Bab 17

1544 Words
Mala bergegas bangun lalu beranjak ke luar kamarnya. Dia pun melangkahkan kedua kakinya menuju dapur untuk segera melakukan aktivitas paginya sebagai seorang Ibu rumah tangga. Namun, langkah kakinya terhenti ketika dia mendengar bunyi bel di rumahnya kemudian terdengar beberapa kali pintu yang di ketuk dengan keras. "Iya bentar Bik...!" teriak Mala yang masih berada di dapur kemudian bergegas menuju ke pintu depan rumahnya, "Tumben Bik Minah datangnya pagi banget, biasanya juga sekitar jam delapan atau sembilan," gumamnya sembari berjalan. Bunyi bel kembali terdengar beberapa kali ketika Mala tiba di pintu rumahnya. Mala pun membuka pintu depan rumahnya. "Iya... bentar Bik," ucap Mala. 'JLEK....' Pintu rumah terbuka. "Selamat pagi Kakakku Sayang!" Tiba-tiba terdengar suara teriakan cempreng dari seorang gadis yang langsung memeluk tubuh Mala. "Sisy...!" teriak Mala sentak terkejut ketika melihat seorang gadis dan ternyata adalah adik perempuannya yang tinggal di Jakarta bersama Tantenya Mala yaitu Tante Kinanti. Sisy masih duduk di bangku sekolah SMU, karena sangat dekat dengan tantenya, dia lebih memilih untuk tinggal bersama tantenya di Jakarta dan bersekolah di sana dari pada harus tinggal bersama Ibunya yaitu Ibu Ana di Bandung. "Kapan kamu datang?" tanya Mala seketika. "Baru aja..." jawab Sisy seketika menyelonong masuk ke dalam rumah. "Sama siapa?" tanya Mala seraya mengikuti adik perempuannya itu dari belakang yang langsung menuju ke dapur, "Tante Kinan?" lanjutnya menebak. Sisy hanya mengangguk sambil membuka lemari es yang ada di dapur dan membuka semua lemari penyimpanan makanan lainnya, "Kak, ada makanan nggak sih?" tanyanya seketika. "Banyak..!" sahut Mala, "Itu makanan, emangnya kamu pikir apa?" lanjutnya seketika bertanya sembari menunjuk semua makanan yang ada di dalam lemari penyimpanan. "Yaaah... Ini kan mentah, Kak!" sahut Sisy mendengus kesal. "Ya kan, tinggal kamu masak aja sendiri, kamu kan bisa masak.." Sisy menghela nafas panjang. "Kalau gini, mending nunggu Ibu aja masak tadi di rumah," sahut Sisy, "Emangnya di sini nggak ada pembantu ya, Kak?" tanyanya kemudian sambil celingak-celinguk ke kiri dan kanan. "Aduuuh, ada sih..." sahut Mala, "Tapi belum datang," sambungnya, "Biasanya jam delapan atau jam sembilanan baru datang," sambungnya memberitahu. "Emangnya nggak nginep di sini?" "Iya...." "Kenapa?" tanya Sisy heran. "Yaaa, Kakak nggak mau aja kalau ada orang lain yang tinggal sama kakak," jawab Mala. "Oooh..." Kemudian Sisy duduk di meja makan, "Tapi aku udah laper banget..." katanya memelas. Mala pun terdiam sejenak, "Naahh gini aja," ucapnya, "Kamu suka gorengan nggak?" tanyanya seketika. "Iya, suka..." Sisy mengangguk dengan pasti. "Kalau gitu, kamu beli aja gorengan di blok sebelah, di tempatnya Ibu Reva," ucap Mala. "Blok sebelah mana, Kak?" tanya Sisy seketika. "Itu di blok D..." jawab Mala. "Ooh, ya udah aku ke sana dulu..." sahut Sisy kemudian berjalan keluar dari dapur meninggalkan Mala. "Duuh, kebiasaan Sisy kalau buka lemari tuh nggak pernah di tutup lagi," gerutu Mala kesal sambil menutup semua pintu lemari di dapur yang telah di buka oleh Sisy adiknya. Tak lama kemudian, Sisy tiba-tiba kembali ke dapur menghampiri Mala. "Kenapa?" tanya Mala heran melihat Sisy yang kembali ke dapur menghampirinya. "Blok D itu di mana, Kak?" sahut Sisy balik bertanya. Mala menghela nafas, "Itu, di belakang bloknya rumah ibu..." jawabnya, "Terus kamu belok kiri," lanjutnya memberitahu. "Oooh, yang tempatnya di seberang kios Ibu Ais itu ya, Kak?" tanya Sisy menerka. "Naah, iya bener...." Kemudian Sisy pun melangkah dengan cepat dan pasti kembali meninggakan Mala di dapur. Namun setelah tiba di depan rumah, Sisy tiba-tiba menghentikan langkahnya lalu berbalik badan dan kembali berjalan menuju dapur untuk kembali menghampiri Mala. "Apalagi?" tanya Mala kembali heran ketika melihat adik perempuanya itu yang kembali menghampirinya di dapur. "Hee...." Sisy tersenyum cengengesan. "Apalagi sih...?" tanya Mala lagi dengan nada sedikit kencang karena kesal. "Heee...." Sisy masih tersenyum cengengesan, "Uangnya mana, Kak?" tanyanya seketika sembari mengulurkan telapak tangan kanannya ke arah Mala. Mala kembali menghela nafas, "Iya tunggu bentar," sahutnya kemudian berjalan menuju ke kamarnya untuk mengambil uang. Melihat Mala yang berjalan menuju ke kamar, Sisy pun segera menuju ke ruang tamu untuk menunggu kakaknya itu. "Loh, Sisy tadi kemana?" gumam Mala dalam hati setelah kembali ke dapur, "Tadi itu, Sisy bukan sih...?" gumamnya lagi, "Jangan-jangan...." Mala pun bergegas keluar dari dapur lalu berjalan menuju ke ruang tamu. Di saat yang sama, Sisy tampak gelisah menunggu Mala yang tak kunjung datang untuk mengambilkan uang. Lalu, Sisy pun memutuskan untuk menghampiri Mala ke kamarnya. Namun belum sampai ke kamar, Sisy malah bertabrakan dengan Mala yang tampak berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke luar. "Aduuh..!" jerit Mala seketika dengan terkejut dan merasakan tubuhnya bertabrakan dengan adik perempuannya itu yang ternyata juga berjalan tergesa-gesa dari arah ruang tamu, "Sisy....!" teriaknya kesal, "Kamu tadi dari mana aja, kakak samperin kamu ke dapur eh, malah nggak ada," bentaknya kemudian. "Heee...." Sisy hanya tersenyum cengengesan mendengar bentakan dari Mala kakak perempuannya itu. Evant tiba-tiba keluar dari kamar setelah terbangun karena mendengar suara yang gaduh dari depan kamar, "Ada apa sih?" tanyanya seketika, "Eh... ada Sisy..." ucapnya menoleh ke arah kanan dan menatap Sisy, "Kapan datang?" tanyanya kemudian. "Hee... Tadi subuh, Kak," jawab Sisy sambil tersenyum cengengesan. "Oooh..." Evant mengangguk. "Ini, kamu beli gorengan dulu gih..." ucap Mala sembari menyerahkan selembar uang kertas berwarna biru kepada Sisy adik perempuannya itu. Sisy pun mengambil uang yang di serahkan kakaknya kepadanya, kemudian segera berjalan keluar dan menuju ke tempat penjual gorengan yang lokasinya sudah di beritahukan Mala. Mala pun menghela nafas setelah melihat Sisy yang pergi menuju ke tempat penjual gorengan. "Ya udah, Papah mau mandi dulu ya, Mah," ucap Evant kemudian berjalan ke arah dapur menuju ke kamar mandi. "Kenapa nggak pakai kamar mandi yang di dalam kamar aja, Pah?" tanya Mala sembari berjalan mengikuti Evant ke arah dapur. "Air di kamar macet, Mah," sahut Evant. "Tapi gimana kalau nanti Julliant mau mandi? Dia kan mau sekolah..." ucap Mala, "Mandinya jangan lama-lama ya, Pah," lanjutnya. "Iya-iya..." sahut Evant kemudian melangkah masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dapur. Kemudian Mala pun menyiapkan beberapa potong roti dan sebuah botol kaca berisi selai coklat di atas meja makan untuk suami dan kedua anak-anaknya sarapan. Setelah selesai menyiapkan sarapan, Mala segera berjalan menuju ke kamar Julliant untuk membangunkannya. "Tumben Julliant belum bangun," gumam Mala setelah masuk ke dalam kamar anak laki-lakinya itu, "Pasti karena begadang tadi malam, kesiangan kan jadinya," gumamnya lagi. Mala membuka tirai penutup jendela di dalam kamar Julliant sehingga cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah jendela dan Julliant pun terbangun karena silaunya cahaya matahari itu mengenai wajahnya. "Eh, Mamah..." sentak Julliant seketika beranjak duduk di atas tempat tidurnya. "Kesiangan kan..." sahut Mala, "Makanya jangan begadang lagi," lanjutnya mengingatkan anak laki-lakinya itu. "Iya Mah..." sahut Julliant lirih sembari mengucak-ngucak matanya yang masih terasa sedikit berat. "Ya udah, mandi sana," seru Mala. Julliant pun segera keluar kamar lalu berjalan menuju ke kamar mandi yang ada di dapur. Kemudian Mala keluar dari kamar Julliant lalu lanjut berjalan menuju ke kamar Clara untuk membangunkannya. Setelah membangunkan Clara, kemudian Mala kembali berjalan menuju dapur menyiapkan bekal untuk di bawa Julliant ke sekolahnya. Namun setelah Mala tiba di dapur, ia melihat Julliant yang masih duduk di meja makan. "Kok belum mandi sih?" tanya Mala seketika. "Tuuh.." tunjuk Julliant ke arah pintu kamar mandi, "Papah belum selesai mandinya, Mah," lanjutnya. "Papah kok lama banget sih mandinya," gerutu Mala geram sembari berjalan dengan cepat menuju ke depan kamar mandi lalu menggedor-gedor pintu kamar mandi dengan keras, "Pah...! Cepetan dong mandinya!" bentaknya berteriak di depan kamar mandi. "Iya bentar lagi," sahut Evant samar terdengar dari dalam kamar mandi. "Bentar-bentar... Nanti keburu Pak Sugeng datang, Pah," bentak Mala lagi kemudian berjalan menuju meja dapur dan menyiapkan bekal untuk Julliant. Tak lama kemudian Evant pun keluar dari kamar mandi. "Nah, Papah udah selesai, cepetan mandinya Julliant, nanti kamu telat.." ucap Mala seketika. Julliant pun kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Evant berjalan sembari menggosok-gosok kepalanya dengan handuk dan menghampiri Mala, "Kok tumben Mamah pagi-pagi udah ngomel...?" tanya Evant heran dengan berdiri di belakang Mala. Mala menghela nafas, "Papah hari ini ke kantor kan?" sahut Mala tidak menghiraukan pertanyaan dari suaminya itu, tapi malah balik melontarkan pertanyaan. "Iya, tapi perginya agak siangan dikit, Mah," jawab Evant. "Kenapa? Kok siang sih, Pah?" tanya Mala seketika berbalik badan menatap ke arah Evant suaminya. "Soalnya pagi ini Papah mau ikut nemenin Ari ke pemakaman Kamelia, Mah," jawab Evant setelah mengambil sepotong roti yang berada di atas meja makan kemudian menyantapnya. Tak lama kemudian terdengar bunyi motor milik Pak Sugeng yang berhenti tepat di halaman rumah Mala. Lalu pintu depan rumah Mala yang sudah terbuka di ketuk oleh Pak Sugeng. "Assalamu'alaikum..." ucap Pak Sugeng terdengar samar dari depan rumah hingga ke dapur. "Wa'alaikumsalam..." sahut Mala dari dapur kemudian bergegas menuju ke depan lalu mempersilahkan Pak Sugeng untuk masuk dan menunggu di ruang tamu. Kemudian Mala berjalan menuju kamarnya untuk mengambil kunci mobil lalu menyerahkannya kepada Pak Sugeng sambil berteriak memanggil Julliant yang masih sedang menyantap sarapan di dapur. Julliant pun tampak tergesa-gesa berjalan dari dapur dan menuju ke ruang tamu sambil masih menghabiskan sepotong roti di tangannya. "Maskernya jangan lupa," ucap Mala mengingatkan anak laki-lakinya itu. "Iya, Mah," sahut Julliant dengan mulut masih penuh roti kemudian mengunyah dan menelannya. Mala pun mengantar Julliant sampai ke depan rumah dan Julliant pun pergi ke sekolah dengan di antar oleh Pak Sugeng kemudian Mala pun masuk ke dalam rumahnya kembali dan menyiapkan keperluan untuk putri kecilnya yang sudah menunggunya duduk di ruang tengah sembari menonton televisi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD