Bab.9 Pemakaman Kakek 2

1058 Words
  Gio menemui dokter dan suster. Suster pun membantu gio untuk menemui bagian pembawa jasadnya. Mereka menemui dibagian ambulance.   "Mas, ini ada pasien baru meninggal. Mau dibawa jasadnya pulang sekarang juga." kata susternya pada seorang laki-laki yang bertugas untuk mengantar jenazah.   "Oh iya sus."   Gio pun akan kembali ke kamar setelah memastikan mendapatkan ambulancenya. Orang itu menyiapkan ambulance. Lalu meminta sati orang lagi untuk membantunya mengambil jenazah dan memasukannya ke ambulance dan menemaninya mengantar jenazah itu.   "Udah yo?" tanya jaya yang melihat gio kembali.   "Udah, nanti bakalan dibawa. Oma gimana?" tanya gio melirik kedalam ruangan.   "Masih sama, dari tadi peluk dan nangis aja yo. Pasti oma lo juga kehilangan banget. Gak bisa bayangin, bertahun-tahun hidup berdua, tiba-tiba ditinggal. Gimana rasanyaaa.."   Jaya jadi mellow. Dia membayangkan kalau dirinya yang ada diposisi omanya gio. Gak bisa bayangin.   "Udah, gua mau masuk dulu."   "Oh iya."   Tak lama dua orang berseragam rumah sakit datang. Mereka yang akan membawa jenazahnya. Mereka masuk dengan jaya juga. Tapi ketika akan dipisahkan dengan sang suami, omanya gio tak mau.   "Oma mau ikut kakek aja gioo." kata omanya tak mau melepas pelukannya.   "Oma, jangan gitu. Nanti gio sama siapa." pinta gio pada omanya.   "Kasian jasad kakeknya juga oma. Orang yang udah gak ada itu harus cepet dimakamkan, nanti dia sedih kalau enggak dimakamkan." kata salah satu orang dari rumah sakit itu.   "Oma gak mau berpisah sama kakek. Oma mau mati aja sama kakek. Mau nemenin kakek. Oma gak bisa hidup tanpa kakek."   "Oma, oma gak mau wujudin impian kakek. Lihat anak gio."   Gio terpaksa mengatakan senjata pamungkas itu, dengan mengatakan itu. Permintaan yang kakek dan omanya selalu katakan pada gio, tapi sampai kakeknya meninggal gio tak juga mengabulkannya.   "Besok gio bawa kekasih gio ya nemuin oma. Dia lagi hamil. Oma gak mau liat anak gio sampai lahir. Main sama dia, mewakili kakek juga. Kakek juga pasti senang kalau oma bisa mewakili kakek lihat anak gio."   Tangisan omanya perlahan memelan. Bahkan menghilang. Omanya antara senang dan terharu akan segera mendapatkan cucu tapi juga sedih kehilangan belahan jiwanya. Tapi karena ini oma sudah mau melepaskan pelukannya dari jasad suaminya.   Oma pun akhirnya membiarkan dua orang itu untuk membawa jasad suaminya. Oma dan gio mengikuti dari belakang. Oma dan gio naik mobil sendiri sementara jasad kakeknya dibawa dengan ambulan. Gio lega setidaknya oma sudah tak menangis seperti tadi. Walau gio sendiri tak tau bagaimana perasaan omanya sekarang. Bibik duduk dibelakang menemani omanya. Bibik tak henti menggenggam tangan omanya.   Gio senang ada bibik yang selalu ada untuk omanya. Usia bibik mungkin sekitar seusia mamanya?   -   Marimar dan lisa baru selesai makan beberapa potong pizza. Marimar juga membeli untuk pekerja salon yang datang. Marimar bahkan mempersilakan tiga wanita dari salon itu untuk makan lebih dulu.   "Nona, ini sudah selesai semuanya. Bisa kita mulai perawatannya." kata salah satu wanita dari salon itu.   "Iya. Sebentar saya sama teman saya ganti baju dulu.."   "Yuk, saa.."   "Iya."   Marimar mengajak lisa untuk ganti baju ke kamar mandi. Setelah memakai handuk saja mereka langsung melakukan serangkaian perawatan. Dari mulai pijat, lulur kaki hingga satu badan. Hingga perawatan muka, krim bat, dipijat kepalanya. Sampai menghias kuku kaki dan jarinya. Terakhir memake up lisa.   Om, kapan pulang? Gimana gio?   Ditengah perawatan setelah lulur dan kramas. Sambil menunggu rambut mereka dikeringkan marimar mengirim pesan pada jaya. Tapi jaya belum membacanya.   "Mbak, bikin temen saya cantik dan anggun ya." pinta marimar pada para wanita salon itu.   "Bikin look dia lemah lembut. Make upnya yang soft ya mbak. Feminim banget. Calon ibu-ibu muda gitu."   "Kalau saya mau make up yang agak kuat tapi seksi. Sama gaya rambut juga, mau agak dikerli. Kalau temen saya kasih gaya rambut yang lurus, agak bergelombang. Pokoknya kalau liat tuh, cewek manis gitu, cantik, anggun lemah lembut. Ya saa.."   Lisa hanya mengangguk. Dua orang salon itu pun kembali mengerjakan rambut lisa dan marimar sesuai permintaan.   "Gini nona?" tanya wanita dari salon yang menata rambut lisa.   Sementara marimar sejak tadi cerewet meminta pekerja salon itu untuk lebih membuat rambutnya kriring disisi kanan kiri depan belakang, selalu saja kurang dimata marimar.   "Iya gitu. Perfect, cantik bangett.." kata marimar yang melirik lisa.   Lisa hanya diam dan menatap penalilannya yang berubah drastis. Rambut indah dan terawat. Dia bahkan memuji dirinya dalam hati, cantik. Dia tak percaya kalau dirinya juga bisa cantik.   "Oh iya, saa. Nanti kamu pakai nama anne ya. Annelis atau enggak annalisa gitu. Pokoknya anne, jangan pakai nama panggilan lisa."   "Iyahh.."   Walau lisa sendiri bingung mendengarnya. Lisa hanya mengangguk. Selesai dengan rambutnya. Kini tinggal make up dan ganti baju. Tak butuh waktu lama untuk make upnya, juga tak terlalu ribet marimarnya. Dalam beberapa menit lisa dan marimar sudah selesai di make up.   "Sa, nanti belajar make up gitu juga. Nanti aku masih kamu les make up sama mbaknya. Bisa kan mbak?" tanya marimar pada mbak salonnya.   "Iya, bisa nona."   "Nah kan. Ya udah yuk ganti baju."   Lisa dan marimar akhirnya selesai merawat diri. Mereka kembi ke kamar untuk ganti baju.   -   Mobil ambulance sudah sampai di rumah omanya gio. Mereka menurunkan jenazah kakeknya gio. Disana sudah ada beberapa orang menyambut jenazahnya. Mereka langsung membawa jenazah kakek gio untuk dimandikan dihalaman belakang rumahnya. Mereka sudah mengatur tempatnya. Disana juga ada seketaris jaya yang mengatur semuanya.   "Pak, semuanya sudah selesaikan? Saya bisa pulang?" izin sekeryatis jaya.   "Iya silakan. Makasih ya mii."   "Iya pak. Sama-sama."   Sekertaris jaya pamit pulang. Dia tak sengaja berpapasan dengan oma yang didorong kursi roda oleh gio.   "Nyonya, pak gio, saya turut berduka cita ya." kata sekertaris jaya pada oma. Dia sering sekali main ke rumah, jadi oma sudah sering melihatnya. Entah soal kerjaan atau sekedar memberi bingkisan untuk oma. Seperti makanan pasar kesukaan oma.   "Iya makasih ya, mii.."   Gio lega setelah sejak tadi omanya tak mengeluarkan sepatah mata pun, hanya suara tangisan. Oma mau menjawab mimi, sekertarisnya jaya.   "Gimana kabar anak kamu mi?" tanya oma pada mimi.   Mimi sudah menikah dan punya anak perempuan, yang kadang oma minta untuk diajak main ke rumah dengan oma dan kakek, sangking oma dan kakek gio ingin punya cicit.   "Sehat oma. Nanti mimi ajak kesini ya." kata mimi yang diangguki oleh oma. Gio juga senang, omanya sedikit tersenyum.   Gio akan kembali mendorong kursi roda omanya masuk ke rumah. Tapi sang oma menghentikannya.   "Gio, katanya mau kenalin oma sama kekasih kamu yang lagi hamil. Suruh kesini ya buat temenin oma." pinta oma pada gio. Gio melirik jaya, bagaimana? Apa lisa sudah siap secepat ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD