Part 4. Malam Pertama di Dalam Sel

1618 Words
Malam ini adalah malam pertama Chika tidur di dalam sel. Sedari tadi gadis itu memilih duduk di lantai sembari memeluk kedua kakinya. Saat ini Chika telah ditetapkan sebagai tersangka sementara. Ia mulai menjalani hukuman penjara selagi sesi penyelidikan dijalankan. Jika nanti Chika terbukti tidak bersalah, maka ia akan segera dibebaskan sebagaimana mestinya. "Aku takut ... aku pengen pulang. Di sini menakutkan. Pengap, gelap," rengek Chika. Suasana di dalam tahanan memang terasa pengap. Ditambah jika malam-malam begini, cahaya lampu juga seadanya. Chika yang notabene memiliki rasa takut berada di ruangan gelap pun merasa tak betah berlama-lama di sini. Samar-samar terdengar suara ketukan sepatu bergerak mendekatinya. Chika menduga kalau itu adalah petugas sipir yang datang untuk mengontrol para tahanan. Gadis tersebut merangkak ketakutan menuju kasur tipis yang menjadi alas tidurnya. Ia hanya takut kalau sipir tersebut akan memarahinya karena dirinya belum tidur padahal hari sudah sangat larut. "Kamu belum tidur?" tanya seorang pria dari luar jeruji. Chika mendongakkan kepala. Ia seperti mengenal suara pria ini. Perlahan Chika memberanikan diri menghampiri pria tersebut. "Aku nggak mau tidur di sini. Aku pengen pulang." Chika kembali merengek dengan menampilkan wajah memelas. Terlihat Aaron tersenyum penuh arti menanggapi rengekan Chika. "Bertahan di sini untuk beberapa hari ke depan. Aku dan timku akan segera menemukan pembunuh yang sebenarnya. Aku janji itu." Sewaktu di ruang interogasi tadi, atau lebih tepatnya setelah Chika sadar dari pengaruh hipnotis, Aaron memberitahu banyak hal pada Chika. Salah satunya adalah tentang pengakuan Chika yang sebenarnya. Aaron mengatakan pada Chika bahwa ia sangat percaya dengan pengakuan gadis tersebut. Dikarenakan orang yang terpengaruh oleh ilmu hipnotisnya tidak akan mungkin berbohong. Pun Aaron telah berjanji bahwa ia akan berusaha sebisa mungkin untuk membebaskan Chika dari penjara. Chika terdiam. Sekilas dirinya menoleh ke belakang. Tatapannya tertuju pada kasur tipis yang menjadi alas tidurnya. Rasa-rasanya Chika akan merasa sulit tidur malam ini. Ia tidak pernah tidur di kasur tipis sebelumnya. Atau lebih tepatnya ia tidak pernah terkurung di tempat pengap seperti sekarang ini. "Aku tau ini berat buat kamu. Tapi semua nggak ada pilihan lain. Dijalani aja dulu. Besok pagi aku akan mulai melakukan penyelidikan di rumah korban. Barangkali masih ada barang bukti, atau petunjuk baru yang belum sempat kami temukan." Aaron sangat paham dengan gelagat Chika yang terlihat seperti tidak nyaman berada di dalam sel. "Aku akan coba untuk tidur," sanggup Chika. Perlahan gadis yang memakai baju tahanan berwarna orange itu bergerak menuju kasurnya. Ia mulai merebahkan diri. Memejamkan mata. Berusaha keras untuk tidur. Ketika kantuk sudah datang, Chika harus berkali-kali menepuk bagian tubuhnya yang menjadi sasaran gigitan nyamuk. Sungguh Chika benar-benar merasa tersiksa tinggal dipenjara seperti ini. *** Pagi ini, Aaron dan kedua rekannya (Dani dan Bagas) sedang dalam perjalanan menuju rumah Gavin untuk kembali melakukan penyelidikan. Tentang pengakuan Chika kemarin, sebelumnya Aaron sudah memberitahu kepada dua rekannya tersebut. "Dokter Rio udah kasih kabar belum, Gas?" tanya Aaron pada Bagas yang duduknya di jok belakang. "Eum, belum. Hasil forensik kan biasanya nggak langsung sehari bisa keluar," jawab Bagas. Pihak forensik saat ini sedang memeriksa peluru yang digunakan oleh pelaku untuk menghabisi nyawa korban. Peluru tersebut akan dicocokkan dengan pistol yang berada di tas milik Chika. Sebenarnya Aaron sudah sangat yakin kalau hasilnya nanti tidak akan cocok. Namun, hasil pemeriksaan itu sangat dibutuhkan demi menguatkan bukti bahwa Chika tidak bersalah. Mobil polisi yang dikendarai oleh Dani itu akhirnya sampai di depan pagar rumah Gavin. Mereka bertiga lantas turun, bergegas memasuki halaman rumah milik seorang youtubers terkenal itu. "Permisi. Selamat pagi." Tok ... tok ... tok ... Aaron mengetuk-ngetuk pintu rumah bertingkat dua tersebut. Selang beberapa detik, pintu pun terbuka dari dalam. Memperlihatkan seorang wanita yang usianya sekitar empat puluh tahunan. Wanita tersebut adalah Mirna. "Pagi, Mba. Kami dari pihak kepolisian. Kami datang ke sini ingin melakukan penyelidikan kembali atas kasus pembunuhan terhadap Saudara Gavin. Dikarenakan, bukti-bukti yang terkumpul kemarin, belum sepenuhnya kuat. Kira-kira apakah kami boleh masuk?" Aaron meminta izin dengan sopan untuk melakukan penyelidikan kembali. Mirna terlihat bingung. Ia tidak mungkin main mengizinkan orang asing masuk rumah tanpa ada izin dari Nana. Meski orang-orang tersebut dari kepolisian. "Anu, Mas-Mas polisi. Sebentar yo. Saya mau minta izin dulu sama Mba Nana. Bukannya nggak boleh, tapi saya cuma takut dikira lancang aja, Mas. Sebentar yo." Mirna menutup pintu kembali dengan gugup. Bukannya langsung menemui Nana di kamar, wanita itu justru berdiri bersandar pada pintu dengan gelisah. "Aduh, gimana ki. Aku ngerti sopo sing salah. Tapi aku nggak berani jujur. Aku wedi tenanan ki," ucap Mirna lirih di sela-sela rasa takutnya. "Mba Mirna. Lagi ngapain sih di situ?" tanya Nana yang baru saja mendarat di ruang tamu. Mirna makin gugup saja ketika Nana tahu-tahu ada di dekatnya. Ia hanya takut Nana mendengar ucapannya tadi. "Oh, eum, anu, Mba Nana. Di depan ada mas-mas polisi yang kemarin datang ke sini. Katanya mau melakukan penyelidikan lagi, Mba." Dahi Nana lantas mengernyit. Pikirnya, untuk apa para polisi itu masih datang ke sini dan berniat melakukan penyelidikan kembali, padahal penjahatnya saja sudah mereka tangkap? "Ngapain sih mereka datang ke sini lagi?! Kayak nggak ada kerjaan aja." Nana menyingkirkan Mirna dari balik pintu. Segera ia membuka pintu tersebut, dan menatap tak suka pada ketiga polisi muda di depannya. "Selamat pagi, Mba Nana," sapa Dani ramah. "Pagi. Kalian ada perlu apalagi datang ke sini? Bukannya penjahatnya udah ditangkap? Terus, kakak saya juga udah dimakamkan kemarin sore. Jadi menurut saya, kalian nggak ada urusan lagi deh datang ke sini. Tugas kalian adalah menghukum Chika seberat-beratnya." Secara tidak langsung memang Nana telah menunjukkan sikap bahwa ia tidak mengizinkan para polisi itu untuk masuk dan melakukan penyelidikan lagi. "Begini, Mba Nana. Tujuan kami datang ke sini, punya niat baik loh, yaitu ingin membantu menuntaskan kasus pembunuhan kakak dari Mba Nana. Jadi tolong biarkan kami masuk sejenak, ya, Mba. Ada hal penting yang ingin kami bicarakan pada Mba Nana juga." Aaron mulai membujuk Nana agar bersedia mempersilakan dirinya dan kedua rekannya itu untuk masuk. Setelah beberapa detik Nana terlihat berpikir, akhirnya gadis tersebut bersedia mempersilakan Aaron CS untuk masuk. "Saya buatkan minuman dulu, ya, Mas-Mas polisi ganteng," kata Mirna setelah ketiga polisi tersebut duduk di sofa ruang tamu. "Nggak perlu terlalu baik sama mereka, Mba Mirna. Kalau pakai acara dibuatkan minum, yang ada mereka jadi kelamaan di sini." Nana melarang keras asisten rumah tangganya itu membuatkan minum untuk ketiga polisi muda di depannya. Hal ini membuat Mirna menjadi sungkan karena sebelumnya ia sudah menawarkan minuman pada Aaron CS. "Akh, nggak perlu repot-repot kali, Mba. Kita sadar diri kok. Kita kan termasuk golongan tamu yang nggak diundang sama si tuan rumah. Jadi nggak perlu repot-repot mau dibuatkan minuman segala. Ya ... meskipun sebenarnya saya rada haus, sih," gurau Dani. Sayang sekali gurauannya ini terdengar garing. Dan tidak ada satu pun orang yang terhibur akan gurauannya. "Sebelum kita melakukan penyelidikan kembali, saya ingin memberitahukan sesuatu yang sangat penting pada Mba Nana." Aaron meraih ponsel Nokia jadul pada saku celana jeans-nya. Ia lalu mencari-cari rekaman suara yang berisi pengakuan Chika kemarin. Setelah menemukan file rekaman tersebut, ia lalu memutar rekaman suara itu, dan sengaja meninggikan volumenya, supaya orang-orang di sekitar mendengar dengan jelas tanya jawab antara Aaron dan Chika kemarin. "Astaga ... kalian pikir, saya akan percaya begitu aja dengan rekaman itu? Bisa-bisanya Chika ngaku nggak tau apa-apa soal insiden penembakan itu? Jelas-jelas dia ada di kamar Mas Gavin, pas Mas Gavin ketembak. Dan saya menemukan ada pistol di tasnya Chika. Bukti udah kuat loh. Kalian mau-mau aja dikibulin oleh penjahat bermuka dua seperti Chika." Nana sama sekali tidak percaya dengan pengakuan Chika di rekaman suara tersebut. "Begini, Mba Nana, alasan kenapa kami, atau lebih tepatnya saya bisa percaya begitu saja dengan ucapan Saudari Chika dalam pengakuannya tersebut, dikarenakan Saudari Chika sedang dalam pengaruh hipnotis. Saya kebetulan bisa menghipnotis orang. Dan saya biasa menggunakan trik ini untuk mengetahui kebenaran dari si pelaku. Saya seratus persen yakin dan percaya, kalau Saudari Chika tidak akan berbohong. Kalau perlu saya berani taruhan. Mba bisa penggal kepala saya, jika misal nanti terbukti Saudari Chika adalah pelaku penembakan yang sebenarnya. Tapi, kalau misalkan nanti Saudari Chika terbukti tidak bersalah, Mba Nana harus minta maaf pada Saudari Chika dalam kondisi bertekuk lutut. Mba Nana sanggup?" Tantangan Aaron terdengar tidak main-main. Nana terlihat gugup. Ia menelan ludah susah payah. Ia tidak kepikiran kalau polisi tersebut bisa menghipnotis seseorang. Bahkan bisa membuat Chika berkata jujur tanpa ada keraguan sedikit pun. "Ya ... pokoknya saya tetap nggak percaya kalau bukan Chika pelakunya. Orang bukti udah jelas banget kok. Saya kan cuma orang awam. Di pikiran saya, saya lihat Chika ada di kamar kakak saya, sementara kakak saya udah meninggal karena ditembak, dan saya nemu pistol di tasnya Chika. Jadi otomatis, saya langsung beranggapan kalau dia adalah pembunuhnya, dong. Saya tetap nggak percaya dengan pengakuan Chika, meski kalian bilang kalau Chika berani berkata jujur karena pengaruh hipnotis. Yang saya inginkan, Chika dihukum seberat-beratnya." Permintaan Nana cukup sederhana. Hanya ingin orang yang ia dituduh telah menghabisi nyawa kakak angkatnya itu, bisa diberi hukuman yang setimpal. "Kami akan menghukum pelaku seberat-beratnya, tapi dengan catatan, yang dihukum seberat-beratnya adalah pelaku yang sebenarnya, bukan pelaku tuduhan seperti Saudari Chika. Kami tetap percaya pada pengakuan korban, karena jujur, saya sangat percaya dengan kemampuan hipnotis saya. Jadi, kali ini kami mohon kerjasama dengan Mba Nana, agar bersedia mengizinkan kami untuk melakukan penyelidikan kembali di rumah ini, terutama di kamar korban. Kalau Mba Nana masih melarang kami untuk melakukan penyelidikan lagi, secara tidak langsung, Mba Nana menuntun kami untuk mencurigai Mba Nana. Mba Nana seolah-olah menghalangi niat kami untuk melakukan penyelidikan. Bisa jadi kan kalau mungkin Mba Nana masih ada sangkut pautnya dengan kasus pembunuhan ini? Atau bisa jadi, Mba Nana adalah otak di balik pembunuhan ini?" Aaron hanya sebatas iseng menebak saja. Namun, ia tidak sadar kalau tebakannya ini membuat Nana ketakutan sekaligus panik. Tbc ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD