Pagi itu Azzam sudah rapi. Kemeja biru muda membalut tubuhnya, jam tangan terpasang, wajahnya terlihat lebih segar dibanding hari-hari sebelumnya. Ada harap yang tumbuh sejak subuh. Hari ini aku mau datang. Bukan menuntut, cuma ingin menunjukkan kalau aku serius. Mobilnya berhenti di depan rumah kontrakan Sabrina. Azzam turun, melangkah mantap, lalu mengetuk pintu. Tak ada jawaban. Ia hendak mengetuk lagi ketika suara tawa kecil terdengar dari dalam. Langkah kaki mendekat. Pintu terbuka. Senyum Azzam yang semula mengembang, perlahan memudar. Di dalam, Sabrina duduk di sofa. Di sampingnya, seorang laki-laki muda, gagah, rapi, dengan aura tenang. Tampan. Terlihat jelas mereka sedang mengobrol santai. Dada Azzam terasa mengencang. Namun ia tetap menegakkan bahu. “Assalamualaikum,” uc

