Bab.10 Pemakaman Kakek 3

1036 Words
  Tadinya gio ingin mengenalkan lisa nanti. Dan gio juga ingin memberikan waktu pada liaa untuk mendalami perannya. Tapi karena ada kejadian tak terduga, kakeknya meninggal. Jadilah lisa harus dipertemukan dengan omanya.   "Iya, nanti gio telpon ya oma. Kita istirahat dulu didalam. Sambil nunggu papa, mama dateng juga buat pemakaman kakek."   "Iya."   Oma menurut. Gio kembali mendorong kursi roda yang omanya naiki masuk ke rumah. Gio memberi kode pada jaya untuk menjemput lisa. Harus siap!   Jaya pun menelpon marimar untuk memberitahu situasi urgent ini. Butuh waktu beberapa lama untuk semua orang berkumpul. Mungkin pemakaman baru akan dilakukan sore atau bahkan besok. Mengingat mamanya ada diluar kota.   "Jaya, oma mana?"   Papa kandung Gio datang dengan mama tiri Gio. Jaya yang keberulan masih diluar, mencoba menelpon kekasihnya itu pun menyambut mereka.   "Ada didalam om. Masuk aja, oma sama gio."   "Oh iya. Kamu gak masuk?"   "Saya nyusul om. Ada urusan."   "Oh ok."   Papa gio menggandeng istri keduanya dan mengajaknya masuk untuk melihat sang mama. Sudah lama sekali dia tak main ke rumah mamanya, mungkin tak menginjakkan kaki ke rumah mamanya dua tahun ini. Bahkan ketika tahun baru karena masih ada selisih paham dengan papanya, opanya gio.   "Maa.."   Papa gio langsung berjongkok didepan kursi roda sang mama. Gio membawa omanya ke ruang tamu.   "Maafin aku ya ma," papa gio bersimpuh didepan mamanya. Sudah lama sekali sejak perceraian papanya gio dengan mamanya gio.   Mereka hampir jarang komunikasi. Oma tak ingin menyimpan sedih semakin lama. Dia pun memeluk anak satu-satunya itu. Lalu menantu barunya, walau pun awalnya susah menerima pernikahan keduanya.   "Maa, aku juga minta maaf ya kalau aku salah selama ini." kata mama tiri gio. Dia memeluk mama mertuanya.   "Maafin opa juga ya kalau ada salah-salah. Doain opa biar bisa tenang dialam sana. Biar dari atas opa lihat anaknya gio nanti." kata oma kalau mengatakan soal itu, oma tersenyum. Gio sangat senang mendengarnya.   "Maksudnya anak gio oma?" tanya papa gio yang hampir tak pernah ngobrol apalagi gio akan memberitahu kalau dia sudah punya kekasih yang hamil.   Oma jadi ingat dia meminta gio untuk membawa anne. Annalis, gio memperkenalkan lisa sebagai annalis, dia juga membuat beberapa dokumen untuk memalsukan identitas lisa.   -   "Seniat ituuu. Ya ampunnnn.."   Setelah selesai perawatan tiga wanita dari salon itu pergi. Marimar memberikan beberapa dokumen pada lisa untuk dia pelajari. Dokumen identitas diringa yang baru dengaia anne?   "Anne?" tanya lisa lagi. Itu nama panggil yang baru untuknya.   "Iya. Gio bilang dia gak suka nama lo yang pasaran. Dia juga mau kesanannya nama yang cantik dan lembut. Inget wanita yang feminim dan lembut. Ok?" kata marimar mengingatkan lisa lagi.   "Iyaahh.."   Lisa melihat dan membaca beberapa dokumen itu dengan seksama. Lisa mencoba mempelajarinya. Lisa mengangguk-angguk sendiri dengan apa yang dia baca, yang sepertinya dia sudah mengerti. Yang tidak, dia akan bertanya pada marimar.   "Orang tua aku diluar negeri?"   "Aku besat diluar negeri?"   "Sekolah di harvard university?" tanya lisa membelakan matanya melihat daftar isi dokumen itu.   "Emm, pantes dia nyari yang pinter." gumam marimar yang juga malas untuk membacanya. Dia tidak membaca dokumen itu. Jaya hanya memberikannya.   "Kalau nanti mereka tanya soal orang tua aku?"   "Ikut semua diskenario aja. Urusan yang lain, biar semuanya diurus sama gio dan om tercinta aku."   