Mala duduk pada kursi di teras rumahnya sembari menunggu adiknya yang dari tadi belum juga datang untuk membeli gorengan di warungnya Bu Reval.
Wajah Mala merangut, "Duh! Kok belum nongol aja ya?! Apa Sisy nyasar?! Dari tadi juga ditungguin," gumam Mala dengan raut wajah yang tampak mulai khawatir.
Mala beranjak berdiri dan melangkah mondar-mandir di depan teras rumahnya sambil menggigit jari telunjuk di tangan kanannya, "Masa iya sih, segede itu bisa nyasar?!" gumam Mala dalam hati bertanya kepada dirinya sendiri, "Cariin enggak ya?!" pikir Mala sejenak, "Cariin aja deh."
Mala melangkah menuruni teras rumah, "Eh, tapi Clara...." Mala tiba-tiba menghentikan langkahnya, "Minta tolong Bik Minah buat jagain Clara aja deh sebentar...."
Mala berbalik badan melangkah masuk ke arah dalam rumahnya langsung menuju dapur dan mendatangi Bik Minah yang sedang memasak makanan di dapur.
"Bik!" panggil Mala setibanya di depan pintu dapur menatap Bik Minah yang sedang meletakkan masakannya di atas meja makan di dapur.
"Ya, Non Mala?!" Bik Minah menoleh ke arah Mala dan mendatangi Mala ke depan pintu dapur.
"Mala titip Clara dulu ya, Bik," ucap Mala.
"Memangnya Non Mala mau ke mana?" tanya Bik Minah.
"Mala mau ke luar sebentar nyariin Sisy, soalnya dari tadi dia belum datang dari warung Bu Reval beli gorengan," jawab Mala memberitahu.
"Sisy?!" gumam Bik Minah sembari mengerutkan kedua keningnya berpikir dan mengingat nama Sisy, "Sisy siapa, Non? Namanya kayak enggak asing," sambung Bik Minah bertanya.
"Sisy itu adik perempuan saya, Bik," jawab Mala, "Sekarang sih, Sisy tinggal sama tante Kinan adiknya Ibu, makanya dia jarang kesini, Bik," sambung Mala menjelaskan.
"Oh... Iya, sekarang saya ingat. Non Sisy yang dulu itu masih kecil banget, kan ya waktu tinggal sama bu Ana?" tanya Bik Minah memastikan sembari tersenyum, "Waktu itu saya masih sering ketemu non Sisy pas dia masih duduk di bangku sekolah dasar ya." Bik Minah terlihat senang.
Mala tertawa kecil, "Sekarang dia udah jadi anak gadis loh, Bik. Udah sekolah SMA tuh dia," ucap Mala, "Duh! Jadi lupa kan... Ya udah Bik, Mala mau nyari Sisy dulu ya." Mala berpaling dan melangkah menuju ke luar rumah, "Titip Clara sebentar ya, Bik."
***
Saat Mala melintas di ruang tamu, langkahnya tiba-tiba terhenti.
"Loh! Kok lantainya...." sontak Mala terheran ketika melihat lantai di ruang tamu yang dalam keadaan kotor dengan bercak tanah merah yang membentuk tapak kaki dari pintu depan rumah dan mengarah ke kamarnya, "Apa ini?!" Mala mengerutkan kedua keningnya sembari duduk berjongkok dan menyentuh bercak tanah merah berbentuk tapak kaki itu, "Kok bisa ada tanah merah di sini sih?!" gumam Mala semakin penasaran, "Masa Clara yang main tanah? Tapi kan, nggak ada tanah merah di sekitar sini," pikir Mala pelan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Perlahan Mala melangkah mengikuti jejak kaki yang meninggalkan bekas tanah merah itu ke arah kamarnya.
"Apa mungkin Sisy udah datang dan dia yang mengotori lantai ini?!" gumam Mala dalam hati berjalan mengikuti bercak tanah bekas jejak kaki ke arah kamarnya.
Mala berdiri tepat di depan pintu kamarnya. Tangan kanannya perlahan bergerak untuk membuka pintu. Namun, tiba-tiba Mala tersentak ketika merasakan bahu kirinya ditepuk oleh seseorang.
"Si-siapa yang nepuk bahuku?!" pikir Mala.
Dengan perlahan dan hati-hati Mala menolehkan kepalanya ke arah kiri. Betapa terkejutnya Mala setelah menoleh dan melihat bahwa seseorang yang menepuk bahunya tadi adalah Sisy adiknya.
"Sisy!" Mala sontak berteriak kesal ketika melihat bahwa adiknya yang berdiri di samping kirinya, "Kamu kemana aja sih?! Tiba-tiba datang malah ngagetin Kakak!" Mala kesal dan memarahi adiknya.
Sisy tertawa cengengesan dan menggaruk-garuk kepalanya dengan tangan kirinya. Tangan kanan Sisy tampak menjinjing sebuah kantong kresek berisi gorengan yang tadi dibelinya, "Hee... Nungguin ya," sahut Sisy tersenyum.
"Ih, kamu nih ya!" Mala merasa kesal tapi rasa kesalnya kepada adik perempuannya itu diredamnya, "Ini siapa yang bikin lantainya kotor!" tanya Mala menunjuk ke arah bawah tepat pada lantai yang penuh dengan bercak tanah berwarna merah, "Kamu kan?!" tuduh Mala, "Makanya, kalau masuk rumah itu cuci kaki dulu. Kan, kakak udah berapa kali ngingetin kamu!" Mala berkacak pinggang, "Kebiasaan!"
"Sisy nggak tahu Kak." Sisy menggelengkan kepalanya, "Ini juga Sisy baru nyampe kok," ucap Sisy membela diri.
"Hah?!" Mala mengerutkan kedua keningnya setelah mendengar ucapan dari adiknya itu, "Beneran kamu baru nyampe?" selidik Mala masih belum percaya dengan adiknya itu.
Sisy mengangguk cepat, "Iya Kak. Kan, tadi Sisy nungguin gorengannya lama banget karena tadi pas Sisy datang, warung bu Revalnya belum buka. Jadi, Sisy ketuk-ketuk pintu rumah bu Reval dulu. Nah, habis bu Reval buka warung, Sisy nungguin gorengannya dimasak, Kak," ucap Sisy menjelaskan kemudian melangkah dan duduk pada sofa di ruang tamu, "Paling juga ini bekas Clara main, Kak," sambung Sisy, "Coba deh Kakak tanyain sama Clara dulu." Sisy memberi usul kepada Mala.
Mala terdiam dan berpikir sejenak, "Bener juga ya kata kamu, Sy... Ya sudah, Kakak tanya Clara dulu deh," ucap Mala kemudian berjalan menuju ruang tengah bersama Sisy yang mengikuti dari belakang mendatangi Clara yang masih sedang bermain di sana.
Mala langsung mendatangi Clara anak perempuannya yang sedang serius menonton film kartun di televisi.
"Clara tadi main tanah di depan ya?" tanya Mala pelan sembari duduk di samping Clara.
Clara menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangannya ke arah televisi, "Enggak Mah. Dari tadi kan, Clara cuman main boneka di sini sambil nonton tv," jawab Clara kemudian meraih dan langsung memeluk erat boneka katak berwarna hijau yang ada di depannya.
Mala memalingkan wajahnya menatap Sisy kemudian menggeleng dengan raut wajah yang terlihat bingung dan Sisy hanya mengangkat bahunya karena merasa tidak tahu-menahu tentang jejak tanah merah yang dimasalahkan oleh kakaknya itu.
"Ada apa, Non Mala?" tanya Bik Minah sembari melangkah mendekat mendatangi Mala, Sisy, dan Clara.
"Itu Bik, di ruang tamu kok banyak tanah merah ya?" tanya Mala menoleh ke arah Bik Minah.
Bik Minah menatap Mala dengan heran, "Tanah merah?!" gumam Bik Minah pelan, "Masak sih Non?!" Bik Minah mengerutkan kedua keningnya, "Tapi di sekitar sini kan, nggak ada tanah merah, Non," ucap Bik Minah, "Lagian kan, tadi waktu saya datang, ruang tamu langsung saya bersihkan, Non," sambung Bik Minah.
"Coba Bibik lihat sendiri di ruang tamu," ucap Mala.
"Iya, Non." Bik Minah berjalan mendatangi ruang tamu bersama Mala dan Sisy untuk melihat dan memastikan apa yang dikatakan oleh Mala tadi tentang tanah merah yang mengotori rumahnya.
"Loh! Kok tanah merahnya nggak ada lagi sih?!" Mala sontak terkejut ketika tiba dan melihat lantai di ruang tamu yang terlihat begitu bersih, "Tadi kamu lihat juga kan, Sy?" Mala menatap adik perempuannya.
"Iya, tadi Sisy juga lihat kok, Bik," ucap Sisy.
"Mana Non Mala tanah merahnya?" tanya Bik Minah sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan heran.
"Ta-tadi ada di sini kok Bik, beneran! Sisy juga melihatnya," ucap Mala.
"I-iya ,Bik. Tadi Sisy juga lihat tanah merah memang ada di sini banyak banget, suer!" sahut Sisy.
"Oalah... Mungkin Non Mala sama Non Sisy cuma halu," ucap Bik Minah sembari tertawa pelan, "Ya sudah, saya mau jemur pakaian dulu deh, Non ya...." Bik Minah langsung melangkah ke arah dalam menuju dapur meninggalkan Mala dan Sisy yang masih merasa bingung dengan jejak tanah merah yang tadi mereka lihat.
"Aneh banget dong Kak." Sisy menggaruk kepalanya dengan raut wajah yang tampak sangat kebingungan.
Mana menggeleng, ia benar-benar tidak percaya dengan kejadian yang tadi dialaminya bersama adik perempuannya itu.
"Iih...." Sisy bergidik merinding, "Sisy izin ke rumah Ibu aja deh, ya Kak." Sisy bergegas melangkah ke luar rumah sembari membawa gorengan yang tadi dibelinya di warung Bu Reval meninggalkan Mala sendirian yang masih berdiri terdiam di ruang tamu rumahnya.
"Tunggu, Sy!" panggil Mala, tapi Sisy tidak menghiraukan dan tetap berjalan menjauh dari rumah kediaman Mala.
"Duuh... Kok bisa aneh begini sih?!" pikir Mala, "Ya sudah, mending aku nyusul Sisy aja deh ke rumah ibu." Mala bergegas ke ruang tengah dan mendatangi Clara yang masih asik menonton film kartun di televisi, "Clara ikut Mamah ke rumah nenek, yuk."
"Beneran, Mah?! Ayo!" Mendengar ajakan Mala, Clara langsung beranjak berdiri.
"Ayo." Mala langsung menggendong Clara, "Bik... Mala ke rumah ibu sebentar ya, Bik!" seru Mala berteriak ke arah dapur.
"Iya, Non...." sahut Bik Minah balas berteriak terdengar samar dari ruang tengah di tempat Mala dan Clara berada.
Mala pun bergegas berjalan sembari menggendong Clara menyusul Sisy adiknya yang lebih dulu pergi ke rumah ibunya.