Bab 2

1564 Words
Mala menempati rumah barunya setelah memberitahu dan meminta izin kepada orang tua Evant. Mala pun tidak lupa memberitahukan tentang kepindahannya kepada sahabat-sahabatnya. Mala berkeliling memperhatikan rumah yang baru ditempatinya tiga hari ini sembari tersenyum, namun Mala di kejutkan oleh dering smartphone yang menandai panggilan video telah masuk. Diambilnya smartphonenya yang tergeletak di atas meja ruang tamu dan ternyata yang menelpon adalah Rima, salah satu sahabat Mala. "Hai Rim," sapa Mala ketika mengangkat panggilan telepon dari Rima. "Gimana rumah barunya Mal, betah tinggal di sana?" Mala melihat sekelilingnya lalu tersenyum senang. "Iya nih, suasananya enak banget di sini Rim, coba deh kamu kesini sama yang lainnya, pasti tambah asik." Rima mengerutkan kedua alisnya lalu berfikir sebentar, "Bentar deh gue cari waktu kosong Mal, gue tanyain yang lain juga, kapan bisa ke tempat loe." "Mamah!!!" Teriakan Clara tiba-tiba mengejutkan Mala yang sedang asiik mengobrol dengan Rima. "Iya sayang, bentar," sahut Mala dengan suara lembutnya. "Rim, udah dulu iya kita ngobrolnya tuh si dede udah mulai rewel deh kayaknya," sambung Mala. "Iya Mal, nanti gue kabarin loe ya kalau mau main ketempat loe, bye." sahut Rima setelah itu dia lalu menutup telponnya. Mala bergegas mendatangi Clara yang tengah rewel. Kelihatan dari jauh Evant sibuk menenangkan tingkah Clara yang semakin manja dengannya. "Clara laper ya?" tanya Mala ketika tiba di ruang tengah tempat di mana Evant dan Clara berada. Clara mengangguk cemberut, "Papah sih gak mau masak buat Clara." Mala tertawa kecil kearah suaminya yang terlihat sangat kelelahan, lalu Evant pun ikut tertawa sehingga mereka tertawa bersama-sama melihat tingkah lucu putri kecilnya itu. Ibu Ana datang bersama seorang perempuan tua paruh baya kira-kira umurnya lebih tua darinya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah Mala lalu memperkenalkannya kepada Mala dan Evant yang tengah sibuk menenangkan Clara yang masih rewel dengan perutnya yang lapar. "Mal, ini Bik Minah dia yang akan bantu-bantu kalian di sini, dulu dia pernah bekerja sama tetangganya Ibu," ucap Ibu Ana kemudian. "Oh, iya Bik Minah tolong bantu-bantu saya di rumah ya Bik... Cukup siang aja kalo udah selesai, sore Bik Minah bisa pulang lagi ke rumah gak perlu nginep," jelas Mala kepada Bik Minah dengan senyum manis di bibirnya yang merah. Bik Minah mengangguk mengiyakan, "Baik non Mala..." katanya kemudian. "Bik Minah langsung bantu-bantu Mala iya hari ini, soalnya Mala capek banget nih Bik," sahut Mala sambil menggendong Clara yang masih cemberut. Bik Minah mengangguk kembali lalu, "Baik, Non," ucapnya kemudian langsung menuju dapur untuk segera memasak dan bersih-bersih. "Aku ke rumah ibu dulu bawa Clara ya Pah, Papah istirahat aja tidur dulu, Papah pasti capek banget, kan?" tanya Mala seketika meminta ijin kepada suaminya untuk membawa Clara ketempat ibunya agar Evant bisa istirahat di rumah. "Iya deh mah aku juga capek banget nih besok masuk kerja juga kan jadi gak bisa istirahat lagi..." jawab Evant. Setelah itu Mala bergegas membawa Clara dan Julliant ke rumah ibunya menyusul ibunya yang lebih dulu pulang ke rumahnya. *** Malam tiba dengan nuansa gelapnya. Sunyi tiba-tiba datang membawa keheningan malam yang terasa begitu membuai insan yang tengah terlelap bersamanya. Mala dan Julliant serta Clara berjalan pulang dari rumah ibunya yang tidak jauh berjarak dari rumahnya yang berada di Blok H nomor dua. Mala memencet bel dari luar rumahnya yang ternyata dikunci dari dalam oleh Evant suaminya. Namun, karena tidak ada sahutan juga dari dalam Mala menggedor pintunya dengan keras sehingga Evant yang masih tertidur lelap terbangun dari tidurnya. Matanya masih terlihat sangat mengantuk dia membuka pintu luar sambil mengusap-usap matanya seperti anak kecil, membuat Mala yang tadinya hendak marah karena suaminya itu terlambat membukakan pintu untuknya dan anaknya yang sudah mengantuk mengurungkan niatnya. Evant begitu kelelahan setelah liburannya terasa begitu panjang karena harus pindah rumah. Sudah tiga hari dia menempati rumah barunya, tapi belum sempat istirahat karena harus ke sana kemari mengajak anak-anaknya jalan-jalan. "Pah, kok lama banget bukain pintunya?" tanya Mala lalu masuk kedalam rumah sambil menggendong Clara yang sudah tertidur di pangkuannya, "Bik Minah mana? Udah pulang ya?" tanyanya lagi. "Hmm, udah pulang dari tadi sore, Mah. Makanya pintu depan aku kunci, takutnya ada yang nyulik," jawab Evant sembari tertawa kecil menggelitik. "Iihh, Papah bisa aja mana ada yang mau nyulik Papah, Papah kan jelek mana makannya banyak lagi," sahut Mala juga dengan tawa kecilnya yang begitu khas. "Bukannya mamah yang banyak makan, makanya gendutan, tuh coba lihat," kata Evant sambil mengarahkan wajah Mala ke depan cermin besar di dalam kamarnya. Mala tertawa terbahak-bahak karena melihat tubuhnya yang memang semakin gendut, tapi menurutnya tetap seksi. "Benar Pah, Mamah banyak banget makannya, Julliant sering gak dikasih jatah tambahan sama Mamah kalau mamah lagi makan," sahut Julliant yang juga ikut bercanda dengan kedua orang tuanya. "Bohong kamu," kata Mala kearah Julliant, "Bukannya kamu yang sering makan jatah mamah," cubit Mala ke pipi Julliant yang tembem. Julliant tersenyum lucu memeluk ibunya lalu kemudian menciumnya. Setelah selesai makan malam Mala dan Julliant pun masuk kedalam kamar meninggalkan Evant yang masih asyik begadang sambil menonton tv di ruang tengah. Karena terlalu lama tidur siang Evant jadi tidak mengantuk, berbeda dengan Mala yang tidak tidur seharian makanya dia sangat mengantuk, matanya rasanya sudah tidak mampu lagi dia buka. "Pah, aku tidur duluan iya!" teriak Mala dari dalam kamarnya. "Iya Mah, kamu tidur ajah duluan, aku masih belum ngantuk nih," sahut Evant. Mala mengenakan gaun tidurnya kemudian berbaring di atas kasurnya yang empuk, lalu perlahan-lahan memejamkan kedua matanya dan kesadarannya pun mulai hilang, kini dia di buai oleh mimpi indahnya yang membuat dia semakin emggan untuk bangun dari tidur panjangnya. "Mala...." Terdengar suara serak menyerupai suara perempuan tua memanggil Mala di dalam tidurnya. Mala ingin sekali membuka matanya, tapi, matanya tidak bisa terbuka. "Mala...." Suara itu terdengar kembali, Mala semakin gelisah dalam tidurnya, tapi, masih tetap saja dia tidak bisa membuka kedua matanya. "Mala, aku lapar!" teriak suara perempuan itu yang terdengar kencang sehingga membuat Mala tersentak seketika langsung terbangun dari tidurnya, lalu berduduk. Tubuhnya terasa berat, lehernya seperti tercekik. Mala beranjak bangun dan bergegas keluar dari kamar setengah berlari untuk mendatangi Evant yang masih menonton tv di ruang tengah. Evant tercengang melihat istrinya tiba-tiba saja sudah berada di sampingnya, duduk dengan nafas yang begitu terengah-engah. "Mamah kenapa? Kok nafasnya kayak habis maratonan gitu?" tanya Evant. Mala masih terengah-engah dengan tubuh yang gemetar. "Ambilkan aku minum dulu Pah, nanti aku ceritain," jawabnya kemudian seketika menyandarkan tubuhnya. "Oke-oke, aku ambilkan minum dulu ya mah." Evant beranjak ke dapur dengan rasa penasaran yang ditahannya, untuk mengambilkan segelas minuman untuk Mala yang terlihat begitu syok. Tidak butuh berapa lama Evant segera tiba dengan membawa segelas air putih untuk Mala. Segera mungkin Mala langsung menenggak air putih yang telah di bawa oleh suaminya. "Pelan-pelan mah nanti tersedak loh," kata Evant. "Barusan aku dengar ada suara perempuan manggil-manggil nama aku pah makanya aku langsung lari kesini," jelas Mala setelah nafasnya kembali berarturan, "Papah dengar juga nggak?" tanya Mala. Evant menggelengkan kepalanya. "Dari tadi aku di sini nggak dengar ada orang manggil kamu," jawab Evant. "Lagian mana ada orang lain di rumah ini selain kita mah, kan bik Minah nggak nginep di rumah," tambah Evant. "Tapi, bener pah tadi mamah denger ada suara perempuan tua manggil-manggil nama mamah terus dia bilang dia lapar pah," jelas Mala setengah memaksa. Evant tertawa cekikikan melihat Mala yang memaksanya untuk percaya dengan apa yang telah dialami istrinya. "Udah deh mungkin mamah lagi kecapekan ajah udah tiga hari nggak ada istirahat kan ngurus rumah, lalu, pas mamah ketiduran terus mamah ngigo deh." Mala menatap Evant marah. "Mamah kali yang laper udah kita makan dulu gih," kata Evant lalu mendorong tubuh istrinya dengan pelan kearah dapur. "Biar aku yang masak, mamah diam ajah di tempat duduk." Mala pun lalu duduk manis di meja makan, sedangkan Evant asyik meramu masakannya agar terasa enak dan lezat untuk mereka santap berdua di malam yang terasa begitu sunyi. Mala masih terdiam membisu memikirkan kejadian yang baru saja menimpanya, semua itu jelas sekali terdengar di telinganya, namun, dia berusaha menampik dan berpikir positif bahwa apa yang dikatakan oleh suaminya lebih terlihat masuk akal, mungkin saja dia benar-benar kecapekan, lalu, berhalusinasi ketika dia tertidur. Evant menatap Mala yang dari tadi hanya terdiam dan tidak mengucapkan satu patah kata pun dari bibirnya yang terlihat begitu pucat karena ketakutan. Evant merangkul tubuh Mala, lalu menyandarkan kepala Mala di pundaknya. Mala pun memeluk suaminya sambil menangis. "Aku takut pah," ucapnya lirih dengan isak tangis. "Semuanya baik-baik saja mah, jadi mamah nggak perlu takut ya." Evant membelai rambut istrinya yang terurai panjang. "Kalau mamah takut gimana besok papah bisa kerja, kelamaan libur, Mah," sambungnya, "Siapa yang ngurus perusahaan kalau Papah di rumah terus nemenin Mamah?" lanjutnya sembari tersenyum melebar sambil mencubit hidung istrinya yang mulai memerah karena isak tangis. Mala hanya diam dan masih terisak dengan tangisannya. "Kamu nggak usah takut, kan Bik Minah besok datang ke sini lagi. Minta aja Bik Minah nginep di rumah," Evant tampak menguap karena merasa ngantuk, "Mah, aku sudah ngantuk nih, kita tidur yuk!" Evant mengajak istrinya, "Besok aku ada meeting sama klien aku harus berangkat pagi-pagi sekali, Mah," sambungnya kemudian berjalan menuju kamar mereka berdua. Mala tetap diam tanpa menyahut ketika Evant mengajaknya untuk tidur, dia menurut saja ajakan suaminya. Ketika Evant sudah tertidur nyenyak, Mala yang berbaring tepat di samping Evant masih merasa gelisah dan tidak bisa memejamkan kedua matanya karena masih merasa ketakutan dengan apa yang sudah dialaminya. Namun, tidak berapa lama, Mala merasa bahwa kedua matanya begitu berat sehingga tanpa disadarinya, Mala pun seketika tertidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD