Pukul sebelas malam, suasana lobi hotel terasa sunyi namun mencekam saat Aksha melangkah masuk dengan napas memburu. Fabian sudah menunggu di sana, wajahnya tampak lega sekaligus tegang. Tanpa banyak bicara, Fabian menyerahkan kartu akses kamar kepada kakaknya. "Dia di dalam, Mas. Masih belum sadar sepenuhnya, tapi dia terus memanggil namamu," bisik Fabian pelan. Aksha hanya mengangguk singkat, matanya memancarkan tekad yang tak tergoyahkan. Ia segera menuju lift dan melangkah lebar menuju kamar tempat Kirana berada. Saat pintu terbuka, pemandangan di depannya membuat jantung Aksha seakan berhenti berdetak sesaat. Kirana berbaring di atas ranjang besar, meracau tidak jelas sambil memeluk bantal erat-erat, seolah bantal itu adalah sosok yang sangat ia rindukan. Aksha mendekat perlahan,

