Ketika kebenaran Membakar Cinta yang terluka

1612 Words

Hari itu hari Minggu. Hari yang biasanya Aksha tunggu-tunggu. Ia berdiri di depan rumah yang dulu ia sebut rumah sendiri. Tangannya sempat terangkat hendak mengetuk, lalu pintu sudah lebih dulu terbuka. “Mas Aksha…” Mbok Darmi menunduk sopan. Wajahnya tampak ragu. “Avsar ada?” tanya Aksha langsung, suaranya terdengar sedikit berharap. Mbok Darmi menghela napas pelan. “Ibu Kirana sama Mas Avsar lagi nggak di rumah, Mas.” Langkah Aksha terhenti. “Ke mana?” tanyanya, pelan tapi tegang. “Selama libur ngajar, Bu Kirana, Mas Avsar, sama pengasuh ke Yogyakarta, Mas. Liburan… sama Pak Reza.” Kata Yogyakarta dan Pak Reza seperti dua palu yang menghantam dadanya bersamaan. “Oh…” hanya itu yang keluar dari mulut Aksha. Tidak marah. Tidak bertanya lebih jauh. Ia mengangguk kecil, lalu be

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD