Langit mulai gelap ketika Aksha masih duduk terpaku di depan makam Ayah dan Bundanya. Pandangannya kosong, seperti ada bagian dari dirinya yang ikut terkubur di sana. Langkah kaki mendekat dari belakang. “Kak…” Suara itu membuat Aksha menoleh. Fabian. Adiknya berdiri beberapa langkah darinya, wajahnya penuh kekhawatiran. Begitu mata mereka bertemu, Aksha tak sanggup menahan apa pun lagi. Ia bangkit, lalu langsung memeluk Fabian erat—sangat erat. Tangis Aksha pecah di bahu adiknya. Fabian terkejut sesaat, lalu membalas pelukan itu sambil menepuk punggung kakaknya pelan. “Udah, Kak,” ucap Fabian lembut. “Nggak apa-apa. Sekarang aku di sini.” Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aksha membiarkan dirinya lemah. “Gue capek, Bian…” suara Aksha serak. “Gue ngerasa sendirian.” Fab

