Siang itu kampus lagi rame banget. Mahasiswa lalu-lalang, beberapa duduk sambil ngegosip, beberapa lagi buru-buru ngejar kelas. Kirana baru keluar dari ruangannya setelah selesai ngajar kelas pedagogik. Dia nenteng map, wajahnya capek tapi tetap senyum tipis.
Di ujung lorong, suara familiar langsung kedengeran.
“KIRAAANAAAAA!” teriak seorang perempuan sambil lari-lari kecil.
Kirana langsung ketawa. “Aduh, Les… bikin jantung aku copot aja.”
Alesha—teman seperjuangan Kirana sejak SMP—langsung meluk dia. Kayak biasa, heboh tapi hangat.
“Lo kenapa sih jalannya cepet? Gue dari tadi manggil nggak denger!” Alesha manyun, tapi matanya tetap cerah.
Kirana nyengir. “Maaf, tadi kelas agak chaos. Anak-anak suka nanya panjang banget.”
Alesha melirik Kirana dari atas sampai bawah. “Kayaknya lo makin kurusan deh…”
Kirana otomatis ngusap lengan. “Masa? Perasaan sama aja.”
“Ya ampun, Kir… jangan bohong deh. Gue nih sahabat lo dari jamannya kita masih pake seragam SMP, sisiran pake sisir lima ribu di koper-koper itu. Gue tuh tau kalau lo lagi stres.”
Kirana ngakak kecil. “Aleshaaa… lebay banget.”
Alesha ngelirik tajam.
“Kir, gue serius.”
Kirana terdiam sebentar, tapi kemudian akhirnya tersenyum lembut.
“Aku baik-baik aja, Les.”
Alesha langsung duduk di bangku panjang depan ruang dosen, ngajak Kirana ikut duduk. “Kir… udah dua tahun lo jalanin pernikahan sendirian. Lo tuh kayak ngejalanin rumah tangga tapi kayak jomblo versi halal. Capek nggak sih?”
Kirana diem sebentar.
Kena banget ke hatinya.
Tapi dia tetep tersenyum. “Capek sih… tapi ya udah. Aku udah biasa.”
“Kir!” Alesha langsung pegang tangan sahabatnya itu.
“Gue udah ngomong dari dulu… cerai aja. Gugat dia. Lo masih muda, lo cantik, lo pinter. Ngapain buang hidup lo buat orang yang nggak pernah ngehargain lo?”
Kirana hanya menunduk. Suaranya pelan, hampir kayak bisikan.
“Les… aku nggak bisa. Bunda Adelia terlalu baik sama aku. Kalau aku cerai, aku takut beliau kecewa. Beliau udah kayak ibu aku sendiri.”
Alesha langsung menutup wajahnya pakai tangan. “Ya Tuhan, Kir… lo terlalu baik.”
Kirana tersenyum pelan. “Aku cuma ngelakuin apa yang aku rasa benar…”
Alesha mendesah panjang banget.
“Lo tuh kayak tokoh utama drama yang menderita tapi tetep senyum. Tau nggak sih? Gue tuh gemes sama lo!”
Kirana ketawa sambil nyenggol bahu Alesha. “Udah, jangan drama.”
Alesha cuma geleng-geleng. “Gue tuh sayang sama lo, Kir. Lo sahabat gue. Gue nggak mau lo menderita terus.”
Kirana ngangkat bahu pelan. “Les, hidup orang beda-beda. Aku nggak mau cerai. Aku masih mau coba… walau cuma aku sendiri yang berusaha.”
Alesha memandang Kirana lama banget. Atau dalam.
Matanya berkaca-kaca, tapi dia tahan.
“Kirana, lo tuh pantes bahagia… tau?”
Kirana cuma tersenyum. Senyum kecil yang lebih mirip cara dia nahan sakit.
“Semoga suatu hari, Mas Aksha sadar kalau dia beruntung punya kamu,” Alesha menambahkan.
Kirana menatap lurus ke depan, jauh.
“Hm… semoga.”
Tapi di dalam hatinya, dia bertanya-tanya:
Apa masih ada harapan? Atau aku cuma nunggu sesuatu yang nggak bakal datang?
Pagi itu rumah masih sepi waktu Aksha keluar dari kamar sambil nenteng handuk di bahu.
Rambutnya masih basah, tapi dia udah rapi pakai kaus hitam favoritnya. Di ruang tamu, Kirana lagi jongkok di depan koper—nyusun baju yang udah disetrika semalem.
“Ini udah semua, Mas?” tanya Kirana pelan, sambil nutup resleting tas kecil berisi perlengkapan mandi.
Aksha cuma ngelirik sekilas.
“Iya. Taruh aja. Aku buru-buru.”
Kirana mengangguk, walau jawaban itu selalu bikin dadanya sesek.
“Oke… nanti di sana hati-hati ya. Bandung dingin.”
“Ya.”
Hanya itu. Satu kata. Datar. Kayak ngomong ke orang asing.
Beberapa menit kemudian, Aksha ngambil kunci mobil di meja tanpa bilang apa pun. Tanpa “makasih”. Tanpa “aku berangkat”.
Pintu tertutup.
Sunyi.
Kirana cuma berdiri di ambang pintu, napasnya berat.
“Ya Tuhan… sabar, Ran…”
Dia ambil tas, kunci rumah, lalu berangkat ke kampus.
Sementara Kirana sibuk dengan kelas paginya, Aksha malah belok ke arah yang berbeda, ke apartemen mewah lantai dua puluh, tempat seseorang yang jauh lebih sering dia pikirkan: Rania.
Begitu pintu kebuka dari dalam, Rania langsung nyosor peluk.
“Mas, akhirnya! Aku pikir kamu bakal telat.”
Aksha nyengir kecil—senyum yang belum pernah dia kasih ke Kirana selama lima tahun.
“Nggak lah. Kamu udah siap?”
Rania yang masih pakai blazer dokter warna krem mengangguk semangat.
“Tinggal ganti baju. Kamu tunggu bentar, ya?”
Aksha duduk di sofa, ngeliat apartemen itu. Tenang, wangi parfum Rania, dan… terasa rumah—sesuatu yang nggak pernah dia rasain di tempat Kirana.
Setelah lima belas menit, Rania keluar dengan dress sederhana warna pastel.
“Mas… beneran kita mau ke Bandung hari ini?” tanyanya ragu.
“Beneran. Kita nikah di sana. Keluarga kamu udah siap, ‘kan?”
Rania tersenyum kecil tapi matanya berbinar.
“Siap. Kak Dafa yang bakal jadi wali. Mama juga udah siapin tempat di rumah.”
Aksha berdiri, menggenggam tangan Rania.
“Oke. Kita berangkat sekarang.”
Dan mereka pun melaju ke Bandung.
Desa tempat keluarga Rania tinggal jauh dari pusat kota Bandung. Suasananya adem, banyak pepohonan, jauh dari riuh kota. Rumah mama Rania kecil tapi bersih, catnya warna biru muda.
Bu Susi menyambut mereka dengan wajah sumringah.
“Aksha, Nak… ayo masuk. Maaf ya rumahnya sederhana.”
Aksha tersenyum sopan.
“Gak apa-apa, Bu. Rumahnya nyaman kok.”
Rania melirik Aksha dengan tatapan penuh cinta, tatapan yang selalu bikin Aksha merasa dihargai.
Di ruang tengah yang hanya ada satu sofa cokelat tua, mereka memulai akad nikah sederhana. Kak Dafa duduk di depan, memegang buku nikah agama.
Aksha mengambil napas, lalu menjawab dengan mantap, satu tarikan nafas dengan lantang.
Rania menunduk, air matanya jatuh. Bu Susi menutup mulutnya, haru.
Dafa menepuk bahu Aksha.
“Sah. Selamat ya, kak.”
Bu Susi memeluk anaknya berkali-kali.
“Akhirnya kamu nemu laki-laki yang sayang sama kamu, Nak…”
Aksha cuma tersenyum. Ada sedikit rasa bersalah, tapi ditenggelamkannya.
Malamnya, mereka pindah ke hotel bintang lima di pusat Bandung. Lampu-lampunya redup, kamar mewah, balkon menghadap kota penuh cahaya.
Rania berdiri di depan jendela, memegang lengan bajunya gugup.
“Mas… kita beneran udah jadi suami istri sekarang.”
“Udah.” Aksha mendekat, memegang pinggangnya dari belakang.
“Kamu istri aku. Satu-satunya yang aku inginkan.”
Rania menoleh pelan, matanya berair.
“Mas…”
Aksha mencium keningnya.
“Malam ini… cuma ada kita.”
Dan malam itu, mereka melewati malam pertama yang buat Rania terasa seperti mimpi yang jadi nyata. Sementara jauh di Jakarta, Kirana tertidur sendirian… tanpa tau suaminya sedang membangun keluarga lain.
Aksha menatap Rania, matanya penuh hasrat yang tak lagi bisa ditahan. Rania balas menatapnya, ada air mata kebahagiaan dan gairah yang membasahi pelipisnya.
Ketika Aksha akhirnya menyatukan mereka, Rania memejamkan mata, napasnya tercekat.
“Mmm... Mas Aksha... ahh!” desahnya, suaranya tertahan.
Aksha bergerak perlahan, memberi Rania waktu untuk menyesuaikan diri. Tapi Rania tidak mau menunggu. Dia udah terlalu lama memendam rasa ini.
“Mas... ahh... Terus, Mas... Jangan pelan-pelan,” pinta Rania, tangannya meremas punggung Aksha.
Aksha menurut. Gerakannya berubah, makin lama makin cepat, makin dalam. Kasur hotel yang empuk itu berdecit pelan, mengiringi ritme mereka.
“Rania... ini gila... kamu luar biasa... ahh,” bisik Aksha, napasnya memburu, peluh mulai membasahi dahinya.
Rania menggigit bibir bawahnya, menahan suara yang mau keluar. Tapi itu percuma.
“Ahh... Ahh... Mas Aksha... Lebih cepat, Mas! Terus! Lebih dalam lagi... Ahh!”
Aksha semakin menggila. Dia menutup mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam kenikmatan yang selama ini cuma dia rasakan saat bersama Rania.
Semua beban pikiran, semua rasa bersalah, hilang ditelan gelombang asmara yang memuncak.
Dia mencondongkan tubuhnya ke Rania, menyatukan kening mereka.
“My love... Kamu cuma milikku...”
Kalimat itu, yang diucapkan dengan suara serak penuh gairah, sudah cukup buat Rania. Dia merasa dicintai, dihargai, diinginkan. Semuanya terasa pantas.
Mereka terus bergerak, mencari puncak yang sama. Desahan, erangan, bisikan kotor, dan suara kulit yang bergesekan, semuanya jadi melodi malam itu.
Tiba-tiba, tubuh Rania menegang. Matanya terpejam erat, ia mengerang panjang, memanggil nama Aksha.
“Mas Aksha! Akkkhhh!”
Aksha tahu Rania sudah sampai. Dan itu memicu ledakan di dalam dirinya.
“Ahh! Rania!”
Dengan satu hentakan kuat dan dalam, Aksha mencapai batasnya. Dia ambruk di atas Rania, napasnya terengah-engah, jantungnya berdebar kencang kayak habis lari maraton.
Keduanya terdiam. Yang tersisa cuma suara napas berat dan detak jantung yang beradu.