Azzam berhenti di depan pintu kamar rawat Zahra. Ia menarik napas sebentar sebelum mengetuk pelan. Tok. “Masuk,” sahut Safiyah dari dalam. Azzam melangkah masuk. Di dekat jendela, Arkan berdiri dengan seragam dinasnya yang rapi. Begitu melihat Azzam, pria itu langsung mendekat. “Pak Azzam,” sapa Arkan sambil mengulurkan tangan. Azzam menyambutnya. “Pak Arkan. Terima kasih sudah jaga Zahra.” Arkan tersenyum singkat. “Sama-sama. Ini juga anak saya, zam.” Ia lalu melirik jam tangannya. “Saya harus berangkat. Ada tugas dinas hari ini.” Safiyah mendekat. “Iya, aku antar sampai depan, sekalian makan siang.” Ia menoleh ke Azzam. “Mas Azzam, Zahra saya titip sebentar, ya.” Azzam mengangguk pelan. “Iya. Silakan.” Safiyah merapikan selimut Zahra, mengecup kening putrinya, lalu berpamitan.

