Bab.11 Pemakaman Kakek 4

1013 Words
  Sangat cantik dan anggun. Sesaat waktu dalam dunia gio berhenti. Dia hanya memandam takjub dengan mahluk didepannya. Dengan tas mungil tapi elegan.   "Ahh inii.."   Gio melupakan sesuatu. Dia membiarkan sebuah ponsel. Ponsel baru dengan kontak dia dan kontak kedua orang tuanya di amerika. Bahkan ada beberapa nama teman-teman luar negerinya. Untungnya lisa pintar, dia bisa bahasa inggris.   "Nanti bilangnya ke oma, kamu berhenti kuliah karena hamil. Kata dokter harus banyak istirahat. Baru mau lanjut kuliah lagi setelah melahirkan, ya?" kata gio seingat dia, dia tak memasukan itu dalam dokumen.   Dia juga belum sempat diskusi banyak dengan lisa. Bahkan ini pertemuan? Keduanya?   "Ya udah. Kita berangkat sekarang. Oma pasti sudah nunggu." kaya gio pada semuanya.   "Iya, ayo kita berangkat." kata marimar yang bingung mendengar sedetail apa rencana gio.   Benar-benar sudah dipikirkan dengan sangat matang. Marimar menggandeng lisa kedalam mobil jaya. Jaya dan gio pun bergegas masuk ke mobilnya.   "Oh, iya kasih ponsel lama kamu ke marimar ya. Jangan pegang ponsel lama. Pegang yang baru aja." kata gio menoleh kebelakang pada lisa.   Lisa dan marimar sudah duduk dibelakang. Sementara jaya kembali duduk di kursi setirnya dan gio disampingnya.   "Oh iyaa.."   Lisa mengeluarkan ponsel lamanya dan memberikannya pada marimar. Lisa bahkan membawa tas kecil yang imut tapi bermerek, harganya lebih dari dua jutaan mungkin. Tas slempang kecil yang hanya muat satu ponsel dan dompet.   "Oh, dompetnya udah dikasih ke lisa, maaa?" tanya gio lagi pada marimar.   "Oh iya. Aku lupa kayaknya masih didalam hotel." kata marimar karena semuanya begitu tiba-tiba.   "Biar aku ambil."   Jaya turun untuk kembali ke hotel. Secepat mungkin dia melangkah. Jaya nail lift dan masuk ke kamarnya. Dia menelpon marimar untuk mencari dompetnya. Disana ada identitas lisa yang baru, seperti ktp, atm, kartu kredit, dll.   "Dimana yang?" tanya jaya yang tak juga menemukannya. Jaya menelpon marimar dari kamar hotel.   "Dilaci kok. Laci meja sebelah kita tidur."   "Oh ok."   Jaya mencoba membuka laci meja dekat tempat tidur. Dia melihat cukup dalam ke beberapa laci meja itu. Marimar pun memberitahu dinomer berapa dia menyimpan dompet itu.   "Iya ketemu."   Akhirnya, jaya lega menemukan dompetnya. Jaya mencoba memeriksanya dulu sebelum pergi. Setelah memastikan itu dompet yang benar. Jaya langsung keluar dari kamarnya dan menunju kembali kebawah.   "Anne, aku panggil anne ya. Kamu panggil akunya, sayang aja."   "Hah?" lisa terkejut mendengar penjelas gio lagi.   "Sayang sa. Kamu panggil gio sayang. Nama panggilan kamu anna atau ann atau anne. Ok?"   Marimar menepuk paha lisa karena lisa melongo mendengar ucapan gio yang tiba-tiba lagi. Lisa menggangguk.   "Anna dan sayang. Ok."   "Anggun didepan oma, jangan melongo, jangan jorok. Harus rapi dan bersih. Ngomongnya lemah lembut. Kamu blasteran indonesia amerika. Dari kecil di indo dan baru kuliah di amrik, cinta banget sama indo makannya liburan ke indo. Gak sengaja kita ketemu. Dua tahun lalu."   "Ok."   Gio kembali mengulang beberapa skenario yang sebenarnya sudah dia tulis dan harusnya sudah dibaca oleh lisa.   "Iya, sudah baca kok."   "Diingat ya?"   Gio kembali menoleh kearah lisa. Lisa mengangguk. Jaya membuka pintunya dan akan masuk, duduk untuk menyetir. Tapi gio langsung menghentikannya.   "Biar aku yang nyetir. Sorry ngerepotin ya bro. Bikin lo capek harus lari-larian juga."   "It's ok. Gue juga sayang sama oma, yo."   Jaya memilih duduk dibelakang untuk santai dan dimanja oleh marimar. Jaya meminta lisa untuk duduk disamping gio. Lisa pun turun dari mobil. Dia pindah kesamping gio. Gio membantu membukakan pintu.   "Makasih." kata lisa dengan canggung.   Begitu lisa duduk disamping gio, jaya duduk disamping marimar. Jaya langsung bersandar dibahu marimar. Keringat mengucur dikeningnya.   "Ya ampunn kasian banget sayangnya akuu. Gara-gara aku lupa bawa dompet jadi harus lari-larian. Capek deh."   Marimar mengeluarkan tisu dan mengelap keringat dikening jaya. Jaya malah mencuri kesempatan untuk mencium bibir marimar begitu saja.   "Om, malu tau diliatin gio sama lisa."   "Gak papa. Lisa, ini contoh buat kamu. Kamu gak boleh kaku nanti sama gio, didepan keluarga gio kamu gak boleh kaku dan canggung kayak sekarang." tunjuk jaya pada lisa yang kini duduk sangat kaku bahkan tak terlalu dekat dengan gio.   "Iya, jangan kaku ya sayangg.." gio memulai sandiwaranya. Dia seakan ingin mengajarkan lisa.   Gio mendekati lisa dan membantu lisa yang lupa memakai sabuk pengamannya. Jaya dan marimar tersenyum melihatnya.   "Iya."   Kata lisa dengan canggung lagi. Lisa bahkan dekat dengan gio, membuat jantungnya berdebar tak karuan. Dia sangat gugup. Setelah memasangkan sabuk pengamannya lisa, gio menayalakan mesinnya. Mereka akan segera kembali ke rumah omanya.   "Udah tau kan mau ngomong apa didepan oma?" tanya gio dalam perjalanan ke rumah oma.   "Tau, aku ann, kekasih gio yang sedang hamil dua bulan."   Lisa benar-benar tak bisa sesantai itu, pertama karena dia harus berbohong, membohongi orang tua. Kedua, dia terlalu canggung.   "Kok masih canggung sih ann." kata marimar yang mulai memanggilnya anna, supaya lisa bisa akrab dan mulai beradaptasi dengan itu.   "Iya maaf. Aku usahain enggak kok. Aku janji gak bakalan ngecewain kalian." kata lisa menunduk, sedikit merasa bersalah.   Dia tau tak bisa berakting. Dia ingin menolak pekerjaan itu. Tapi akhirnya dia menerima karena tergiur bayarannya.   "Jangan lupa saa, wanita hamil muda itu suka ngusap perutnya. Anda juga tuan gio. Sering meluk dan ngusap perut annalis."   "Iya nyonya jayaaa.." jawab gio dengan bercanda.   "Ada gitu, ditinggal opa yang paling dia sayangi, senyum." saut jaya melihat keduanya bercanda.   "Kan, nyonyo lo tuh tuan jaya yang mulai."   "Kan cuma ngingetin."   "Iya-iya. Tapi kan beneran, nyonga jaya. Lo gak mau hamilin nyonya lo jay? Gak mau punya anak? Udah resmi nikahkan?" tanya gio jadi membahas privasi mereka.   Lagi pula jaya biasa bercanda dengan gio. Bahkan sering curhat.   "Belum, masih sirih. Best friend lo nih. Masak gak ngurus resminya sampai detik ini. Udah setengah taun juga. Untung sayangg. Kalau enggak, aku cari om yang lain."   Jaya dan gio hanya tertawa. Gio tau kenapa jaya belum mengurus pernikahannya secara resmi.   Setelah cukup lama perjalanan mereka sampai di rumah omanya. Sudah cukup banyak yang datang. Bahkan jasad opanya ditaruh ditengah sebelum pemakaman. Beberapa pelayat datang, kolega dan juga tetangga kompleks.   Oma kembali menangis melihat jasad laki-laki yang sangat dia cintai itu. Gio menggandeng lisa untuk masuk.   "Annelis, tolong hibur oma aku ya, sayangg. Dengan babynya." kaya gio menggandeng lisa dan mengusap perut lisa.   Lisa deg-degan setengah mati. Ya ampun, sikap gio.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD