Ketika Kejujuran Datang Terlambat

1417 Words

Mobil melaju pelan di jalan yang mulai lengang. Lampu-lampu kota terlihat temaram di balik kaca jendela. Azzam melirik ke arah Sabrina yang sejak tadi lebih banyak diam. “Kamu sudah makan?” tanya Azzam akhirnya. Sabrina menoleh sekilas. “Belum. Tapi nanti saja, Mas. Saya bisa makan di rumah.” “Sudah hampir jam sebelas,” kata Azzam. “Aku tahu tempat yang masih buka. Kita makan sebentar, ya.” Sabrina menggeleng. “Nggak usah, Mas. Sudah malam.” “Sebentar saja,” bujuk Azzam. “Aku traktir. Anggap saja teman lama.” Sabrina terdiam. Azzam masih melaju dengan kecepatan pelan, seolah memberi waktu. “Aku janji nggak lama,” lanjut Azzam. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Sabrina mengangguk kecil. “Baiklah. Sebentar saja.” **** Rumah makan itu tidak terlalu besar, tapi masih ramai mes

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD