Halaman rumah Pakde Ahmad mendadak terasa sesak oleh udara yang berat. Safiyah berdiri dengan tubuh bergetar, tetapi matanya menyala oleh tekad yang sudah terlalu lama ia pendam. Zahra masih ia genggam erat, seolah menjadi satu-satunya sandaran agar ia tidak roboh. “Aku nggak datang buat merusak apa pun,” ucap Safiyah dengan suara bergetar, tetapi jelas terdengar oleh semua orang. “Aku datang buat bilang kebenaran.” Azzam masih terpaku di tempatnya. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras. “Kamu ingat kamar kos itu, Zam?” lanjut Safiyah. “Malam saat kamu datang dalam keadaan mabuk emosi, lalu kamu… menodai aku.” Riuh tamu langsung meredup. Beberapa orang menahan napas. “Kamu bilang akan bertanggung jawab,” suara Safiyah melemah sesaat, lalu kembali menguat. “Dan kamu menepati janji itu. K

