Chika diantar oleh petugas sipir wanita menuju ruang kunjungan. Di sana sudah ada Luna, yang merupakan sahabat dekatnya. Luna segera datang menjenguk Chika di rumah tahanan, ketika tahu bahwa Chika masuk penjara.
"Chika." Luna segera berdiri ketika sahabatnya itu telah ada di hadapannya. Mereka hanya sanggup saling tatap karena ada kaca besar yang menjadi penghalang.
"Luna. Tolongin aku, Lun. Aku nggak betah tinggal di sini," rengek Chika.
Luna lalu meminta Chika untuk duduk dan mulai bersikap tenang. Ia pun kembali duduk di kursi kayu yang tadi ia duduki.
"Kamu kenapa bisa masuk penjara, Chik? Kamu melakukan kesalahan apa?" tanya Luna yang sangat penasaran dengan musibah yang menimpa Chika ini.
Memang hubungan persahabatan mereka cukup dekat dan terbilang lama. Namun, karena keduanya sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing, baik Chika dan Luna jarang sekali bertemu dan saling memberi kabar satu sama lain. Luna bisa tahu Chika ada di penjara karena tadi ia iseng datang ke rumah Chika. Dan Risti memberitahu tentang kejahatan yang telah Chika lakukan sehingga membuat Chika sampai masuk penjara. Sebenarnya Luna tidak percaya dengan penuturan Risti. Makanya ia pura-pura bertanya pada Chika, supaya sahabatnya itu mau terus terang padanya.
"Aku nggak melakukan kesalahan apa-apa, Lun. Kemarin pagi, aku datang ke rumah Mas Gavin untuk nganterin sarapan. Tau-tau aku denger ada suara tembakan dari kamar Mas Gavin. Pas aku nyampe kamarnya, Gavin rupanya tertembak kepalanya dan nyawanya udah nggak ketolong lagi. Nana tiba-tiba datang dan main nuduh aku aja sebagai pembunuh Mas Gavin. Kebetulan, aku bawa pistol di tas. Nana menggeledah tas aku, dan dia nemu pistol itu. Dia langsung nuduh aku yang udah nembak Mas Gavin pake pistol itu, Lun."
Luna langsung memijit pelipisnya. Ia sudah berkali-kali memperingatkan Chika agar tidak membawa pistol jika sedang bepergian. Namun, Chika nyatanya tidak mengindahkan nasihatnya. Dan endingnya, Chika justru terkena masalah besar karena tidak mendengarkan perkataannya.
"Chik, udah berapa kali sih aku bilang, jangan bawa-bawa pistol kalau lagi di luar. Itu justru bikin bahaya diri sendiri, Chik. Kita orang biasa loh. Kalau polisi sih sah-sah aja bawa pistol. Aku yang kerjanya jadi pengawal aja, nggak pernah tuh bawa-bawa pistol pas lagi tugas. Aku cukup membekali diri dengan kemampuan beladiri. Karena senjata tajam yang kita bawa, belum tentu bisa menyelamatkan kita pas posisi kita lagi dalam bahaya. Kalau kita nggak bisa menggunakan benda tajam itu dengan baik, yang ada kita yang celaka, Chik."
Nasi sudah menjadi bubur. Kalau Chika tahu endingnya akan begini, ia pasti tidak akan menyimpan pistol peninggalan sang ayah di dalam tasnya. Karena pikir Chika, ia tidak bisa berkelahi. Jadi pilihan yang tepat adalah membawa pistol ketika bepergian untuk jaga-jaga keselamatannya.
"Sekarang mau nyesel juga nggak ada gunanya, Lun. Aku kayaknya bakalan sampe nenek-nenek di sini. Atau bahkan, sampai mati aku akan tetap mendekam di penjara." Chika sudah tidak memiliki semangat hidup lagi. Meski sebelumnya Aaron pernah berjanji akan melakukan cara apa pun untuk membuatnya bebas, tetapi Chika merasa kurang yakin kalau hal itu akan berhasil.
"Gini aja, deh. Aku akan minta bantuan klien-ku yang dulu yang merupakan seorang pengacara. Aku akan minta beliau untuk membantu masalah kamu." Hanya itu yang dapat Luna lakukan untuk membantu meringankan beban Chika.
"Kamu serius, Lun? Makasih banyak, Luna. Berkat kamu, seenggaknya aku nggak merasa seorang diri di dunia ini." Kedua mata Chika terlihat berkaca-kaca. Ia mendadak teringat dengan bagaimana sikap tak peduli Risti padanya. Sampai detik ini ibu tirinya itu pun tak kunjung menemuinya. Chika semakin sadar kalau selama ini dirinya hanya sekedar dimanfaatkan saja oleh Risti.
"Kamu kok ngomong gitu, sih? Kamu nggak sendirian lah. Aku akan selalu ada buat kamu. Aku akan usaha untuk selalu bantu masalah kamu. Kamu nggak sendirian kali, Chik." Luna cukup tahu dengan kehidupan pribadi sahabatnya ini. Ia tahu betul bagaimana perlakuan Risti pada Chika.
"Sekali lagi makasih banyak ya, Lun. Kamu memang sahabat rasa saudara buat aku," ungkap Chika haru.
***
"Permisi. Selamat siang."
Posisi Aaron telah sampai di rumah Tyo. Ia baru saja mengetuk-ngetuk pintu rumah youtuber itu.
"Ya? Mas cari siapa, ya?" Pintu baru saja terbuka. Ada seorang wanita paruh baya yang Aaron duga sepertinya wanita itu adalah ibu dari Tyo.
"Akh, selamat siang, Ibu," sapa Aaron terlebih dahulu ketimbang menjawab pertanyaan ibu tersebut.
"Siang. Mas siapa, ya? Temannya Tyo?" tanya Triana kembali.
"Bukan, Bu. Saya Aaron. Saya dari kepolisian, tepatnya dari Polres Sleman. Saya datang ke sini karena ada perlu dengan Mas Tyo. Apakah Mas Tyo-nya ada?"
Triana terlihat bingung ketika ada petugas kepolisian yang tiba-tiba datang mencari anaknya. Ia langsung kepikiran, apakah Tyo melakukan suatu kejahatan, sampai-sampai ada petugas kepolisian yang datang mencari anaknya? Lalu, apakah Tyo akan ditangkap oleh polisi tersebut?
"Akh, Ibu jangan berpikir yang tidak-tidak dulu, Bu. Tujuan saya datang ke sini karena ingin ngobrol-ngobrol sebentar dengan Mas Tyo. Ibu sendiri kan tahu kalau anak Ibu adalah salah satu teman dekatnya almarhum Gavin. Saya ingin meminta keterangan dari Mas Tyo tentang bagaimana hubungannya dengan Saudara Gavin."
"Oh, begitu. Saya sempat panik tadi. Saya pikir, anak saya bikin salah apa sampai-sampai dicariin sama polisi. Tapi maaf, Mas, Tyo sedang ada urusan di luar kota. Pulangnya kalau nggak besok ya lusa."
Aaron menatap Triana cukup serius. Ia tengah mencari kebohongan dari mata wanita paruh baya itu. Dari pandangan psikologisnya, Aaron menebak Triana ini tidak sedang berbohong.
Yang Aaron pikirkan saat ini, Tyo sedang berada di luar kota karena ada urusan pribadi, atau mungkin bisa saja Tyo sengaja kabur keluar kota karena Nana telah memberitahu bahwa pihak kepolisian telah mencurigainya?
"Kira-kira Mas Tyo-nya pergi keluar kotanya kapan ya, Bu? Akh, saya bukan bermaksud terlalu ingin tahu urusan pribadi orang. Tapi bukannya Saudara Gavin baru dimakamkan kemarin sore, ya? Masa sahabat sendiri dimakamkan, Mas Tyo tidak ikut serta hadir di pemakamannya?" Aaron hanya ingin memastikan Tyo pergi keluar kota baru-baru ini atau sudah dari kemarin. Kalau masih baru-baru ini, itu artinya memang Nana mengadu pada Tyo. Bisa saja Tyo pergi keluar kota untuk melarikan diri dari kejaran polisi.
"Tyo berangkatnya semalam, Mas. Habis dari pemakaman Gavin, dia langsung siap-siap, terus sekitar jam tujuh malam, dia sama Nana pergi ke bandara," jelas Triana.
Aaron mengangguk-anggukkan kepala pertanda paham. Ia mendadak tidak yakin kalau Tyo akan segera kembali ke kota ini. Pasti saat ini Tyo sudah diberitahu oleh Nana bahwa pihak kepolisian telah menaruh curiga padanya.
"Kira-kira Mas Tyo-nya pergi keluar kota mana ya, Bu?"
"Ke Surabaya, Mas. Nggak lama kok biasanya. Ini cuma urusan pekerjaan. Tyo nggak pernah pergi terlalu lama meninggalkan saya. Karena di rumah ini, kami cuma tinggal berdua saja."
Mendengar penjelasan Triana yang memberitahukan bahwa mereka hanya tinggal berdua di sini, mendadak membuat Aaron memiliki ide cemerlang untuk membuat Tyo bisa kembali ke kota ini dengan cepat. Namun, ia tidak ingin terlalu terburu-buru melakukannya. Ia akan menunggu terlebih dahulu hasil pemeriksaan peluru, dan pemeriksaan sidik jari di kalung yang tadi pagi ia temukan di kamar Gavin.
"Oh, begitu. Kalau tidak besok, berarti lusa ya, Bu, Mas Tyo pulangnya? Oke, kalau begitu, saya permisi dulu ya, Bu. Besok atau lusa, saya akan datang ke sini lagi. Mohon maaf karena saya sudah mengganggu waktu istirahat Ibu." Aaron pun pamit. Ia memutuskan untuk kembali ke kantornya, dan menunggu kabar dari kedua rekannya.
Tbc ...