Marimar berdiri didepan cermin, memutar-mutarkan badannya ke kanan dan kiri, menyibakan gaun cantiknya. Lebih tepatnya dresnya.   "Cantik banget sih dressnya. Ditambah orangnya yang makai aku, pastilah makin cantik." puji dirinya sendiri didepan cermin.   "Iya kan saa. Aku cantik."   "Iya."   Lisa hanya mengangguk dan mengiyakan tanpa melihat penampilan marimar. Lagi pula di kampus pun marimar terkenal dengan kecantikannya. Di rebutkan banyak para pria di kampus. Dan lisa mengerti kenapa dia tak menerima satu pun laki-laki di kampusnya.   Secara dia punya om jaya. Yanh kaya raya. Gak ada yang menandingilah. Ditambah walau sudah cukup dewasa, lebih tepatnya cukup berumur sih, tapi tampangnya masih cool dan lisa bisa menebak dari beberapa pakaiannya, dia suka olahraga dan sangat menjaga bentuk tubuhnya. Hampir semuanya terlihay kekar dan berotot. Dari jari, ke pergelangan tangan, otot dibahu dan lengannya. Apalagi kalu hanya pakai kaos.   Uhh..   Lisa tau pasti jaya itu badannya bagus. Tapi kalai soal suka, bukan tipe lisa. Terlalu kekar dan berotot. Bahkan terlu besar karena jaya sendiri tak terlalu tinggi. Mungkin tingginya tak berbeda dengan marimar. Marimar yang tinggi semampai. Sementara tubuhnya, lebih kecil sedikit dari marimar.   Lebih pendek.   -   "Oma, apa maksudnya gio mau punya anak?" tanya papa gio lagi kepada oma.   "Pa, nitip oma bentar. Gio keluar bentar." kata gio pada papanya.   "Yo, mau kemana?"   "Aku mau jemput anne, buat nemenin oma."   "Anne?"   Papa gio dan mama tirinya hanya saling melirik bingung. Oma menyuruh anaknya untuk melepaskan tangan gio agar dia segera menjemput calonnya.   Gip segera keluar. Dia menemui jaya dan bertanya sekarang lisa dimana. Dia harus menjemput lisa dan mengajak lisa untuk menemui oma. Rencana langsung dirubah.   "Halo, sayang. Dimana sih? Dari tadi aku telpon gak diangkat."   Setelah beberapa kali menelpon akhirnya marimar mengangkat telponnya. Marimar memberitahu kegiatannya dengan lisa dan juga mereka sedang ada di hotel.   "Tunggu ya, aku kesana sama gio. Kita mau jemput lisa, gio butuh lisa sekarang buat nemenin oma. Kamu siapin lisa ya, dandan yang cantik." kata jaya lewat telpon. Jaya segera mengakhiri telponnya.   "Dimana?" tanya gio yanh sejak tadi disamping jaya. Mereka ada sedikit jauh dari rumah, jadi kemungkinan tak terdengar oleh papanya dan mama tirinya.   Harusnya sih tidak karena mereka juga sibuk menemani oma.   "Di hotel gue." kaya jaya pada gio.   "Ya udah, langsung kesana aja." ajak gio pada jaya. Jaya mengangguk.   Jaya menggunakan mobilnya yang terparkir diluar. Lebih mudah untuk keluar langsung. Jaya bahkan yang menyetir. Gio hanya duduk disamping jaya dengan bingung dan panik. Ini terlalu cepat, apa lisa bisa siap dan memerankan perannya sebagai anne dengan baik.   Mobil jaya berhenti didepan hotel. Jaya dan gio langsung menuju ke lantai atas dan akan menuju ke kamar jaya dan marimar, dimana lisa ada disana.   Baru saja turun, gio dan jaya sudah melihat lisa yang sudah siap. Sangat jauh dari penampilan awal yang gio lihat di supermarket. Atau memang orang yang beda. Tapi rasanya waktu lihat akun instagramnya, lisa yang sama di supermarket.   "Hebatt, make overnyaa. Bedaa jauhh.." puji jaya yang merangkul marimar.   Gio bahkan diam dan terpesona pada wanita didepannya. Nama alisa, kini menjadi annalis. Cantik dengan gaun bunga-bunga kecil, berwarna krem kombinasi coklat muda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD