Part 5. Kalung Berliontin Huruf T

1376 Words
Dengan sangat terpaksa, Nana akhirnya mengizinkan ketiga polisi itu untuk melakukan penyelidikan kembali di kamar Gavin. Ia lalu mengantar Aaron CS ke kamar mendiang kakak angkatnya. Nana memilih mengamati dari dekat pintu ketika para petugas kepolisian itu mulai menggeledah seisi kamar Gavin. "Silakan cari bukti lagi kalau ketemu. Bukti udah kekumpul, masih aja ribet cari bukti lagi," gerutu Nana. Aaron tidak mengindahkan ocehan gadis jutek itu. Ia bergerak menuju jendela yang berada di kamar ini. Perlahan Aaron membuka kedua jendela kaca tersebut. Model jendela di kamar Gavin ini nyaris seperti pintu. Dan di depan jendela terdapat balkon. Aaron menduga kalau si penembak tersebut pasti melewati balkon untuk sampai ke kamar korban. "Apa di rumah ini ada cctv-nya?" tanya Dani yang sedari tadi sibuk membuka-buka laci nakas dekat ranjang korban. "Nggak ada. Mas Gavin nggak pernah mau pasang cctv. Alasannya karena dia nggak pernah merasa punya musuh. Dia yakin nggak akan ada orang luar yang tiba-tiba datang ke sini untuk ngejahatin dia. Jadi dia berpikir, untuk apa pasang cctv," jelas Nana. "Saya merasa, pelaku sebenarnya adalah orang terdekat. Soalnya dia bisa tau kalau si pemilik rumah tidak memasang cctv," celetuk Aaron. "Ya, dan orang terdekatnya itu adalah Chika," timpal Nana tak mau kalah. "Akh, sebentar. Saya sepertinya menemukan sesuatu." Aaron memutung sebuah kalung perak yang tidak sengaja ia temukan di dekat jendela. "Apa kalung ini milik korban?" tanya Aaron sambil mengamati kalung tersebut. "Coba sini saya lihat." Nana bergerak menghampiri Aaron. Ia berniat merebut kalung itu dari tangan Aaron. Namun, Aaron justru menyembunyikan kalung tersebut di belakang tubuh. Tidak mungkin Aaron membiarkan orang lain menyentuh kalung tersebut dengan tangan kosong. Sementara dirinya memakai sarung tangan agar sidik jarinya tak tertinggal di kalung itu. "Saya memiliki dugaan kalau kalung ini bukan milik korban. Gas, Dan, coba kalian lihat." Aaron melempar kalung tersebut ke arah Dani. Sementara Bagas bergerak mendekati Dani, demi bisa mengecek kalung tersebut. "Kalung itu jelas punya Mas Gavin lah. Kalau bukan punya dia, lalu punya siapa lagi? Saya nggak pernah sembarangan masuk kamar dia, apalagi sampai ninggalin barang di sini," sangkal Nana. "Tapi saya curiga kalau kalung itu bukan milik korban. Coba Mba Nana perhatikan. Kalung itu memiliki liontin huruf T. Sementara korban kan namanya Gavin Bumantara? Menurut saya, aneh saja kalau orang dengan nama Gavin Bumantara, memiliki kalung dengan liontin huruf T. Itu seperti tidak masuk akal, Mba Nana." Aaron merasa ada yang janggal dengan kalung itu. "Bener juga, Ron. Aku punya kalung model begini. Ya liontinnya huruf B, dong. Kan namaku Bagas. Ini kan hurufnya T. Kemungkinan kecil, kalung ini punya orang lain. Kalau misal punya Chika, harusnya hurufnya C, dong. Kalau T, bisa jadi Tika. Atau jangan-jangan, korban punya selingkuhan namanya Tika? Asal jangan Tika Panggabean aja sih." Bagas justru berpikir melenceng. Ia tiba-tiba memiliki insting kalau kalung tersebut punya selingkuhan korban. "Menurut pengakuan Chika, korban itu pria baik-baik. Nggak mungkin punya selingkuhan, Gas," imbuh Aaron. "Terus kalung ini punya siapa jadinya, dong? Kenapa kita nggak tanya Mbah Jambrong aja? Daripada pusing mikirin ini kalung punya siapa." Dani memiliki solusi jitu. Tapi hanya dirinya saja yang berpikir bahwa itu adalah solusi yang jitu. "Mbah Jambrong, gundulmu! Kita ini reserse kriminal loh. Tugas kita itu melakukan penyelidikan serta penyidikan untuk memecahkan kasus kriminalitas. Lah kalau kita minta bantuan Mbah Jambrong buat memecahkan kasus ini, itu sama aja kita makan gaji buta, dong." Bagas sibuk menceramahi rekannya. "Wes to yo, jangan pada ribut sendiri. Kalian dapat barang bukti lain atau nggak nih?" Aaron menengahi. "Kayaknya sih nggak nemu, Ron," sahut Bagas. "Ya sudah, kalau begitu, Mba Nana, kalung itu akan kami bawa untuk kami periksa sidik jarinya di bagian liontinnya. Saya yakin, kalung itu bukan milik korban. Pemilik kalung itu nantinya akan kami datangi untuk kami mintai keterangan. Siapa tau, kami akan dapat petunjuk baru setelah tahu siapa pemilik kalung tersebut. Kalau begitu, kami undur diri dulu. Terimakasih atas kerja samanya." Aaron bergerak keluar dari kamar Gavin, disusul dengan Dani dan juga Bagas. Sementara Nana terlihat makin gelisah saja ketika kalung tersebut dibawa oleh para petugas polisi. *** "Nanti kalian hubungi tim INAFIS untuk melakukan pemeriksaan sidik jari di kalung itu," perintah Aaron pada kedua rekannya. Saat ini mereka bertiga tengah berada dalam perjalanan menuju kantor polisi tempat mereka bekerja. Menggunakan mobil Mazda 6 berwarna putih, dikombinasikan dengan merah serta biru di beberapa bagian bodinya, dan seperti biasa Dani-lah yang mengambil alih untuk menyetir. "Kalung itu kira-kira masih bisa dicek sidik jarinya atau enggak? Bukannya sidik jari pada sebuah benda akan pudar setelah lewat dari enam jam, ya?" tebak Dani. "Kita coba dulu aja, Dan. Siapa tau masih bisa terdeteksi. Oh iya, Gas, coba kamu cari tau tentang gimana kehidupan korban di channel youtube-nya. Biasanya para youtuber kan suka bikin konten tentang keseharian mereka. Entah kenapa, aku punya insting kalau pelakunya adalah orang terdekat korban. Soalnya pelaku bisa tau kalau rumah korban nggak memasang cctv. Ini aneh banget loh. Kalau sekedar memantau dari luar, belum tentu pelaku bisa tau di rumah tersebut ada cctv atau enggak." Aaron lagi-lagi menyakini pelaku sebenarnya adalah orang dalam. "Kalian sadar nggak sih sama gelagat aneh si Nana tadi? Dia seolah-olah tengah menyembunyikan sesuatu dari kita." Dani kembali teringat dengan tingkah aneh adik korban. "Emang dari awal masuk, aku udah curiga sama dia. Pasti dia ada hubungannya sama rencana pembunuhan ini," imbuh Aaron yang satu pendapat dengan Dani. "Eh, Dan, nepi dulu, Dan. Aku nemu sesuatu," kata Bagas tiba-tiba. "Sabar, Bos. Jalan raya ini bukan punya nenek moyang kita. Seenaknya main menepi, nanti yang ada kita kena semprit polisi." Dani memilih belok ke arah kiri karena jalanan di belokan itu cukup sepi. "Polisi kok kena semprit polisi? Ambyar," sahut Aaron lirih. "Nemu apa kamu, Gas? Youtuber seksi?" tebak Aaron. "Dudu to yo. Mending ente pindah ke sini, Ron. Aku nemu seseorang yang sama-sama punya kalung berliontin huruf T di channel youtube-nya korban." "Oh ya? Serius?" Aaron sempat tak percaya. Ia pun bergegas keluar, dan berpindah duduk di jok belakang, tepatnya di sebelah Bagas. Sedari tadi Bagas sibuk membuka-buka channel youtube milik Gavin. Ia iseng membuka salah satu video memasak Gavin, yang mana di video tersebut Gavin tidak sendiri. Di dalam video tersebut, rupanya ada Nana dan juga seorang pria yang diperkirakan seumuran dengan Gavin. Pria tersebut nyatanya memang mengenakan kalung yang sama persis seperti kalung yang tadi mereka temukan di kamar korban. "Mirip banget, kan? Sekedar mirip atau memang kalung tersebut adalah kalung yang sama, ya?" Bagas mulai menebak-nebak. "Laki-laki ini kira-kira namanya siapa, Gas? Punya akun youtube juga nggak?" tanya Aaron. "Eum, sebentar." Bagas mulai mengecek di deskripsi video tersebut. Di situ tertulis nama akun Nana Cute dan Tyo Pamungkas yang merupakan dua rekan Gavin di video yang diunggah oleh Gavin itu. "Namanya Tyo Pamungkas. Dia youtuber juga kayak si Nana sama Gavin. Sebentar, aku cek akunnya. Siapa tau ada info lagi." Bagas mulai mengecek akun Tyo, dan melihat-lihat beberapa koleksi video yang telah diunggah oleh si pemilik akun. "Loh, ternyata Tyo ini pacarnya Nana to?" Bagas terkejut ketika melihat salah satu video yang memiliki hastag #Jalan_Bareng_Pacar di akun milik Tyo. Rupanya isi videonya adalah acara jalan-jalannya Tyo bersama Nana ke salah satu tempat wisata terbaru di Jogja. "Jadi Tyo ini pacarnya Nana? Dan kalung yang kita temukan di kamar Gavin itu, bisa jadi adalah kalung milik Tyo. Kalau dipikir-pikir, apakah pelaku sebenarnya adalah Tyo? Dia bisa aja masuk lewat jendela, kemudian menghabisi korban dengan pistolnya. Setelah itu dia kabur, tapi sayangnya kalungnya malah jatuh dan tertinggal di dekat jendela." Aaron memiliki keyakinan kalau pelaku sebenarnya adalah Tyo. "Bisa jadi begitu sih, Ron. Piye menurutmu, Dan? Kira-kira nyambung nggak kalau Tyo pelakunya?" tanya Bagas pada Dani. "Rada nyambung juga sih. Tapi alangkah lebih baiknya, kita datangi dulu si Tyo untuk kita mintai keterangan," usul Dani. "Ya udah, mending gini aja. Untuk mempersingkat waktu, biar aku aja yang datangi Tyo ke rumahnya. Gas, tolong segera lacak alamatnya si Tyo, ya," perintah Aaron. "Oke, Bos," sanggup Bagas kemudian mulai berkutat lagi dengan laptopnya. "Sekarang kita mending balik ke kantor dulu. Aku pake motorku buat otw ke tempat Tyo. Sedangkan kalian berdua, tolong bawa kalung yang kita temukan di kamar korban tadi ke tim INAFIS, ya. Supaya segera dicek sidik jarinya," imbuh Aaron. "Siap, Bos!" jawab Dani dan Bagas serempak. Dani lalu melajukan mobil dinasnya kembali menuju kantor mereka. Tbc ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD