dia ya. Gue jamin, dia perfect. Kriteria lo banget yo.
Jaya pun menutup telponnya. Dia melanjutkan permainan sampai selesai. Hingga capek. Dia berbaring disamping marimar. Memeluk tubuh marimar sambil main hp.
"Aku butuh resume data temen kamu itu. Kalau cocok gio mau pakai dia." kata jaya pada marimar. Marimar tidur didada jaya.
"Ok om. Bentar, aku ada datanya. Aku udah lama perhatiin lisa."
Marimar sedikit beranjak. Dia mengambil tasnya dan mencari ponselnya. Ponsel yang tadinya dia matikan sekarang dia aktifkan kembali. Setelah menunggu beberapa saat dia membuka dokumen-dokumen didalam ponselnya. Ada dokumen mahasiswi satu kampus. Marimar mencari milik lisa.
Alisa
Marimar mengetik nama alisa dan tak lama satu dokumen ditemukan. Marimar langsung membukanya dan mengirimnya ke ponsel jaya.
"Gio ini sahabat om. Kayak udah keponakan lah. Dia pernah patah hati sama cewek. Ceweknya selingkuh. Mamanya juga. Terus dia jadi males aja deket apalagi betkomitmen sama wanita. Tapi mamanya terus maksa mau jodohin."
Jaya menceritakan tentang gio. Marimar kembali berbaring dan tiduran didada jaya sambil mendengarkan cerita jaya.
"Dia mau yang smart. Katanya sih gak mau yang kaya kamu, jado diranjang, centil, menggoda. Dia cuma butuh buat bohong ke mamanya, gio juga bilangnya pacaranya ini udah hamil."
"Hah?"
Marimar kaget. Setau dia lisa itu mahasiswi yang paling jujur. Gimana kalau dia gak bisa berbohong dengan baik. Soal pintar, dan gak centil. Lisa banget sih. Tapi soal bohong?
"Om, kayaknya lisa gak bisa deh." kata marimar pada jaya. Jaya sudah terlanjur mengirimkan datanya lisa ke gio.
"Maksudnya? Aku udah kirim ke gio nih. Sayang lagi, gio itu super kaya. Papanya diluar negeri punya perusahaan disana."
"Masalahnya lisa itu anaknya jujur."
"Oh. Ya udah kita liat nanti. Biasanya sih uanh bisa merubah segalanya."
Jaya dengan gemas mencubit dagu marimar. Mendongakan wajah marimar agar mendekatinya dan dapat dia cium. Jaya lagi-lagi mencium bibir dan dagu marimar.
"Iya sih. Lisa pinter kok. Pasti bisa lah beradaptasi dan akting dikit."
-
Gio membuka file yang jaya kirim. Dia membaca seksama dokumennya. Anak jurusan desain akuntansi, dengan nilai-nilai bagusnya. Gio suka dengan catatam prestasinya. Dia pintar. Mahasiswa semester dua.
Gio tak yakin dengan ini. Tapi dia bisa minta lisa, gio membaca namanya, alisa. Nama yang cantik. Tapi tak ada fotonya, hanya resume berbentuk catatan. Gio suka prestasi lisa dan sepertinya akan cocok dengan keinginannya. Tinggal membuat janji temu.
Kapan bisa ketemu. Langsung aja.
Gio menulis pesan untuk jaya. Jaya membaca pesan itu dan memberitahu marimar. Sepertinya gio menyukai profil lisa.
"Gio mau langsung ketemu dan kerja. Gimana?" tanya jaya pada marimar.
"Aku tanya lisanya dulu om? Atau tanha ke sahabat om itu, mau kapan deh kira-kira ketemunya. Kalau butuh cepet ya atur aja."
"Ok."
Jaya kembali menelpon gio. Gio meminta secepatnya. Dia meminta jaya untum mengirimkan foto alisa lebih dulu. Jaya pun meminta fotonya pada marimar.
"Alisa.."
Marimar mencari foto-foro alisa lewat sosial medianya. Marimar baru ingat dia tak memberikan alamat ignya lisa. Karena biasanya itu dia berikan setelan taken perjanjian dan memang setuju sesuai kriteria klientnya.
"Om, aku kasih ignya aja gimana? Biat dia bisa langsung lihat-lihat dan pantau langsung?" tanya marimar pada jaya. Dia juga tak mau sembarangan menyebarkan info pribadi kalau orangnya meragukan.
"Kasih aja. Om jamin gio itu laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Sayang aja dia agak trauma kayaknya sama cinta. Jadu agak batulah dikit. Keras kepala."
Jaya sudah lama kenal gio. Dia yakin gio bisa dipercaya. Marimar pun mengirimkan alamat surel ignya lisa pada gio.
Itu, liat sendiri. Jangan ganggu lagi bos. Gue mau ronde kedua sama sayangnya gue.
Jaya mengirimkan surel ig lisa lalu satu pesan lagi untuk gio. Gio yang membacanya tak perduli. Dia langsung ke ig untuk melihat seperti apa alisa itu.
Gio yang tak pernah main sosial media terpaksa mencari aplikasinya dan lansung memasangnya. Dia juga membuat akunnya dan mengetik nama alisa. Tapi tak ada foto profilnya. Kecuali foto buku dan bolpoin. Akunnya diprivasi.
Gio harus memfollow akun alisa dan menunggu disetujui alisa. Gia tak sabar ingin melihat-lihat bagaimana rupanya. Tentu gio ingin yang cantik untuk dipamerkan pada mamanya.
Sambil menunggu dapat balasan dari ignya, gio kembali menuangkan winenya ke gelas. Dia meneguknya bsberapa kali. Sampai dia mendengar bunyi notifikasi dari ponselnya.
Gio langsung membuka notif itu. Ternyata alisa menerimanya sebagai followers. Gio pun langsung melihat-lihat isi ignya. Melihat foto-fofonya.
"Dia!"
Gio kaget melihat foto-foto alisa.