Kirana buru-buru masuk ke mobilnya. Begitu pintu tertutup, semua kekuatan yang dia tahan langsung runtuh. Air matanya jatuh bertubi-tubi. Dia mukul setir berkali-kali sambil terisak. “Kenapa sih Mas… kenapa harus gini…” suaranya pecah sampai sesak. Dadanya sakit. Kata-kata Aksha masih muter di kepala. “Aku nikah sama Rania enam bulan lalu.” Hatinya remuk nggak karuan. Dengan napas tersengal, Kirana akhirnya nyalain mesin mobil dan ngarahin mobil ke rumah Bunda Adelia, satu-satunya tempat yang kepikiran saat itu. Begitu sampai, Kirana turun dengan langkah gontai. Dia bahkan nggak sempet lap air matanya. Dia langsung masuk karena pintunya nggak dikunci. “Bun…” suara Kirana kecil, getar, nyaris hilang. Bunda Adelia yang lagi duduk di ruang tengah langsung berdiri, kaget banget lihat

