Pagi, ketika Mala terbangun dari tidur, dia melihat Evant yang sudah siap-siap untuk segera pergi ke kantornya.
"Sudah bangun, Mah?" tanya Evant ketika melihat istrinya yang sudah bangun dari tidurnya, "Aku lihat tidurmu nyenyak sekali, jadi aku nggak tega bangunin."
"Kamu udah mau berangkat, Pah?" tanya Mala menoleh ke arah suaminya yang sudah mengenakan pakaian yang rapi dengan jas berwarna abu-abu, "Kamu udah sarapan?" sambungnya bertanya.
"Iya, aku udah sarapan, tadi di bikinin sama Bik Minah," jawab Evant tersenyum ke arah istrinya, "Dia udah datang pagi-pagi sekali, dan aku minta sama Bik Minah buat bikinin sarapan," sambungnya menjelaskan.
"Ooh," sahut Mala dengan nada lesu, "Anak-anak sudah bangun?" sambungnya bertanya.
"Iya, anak-anak sudah bangun," jawab Evant tersenyum, "Hari ini, kamu urus pindahan sekolahnya Julliant, ya," ucapnya, "Nanti di temenin sama Pak Sugeng," sambungnya lagi.
"Pak Sugeng siapa, Pah?" tanya Mala mengerutkan keningnya.
"Itu, dia suaminya Bik Minah," jawab Evant.
Mala membulatkan mulutnya seiring suara pelan keluar sesuai bentuk mulutnya, sambil mengangguk pelan.
"Kalau ada apa-apa, kamu juga bisa minta tolong sama Pak Sugeng." Evant mengambil tas kerjanya, "Biar dia yang jagain kamu, kalau aku belum pulang." Kemudian menatap senyum ke arah Mala.
"Kamu pergi berapa hari, Pah?" tanya Mala.
"Aku belum tahu, Sayang," jawab Evant, "Soalnya, selain meeting juga ada yang harus aku kerjakan di kantor," sambungnya.
Mala menundukkan kepalanya menyembunyikan wajahnya yang tampak cemberut setelah mendengar jawaban dari suaminya.
Evant yang merasa bahwa istrinya kecewa dengan kepergiannya pun kemudian berjalan mendekat ke arah Mala, "Jangan cemberut dong, Mah," ucap Evant sembari mencubit pipi Mala yang tembem.
"Aduh! Sakit!" jerit Mala seketika menepis tangan Evant, kemudian terdiam sejenak menghela nafas, "Ya sudah, berangkat aja," ucapnya menatap wajah Evant.
Evant tersenyum, "Iya, aku berangkat ya, Mah," ucapnya perlahan melangkah menuju ke luar dari kamar.
"Hati-hati," ucap Mala pelan dengan nada lesu.
"Kenapa, Mah?" tanya Evant seketika menghentikan langkahnya dan tepat berdiri depan kamar kemudian membalikkan badannya menatap ke arah Mala.
"Hati-hati," sahut Mala mengeraskan sedikit suaranya tanpa memandang ke arah Evant.
"Iya, Mah," ucap Evant kemudian perlahan menjauh dari kamar dan segera menuju ke mobilnya dan pergi ke tempat kerjanya yang berada di kota Jakarta.
Di dalam kamarnya, Mala masih tampak murung ketika ditinggal pergi suaminya bekerja, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari depan rumah.
"Iya, bentar!" teriak Bik Minah terdengar samar dari dapur kemudian bergegas menuju ke depan dan bermaksud membukakan pintu.
"Bik, tolong lihat siapa yang ada depan," ucap Mala ketika melihat Bik Minah yang melintas tepat di depan kamarnya.
"Baik, Non," sahut Bik Minah mengangguk kemudian segera menuju ke depan rumah.
"Oh, ternyata si Bapak," ucap Bik Minah setelah membuka pintu, "Mari masuk Pak."
Bik Minah mempersilahkan tamu yang ternyata adalah Pak Sugeng yaitu suaminya untuk masuk kerumah Mala, lalu memanggil majikannya di depan pintu kamar Mala yang terbuka sedikit.
"Non Mala, ini yang datang suami saya, katanya di minta sama Tuan untuk menemani Non ngurus pindahan sekolahnya Den Julliant," ucap Bik Minah setelah mengetuk pelan pintu kamar Mala.
"Oh iya Bik, tunggu sebentar ya Mala mandi dulu," sahut Mala dari dalam kamar.
Mala segera beranjak dari kasurnya langsung menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Tidak beberapa saat dia keluar dengan dandanan yang begitu khas meliputi raut wajahnya yang lembut.
"Maaf Pak nunggunya jadi lama," sapa Mala lembut kepada Pak Sugeng.
"Iya nggak apa-apa, Non Mala," jawab Pak Sugeng tersenyum cengengesan sambil manggut-manggut.
"Saya panggil anak saya dulu ke kamarnya ya Pak, Bapak jangan sungkan anggap aja rumah sendiri," kata Mala sambil menyunggingkan senyum manis ke arah Pak Sugeng.
Pak Sugeng hanya manggut-manggut, lalu, kembali duduk di sofa yang ada di ruang tamu setelah Mala melangkah menuju ke ruang tengah dan memanggil Julliant yang sedang menonton tv di dalam kamar bersama adik perempuannya, yaitu Clara.
"Julliant," panggil Mala dengan suaranya yang lembut sambil mengetuk pintu kamar anak laki-lakinya itu.
"Iya mah," sahut Julliant dari dalam kamarnya.
"Ayo kita berangkat ke sekolah barumu sayang."
"Baik mah."
"Clara juga ikut," kata Clara seraya membuka pintu kamar kakaknya dan menarik tangan ibunya.
"Eh, tunggu kak Julliant dulu," kata Mala menenangkan Clara yang memaksa untuk segera pergi ke sekolah baru kakaknya.
"Ya nih si dede emang nggak sabaran banget," sahut Julliant menggerutu kesal. "Padahal 'kan, Julliant yang sekolah. Bener 'kan, Mah?"
"Ya sayang," sahut Mala sambil memegang pipi anak laki-lakinya itu.
Julliant keluar dari kamarnya, lalu mereka bertiga berjalan menuju ke ruang tamu untuk menemui Pak Sugeng yang dari tadi menunggu mereka di ruang tamu.
"Pak Sugeng, mari kita berangkat nanti keburu telat takut sekolahnya udah bubar," ajak Mala.
"Iya non Mala," sahut Pak Sugeng.
"Bapak bisa nyetir mobil kan?" tanya Mala.
"Iya Non Mala, bisa," jawab Pak Sugeng.
Mala menyerahkan kunci mobil kepada Pak Sugeng, lalu mereka berempat berangkat untuk menuju sekolah Julliant yang baru.
Selang waktu beberapa jam mereka pun kembali menuju ke rumah setelah selesai mengurus semua keperluan Julliant. Mala meminta Pak Sugeng untuk singgah sebentar ke swalayan, karena ingin membeli keperluan di rumah. Setelah selesai berbelanja mereka pun langsung pulang ke rumah.
"Ini kunci mobilnya, Non," ucap Pak Sugeng sembari menyerahkan kunci mobil.
"Makasih ya Pak," sahut Mala menyambut kunci yang diserahkan oleh Pak Sugeng.
"Lain kali kalo Non Mala butuh bantuan panggil saja saya," ucap Pak Sugeng.
"Baik Pak, nanti kalau ada apa-apa saya akan panggil Bapak, sekali lagi terima kasih ya Pak," sahut Mala tersenyum ke arah Pak Sugeng.
"Sama-sama, Non Mala," kata Pak Sugeng seraya pergi meninggalkan rumah kediaman keluarga Mala.
Mala dan kedua anaknya berbaring di atas sofa yang tepat berada di ruang tengah sambil menonton tv dan menunggu Bik Minah yang sedang menyiapkan cemilan untuk mereka di dapur. Tidak berapa lama kemudian, Bik Minah datang dengan membawa cemilan yang banyak. Dia juga membuatkan jus alpukat kesukaan Mala dan anak-anaknya.
"Ini Non cemilannya, silahkan dimakan," ucap Bik Minah setelah selesai menyiapkan kemudian segera menghidangkan camilan di atas meja ruang tengah.
"Makasih ya, Bik," kata Mala.
"Aku juga mau," seru Julliant segera mendekat ke arah meja.
"Clara nggak mau ya?" bujuk Mala yang melihat anak perempuannya hanya diam merajuk karena tadi pagi tidak diajak main ke taman bermain dulu sebelum pulang ke rumah.
Clara menggeleng. "Clara maunya main," ucapnya dengan nada kesal lucunya.
