Gio baru saja sampai kembali di kantornya setelah meeting diluar. Dia mendapatkan telpon dari pembantu di rumahnya, kalau opa, kakeknya masuk rumah sakit.
"Tuan, ini beberapa file untuk meetingnya."
Seorang sekertaris perempuan yang cantik, dengan tubuh seksinya masuk. Dia ingin memberikan beberapa dokumen yang harus gio cek.
"Halo bik."
Gio malah mengangkat telpon dari pembantu di rumah omanya. Dia membrrikan isyarat pada sekertarisnya untuk tak melanjutkan ucapannya. Sekertaris gio pun mengerti. Dia hanya diam.
"Opa masuk rumah sakit?"
Kata gio panik setelah mendengar kabar dari sebrang telpon. Gio langsung lari keluar.
"Batalkan semua pekerjaan hari ini. Atur ulang jadwal meeting dan semuanya. Saya harus ke rumah sakit."
"Iya tuan."
Sekertarus gio pun mengangguk mengerti. Gio segera kembali lari ke rumah sakit, rumah sakit tempat kakaknya dirawat. Gio menyetir sendiri. Walau sedikit panik gio mencoba menyetir dengan hati-hati.
Ditengah jalan dia malah mendapatkan telpon. Gio lihat dari jaya. Gio langsung mengangkatnya.
-
Jaya seperti biasa sedang bersama dengan marimar. Mereka sedang ada di hotel tempat mereka berdua, masih di kamar. Marimar duduk diatas pangkuan jaya.
"Dimana yo?"
"Soal kerjaan."
Baru saja jaya ingin memberitahu beberapa proyek mereka. Tapi gio langsung meminta jaya untuk tidak membahasnya dulu. Gio langsung mematikan telpon.
"Kenapa om?" tanya marimar dipangkuan om tercintanya yang banyak uang.
"Gio lagi ngurusin opanya, kayaknya lagi unfall. Maklum udah tua. Sakit-sakitan." kata jaya menjelaskan pada marimar.
"Ohh. Masian ya opanya."
"Iya."
Marimar ada janji temu dengan lisa, dia akan menemani lisa untuk membeli beberapa baju untuk perlengkapan pekerjaannya nanti. Seperti baju hamil. Sampai, perut palsu, baru akan memesan, perut hamil palsu yang seperti nyata. Marimar turun dari pangkuan jaya.
Hari cukup siang, sekitar pukul sepuluh. Tapi jaya dan marimar sejak pagi asik dengan dunia mereka sendiri. Menutup semua jendela, tak membiarkan cahaya masuk dan menggangu kegiatan rutin pagi keduanya.
Bermain diatas ranjang.
Jaya sangat suka melakukannya. Terlebih kalau dia strez, banyak kerjaan. Bermain diatas ranjang dengan marimar seperti terapi penghilang strez, obat sterz wajibnya. Sebelum tidur, malam sampai lelah. Pagi sebelum berangkat supaya jaya lebih bahagia menjalani setiap detik hari itu.
"Om, aku ada janji sama lisa. Gak papa kan aku pergi." kata marimar yang akan masuk ke kamar mandi.
"Pulang jam berapa?" tanya jaya yang kini mendudukan dirinya. Duduk bersandar dipunggung tempat tidur, membuka tabnya dan mengecek beberapa pekerjaan.
"Aku kan suka shooping om. Boleh gak sekalian seharian sama lisa." kata marimar yang berbicara dari ambang pintu kamar mandi. Dia baru akan masuk dan ditanyai jaya.
"Ya udah. Aku juga ada meeting. Biar aku meeting seharian. Kalau udah selesai bilang ya. Aku jemput nanti. Mau diantar atauu?"
"Taxi online aja om."
Teriak marimar yang kini sudah masuk ke kamar mandi. Marimar tak ingin terlambat ke mall. Kalau perlu dia yang buka mallnya, lagi pula ada salah satu mall milik perusahaan jaya yang bekerja sama dengan gio.
Marimar sampai lupa.
Marimar menyalakan keran airnya. Hanya terdengar suara percikan air dari dalam kamar mandi. Sementara jaya memesankan taxi online untuk marimar. Dia juga menelpon pihak mall dan memberitahu kalau istrinya akan datang ke mall itu.
"Gimana om?"
Marimar sudah selesai mandi. Dia keluar hanya dengan mengenakan handuk yang melilit tubuh atasnya. Jaya yang meminta marimar melakukan seperti itu setelah mandi.
"Udah semuanya. Taxi dan mallnya. Kamu bebas sama lisa ambil apa aja."
Jaya yang melihat marimat setengah telanjang dengan rambut basahnya itu tergoda. Dia turun dari tempat tidur walau tadinya dia malas beranjak dari sana. Jaya langsung mendekati marima, memeluk tubuh marimar dari belakang.
"Hemmm aku selalu suka wangi kamu setelah mandi. Makin seger." kata jaya.
Jaya menghirup bau badan marimar, diciumnya bahu marimar hingga tengkuk lehernya.
Klingg..
Sampai ponsel jaya berdering. Jaya melihat ponselnya. Dia mendesah kesal karena harus cepat-cepat berangkat meeting.
"Aku mandi dulu ya. Udah nunggu kerjaan."
Jaya menaruh kembali ponselnya setelah dia membaca dan membalas pesan itu. Dia mencium pipi marimar dan langsung masuk ke kamar mandi. Marimar pun mengganti pakaiannya. Dia menyiapkan pakain kerja untuk jaya, lengkap dengan dasi dan sepatunya.
"Om, aku tinggal gak papa kan?" tanya marimar berteriak dari luar.
"Iya. Tinggal aja. Aku agak lama, sekalian boker." jawab jaya juga berteriak dari dalam kamar mandi.
Marimar langsung mengambil tasnya dan mengambil ponselnya. Dia mengabari lisa untuk siap-siap karena marimar akan menjenputnya. Ketika sampai di lobi hotel, sudah ada taxi yang menunggunya. Marimar langsung masuk kedalam taxi. Marimar pun memberitahu tempat tujuannya.
-
Gio baru saja sampai di rumah sakit. Dia langsung berlari masuk ke rumah sakit besar di kota itu. Gio berjalan kearah resepsionis, dia bertanya dimana kamar kameknya.
"Atas nama abraham." kata gio pada resepsionis rumah sakitnya.
"Dikamar icu tuan. Ada dilatai tiga, paling ujung." kata suster itu.
"Makasih."
Gio langsung mencari ruang icu. Dia memasuki lift rumah sakit menunu lantai tiga. Sesampainya disana gio langsung mencari ruang icu. Dia bertanya pada perawat yang lewat dan sedang bertugas.
"Lurus saja tuan. Itu paling ujung." kata suster itu pada gio.
"Iya. Makasih sus."
Tanpa membuang waktu lagi, gio langsung berlari kencang menuju ruangan yang dimaksud. Dengan kaki panjang jenjangnya, gio tam butuh waktu lama.
"Omaa.."
Gio bahkan melihat sang oma yang duduk di kursi roda dengan bibik yang berdiri dibelakangnya. Mereka ada didepan satu kamar. Gio yakin kalau di ruangan itu mungkin kakeknya sedang dirawat. Gio langsung menghampiri omanya.
"Omaa.."
Gio berlutut didepan kursi roda sang oma. Gio menunduk dan melihat omanya yang sudah berderak air mata. Kakek dan nenek dari papanya. Wajah tua dengan keriputnya, rambut hitamnya, senyum yang selalu omanya tunjukan pada sang cucu karena ingin melihat cucunya memiliki anak, kini sirna.
"Oma, gimana kakek?" tanya gio pada omanya.
Tapi seakan melihat belahan jiwanya yang sudsh berpuluh tahun menemani disetiap detik hidupnya kini terbaring tak berdaya didalam sana, oma seakan kelu. Dia tak bisa menggerakan bibirnya untuk menjawab pertanyaan gio, yang ada hanya isak tangis yang keluar dari mulut tua omanya.
"Bik, gimana kata dokter?"
Akhirnya gio memilih bertanya pada bibik, pembantu yang selama ini mengurus oma dan kakeknya.
"Lagi ditanganin dokter den. Kata dokter sih tadi, kakek drop banget." jawab sang bibik.
Jawaban bibik malah makin membuatkan omanya sedih. Gio tak bisa menghibur apapun. Dia hanya bisa memeluk omanya.