Setelah seluruh berkas pernikahan dan buku nikah ditandatangani, Azzam berdiri di hadapan istrinya dengan wajah tenang namun mata yang masih menyimpan getar haru. Ia mengeluarkan ponselnya, memastikan sekali lagi nomor rekening Sabrina. Dengan satu sentuhan, mahar sebesar seratus juta rupiah berpindah ke rekening sang istri. Tak lama kemudian, notifikasi masuk di ponsel Sabrina. Sabrina menatap layar itu sejenak, lalu menunduk. Bukan karena jumlahnya, tapi karena kesungguhan lelaki yang kini sah menjadi suaminya. Azzam kembali menggenggam tangan Sabrina. Tak ada kemewahan berlebihan. Tak ada pesta besar.Namun malam itu terasa sangat sakral dan syahdu, sebuah ikatan yang dibangun atas niat, doa, dan keberanian untuk memperbaiki masa lalu. Satu per satu tamu undangan menghampiri. “Se