Mala tersenyum melihat tingkah lucu anaknya itu, "Iya, kita nanti main ke taman bermain ya sayang, tapi nanti sore, Clara kan mainnya lama, jadi tadi Mamah nggak bisa ajak Clara main, kasihan 'kan, Pak Sugeng nunggunya lama kalau diajak main sama Clara," bujuk Mala.
Clara mendelik ke arah ibunya, lalu melirik matanya menuju ke arah camilan yang tadi dibawakan Bik Minah. Setelah itu dia mengambil camilan yang ada di atas meja dan buru-buru memasukannya ke dalam mulutnya yang dibukanya lebar, kemudian mengambil segelas jus yang tersisa untuknya, lalu meminumnya sampai tersisa separuh.
"Pelan-pelan sayang kalau minum, nanti tersedak," ucap Mala mengingatkan sambil memegangi gelas yang tadi dipegang sendiri oleh anak perempuannya itu.
"Iya nih, Dede kalau makan sama minum sukanya langsung dihabisin, nggak boleh gitu, De," sahut Julliant yang sejak dari tadi memperhatikan adik perempuannya sambil melahap camilan dengan santai.
"Nah bener kata Kak Julliant," ucap Mala sambil mengusap kepala anak laki-lakinya dengan penuh kasih sayang.
Mereka bertiga pun kembali menonton televisi sambil sesekali melahap camilan dan meminum jus alpukat.
Mala mengutak-atik smartphone yang ada di tangannya sambil chating bersama teman-temannya. Tanpa terasa sore pun telah tiba, Mala menepati janjinya untuk mengajak anak-anaknya ke taman bermain. Setelah menjelang maghrib, Mala pun mengajak anak-anaknya pulang ke rumah.
Malam pun tiba dengan warna sendu kehitamannya. Bik Minah kemudian berpamitan untuk pulang ke rumah setelah selesai melakukan pekerjaannya. Mala menyiapkan makan malam untuk anak-anaknya sendiri. Karena malam ini suaminya Evant tidak pulang ke rumah.
"Enak nggak masakan Mamah?" tanya Mala kepada kedua anaknya.
"Iya, enak Mah," sahut Julliant tersenyum, "Tapi, nggak seenak masakan papah," sambungnya.
Mala memonyongkan bibirnya dengan kesal. "Iya deh papah kalian memang paling oke."
"Tapi, menurut Clara semua masakan enak," ucap Clara dengan nada cadelnya.
Mala dan Julliant saling tatap, kemudian bersama-sama menatap Clara yang dengan lahap menyantap makan malamnya tanpa menghiraukan ibu dan kakaknya yang tengah terheran-heran menatapnya.
"Clara 'kan rakus," ucap Julliant menggoda adik perempuannya yang masih menyantap makan malamnya, lalu mencubit pipi tembemnya dengan gemas.
"Ih kakak, Clara 'kan lagi makan, entar tumpah makanannya," kata Clara dengan nada kesal sambil berdiri menyingkirkan tangan Julliant yang masih melekat di pipi tembem milik adiknya perempuannya itu.
"Udah, udah makan dulu entar kelamaan selesainya," ucap Mala melerai kedua kakak beradik itu.
Setelah selesai makan malam, Mala mengajak anak-anaknya untuk masuk ke dalam kamar masing-masing. Clara yang tidak berani tidur sendirian, ditemani oleh Mala sampai dia tertidur. Sedangkan Julliant masih membaca buku cerita di meja belajarnya yang ada di dalam kamarnya sendiri.
"Julliant, udah dulu baca bukunya Sayang, udah larut malam nih, bobok gih," ucap Mala ketika masuk ke dalam kamar Julliant dan melihat anak laki-lakinya masih membaca buku cerita di meja belajarnya.
"Baik mah," sahut Julliant.
"Jangan lupa baca do'a sebelum tidur biar tidurnya nyenyak," kata Mala.
Julliant berbaring di atas kasurnya, lalu, Mala memasangkan selimut untuk Julliant dan mencium keningnya, kemudian mematikan lampu kamarnya setelah menyalakan lampu tidur yang ada di kamar Julliant, lalu ke luar dari kamar Julliant dan menutup pintu kamar anak laki-lakinya itu dari luar.
Mala bergegas masuk ke dalam kamarnya dan berniat tidur secepatnya karena dia sudah merasa lelah sekali setelah seharian beraktivitas juga mengurus kedua buah hatinya.
Mala sudah mulai memejamkan kedua kelopak matanya, namun dering smartphone mengejutkannya. Dia bangun kembali dan beranjak untuk mengambil smartphonenya yang berada di atas meja di dalam kamarnya.
"Halo, Pah," ucap Mala pelan ketika mengangkat telepon dari suaminya.
"Hai sayang. Anak-anak gimana, udah pada tidur apa belum?"
"Udah Pah, aku juga udah ngantuk banget nih," kata Mala memberitahu matanya sudah tertutup sambil memegang smartphone yang didekatkan ke telinganya.
"Oh, ya udah Mamah bobok ajah gih, Papah jadi ganggu."
"Emang," sahut Mala kesal.
Evant tertawa cekikikan. "Iya ini aku tutup telponnya biar Mamah bisa bobok."
Mala tersenyum geli, "Papah juga boboknya jangan larut malam ya," ucap Mala.
"Iya Mah."
"Dah Papah."
"Dah Sayang, good night."
Mala menaruh smartphonenya kembali ke atas meja yang ada di depan kasurnya. Kemudian membaringkan tubuhnya ke atas kasur, lalu tertidur dengan nyenyak karena kelelahan.
Jam dinding mewah yang menempel di rumah Mala menunjukan pukul tiga dini hari. Seketika Mala tersentak dari tidurnya. Terkejut saat mendengar suara tangisan seorang perempuan di luar kamarnya yang tepat berada di ruangan tengah. Mala berpikir apakah itu suara Julliant yang sedang mengigau, karena tidak mungkin itu suara Clara. Kalau Clara menangis pasti akan berteriak dan membangunkan semua orang yang ada di dalam rumah.
"Suara siapa itu?" gumam Mala pelan sambil mengerutkan keningnya.
Perlahan, Mala mencoba keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah suara itu. Ketika berjalan, ditengoknya ke dalam kamar anak laki-lakinya, ternyata Julliant tengah tertidur lelap. Ditengoknya lagi ke kamar anak perempuannya, dan ternyata Clara juga sedang tertidur sambil memegang sebuah botol dot di tangannya.
"Anak-anak pada tidur semua, lalu siapa yang menangis malam-malam begini?" gumam Mala lagi. "Aku coba cari lagi deh," kata Mala, "Apa suara tetangga ya, masak kedengeran sampai sini sih, kan jauh," lanjutnya mengerutkan kening.
Mala mencari lagi di mana arah suara itu berasal, namun Mala tidak menemukan apa-apa. Suara itu masih jelas sekali terdengar di telinganya. Mala bingung harus mencari kemana. Suara tangisan itu seakan-akan mengikuti kemana arah dia pergi.
"Kok kayaknya semakin jelas aja suaranya."
Bulu kuduk Mala tiba-tiba merinding. Dia menepuk-nepuk wajahnya sendiri mencoba menyadarkan bahwa dia tidak sedang bermimpi.
"Aku coba cari ke ruang tamu kali aja nemu," ucapnya lagi dalam hati sembari mencoba menampik rasa takutnya.
Mala berjalan ke arah ruang tamu yang jaraknya lumayan jauh dari kamarnya dan kamar anak-anaknya. Dia mencoba mencari lagi arah suara tangisan itu, tapi tidak juga menemukannya. Dia duduk di atas sofa yang berada di ruang tamu setelah lelah berjalan menelusuri seluruh sudut rumahnya mencari asal suara tangis itu.
"Nggak ada." Mala menoleh ke kiri dan ke kanan dengan rasa takut di hatinya, "Di mana suara tangisan itu?" Mala semakin kebingungan dan bertanya-tanya sendirian dalam hatinya.
Mala mencoba mengatur nafasnya yang tidak beraturan dan seketika dia tersadar akan satu hal bahwa di rumahnya tidak ada orang lain selain dia dan anak-anaknya. Mala membelalakan kedua matanya, lalu langsung beranjak dari duduknya. Bulu kuduknya mulai merinding. Ia berlari dengan cepat untuk kembali ke kamarnya. Sedangkan suara tangis itu masih terus saja terdengar jelas di telinga Mala. Ia terus saja berlari dan segera membuka pintu kamarnya yang masih tertutup, lalu masuk ke dalam dan menutup kembali kamarnya dengan cepat. Mala merebahkan tubuhnya di atas kasur, kemudian menutup telinganya agar tidak mendengar lagi suara tangisan perempuan itu. Meskipun suara tangisan itu terus saja terdengar di telinga Mala bahkan terasa semakin jelas. Mala tetap menutup telinganya sambil menangis dan berdo'a sehingga tidak berapa lama dia kembali tertidur.