Bab.4 Profil Gio

1076 Words
  "Aku kirim profil gio juga ya om ke lisa?" tanya marimar sebelum dia melanjutkan mainnya diranjang dengan jaya.   "Boleh biar adil." kata jaya.   Marimar mengambil beberapa berita tentang gio. Pengusaha muda sukses yang terkenal karena kekayaannya yanh turun temurun. Marimas mengirimnya ke nomer lisa.   Lisa baru saja sampai di kostan kecilnya. Dia langsung menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang. Rasanya sangat melelahkan harus survive tiap hari sama hidupnya. Kuliah, pulang kuliah kerja paruh waktu, kadang ambil kerjaan malam. Besoknya malah ngantuk di kampus. Colongan tidur. Kalau ketahuan paling disuruh keluar, gak boleh ikut kelas paling parah. Yang paling ringan, kalau dosennya sedang baik atau emang ketemu dosen baik, lisa hanya diminta untuk cuci muka. Terutama bu astri, dosen akuntan yang baik banget. Mungkin seusia ibunya. Lisa cukup dengan dengan bu asri karena lisa juga termasuk mahasiswi kesayangan bu asri, karena lisa yang pintar.   Lisa memutuskan untuk mandi dulu. Habis itu menata makanan yang dia beli di supermarket. Lisa jado ingat laki-laki yang doa temuo di supermarket.   Lisa berjalan mengambil handuk untuk mandi. Tapi pikirannya masih melayang memikirkan laki-laki itu. Dari sudut manapun dia kriteria cowok yang lisa impikan. Keren, stylist, dan paling penting kaya raya.   Ahh, lisa sendiri mengeluh kenapa dirinya sangat matre.   Lisa segera ke kamar mandi. Menyalakan keran airnya. Melepaskan satu persatu pakain luar hingga dalamnya. Lisa mengguyurkan air dari kepalanya hingga membasahi seluruh tubuhnya. Memejamkan mata dan menikmati segarnya air yang membasahi seluruh tubuhnya.   "Ahh, segarr.. Hidup ini terlalu menyekik. Thank tuhan buat airnya, sangat menyegarkan dan membantu menghilangkan setiap kepenatan hati dan pikiran." lisa mendumel sendiri di kamar mandi.   Setelah setengah jam bermain dengan air, lisa keluar. Hanya dengan handuk yang melilit bagian tubuh bawahnya. Terlihat kakinya yang cukup jenjang mengingat tingginya seratus enam puluh. Dengan kulit putih dan mulus. Ditambah bahunya yang terlihat sangat cantik. Ukuran tubuh yang proposional. Tidak gemuk tapi juga tidak kurus, sedikit berisi dan pas.   Lisa berjalan kearah lemarinya. Dia membuka pintu lemarinya. Mencari sesuatu disana. Sebuah baju santai atau baju tidur? Jari-jari lisa menelusuri setiap pakaian yang tergantung didalam lemari itu. Walau kecil, kontrakan lisa, didalamnya sangat tertata rapi dan indah. Lisa sendiri yang mendekor ulang ruangan itu.   "Ahh, ini dia."   Jari lisa berhenti disalah satu baju tidur yang ingin dia pakai detik ini. Lisa mengambil setelan baju tidudnya. Dengan lengan pendek dan celana panjang. Berwarna pink polos, dengan bahan yang tetlihat mengkilap. Pink mengkap.   Dengan kostan yang tertutup. Hanya ada satu jendela didepan dengan satu pintu. Lisa terbiasa melepas handuknya begitu saja dan memakai pakaiannya tanpa masuk ke kamar mandi.   Kontrakan lisa dengan sepetak ruang tamu kecil, kamar yang cukup kecil. Dapur kecil yang menyatu dengan kamar mandi. Lisa langsung mengganti pakaiannya begitu saja. Setelah itu dia harus mencuci bajunya. Dia mengambil baju kotor yang dia gunakan tadi, lalu memasukannya kesebuah bak, diberi air dan deterjen yang selalu dia sediakan.   "Selesai... Akhirnya rebahan."   Setelah selesai lisa kembali ke kamarnya. Dia tidur diatas ranjang, lalu meraih ponselnya untuk mengecek apa ada sma yang penting.   "Marimar? Dokumen?"   Lisa membuka beberapa dokumen juga tangkap layar yang marimar berikan. Profil klientnya. Lisa segera membuka dan membaca semuanya.   "Woo.. Sampai masuk diberita. Pasti kaya banget." lisa belum melihat fotonya. Dia hanya melihat berita tentang klientnya.   Giorgio, anak pertama dari keluarga kaya raya yang berpengaruh. Pemilik perusahaan besar didalam dan diluar negeri.   Lisa tak henti kagum dan terkejut membaca berit tentang klientnya. Serius dia dapet klient besar dong? Kalau salah sedikit, kelar deh. Bukan hanya hidup lisa hidup gio dan keluarganya mungkin juga bisa hancur? Tercoreng nama baiknya. Lisa sempat ragu..   Lisa kembali membaca beberapa berita tentang gio dan keluarganya. Marimar juga memberikan beberapa info. Termasuk tak akan melakukan hubungan intim. Itu satu keuntungan untuk lisa. Lisa juga tak ingin seperti itu.   Tapi ketika dia baca pesan marimar lagi, jauh lebih parah. Gio, nama klientnya itu meminta lisa pura-pura hamil. Ahh.. Itu jauh lebih susah untuk lisa. Lisa mencari beberapa vidio untuk evaluasinya. Bagaimana perilaku wanita hamil itu.   Lisa membuka beberapa vidio yang sudah dia cari tentang orang hamil muda. Lisa memperhatikan satu persatu vidio. Setelah satu vidio selesai dia melihat vidio yang lain. Bukannya dapat gambaran tapi membuatnya makin gugup dan strez.   "Kenapa susah banget sih. Kenapa gak nemenin makan aja gitu." keluh lisa hampir frustasi membayangkan kalau dia harus akting.   "Kenapa gak bayat aktris aja kalau gitu." kata lisa kesal sendiri pada gio yang bahkan belum dia kenal.   Lisa kembali mengamati beberapa vidio lagi. Setelah selesai melihat, otaknya malah makin frustasi. Dia paling gak bisa akting dan bohong. Ini harus bohongin orang tua lagi. Lisa berpikir untuk menyerah.   "Apa bilang ke marimar aja, kayaknya aku gak akan bisa." lisa sudah memegang ponselnya dan ingin mengatakannya pada marimar. Tapi dia ragu.   Kringg...   Akhirnya lisa memutuskan menelpon marimar. Tapi lisa menelpon diwaktu yang tak tepat. Marimar yang sedang main dengan jaya mengangkat telpon lisa. Lisa malah mendengar desahan dan lengguhan keduanya. Lisa tak tahan, dia langsung mematikan telponnya. Dia marah-marah sendiri ke ponselnya.   Lisa jadi ingat dia belum melihat tampang gio. Lisa membuka foto yang marimar kirim dan ternyata, seketika melihat wajah gio, lisa jadi berbalik pikiran. Ternyata klientnya ini orang yang gak sengaja ketemu di supermarket yang dalam sekejap menggetarkan hatinya. Sopan, tampan, manis dan sedikit menantang dengan botol minuman ditangannya. Lisa sendiri suka tantangan, terlebih banyak drama yang dia lihat dimana sang pria itu awalnya cuek dan wanitanya mencoba meluluhkan hati sang pria.   "Ok. Gue terima kernaan ini. Pasti bisa saa... Semoga jodoh tuhan. Biar gue hidup enak juga. Plisss yaa tuhan plisss.." lisa malah jadi berdoa dan minta ke tuhan kalau gio bisa jadi jodohnya nanti? Mungkin seperti marimar dan jaya.   Lisa kembali membuka profil gio. Ternyata papa dan mamanya sudah bercerai. Papanya menikah lagi dan tinggal dengan keluarga barunya diluar negeri. Gio juga punya adik cewek, namanya gia. Dipanggil jia yang tinggal dengan papanya diluar negeri. Mamanya di indonesia juga sudah menikah lagi dengan satu adik tiri laki-laki gio.   "Mahendra.."   Lisa membaca daftar nama-nama keluarga besar gio. Pertama kata marimat doa harus mempelajari semua tentang keluarga gio dan juga soal menjadi ibu hamil itu.   Lisa pikir tugasnya cukup berat. Dia memikirkan bayaran yang akan dia minta. Terutama dia harus berbohong selama satu tahun. Sampai anaknya lahir.   "Gila banget kerjaan gue.." lisa sendiri tak habis pikir dengan pekerjaan yang dia ambil ini. Parah sih!   Gio minta ketemu secepatnya Sa. Kabarin ya kalau udah siap. Lebih cepet lebih bagus. Klient besar loh Sa. Sayang kalau gak lo ambil.   Marimar mengirimkan satu pesan pada lisa. Lisa membalasnya tanpa ragu. Dia siap secepatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD