Aksha meninggalkan rumah itu tanpa menoleh lagi. Dadanya bergemuruh. Amarah, kecewa, dan hancur bercampur jadi satu. Setir mobil digenggam keras, rahangnya mengeras, matanya panas. Ia tidak pulang ke apartemen. Lampu-lampu kota berlalu seperti bayangan kosong sampai mobilnya berhenti di depan sebuah klub malam elit—tempat yang biasanya tak pernah ia datangi. Di sudut lain kota, Kenzo Wiradinata menerima laporan dengan senyum tipis. “Dia masuk klub, Tuan,” lapor anak buahnya. Kenzo menegakkan badan. “Bagus. Jalankan rencana.” Ia menoleh ke wanita yang duduk di sofa seberangnya. “Nilam.” Wanita itu berdiri. Tubuhnya jenjang, wajahnya cantik tajam, balutan gaun hitam melekat sempurna di tubuhnya. “Tugasmu satu,” ucap Kenzo tenang tapi berbahaya. “Pastikan Aksha jatuh… dan semuan

