"Hai, sa.."
Marimas sudah sampai didepan kontrakan lisa. Berkat marimar juga lisa bisa membayar kontrakannya. Lisa hampir saja diusir karena sudah menunggak beberapa bulan.
"Yuk langsung. Kita borong semua di mallnya."
Lisa sudah siap. Hanya dengan celana jeans dan kaos simple seperti biasa. Juga dengan tas yang tak secantik milik marimar. Marimar saja bergidik ngeri melihatnya. Kumal sekali.
"Gak papa, nanti aku make over kamu." kata marimar melihat penampilan lisa. Lisa hanya diam dan menurut.
"Cuzz.."
Marima menggandeng tangan lisa untuk segera masuk ke taxi dan pergi ke mall. Tapi lisa mengunck pintu kontrakannya dulu. Setelah itu baru mereka masuk ke taxi dan menuju mall. Diperjalanan marimar mengetes kesiapan lisa untuk bekerja dengan gio atau tidak.
"Udah dibaca semua artikel tengang gio kan? Udah hafal semuanya kan? Harus hafal pokoknya. Kaalu enggak, lo buang kesempatan jadi orang kaya.
"Udah kok. Nama mama asli, mama tiri, papa asli, papa tiri, oma dan kakeknya. Makanan yang disuka gio sama yang enggak dia suka."
"Ok. Sipp.. Bagus kalau gitu."
Tak lama mereka sudah sampai di mallnya. Tau apa yang terjadi dengan mallnya. Mallnya masih tutup. Lisa sampai tercengan melihatnya. Sudah siang masih tutup. Mall sebesar yang dia lihat ditutup.
Wow
"Ma, kayaknya mallnya gak buka. Kita gak jadi belanja dong." kata lisa yang tak tau apapun.
"Tenang aja, mallnya buka kok. Cuma buat kita berdua." kata marimar sambil membayar taxinya.
"Non, udah dibayar kok. Dibuking sati hari full buat anterin non." kata supir taxinya menolah uang marimar.
Marimar terkejut, dia bahkan dapat supir sendiri seharian ini. Padahal dia gak pernah minta ke jaya.
"Ya udah pak. Saya mau belanja. Bapak cari warung atau apa aja sambil nunggu kita selesai belanja. Ini uang buat nyari makannya."
Marimar pun memberi tiga ratus ribu untuk bapak supir taxinya cari makan sambil menunggu mereka shooping.
"Yuk, kita pilih-pilih baju."
Lisa masih terpaku dengan semuanya. Apa maksudnya mallnya hanya buka untuk mereka berdua. Marimar menarik lisa untuk keluar.
Mereka berjalan masuk ke mall dengan marimas yang tak lepas menggandeng lisa, yang mungkin akan menjadi sahabat barunya itu? Ketika mereka berdua masuk, lisa makin specless. Semua karyasan si mall berbaris seperti menyambut mereka. Mereka bahkan menunduk memberi hormat.
Persis dengan drama korea yang suka lisa tonton.
Hebatt..
Batin lisa tak henti terkejut dan terkagum-kagum dengan semua yang dia lihat dan dia lakukan. Baru kali ini dia secara langsunh menyaksikan adegan seperti drama, secara langsung. Dia seperti tokoh utama wanitanya?
"Selamat datang nyonya.."
Salah satu pekerja menghampiri keduanya. Dia menunduk dan memberi hormat. Seoarang wanita paruh baya. Diikuti seorang laki-laki paruh baya. Lisa menduga kalau mereka berdua pelayan yang paling lama di hotel mungkin. Yang laki-laki nampak seperti bosnya disana.
"Saya mau cari gaun buat ibu hamil, termasuk sepatu yang bagus. Pokoknya semua tentang ibu hamil."
"Baik nyonya."
Jaya sudah memberitahu pegawainya disana. Orang yang ditelpon itu tak lain adalah laki-laki paruh baya yang cukup gemuk, dengan setelan jas tapi perutnya terlihat buncit dengan seragam ukuran orang normal.
"Anda bisa mengandalkan diah. Diah sudah memiliki dua anak, jadi dia akan lebih tau." kata sang manager pada marimar.
"Ok."
Marimar pun mau menggunakan diah. Marimar mengajak lisa ke satu ruangan dimana dipenuhi dres-dress cantik.
"Emang mall ini punya siapa maa?" dengan polosnya lisa bertanya sambil melihat sekeliling.
Mall yang benar-benar sepi. Hanya akan ada merema yang mengelilingi setiap toko di mall itu. Marimar hanya tersenyum.
"Milik om jaya sama calonnya elo."
"Calonnya gue?"
"Gio.."
"Iya lah. Siapa lagi. Beruntung kan lo dapat dia."
Beruntung, bukan main. Marimar dan lisa ditemani beberapa keliling mall itu. Jaya tak mau ada orang yang melihat lisa nanti sebelum lisa sendiri akan diperkenalkan gio ke publik, mungkin nanti untuk satu wawancara atau apa. Jadi jaya menutup mallnya. Dia juga akan mengurus sisanya, seperti beberapa orang yang kenal dengan lisa mungkin. Tapi lisa juga tak banyak teman, di kampus dia lebih suka menyendiri. Hampir tak ada yang kenal dan perduli tentang lisa yang cupu, miskin.
"Nona, ini cantik buat ibu hamil muda. Usia kandungan nona berapa bulan?" tanya dian yang sedang memikihkan beberapa baju.
"Dua bulan mbak. Hampir tiga ya saa.." marimar yang menjawabkannya untuk lisa. Lisa bingung, bahkan dia harus sudah mulai berbohong sekarang?
"Iya." lisa pun mengangguk dan pura-pura mengusap perutnya yang masih rata.
"Oh. Selamat ya nona, semoga lancar sampai melahirkan. Kalau sudah empat bulan, jangan pakai celana jeans nona, kasian adik bayinya didalam perut." kata dian lagi menasehati lisa.
"Tuhh, bandel sih dia mbakk.. Udah mau jadi ibu masih sok muda." marimar tertawa, dia menikmati sekali kebohongan ini.
"Iya mbak. Nanti saya ganti dress semua celana jeansnya." kata lisa yang sedikit canggung.
Mereka pun kembali memilihkan baju-baju persialan hamil untuk lisa. Ada kali sepuluh tas belanja atau dua puluh malah. Dua puluh milik lisa dan sepuluh milik marimar.
-
"Dokter bagaimana keadaan kakek saya?"
Gio segera berdiri dan menemui dokter ketika dokter keluar dari ruang icu itu. Dokter hanya bisa menggengeleng dan menunduk lesu. Gio tau artinya. Omanya dan juga bibik juga.
"Kakekk..." oma hanya bisa menangis mendengar kabar itu. Bibik juga ikut menangis melihat nyonya besarnya sedih.
Sedih ditinggal sang kakek, belahan jiwanya untuk selamanya.
"Kakekk.."
Gio juga. Dia memalingkan muka, menangis sejadinya. Tak bersuara hanya terus mengucurkan air mata. Selama ini kakek dan neneknya yang seperti orang tua sendiri malam, mama dan papanya sibuk dengan keluarga baru masing-masing dan mereka yang mengurus gio. Gio lagi-lagi hanya bisa memeluk omanya, tapi kali ini menangis bersama.
Kata-kata gio yang baik, untuk tidak berprasangka buruk, kalau kakeknya nanti pasti bisa sembuh dan pulang ke rumah, tertawa bersama, yang sesaat tado sirna. Gio juga hancur dan sedih.
Gio menuntun kursi roda omanya masuk ke ruangan. Disana ada seorang suster yang sudah menutup seluruh badan kakeknya dengan selimut rumah sakit. Tak ada kata selain hanya tangisan yang keluar dari omanya.
Omanya meminta gio untuk mendorongnya dekat ke tempat tidur ruang icu itu, untuk mendekati tubuh tua suaminya yang sudah tiada. Oma memeluknya erat.
"Oma, setidaknya kakek sudah tak merasakan sakit." gio menghibur sang oma.
Kakeknya sakit tua, komplikasi, hampir semuanya sudah kena. Dari batuk, paru-parunya karena jaman dulu serinh merokok, sampai jantung dan ginjal kena.