Bab 4

1647 Words
Satu minggu setelah pindah ke rumah barunya Mala kelihatan begitu lesu dan kurang bersemangat. Kemudian Mala berniat untuk pergi menjenguk ke rumah ibunya yang jaraknya tidak jauh dari rumahnya. Ketika Mala tiba di rumah ibunya, Ibu Ana yang begitu memperhatikan keadaan putrinya pun heran ketika melihat keadaan Mala yang tampak lesu seperti orang yang sedang sakit. "Mala, kamu sakit ya nak, kok muka kamu pucat banget?" tanya Ibu Ana ketika Mala berkunjung ke rumah ibunya. "Nggak lah bu, mungkin Mala kecapekan karena kurang istirahat aja," jawab Mala pelan, suaranya terdengar serak. "Oh begitu ya, Ibu kira kamu sakit, makanya Ibu jadi khawatir," kata Ibu Ana. Mala hanya tersenyum kecil ke arah ibunya, dia ingin sekali menceritakan apa yang dia alami di rumahnya kemarin, tapi kemudian segera dia urungkan. Mala takut akan menambah beban pikiran ibunya saja jika dia menceritakan semuanya. "Suami kamu nggak pulang, Mal?" tanya Ibu Ana. "Pulang kok Bu, tapi nanti, jam dua malam kayaknya baru sampai ke rumah," jawab Mala. "Oh, kirain nggak pulang." Mala perlahan duduk di atas sofa di rumah ibunya sambil mengutak-atik smartphone kesayangannya untuk mengirim chat kepada Rima sahabatnya. Mala merasa kesepian tinggal di rumah barunya karena jauh dari sahabatnya. Rim, kamu lagi ngapain? Rima tidak membalas pesan dari Mala padahal dia sedang online. Mala mengerutkan keningnya, "Mungkin dia sibuk," keluhnya dalam hati. Mala meletakkan smartphonenya di atas meja yang ada di hadapannya dan tiba-tiba smartphonenya bergetar, dan yang ternyata pesan balasan dari Rima sahabatnya. Woy, lagi ngurusin counter aja ne, knp?   balas Rima. Bete, di sini nggak ada temen... :( Ke sini aja Mal, biar nggak stres, kata Neta bentar lagi dia juga mau ke sini, balas Rima. Aku kayaknya lagi nggak fit nih, Rim. Nggak bisa bawa mobil sendirian ke sana.  Oh, lagi sakit ya? Kalau sempat nanti aku ke sana deh bareng Neta. balas Rima. Sakit nggak sih, Rim. Cuman kayaknya kecapekan aja ngurus rumah sendirian. Rima tampaknya tidak lagi membalas chat dari Mala. Mala menghembuskan nafas panjang. Tubuhnya terasa begitu lemah. Ibu Ana kasihan melihat keadaan anaknya, lalu menyuruhnya pulang untuk beristirahat di rumah. "Mal, kamu istirahat di rumah deh biar anak-anak ibu yang urusin, kelihatannya kamu capek banget," ucap Ibu Ana menatap ke arah Mala. Mala menoleh ke arah ibunya kemudian berpikir sejenak, "Ibunya ada benarnya juga," gumam Mala dalam hati, "Malam nanti Evant datang, kasihan juga kalau Evant mengurus aku yang sakit," gumamnya lagi dalam hati, "Ya Bu, Mala pulang ke rumah dulu ya, titip anak-anak Bu," ucapnya tersenyum menatap ke arah Ibunya. "Ya Sayang, kamu istirahat dulu ya," sahut Ibu Ana. "Julliant, Clara, Mamah pulang dulu ya, kalian pinter-pinter sama Nenek, jangan rewel!" seru Mala kepada kedua anaknya. "Baik, Mah," sahut Julliant yang sedang asyik bermain PS. "Jaga dedenya," ucap Mala kemudian perlahan melangkah pergi meninggalkan rumah ibunya. "Mala pulang dulu bu, Assalamu'alaikum," ucap Mala berpamitan ketika berhenti tepat di depan pintu rumah ibunya. "Wa'alaikumsalam, hati-hati ya, Sayang," sahut Ibu Ana tersenyum melambaikan tangannyam Mala berjalan pulang menyusuri jalanan komplek perumahan Cempaka yang terlihat indah dan begitu asri, kemudian tampak seorang wanita yang berjalan cepat menghampiri Mala. "Selamat siang nak," sapa seorang wanita paruh baya. "Siang bu," sahut Mala. "Kamu anaknya Bu Ana kan, yang tinggal di rumah di Blok H nomer dua?" tanya seorang wanita paruh baya tersebutm Mala terlihat heran dan ragu-ragu, "Hhmm, iya Bu," jawab Mala. "Kenalkan, Saya Neneknya Tiara, panggil saja Nenek Tiara, Saya yang menjadi pengurus rumah Nak Mala sewaktu rumah itu masih kosong, pemilik rumah sebelumnya yang menyuruh saya," katanya seraya memperkenalkan dirinya kepada Mala. "Oh ya Nek, kenalkan nama saya Mala," kata Mala sambil mengulurkan tangan kepada Nenek Tiara, lalu tersenyum manis. "Gimana rumahnya Nak, enak dan nyaman kan, tinggal di sana?" tanya Nenek Tiara. "Alhamdulillah nyaman Nek rumahnya," sahut Mala mengangguk dengan senyum lebar. "Alhamdulillah, kalau Nak Mala suka rumahnya," kata Nenek Tiara. Mala tersenyum tipis, "Oh iya Nek, Mala pamit pulang dulu ya, permisi," ucapnya mengangguk kemudian melanjutkan langkah kakinya untuk menuju kembali ke rumahnya "Baik Nak," sahut Nenek Tiara balas tersenyum sembari menatap Mala yang berjalan. Mala berjalan ke arah pulang dengan perasaan aneh dan bingung melihat Nenek Tiara yang dari tadi masih menatapi dia dari kejauhan. Namun, karena tubuhnya begitu lelah, dia biarkan saja kebingungan dalam dirinya. Setelah tiba di dalam rumah, Mala meletakan tubuhnya di atas sofa dengan sangat hati-hati karena sekujur tubuhnya terasa sangat pegal. Dia melihat Bik Minah yang sedang berdiri tegak membawa sapu di tangannya. "Bik, kok diam aja?" sapa Mala, "Sini duduk temenin Mala ngobrol," ajak Mala memanggil seraya menepuk-nepuk sofa yang tepat di sampingnya. Bik Minah tetap saja diam. Mala mengerutkan keningnya, "Mungkin sedang ada masalah," ucapnya dalam hati. Kemudian Mala beranjak berdiri dari sofa lalu berjalan hati-hati ke arah dapur untuk mengambil segelas air putih. "Aduh," jerit Mala sentak terkejut ketika tiba di dapur, betapa terkejutnya Mala saat tubuhnya bertabrakan dengan tubuh Bik Minah yang sedang bergegas membawa cucian kering di tangannya. "Bik... Bik... Bik..." ucap Mala gemetar menatap ke arah Bik Minah. "Non Mala kenapa, kok ngelihat Bibik kayak ngelihat setan aja," tanya Bik Minah mengerutkan keningnya dan merasa keheranan melihat ekspresi wajah majikannya yang terlihat pucat pasi. "Bukannya tadi Bibik ada di ruang tamu lagi nyapu?" tanya Mala berkata dengan sedikit keras dan tampak kebingungan sembari menunjuk ke arah ruang tamu. "Nggak kok Non, Bibik baru dari atas habis mungutin pakaian Tuan yang udah kering," jawab Bik Minah yang semakin terlihat keheranan dengan tingkah majikannya itu. Mala perlahan berjalan ke arah lemari es dan mengambil sebuah botol berisi air dingin kemudian mengisinya pada salah satu gelas yang tersusun rapi di atas meja makan di ruang dapur, lalu segera meneguk air tersebut hingga habis. Bik Minah kemudian perlahan berjalan dari hadapan Mala dengan membawa pakaian kering yang ada di tangannya. Mala masih tidak habis fikir dengan kejadian yang di alaminya barusan. Malaa baru saja bertemu dengan Bik Minah di ruang tamu, tidak mungkin secepat itu Bik Minah bisa ke atas loteng dan sampai lebih dulu darinya membawa pakaian, lalu turun lagi. Karena Mala berpikir, bagaimana pun lelahnya tubuh Mala saat ini, tidak mungkin langkahnya lebih lambat dari langkah Bik Minah yang umurnya sudah paruh baya. Mala cepat-cepat kembali ke ruang tamu dengan setengah berlari, tubuhnya yang letih tidak di hiraukannya lagi, hanya untuk melihat apakah Bik Minah masih ada di sana atau tidak. "Nah, kan," sentak Mala setelah tiba di ruang tamu. Bik Minah menoleh ke arah Mala. "Bik Minah ternyata ada di sini," ucap Mala "Iya, Non?" sahut Bik Minah. "Terus, yang barusan di dapur siapa?" ucap Mala menatap Bik Minah sembari menunjuk dengan tangannya ke arah dapur. "Ya Saya, Non..." sahut Bik Minah, "Kan, tadi ketabrak sama Non di dapur. Waktu saya turun dari loteng habis mungutin pakaian tuan Evant yang sudah kering," sambung Bik Minah membertitahu. "Tapi ini kan, Bibik sekarang lagi nyapu di ruang tamu," ucap Mala. "Iya, pakaian keringnya kan udah saya taruh di kamar, Non," jelas Bik Minah, "Terus, saya lihat di ruang tamu banyak semut, jadinya saya nyapu di sini deh," sambungnya cengengesan. Mala terdiam sejenak memaksakan otaknya untuk berfikir dengan keras memahami kejadian yang di alaminya tadi. Namun karena terlalu keras berfikir, akhirnya Mala perlahan lemas dan akhirnya tubuh Mala terkulai jatuh tergeletak di lantai tidak sadarkan diri, sehingga membuat Bik Minah menjadi panik. "Non!" teriak Bik Minah segera berlari ke arah tubuh Mala yang tergeletak di lantai, "Non! Non!" teriaknya lagi berusaha menyadarkan majikannya, namun Mala tidak kunjung sadarkan diri sehingga Bik Minah memutuskan untuk menghubungi suaminya, yaitu Pak Sugeng untuk membantu mengangkat tubuh Mala ke dalam kamarnya. Tidak beberapa lama kemudian Pak Sugeng pun tiba lalu segera mengangkat tubuh Mala yang masih tidak sadarkan diri dan membawanya ke dalam kamar. Setelah Mala di baringkan di atas kasurnya, Pak Sugeng pun mencoba untuk menghubungi dokter. Tak beberapa lama, dokter pun datang kemudian segera memeriksa keadaan Mala. "Bagaimana keadaannya Dok?" Tanya Pak Sugeng setelah Dokter keluar dari kamar Mala. "Ibu Mala kelihatannya sedang kecapekan, dia hanya memerlukan istirahat yang cukup dan beberapa Vitamin," Jawab Dokter sembari menyerahkan selembar kertas kepada Pak Sugeng. "Itu sudah saya berikan resep dan Bapak bisa segera menebusnya di apotek." Pak Sugeng mengangguk, "Baik Pak," sahutnya. Setelah mengantarkan dokter ke depan rumah Mala, Pak Sugeng pun kemudian masuk kembali ke dalam untuk menemui istrinya, yaitu Bik Minah. "Eh Ibu, kirain kamu di dalam kamar jagain Non Mala," sentak Pak Sugeng terkejut ketika melihat istrinya tiba-tiba berdiri di depan pintu, "Kayak setan aja, ngagetin!" sambungnya. "Eh setan, eh setan, Bapak yang setan," sentak Bik Minah terkejut dengan gaya latahnya, "Gimana kata dokter, Pak?" tanyanya kemudian kepada suaminya. "Kata dokter, Non Mala cuman kecapean Buk," jawab Pak Sugeng, "Terus, perlu istirahat sama minum vitamin," sambungnya menjelaskan. Bik Minah menganggukkan kepalanya, "Oooh, kirain kenapa," ucapnya kemudian. "Memangnya tadi kenapa Buk, kok Non Mala bisa pingsan?" tanya Pak Sugeng. "Itu, tadi Non Mala ketemu aku di dapur, terus Non Mala kaget pas ketemu aku lagi di ruang tamu," jawab Bik Minah menjelaskan. "Oooh," sahut Pak Sugeng. "Mungkin Non Mala ketemu sama setan kali ya Pak," ucap Bik Minah berbisik. "Mana ada setan siang bolong begini!" sahut Pak Sugeng menegaskan, "Ibu tuh kali setannya, kan Ibu suka ngagetin kaya setan," sambungnya. "Iih, si Bapak!" ucap Bik Minah sembari mencubit pinggang suaminya. "Aduh, aduh," jerit Pak Sugeng, "Ssst. Jangan berisik, nanti Non Mala kebangun, Buk," sambungnya berbisik. "Oh iya Pak, Ibu Ana belum di kasih kabar," ucap Bik Minah tersentak, "Bapak pergi ke rumah Ibu Ana gih, kasih tahu kalau Non Mala pingsan," sambungnya, "Aku mau masak dulu buat makan siang," sambungnya lagi kemudian berjalan ke dapur. "Iya, Bapak pergi dulu ya Buk!" teriak Pak Sugeng kemudian melangkahkan pergi dan bermaksud menemui Ibu Ana. "Jangan lupa tutup pintunya, Pak!" teriak Bik Minah yang terdengar samar dari arah dapur. "Oh iya, pintu," gumam Pak Sugeng seketika menghentikan langkah kakinya tepat di depan pintu kemudian berbalik badan dan segera menutup pintu rumah Mala, lalu bergegas menuju ke rumah Ibu Ana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD