Setelah beberapa saat, Aksha mengangkat kepalanya, tersenyum lebar ke arah Rania. Itu senyum paling tulus, paling bahagia yang pernah dilihat Rania dari Aksha.
"Gimana? Enak banget, kan?" Aksha berbisik, nadanya bercanda tapi serius.
Rania cuma bisa ngangguk pelan, matanya masih terpejam. Dia menggeser Aksha, memeluknya erat-erat di bawah selimut.
“Kamu suami yang luar biasa, Mas. Aku sayang banget sama kamu.”
Aksha mencium puncak kepala Rania, mendekapnya.
Keintiman yang baru mereka dapatkan itu ternyata nggak cukup cuma sekali. Begitu napas mereka kembali normal, Aksha dan Rania malah saling pandang dengan senyum jahil di wajah masing-masing.
"Kamu nakal banget, Ran," bisik Aksha, mencubit pelan hidung Rania.
Rania ketawa, menggelayut manja di lengan Aksha. "Kamu juga, Mas. Nggak pernah senakal ini biasanya."
"Ya gimana, aku 'kan udah sah," balas Aksha sambil nyengir.
Dan obrolan itu nggak berlanjut. Hasrat mereka ternyata lebih kuat dari rasa lelah.
Nggak lama, suasana kamar yang tadinya tenang berubah lagi. Mereka nggak cuma stay di kasur.
Mereka kayak anak ABG yang baru dapat izin pacaran, exploring setiap sudut kamar mewah itu.
Dari kasur, Aksha narik Rania ke sofa panjang di depan TV.
Sofa velvet itu jadi saksi bisu betapa desperate-nya mereka. Tawa Rania sempat pecah waktu mereka hampir kejedot sandaran sofa.
"Aduh, Mas, pelan-pelan dong!" protes Rania sambil ketawa tertahan.
"Gimana mau pelan? Udah telanjur greget gini!" jawab Aksha sambil ngecup kilat bibir Rania.
Nggak cuma di sofa, Aksha juga iseng bopong Rania ke meja rias.
Di sana, mereka main-main di depan cermin besar. Rania melihat pantulan dirinya yang penuh gairah, dan itu membuatnya makin berani.
"Lihat tuh, Mas. Kita kayak couple di film-film, ya?" bisik Rania, suaranya serak.
"Jauh lebih nyata dan seru, Sayang," tukas Aksha, matanya nggak lepas dari pantulan Rania di cermin.
Sampai puncaknya, mereka pindah ke kamar mandi. Kamar mandi yang mewah itu, dengan bathtub marmer dan lampu temaram, terasa sangat privat.
Suara air yang menetes, plus desahan yang lebih soft dan intim, bikin suasana jadi makin panas.
Mereka benar-benar haus.
Haus akan sentuhan, haus akan pengakuan, haus akan asmara yang selama ini mereka sembunyikan. Itu bukan cuma soal seks, itu soal melepaskan semua beban dan janji. Janji yang mereka ucapkan di depan Kak Dafa tadi pagi.
Waktu terus berjalan, nggak terasa udah mau subuh. Di luar, langit Bandung udah mulai berubah warna jadi abu-abu muda.
Akhirnya, dengan napas yang udah ngos-ngosan dan tenaga yang beneran kuras habis, mereka kembali ke kasur. Badan mereka udah penuh keringat, tapi rasa capek itu nggak sebanding sama euphoria yang mereka rasain.
Aksha narik selimut, nutupin tubuh mereka berdua. Dia meluk Rania dari belakang, menenggelamkan wajahnya di rambut Rania yang harum.
"Aku... nggak nyangka kita bisa sebahagia ini, Ran," gumam Aksha, suaranya parau karena kelelahan.
Rania membalikkan badan, menghadap Aksha. Dia nyium Aksha singkat di hidung.
"Aku juga, Mas. Aku nggak peduli besok gimana, yang penting malam ini..." Dia nggak ngelanjutin kalimatnya, tapi Aksha tahu maksudnya.
"Malam ini milik kita, dan besok juga, dan seterusnya," Aksha nenangin.
Rania tersenyum, matanya berkaca-kaca. Dia meremas tangan Aksha. "Makasih, Mas."
Nggak lama kemudian, suara napas teratur Rania terdengar. Dia udah tidur, lelap banget, di pelukan Aksha.
Aksha memandangi wajah Rania di kegelapan. Wajahnya damai, puas. Aksha merasa menang. Dia mendapatkan apa yang dia mau, dengan caranya sendiri.
Tapi, begitu matanya terpejam, bayangan wajah Kirana muncul, wajahnya yang selalu sabar dan sendu.
Bodo amat. Aksha menghela napas panjang, mencoba ngusir bayangan itu. Aku udah di jalan yang benar.
Dan dia pun tertidur, memeluk istri barunya, di kota yang jauh dari istri lamanya.
Bandung mungkin lagi penuh kenangan manis buat Aksha dan Rania, tapi Jakarta? Jakarta cuma jadi saksi rutinitas Kirana yang makin hari makin terasa hampa.
Sudah hampir seminggu ini, hidup Kirana cuma muter antara kampus–rumah, kampus–rumah. Sebagai dosen muda, jadwalnya memang padat, tapi kepala dan hatinya selalu terasa kosong setelah pulang.
Di ruang dosen siang itu, Alesha, sahabat sekaligus rekan kerjanya, ngeliatin Kirana dari balik layar laptop. Alesha yang selalu heboh, cerewet, dan gampang ketawa, beda banget sama Kirana yang adem dan kalem.
“Ran, sumpah… muka lo pucet banget. Lo yakin baik-baik aja?” Alesha nyodorin minuman dingin ke meja Kirana.
Kirana ngangkat wajah, maksa senyum tipis.
“Iya, Les. Gue cuma capek, biasa.”
“Capek lo tuh bukan capek biasa,” Alesha ngejulurin bibir, suara pelan tapi serius. “Gue tuh kenal lo dari SMP, Ran. Lo tuh kalo lagi mikir berat, pasti jadi diem gitu.”
Kirana cuma menghela napas.
“Aku beneran nggak apa-apa, Les.”
Alesha mendesah, nyender ke kursi.
“Ran… lo hidup kayak gini terus tuh bukan jalan keluar, tau. Lo tuh istri, tapi jalannya kayak jomblo. Aksha jarang di rumah, dingin, lo berjuang sendirian… ini tuh makan hati banget, sumpah.”
Kirana menunduk.
“Les, aku cuma… ya jalanin aja. Demi Bunda Adelia juga. Beliau tuh baik banget sama aku.”
Alesha langsung manyun.
“Ya gue tau Bunda Adelia baik. Tapi urusan rumah tangga lo, ya lo yang ngejalanin. Bukan bunda. Lo tuh masih muda, cantik, punya karir. Ran, kalo lo cerai pun, itu bukan dosa.”
Kirana ketawa kecil, tapi kosong.
“Cerai gampang ngomongnya, Les. Jalannya… panjang.”
Alesha ngelus lengan Kirana dengan lembut.
“Ran, gue tuh sayang sama lo. Gue nggak suka lihat lo ngelamun tiap hari. Lo tuh pantas bahagia.”
Kirana tersenyum tapi matanya kelihatan sendu.
“Doain aja, Les… aku kuat.”
Alesha menarik napas, kelihatan menahan rasa sedih.
“Lo tuh kuat, Ran. Tapi jangan kuat sendirian terus. Ada gue.”
Kirana akhirnya tertawa sedikit—tertawa yang lebih mirip usaha buat nggak jatuh.
Malamnya, Kirana pulang ke rumah. Suasananya sepi banget. Lampu ruang tamu menyala redup, sofa rapi, meja makan bersih kayak nggak pernah disentuh siapa pun.
Dia masuk kamar, duduk di atas kasur, dan sempat ngeliatin koper suaminya yang berhari-hari lalu dia yang beresin.
Teleponnya sepi.
Nggak ada kabar dari Aksha.
Kirana akhirnya ngeluarin foto kedua orang tuanya. Jemarinya nyentuh permukaan bingkai sambil menahan napas yang terasa berat.
“Papa… Mama… Ran kangen…”
Suara Kirana pecah, dan dia akhirnya nangis pelan. Bukan meledak-ledak, tapi jenis tangis yang paling menyakitkan, yang ditahan, yang disimpan, yang nggak pernah didengar siapa pun.
Di Bandung, suaminya sedang berbahagia. Di Jakarta, Kirana cuma punya dirinya sendiri.
Pintu rumah kebuka pelan. Kirana yang lagi beresin meja makan langsung nengok. Begitu lihat Aksha masuk, dia reflek senyum—senyum hangat yang selalu dia pake tiap suaminya pulang.
“Mas… akhirnya pulang juga,” ucap Kirana sambil maju beberapa langkah.
Aksha cuma ngangguk tipis. Ekspresinya datar, dingin kayak AC 16 derajat.
“Hm.”
Kirana mendekat, nyoba ambil tas kerja Aksha dari tangannya.
“Capek, ya? Aku udah siapin makan. Mau mandi dulu atau langsung makan?”
“Gue… makan nanti aja.” Jawabannya pendek, tanpa tatapan.
Kirana hanya mengangguk, masih berusaha positif.
“Oke. Aku siapin di meja, ya.”
Malam itu mereka makan bareng, tapi kesannya kayak dua orang asing yang kebetulan duduk di meja yang sama. Kirana nyoba ngajak ngobrol hal ringan.
“Di Bandung gimana, Mas? Lancar? Katanya Bandung dingin banget kemarin.”
“Yah, gitu,” jawab Aksha sambil tetap lihat layar ponselnya.
Udah.
Itu doang.
Kirana cuma tersenyum kecil, nutupin rasa sesak yang mulai muncul.
Setelah makan, Kirana nyuci piring, Aksha tenggelam lagi di depan laptop. Rumah itu terasa semakin besar dan kosong tiap kali Aksha diem.
Jam sepuluh malam, mereka masuk kamar. Aksha rebahan, langsung ngetik di ponsel. Kirana duduk di tepi kasur, ngeliatin suaminya sebentar.
“Mas, besok Mas kerja di kantor apa…?”
“Aku ke apartemen,” potong Aksha tanpa menoleh. “Ada proyek yang harus diberesin.”
“Oh… satu hari?”
“Kayaknya beberapa hari.”
Hening.
Kirana cuma ngangguk, padahal dadanya kayak ditusuk pelan.
“Mas… hati-hati, ya,” ucapnya pelan.
“Hm.”
Itu aja.
Besok paginya, Aksha pergi tanpa pamit, hanya suara pintu depan yang nutup agak keras jadi tanda dia udah keluar.
Kirana keluar kamar beberapa menit kemudian, lihat meja makan masih rapi, gelas yang semalam dia siapin nggak tersentuh. Dia berdiri lama di situ, terus menarik napas panjang.
“Kirana… kuat, ya,” gumamnya sendiri.
Dan seperti itu terus berulang.
Seminggu—Aksha cuma mampir sehari. Kadang cuma setengah hari. Kadang cuma malam, itu pun tidur tanpa ngomong apa-apa.
Sisanya?
Waktunya dihabisin di apartemen mewah miliknya, yang Kirana bahkan jarang lihat. Katanya dekat kantor, katanya buat fokus kerja. Tapi Kirana udah lama berhenti nanya.
Dia cuma menjalankan perannya: nyiapin baju, nyetrika, beresin rumah, nunggu, ngirim chat “hati-hati ya Mas”.
Balasannya kadang cuma “ok”.
Kadang nggak dibaca.
Sudah satu bulan sejak Aksha menikahi Rania diam-diam di Bandung.
Kirana nggak tahu.
Yang dia tahu, suaminya makin jauh. Makin dingin. Makin jarang ada di rumah yang harusnya jadi tempat mereka membangun cinta, tapi entah kenapa cuma jadi tempat singgah sementara buat Aksha.
Sementara Kirana?
Dia cuma terus berharap, walaupun hatinya pelan-pelan remuk dari dalam.
Hari itu weekend. Udara Jakarta agak mendung, tapi di rumah Kirana justru lagi rame oleh suara riang bunda Adelia yang baru aja datang dengan koper kecil.
“Kiranaaa… ibu nginep di sini ya, Nak. Kangen banget sama kalian,” ucap bunda Adelia sambil langsung meluk Kirana.
Kirana nyengir lebar. “Aduh, iya Bunda. Aku seneng banget Bunda mau nginep. Rumah jadi rame.”
Rumah itu memang biasanya sepi. Sepi banget.
Setelah bantuin bunda naro barang di kamar tamu, Kirana buru-buru ambil HP dan ngechat Aksha.
Kirana: Mas… Bunda mau nginep di rumah. Mungkin dua hari.
Pesan baru dikirim beberapa detik, tapi terlihat jelas statusnya udah “read”.
Aksha langsung ngetik.
Aksha: Otw pulang.
Kirana menghela napas. Masih ada rasa lega meski cuma kecil. Setidaknya, kalau ada Bunda, Aksha bakalan pulang.
Di apartemen, Aksha lagi duduk di sofa apartemen sambil minum kopi. Rania yang duduk sebelahnya langsung mendelik waktu lihat ekspresi Aksha berubah.
“Kamu mau balik?” tanya Rania ketus.
“Bunda mau nginep,” jawab Aksha lempeng.
Rania ngehela napas keras. “Ya udah… pergilah. Emang gitu nasib istri kedua. Tapi kamu balik lagi, kan?”
“Ya, nanti,” jawab Aksha singkat, sambil berdiri buat ambil jaket.
Rania masih manyun. Tapi dia tau nggak ada yang bisa dia lakuin. Selama cinta Aksha tetap dia yang punya, dia nggak peduli perannya cuma di balik layar.
Begitu Aksha masuk rumah, ekspresinya langsung berubah total. Senyumnya muncul — senyum yang hampir nggak pernah Kirana lihat kalau mereka cuma berdua.
“Bunda…” Aksha mendekat dan memeluk ibunya erat.
Bunda Adelia tertawa kecil. “Anak ibu akhirnya pulang. Lama banget, Mas. Sibuk terus.”
“Namanya juga kerja, Bun,” jawab Aksha dengan nada hangat.
Kirana hanya memperhatikan dari belakang, ikut tersenyum kecil. Dia hafal luar kepala: ini hanya topeng. Tapi demi bunda Adelia, dia tetap mainkan perannya.
Tak ada kecurigaan sedikit pun dari bunda. Yang dia lihat cuma anaknya yang manis dan menantu yang lembut.
Malamnya, mereka makan bareng di meja makan. Suasananya hangat banget.
“Mas, cobain ini. Aku masak spesial buat Bunda,” kata Kirana sambil naruh lauk ke piring Aksha.
Aksha tersenyum kecil dan mengambil sendok. “Iya.”