Sebelum kembali ke kantor polisi, Aaron sempatkan waktu untuk mampir dulu ke rutan. Ia ingin menjenguk Chika terlebih dahulu. Lebih tepatnya Aaron ingin tahu bagaimana kabar Chika saat ini.
Aaron lalu bergerak menuju kamar tahanan milik Chika. Ketika dirinya sampai di depan jeruji, terlihat Chika langsung berdiri dan bergerak menghampirinya.
"Mas Aaron, gimana? Ada kabar baik tentang kasus aku?" tanya Chika antusias. Ia sudah tidak sabar mendengar kabar baik dari polisi muda tersebut. Bahkan, kalau boleh meminta, Chika ingin sekali dirinya bisa bebas hari ini juga.
"Ada sedikit perkembangan. Tapi kamu harus tetap sabar, ya. Pembunuh yang sebenarnya belum bisa aku tangkap. Tapi kamu tenang aja, secepatnya pasti aku dan timku akan segera tangkap pembunuh itu. Dan saat itu juga, kamu pasti akan segera bebas dari penjara," jelas Aaron.
Tidak dipungkiri, raut wajah Chika yang tadinya terlihat semringah karena kedatangan Aaron, kini mendadak berubah menjadi murung. Chika menduga pasti Aaron sangat kewalahan menangkap pembunuh aslinya.
"Pembunuhnya pasti udah kabur ya, Mas? Makanya Mas Aaron susah buat nangkapnya?" tebak Chika.
"Ini bukan masalah kabur atau belum, Chik. Tapi pembunuh yang sebenarnya memang belum jelas siapa. Kita masih mengumpulkan bukti lagi. Kamu tenang aja. Cukup bantu doa dari sini supaya aku dan timku bisa segera menangkap pelakunya."
"Aku tentunya selalu berdoa biar kasus ini cepat terselesaikan, Mas. Nggak sanggup aku kalau seumur hidup harus dipenjara." Chika kembali memasang wajah murungnya.
"Oh iya, kamu kenal Tyo nggak? Dia salah satu temannya Gavin, kan?" Aaron mengganti topik obrolan lain.
"Oh, Mas Tyo. Kenal, Mas. Dia sering banget loh main ke tempat Mas Gavin. Mas Tyo itu kan pacarnya Nana. Memangnya ada apa ya, Mas? Tumben-tumbenan nanyain Mas Tyo?" tanya Chika penasaran.
"Aku curiga kalau pelaku sebenarnya adalah dia, Chik."
Kedua mata Chika membulat. Ia sangat terkejut mendengar tebakan Aaron. Bagaimana mungkin sahabat dekat Gavin itu tega membunuh Gavin? Jika memang benar, lalu apa motifnya? Kenapa harus dirinya yang dituduh atas perbuatan Tyo, jika memang benar Tyo pelakunya?
"Akh, nggak mungkinlah, Mas. Masa iya Mas Tyo tega ngelakuin itu, sih? Terus kenapa harus aku yang difitnah sama Nana, Mas? Alasannya apa gitu?" Chika benar-benar tidak memiliki jawaban yang tepat untuk memecahkan masalah ini.
"Tentang alasannya apa, aku sendiri juga belum tau, Chik. Aku mencurigai Tyo, karena tadi pagi aku nemu kalung perak dengan liontin huruf T di kamarnya Gavin. Kami curiga kalau kalung itu punyanya Tyo. Karena salah satu rekanku nggak sengaja lihat Tyo makai kalung yang sama persis dengan kalung itu, di salah satu video yang ada di akun youtube milik Gavin. Entah itu kalung yang sama atau bukan, kami belum tau hasilnya. Tapi feeling-ku cukup yakin kalau kalung itu memang milik Tyo."
Penjelasan Aaron belum sepenuhnya bisa diterima oleh hati nurani Chika. Bagaimana mungkin, Tyo yang selama ini Chika ketahui adalah sahabat karib Gavin, nyatanya tega menghabisi nyawa Gavin. Chika berpikir, apakah rencana pembunuhan ini masih ada sangkut pautnya dengan Nana? Karena status Nana adalah pacar Tyo, sangat tidak mungkin kalau Nana tidak tahu menahu dengan perbuatan keji yang telah dilakukan oleh Tyo.
"Aku juga cukup mencurigai Nana," kata Aaron tiba-tiba. Seolah-olah polisi muda tersebut tahu akan isi pikiran Chika saat ini.
"Nana kenapa, Mas?" tanya Chika penasaran.
"Tadi aku datang ke rumahnya untuk melakukan penyelidikan lagi, tapi Nana seolah-olah seperti menghalangi niat kami. Dan dia kelihatan sangat ngotot ingin kamu dihukum seberat-beratnya. Aku menduga Nana dan Tyo sekongkol untuk membunuh Gavin lalu memfitnah kamu sebagai pembunuhnya."
"Aku juga merasa ada yang nggak beres memang sama Nana. Kemarin, dia bener-bener nggak mau kasih kesempatan ke aku untuk memberi penjelasan sedikit pun. Aku mencoba berpikir positif, mungkin dia terlalu terpukul karena kepergian Gavin, sehingga dia main menuduh aku sebagai pembunuh Gavin, karena waktu itu posisiku ada bersama Gavin. Akh, aku terlalu pusing untuk menebak-nebak. Tapi misalkan kalau memang otak di balik pembunuhan Gavin adalah mereka berdua, aku cuma ingin tau, apa alasan mereka kenapa sampai tega memfitnah aku? Padahal selama ini aku nggak pernah gangguin hidup mereka." Chika merasa putus asa saja memikirkan masalahnya. Ia tiba-tiba kepikiran kalau bisa saja Nana tega memfitnah dirinya karena aslinya Nana tidak suka ia berhubungan dengan Gavin. Tapi selama ini Nana tidak pernah menunjukkan sikap tidak sukanya itu. Sejauh ini Nana terlihat mendukung hubungan percintaannya dengan Gavin.
"Cepat atau lambat, kita pasti akan menemukan jawabannya. Kamu yang sabar aja. Aku dan timku akan terus berusaha untuk segera menemukan penjahatnya."
Chika cukup terharu dengan tekad Aaron yang akan berusaha mati-matian untuk membuktikan bahwa dirinya memang tidak bersalah. Sebelumnya Chika sempat menduga kalau pihak kepolisian akan main menghukumnya saja tanpa mencari-cari bukti lagi.
"Makasih banyak, Mas. Aku pikir, aku akan dipenjara seumur hidup, meski aku nggak melakukan kesalahan apa-apa. Tapi ternyata kamu dan tim kamu sangat percaya dengan pengakuan aku. Dan aku salut sama kerja keras kalian yang tetap berusaha untuk membebaskan aku."
"Itu udah jadi tugas kami, Chika. Nggak perlu berterimakasih gitu. Masa iya kami harus menghukum orang yang nggak bersalah? Itu namanya nggak adil, dong. Menurut peraturan, kamu memang harus ditahan dulu selagi proses penyelidikan kasusmu belum menemukan titik terang. Karena statusmu saat ini adalah tersangka sementara. Kalau udah ketemu titik terangnya, dan memang kamu terbukti nggak bersalah, maka kamu akan segera kami bebaskan, Chik," jelas Aaron panjang lebar.
"Iya, aku paham. Tapi tetap aja aku pengen bilang makasih atas kerja keras kamu, Mas. Aku mencoba untuk mengambil hikmah dari cobaan ini. Dari sini, aku bisa ketemu sama orang sebaik kamu. Anggap aja, kamu ini seperti pengganti Gavin. Kamu nggak kalah baiknya sama Gavin."
"Ekhem, ekhem. Pengganti, ya? Pengganti dalam hal apa nih?" Aaron mendadak jadi salah tingkah. Ia berharap kalau dirinya memang benar bisa menggantikan posisi Gavin di hati Chika.
"Ya pengganti ..., eum ...?" Chika menggantungkan kalimatnya karena ia sedang memikirkan jawaban yang pas.
"Pacar pengganti maksudnya?" tebak Aaron.
Chika lantas menatap Aaron tak terbaca.
***
"Permisi, Mba Nana." Mirna menemui majikan perempuannya itu di ruang tamu.
"Ada apa, Mba Mir?" tanya Nana yang posisinya sedang duduk santai di sofa sembari bermain ponsel.
"Saya mau ijin pulang kampung ya, Mba. Anak saya sakit."
"Sakit apa anaknya, Mba Mir? Parah nggak?"
"Saya belum tau betul kondisinya, Mba Na. Makanya saya mau izin pulang dulu. Palingan dua sampai tiga harian lah, Mba."
"Duh, gimana, ya? Aku kan sekarang ngambil alih ngurus restonya Mas Gavin, Mba Mir. Otomatis, aku akan jarang di rumah. Nanti rumah kosong dong kalau Mba Mirna nggak ada. Tapi mau gimana lagi sih ya? Masa iya aku tega nggak kasih izin Mba Mir pulang, sedangkan anak lagi sakit di kampung." Meski Nana memiliki pribadi yang jutek, tapi ia tidak mungkin tega melarang Mirna untuk pulang. Lagian, cari pembantu zaman sekarang cukup susah. Kalau Nana tidak berusaha pengertian pada asisten rumah tangganya itu, bisa saja nanti Mirna jadi tidak betah dan memilih berhenti bekerja dari sini.
"Oke deh. Aku izinin Mba Mirna pulang kampung. Tapi ingat ya, jangan lama-lama. Dua hari aja cukuplah buat nengokin anak sakit. Lagian, di kampung kan ada suami sama orang tua Mba Mirna. Pastinya anak Mba yang sakit, diurusin sama mereka dong." Nana malas saja kalau asisten rumah tangganya itu terlalu lama berada di kampung. Yang ada nanti pekerjaan di rumah ini akan terbengkalai. Gadis itu bukan tipikal gadis yang rajin beres-beres rumah. Ia hanya sebatas hobi memasak. Bahkan untuk mencuci alat-alat bekas memasaknya pun, Nana kerap kali meminta Mirna untuk melakukannya.
"Baik, Mba. Saya nggak akan lama-lama kok. Saya akan kembali tepat waktu. Saya izin siap-siap dulu ya, Mba." Mirna pun pamit menuju ke kamarnya.
Sampai di kamar, Mirna segera menutup pintu rapat-rapat dan tak lupa menguncinya. Ia lalu menyeret tas besar berisi baju serta barang-barang miliknya menuju jendela kamar.
"Weh, cepetan bawa tasku ke depan. Ingat yo, ojo sampe ketahuan Mba Nana. Tenanan ki. Kudu ati-ati jalane." Setelah membuka jendela kamar, Mirna langsung menyerahkan tasnya itu kepada seorang lelaki yang merupakan satpam tetangga sebelah. Mirna berniat kabur dari rumah ini tanpa sepengetahuan Nana.
"Rebes, Mir. Sing penting bar iki, ojo lali aku dikenalke karo tonggomu seng rondo ayu iku yo."
"Wes, tenang ae. Seng penting kerjo sit awakmu. Baru nanti tak kasih upah. Tapi ingat, harus berhasil, jangan sampai ketahuan. Awas nek sampai ketahuan loh." Mirna mewanti-wanti satpam tersebut. Dan si satpam hanya mengacungkan jempol kemudian bergerak pergi sembari membawa tas milik Mirna yang cukup berat itu.
Mirna kembali menutup jendelanya, dan mulai bersiap-siap untuk pergi.
"Huh, semenjak Mas Gavin meninggal, aku merasa ora betah kerja di sini. Bawaannya takut dihantui rasa bersalah. Ben, aku mau lapor wae ke polisi, tentang kebenaran yang aku tau. Kasihan Mba Chika sampai dipenjara, padahal dia nggak salah apa-apa."
Mirna telah selesai bersiap-siap. Ia lalu keluar dari kamarnya. Kembali menemui Nana di ruang tamu untuk berpamitan.
Tbc ...