Pintu yang masih tertutup

1671 Words

Pagi itu, langit Yogyakarta masih berwarna pucat ketika Aksha berdiri di seberang jalan rumah Pakde Ahmad. Jam di pergelangan tangannya belum menunjukkan pukul enam. Udara dingin menyentuh kulitnya, tetapi dingin itu tak sebanding dengan rasa perih di dadanya. Aksha tidak berani mendekat. Ia hanya berdiri, mengamati rumah itu dari kejauhan. Rumah yang kini menjadi tempat berlindung Kirana dan Avsar. Pintu yang kemarin tertutup rapat di hadapannya, seolah juga menutup seluruh harapannya. Sekitar pukul delapan pagi, pintu rumah terbuka. Kirana keluar dengan pakaian rapi dan sederhana. Blus berwarna lembut dipadukan dengan rok panjang, tas kerja tersampir di bahunya. Wajahnya terlihat tenang, meski sisa kelelahan masih jelas di matanya. Sebelum melangkah pergi, Kirana masuk kembali ke dala

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD