Baru saja mereka hendak mengatur napas, ponsel Fabian bergetar hebat. Nama "Mas Aksha" berkedip di layar. Fabian menarik napas panjang sebelum mengangkatnya. "Halo, Mas?" "Kalian di mana?! Jam berapa ini? Kenapa belum balik ke rumah sakit? Cakra juga tidak bisa dihubungi!" suara Aksha terdengar menggelegar dari seberang telepon, penuh dengan nada kemarahan dan kecemasan. Fabian menjauhkan ponsel dari telinganya sejenak. "Sabar, Mas. Dengarkan aku dulu." Dengan nada tenang, Fabian menceritakan kronologi kejadian malam itu secara mendalam. Mulai dari menolong Arumi, baku hantam dengan preman, pernikahan darurat Cakra di ruang ICU atas wasiat terakhir Ibu Halimah, hingga proses pemakaman yang baru saja usai. Hening sejenak. Kemarahan di seberang sana tiba-tiba senyap. Aksha terdiam cuk

