Bab 19: Sisy Menginap

1374 Words
Sisy sedang duduk pada sofa ruang tamu di rumah kediaman ibunya, yaitu ibu Ana sembari menyantap gorengan di depannya. "Kenapa enggak makan di rumah kakakmu aja, Sy?!" tanya Ibu Ana heran melihat Sisy yang sedang duduk sambil menyantap gorengan. Sisy menggeleng sambil terus menyumpal mulutnya dengan gorengan. "Assalamualaikum...." Dari arah pintu depan, tiba-tiba Ibu Ana dan Sisy mendengar salam mungil dengan nada yang masih cadel dari Clara yang sedang berada di gendongan Mala. Perlahan Mala menurunkan Clara dari gendongannya. Clara pun langsung berlari mendatangi Neneknya, yaitu Ibu Ana. "Eeh... Cucu Nenek yang imut." Ibu Ana tersenyum senang dan langsung mendatangi Clara dan memeluknya. Kemudian Ibu Ana menatap Mala, "Habis datang dari mana, Mal?" tanya Ibu Ana. "Enggak dari mana-mana kok, Bu," jawab Mala dengan nada lesu. Ibu Ana heran memerhatikan wajah Mala yang terlihat sedikit pucat, "Kamu sakit lagi, Mal?" tanya Ibu Ana. "Enggak, Bu," jawab Mala menggeleng sembari melangkah masuk dan duduk tepat di samping Sisy adiknya, "Sisy, tadi itu beneran apa enggak sih?!" tanya Mala pelan. Sisy meletakkan kembali gorengan yang hendak dia suap ke dalam piring di atas meja di hadapannya, "Sisy juga enggak tahu, Kak. Tapi, Sisy beneran lihat juga, Kak." Ibu Ana berjalan menghampiri Mala dan Sisy sembari menggendong Clara, "Lihat apa sih? Ibu jadi penasaran?!" tanya Ibu Ana heran. "Bu, tadi itu sumpah beneran seram banget loh, Bu." Sisy menatap wajah Ibu Ana dengan tatapan takut. "Apanya sih yang seram?" Ibu Ana mengerutkan kedua keningnya. "Nenek, nenek..." panggil Clara yang masih berada di gendongan Ibu Ana. "Mmm?!" Ibu Ana menatap Clara dengan tatapan penuh sayang. "Clara boleh pinjam PS-nya enggak, Nek?" tanya Clara. "Iya, tapi volumenya jangan keras-keras ya, Sayang." Ibu Ana perlahan menurunkan Clara dari gendongannya. "Yeeey!" seru Clara kegirangan dan langsung berlari ke arah dalam rumah menuju kamar di mana terdapat televisi dan permainan PlayStation di dalamnya. "Apanya yang seram sih?! Coba kalian cerita sama Ibu." Ibu Ana duduk di samping Mala. "Tadi itu loh Bu pas di rumah Kak Mala, Sisy sama Kak Mala ngelihat ada jejak kaki dari tanah merah gitu, tapi kami enggak tahu jejak itu dari siapa, Bu," ucap Sisy menceritakan. "Mungkin bekas Clara main," sahut Ibu Ana. "Tapi, Mala tanya sama Clara katanya enggak, Bu. Mala juga udah periksa kakinya Clara, dan beneran enggak ada bekas tanah juga di kakinya Clara, Bu," ucap Mala menjelaskan. "Bekas bik Minah mungkin. Soalnya kan, di dekat rumah dia ada gundukan tanah merah sama material buat bangun rumah di sebelah rumah bik Minah," ucap Ibu Ana menerka. "Tapi pas pagi waktu bik Minah datang, jejak kaki itu enggak ada, Bu," ucap Mala, "Mala juga nanya ke bik Minah, bik Minah juga enggak tahu," sambung Mala. "Tadinya pas di ruang tamu rumah Kak Mala, Sisy sama Kak Mala sama-sama lihat kalau di sana banyak banget jejak kaki tanah merahnya, Bu," ucap Sisy menceritakan, "Terus, pas kami cek lagi ke ruang tamu abis nanyain Clara, anehnya jejak kaki tanah merah itu udah ngilang," sambung Sisy. "Oh, mungkin udah dibersihin sama bik Minah," ucap Ibu Ana. "Masak iya sih secepat itu, Bu...." Mala mengerutkan kedua keningnya, "Lagian kan, pas aku sama Sisy nanyain Clara, bik Minah masih di dapur, Bu. Dia enggak ada ke ruang tamu kok," sahut Mala. "Ho'oh, Kak." Sisy mengangguk, "Kayaknya enggak mungkin bisa bik Minah bersihin lantai secepat itu," tambah Sisy. "Di depan rumah gimana? Apa juga ada jejak kaki tanah merahnya?" tanya Ibu Ana. "Enggak ada, Bu. Jejaknya dari arah pintu depan sampe ke arah pintu kamar aku aja, Bu," jawab Mala. "Kalau memang benar bik Minah yang bawa jejak tanah merah itu masuk ke rumah, pasti ninggalin jejak juga di depan rumah." pikir Ibu Ana, "Aneh banget sih..." gumam Ibu Ana. "Itu maksudnya kenapa ya, Bu?" tanya Mala takut. "Oalah, enggak apa-apa. Kamu enggak usah mikirin itu dulu deh," jawab Ibu Ana. "Bu, malam ini Sisy nginep di rumah Ibu aja ya," pinta Sisy. "Jangan dong Sy, kamu nginep di rumah Kakak aja ya, temenin... Kakak takut kalau sendirian di sana," ucap Mala memelas. "Kan, ada Julliant sama Clara, Kak?!" sahut Sisy. "Evant pergi ke luar kota, Mal?" tanya Ibu Ana menatap Mala. "Enggak kok, Bu. Tadi, katanya sih cuman kerja sebentar sekalian ke acara pemakaman temannya, Bu," jawab Mala. "Hm?! Memangnya siapa yang meninggal?" tanya Ibu Ana. "Temennya Ari, Bu," jawab Mala. "Temen kerja Evant juga?" Ibu Ana mengerutkan kedua keningnya. "Bukan, Bu." Mala menggeleng, "Temen perempuannya Ari, Bu. Aku enggak terlalu kenal juga sama perempuan itu, Bu," jawab Mala menjelaskan. "Ooh...." Ibu Ana mengangguk kemudian terdiam sejenak seolah sedang memikirkan sesuatu. "Ibu mikirin apa?" tanya Mala heran. "Eh, enggak..." sahut Ibu Ana seketika, "Terus, Evant pulangnya kapan, Mal?" sambung Ibu Ana balik bertanya. "Belum tahu, Bu." Mala menggeleng, "Evant belum ngasih kabar ke aku." "Nah, kalau gitu Sisy nginep di rumah Kakakmu aja. Kasian kan, Kakakmu di rumahnya cuman bareng Julliant sama Clara," ucap Ibu Ana. "Mmm... Ya udah deh...." Sisy mengangguk pasrah mengiyakan. "Yeeey... Terima kasih Sisy adik kakak yang baik hati..." puji Mala. "Eits! Tapi, kalau kak Evant pulang, Sisy tidur di mana?!" tanya Sisy. "Evant enggak mungkin pulang kalau dia enggak ngasih kabar ke Kakak, tenang aja," jawab Mala, "Lagian kamar di rumah kakak juga banyak kok, kamu tinggal pilih kamar mana yang kamu mau." "Mmm... Iya deh. Tapi Sisy minta dibelikan makanan buat camilan nanti malam ya. Boleh?!" pinta Sisy. "Whuu... Nginep aja pakai syarat segala." Mala mendengus kesal. "Ya udah, enggak jadi," sahut Sisy dengan santai. "Eh, iya iya iya! Tapi, kakak ngasih uangnya aja ya, Kamu beli sendiri camilannya." Mala mengangguk mengiyakan. "Yeeey... Entar malam ngebakso lagi!" seru Sisy merasa senang. "Beliin Ibu juga sekalian, Sy," sahut Ibu Ana. "Tenang, Bu... Kan, ada Kak Mala yang neraktir," ucap Sisy tertawa kecil. *** Malam itu di dalam kediaman Mala nampak begitu bercahaya. Rembulan seakan tidak segan untuk memberikan sinarnya. Di ruang tamu, terlihat Sisy yang sedang duduk di sofa sambil mengutak-atik smartphone di tangannya. Sedangkan Julliant menemani Clara di ruang tengah menonton televisi. Mala keluar dari salah satu ruangan yang biasa digunakannya untuk beribadah, wajahnya terlihat begitu bersinar. Sisy menoleh ke arah Mala yang masih mengenakan mukena berwarna putih, "Kak, Sisy beli baksonya ditemenin sama Julliant, ya," ucap Sisy. "Ya udah, tapi tanya dulu Julliant-nya mau atau enggak," sahut Mala, "Sebentar, kakak ngambilin uangnya dulu." Mala berjalan masuk ke dalam kamarnya. Sisy beranjak berdiri dan mendatangi Julliant yang masih menemani Clara di ruang tengah. "Julliant, temenin Tante Sisy beli bakso di depan komplek, yuk," ajak Sisy. "Ayo, Tante. Tapi, Julliant ditraktir enggak nih?!" tanya Julliant seketika beranjak berdiri. "Tenang aja. Kan, Tante juga dibayarin sama mamah kamu, Jul," jawab Sisy. "Tante... Clara ikut..." ucap Clara memelas manja menatap Sisy. "Duh, Dedek jangan ikut. Ini sudah malam loh, Dek," ucap Julliant melarang adiknya untuk ikut. "Tapi Clara mau ikut... Huaaaa...." sahut Clara seketika menangis menjerit dan berteriak sampai terdengar ke kamar Mala. "Dedeknya kenapa, Julliant?!" tanya Mala berteriak dari dalam kamarnya. Seketika tangisan Clara mereda setelah mendengar suara ibunya, yaitu Mala. "Ini, Mah... Dedek mau ikut Julliant sama Tante Sisy beli bakso!" jawab Julliant berteriak kemudian menatap Clara dan mengejeknya, "Wee!" Julliant menjulurkan lidahnya mengejek Clara adiknya. "Clara ikut! Huaaaa...." Clara kembali menangis menderu. Jeritan tangisannya memenuhi seisi ruangan tengah sampai ke kamar di mana Mala berada. Mala bergegas ke ruang tengah dan mendatangi Clara yang masih menangis, "Clara sayang... Kak Julliant sama Tante Sisy beli bakso sebentar ke depan komplek," ucap Mala membujuk Clara. "Tapi, Clara mau ikut..." sahut Clara masih tersedu segan sembari menatap Mala. "Clara nggak usah ikut Tante, ya... Clara minta dibelikan apa? Nanti Tante belikan," ucap Sisy ikut membujuk Clara. "Beliin snack aja, Tante." Clara masih menangis terisak. "Ya udah, nanti Tante belikan snack yang buaaanyaak, khusus untuk Clara yang cantik," ucap Sisy mengiyakan. "Nah, nanti Tante Sisy belikan snack buat Clara. Jadi, Clara nggak perlu ikut ya... Lagian ke depan komplek itu jauh loh, nanti kakinya Clara jadi capek gimana hayo?!" ucap Mala menatap Clara. "Iya, Mah... Clara enggak jadi ikut deh. Nanti kaki-kaki Clara jadi kecapekan," sahut Clara mengangguk polos dengan nada suaranya yang cadel dan lucu. "Yuk, Julliant," ajak Sisy. "Iya, Tante Sisy." Sisy bersama Julliant pun pergi ke depan komplek untuk membeli bakso, kemudian sebelum pulang mereka berdua singgah di sebuah minimarket dan membelikan snack untuk Clara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD