Mobil berhenti dengan tenang di depan rumah Dokter Aditya yang sudah nampak sunyi. Hanya lampu teras yang temaram memberikan kesan hangat di tengah udara malam yang mulai dingin. Pintu dibukakan oleh Bi Sumi yang nampak masih mengantuk namun tetap tersenyum menyambut pengantin baru itu. Begitu masuk ke dalam kamar tamu, Sabrina langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara itu, Azzam duduk di tepi ranjang yang luas. Ia mengeluarkan ponselnya, dan seketika dahinya berkerut. Puluhan notifikasi pesan dari asisten dan pihak kampus menumpuk. "Besok harus ke Yogyakarta..." gumamnya pelan sambil menghela napas. Ada rasa berat di hatinya membayangkan besok ia sudah harus meninggalkan Sabrina untuk sementara demi menyelesaikan urusan kampus yang mendesak. Tiba-tiba, suara pint

