Pak Sugeng mengetuk rumah Bu Ana.
Tok, tok, tok, tok....
"Assalamualaikum," panggil Pak Sugeng yang sudah berada di depan rumahnya Ibu Ana, "Bu Ana," panggilnya lagi sambil terus mengetuk pintu rumah Bu Ana yang terkunci dari dalam.
"Waalaikumsalam, ya sebentar." Terdengar jawaban dari Ibu Ana dari dalam rumahnya yang tengah berjalan menuju ke pintu ruang tamunya. Tidak lama terdengar Ibu Ana membuka kunci rumahnya, lalu membuka pintunya dari dalam.
"Oh, Pak Sugeng, ada apa Pak?" tanya Ibu Ana sambil menyunggingkan senyum dari bibirnya.
"Anu Buk, Non Mala." Terdengar nafas Pak Sugeng yang masih ngos-ngosan karena lelah berjalan.
Ibu Ana terlihat kebingungan, ada sedikit kecemasan terlihat dari wajahnya yang sudah mulai keriput dan menunjukan penuaan.
"Mala, kenapa Pak?" tanya Ibu Ana dengan nada cemasnya.
"Non Mala tadi jatuh pingsan Bu," jawab Pak Sugeng.
"Astaghfirullah," kata Bu Ana dengan membelalakan kedua matanya, lalu memegang dadanya karena terkejut.
"Tapi, tadi sudah di periksa sama dokter Bu, kata dokternya 'Non Mala kecapekan dan kurang istirahat', begitu Buk," ucap Pak Sugeng memberitahu.
Ibu Ana terlihat cemas dan kebingungan, "Ya sudah, saya panggil anak-anak dulu ke dalam Pak," katanya dengan tergesa-gesa dan sedikit khawatir, "Masuk dulu Pak," ajaknya kepada Pak Sugeng yang masih berdiri di depan pintu rumahnya Ibu Ana.
"Ya Buk, saya nunggu di luar saja," sahut Pak Sugeng mengangguk.
Pak Sugeng menunggu di teras sambil duduk tepat di atas kursi di depan rumah Ibu Ana. Sedangkan Ibu Ana masuk ke dalam rumah untuk memanggil kedua cucunya yang masih nyenyak tidur siang di dalam kamarnya.
Setelah membangunkan kedua cucunya, kemudian Ibu Ana keluar bersama Julliant dan juga Clara yang masih terlihat mengantuk. Ibu Ana menutup pintu, lalu menguncinya dari luar.
"Mari Pak," ajak Ibu Ana.
Ibu Ana dan juga Julliant serta Clara pun berjalan menuju ke rumah Mala bersama Pak Sugeng. Di jalan Ibu Ana bersama kedua cucunya serta Pak Sugeng berpapasan dengan Nenek Tiara yang seketika menyapa mereka.
"Mau kemana rame-rame Bu Ana?" Tanya Nenek Tiara.
"Ini Neneknya Tiara, mau ke rumah anak saya," jawab Bu Ana, " Mari," sambungnya mengangguk permisi.
"Ya Bu, silahkan," sahut Nenek Tiara tersenyum.
Nenek Tiara memperhatikan mereka dari kejauhan, beliau menatap penuh selidik. Ibu Ana terlalu tergesa-gesa karena anaknya yang sedang sakit sehingga tidak terlalu menghiraukan tatapan Nenek Tiara yang masih memperhatikan mereka meski dari kejauhan.
Setibanya di rumah Mala, Pak Sugeng segera membukakan pintu rumah Mala, lalu mempersilahkan Ibu Ana masuk ke dalam.
"Mari, Bu, silahkan masuk," ucap Pak Sugeng dengan hati-hati.
"Mala di mana?" tanya Ibu Ana dengan nada khawatir.
"Di dalam kamarnya, Buk," jawab Pak Sugeng.
Bersama kedua cucunya, Ibu Ana langsung menuju kamar Mala untuk segera melihat keadaan anaknya yang masih belum sadarkan diri.
"Mamah kenapa Nek?" tanya Julliant.
"Mamah tadi pingsan, mungkin mamah kamu lagi kecapekan," jawab Ibu Ana.
"Oh, kasihan mamah, pasti karena jagain dede yang rewel ya, Nek?" tanya Julliant lagi.
Ibu Ana tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya, "Nggak kok Sayang, Mamah kalian cuman kurang istirahat aja, lagian Clara kan pintar, ya cu ya," kata Ibu Ana seraya membelai rambut Clara yang sangat lembut dan berwarna hitam lurus.
Clara hanya terdiam sambil memandangi ibunya yang tengah terbaring lemas tidak berdaya di tempat tidurnya.
"Clara sayang," ucap Ibu Ana. " Ayo sini cu, biar mamah istirahat dulu ya."
Clara tetap diam seribu bahasa, kelihatannya air matanya hampir saja jatuh. Namun, dengan segera mungkin Julliant kakaknya mencoba menggoda adik perempuannya agar tidak menangis.
Julliant menarik paksa tubuh adik perempuannya, "Mau nangis kan tuh, hmm, cengeng," ucapnya sembari mencubit pipi tembem milik adik perempuannya yang sangat doyan sekali makan itu.
"Siapa yang mau nangis," sahut Clara dengan suaranya yang masih cadel seketika menepis tangan Julliant yang mencubit pipinya, "Kakak kali yang mau nangis," sambungnya sambil memalingkan wajahnya yang imut dan menggembungkan pipinya.
"Makanya De, jangan nakal, tuh kan, mamah jadi sakit, kalau mamah sakit siapa coba yang mau ngajak Dede jalan-jalan ke taman," kata Julliant sambil memonyongkan mulutnya.
"Hiks, hiks, hiks, hiks." Mulai terdengar isak tangis dari mulut mungil milik Clara yang sudah tidak bisa lagi membendung air matanya.
"Julliant!" Ibu Ana mencubit pipi cucu laki-lakinya, yaitu Julliant yang karena sudah membuat adiknya menangis. Setelah itu, Ibu Ana mengajak kedua cucunya untuk ke luar kamar karena takut anaknya terbangun mendengar celotehan dua kakak-beradik itu.
"Evant sudah di kabarin, Bik?" tanya Ibu Ana seketika menghampiri Bik Minah yang berdiri tepat di depan kamar Mala.
"Belum Buk," jawab Bik Minah, "Takutnya kalau Saya kabarin sama tuan, tuan malah keganggu," sambung Bik Minah.
Ibu Ana hanya manggut-manggut, "Biar saya saja nanti yang telepon Evant," kata Bu Ana, "Emangnya tadi kenapa Bik, kok Mala bisa sampai pingsan, bukannya tadi saya suruh istirahat di rumah?" tanya Ibu Ana.
"Itu Bu, tadi sebelum Non Mala pingsan, saya lihat Non Mala kayak ketakutan gitu Buk, kayaknya Non Mala habis ketemu hantu deh," jawab Bik Minah sambil cengengesan.
"Hantu?" sahut Bu Ana kaget dengan mata melotot, "Ah ngaco, mana ada hantu siang bolong kayak gini," tambah Bu Ana, "Bik Minah ada-ada aja," sambungnya lagi seketika menepuk pundak Bik Minah.
Bik Minah tersenyum cengengesan mengangguk sembari menggaruk kepalanya, "Iya juga ya, Buk."
Ibu Ana kemudian menelepon Evant untuk mengabari keadaan Mala. Evant sangat terkejut dan mengatakan akan pulang lebih awal malam ini.
"Sudah dulu ya Nak Evant, kamu yang hati-hati ya di jalan, jangan ngebut," kata Bu Ana kepada Evant lewat telepon.
"Baik Bu, aku siap-siap dulu mau pulang," sahut Evant yang sedang bersiap-siap berangkat untuk segera pulang ke rumah.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Setelah selesai mengabari Evant, kemudian Bu Ana segera mengajak Julliant dan Clara untuk mandi karena hari sudah sore. Sedangkan Mala belum juga sadarkan diri.
"Julliant...! Clara...! Ayo mandi Sayang," teriak Bu Ana seketika mengambil peralatan mandinya Julliant dan Clara kemudian membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
"Baik, Nek," sahut Julliant dan Clara berbarengan.
"Kalau mandi jangan bertengkar ya, mandinya gantian. Ayo sini julliant dulu baru Dedenya," ucap Ibu Ana sambil menarik tubuh Julliant pelan.
"Julliant bisa mandi sendiri Nek. Nenek jangan ikut masuk ke kamar mandi, Julliant kan udah gede, masak mandinya di temenin Nenek," ucap Julliant seraya masuk ke dalam kamar mandi.
"Jangan lama-lama mandinya ya, kasian Dedenya nanti kelamaan nunggu," ucap Ibu Ana perlahan melangkah keluar dari kamar mandi.
"Iya, Nek," sahut Julliant tersenyum kemudian menguncinya dari dalam setelah neneknya keluar.
Ibu Ana hanya menyunggingkan senyum tanda senang melihat cucu pertamanya yang sangat pintar dan mandiri. Kemudian matanya melirik ke arah Clara yang sudah berdiri di dekatnya.
"Kalau dede, mandinya sendiri apa sama Nenek?" Clara tersenyum lucu menunjukan gigi-gigi susunya yang baru tumbuh sebagian, "Nenek yang mandiin Clara ya Nek, kan masih kecil," ucapnya membujuk sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
Ibu Ana tertawa geli melihat tingkah lucunya Clara, "Iya, mandi sama Nenek. Tapi, tungguin kakaknya dulu selesai mandi yah, baru Clara mandi sama Nenek."
Clara kemudian mandi bersama Neneknya setelah Julliant selesai mandi. Lalu, mereka duduk santai di ruang tengah untuk menonton televisi. Bik Minah menghampiri Ibu Ana kemudian meminta ijin untuk pulang ke rumahnya karena hari sudah sangat sore.
"Bu Ana, saya pulang dulu ya, udah sore," kata Bik Minah meminta ijin, "Kalau Ibu perlu sesuatu panggil saja saya ke rumah Bu," tambahnya lagi.
"Ya Bik, makasih ya udah jagain anak saya, nanti kalau saya atau anak saya perlu sesuatu saya akan panggil Bibik," sahut Ibu Ana.
"Mari Bu, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Julliant...."
Terdengar suara lirih dari dalam kamar Mala memanggil nama Julliant dan Clara.
"Clara...."
"Huum...." Mala yang mulai terbangun dari tidurnya memanggil nama kedua anaknya.
Ibu Ana terkejut dan kemudian berjalan dengan cepat ke arah kamar anaknya. Dia ingin segera melihat keadaan putrinya. Ibu Ana segera menghampiri anaknya ketika sudah sampai di dalam kamar Mala, "Kamu sudah bangun, Nak?" tanyanya pelan sambil membelai rambut anaknya.
Mala perlahan-lahan membuka kedua matanya yang terasa begitu berat. Kepalanya terasa sangat sakit, sekujur tubuhnya terasa pegal, matanya berkunang-kunang, "Ibu..." ucapnya lirih hampir tidak terdengar.
Mala memandang Ibunya yang dari tadi berada di sebelahnya sambil membelai rambutnya dan memegang tangannya dengan lembut.
"Mala, kenapa Bu?" tanyanya kemudian.
"Udah jangan pikirin macam-macam dulu, kamu istirahat aja," sahut Bu Ana.
"Anak-anak di mana, Bu?" tanya Mala lagi.
"Ada, di ruang tengah lagi nonton televisi," jawab Bu Ana.
"Oh."
Mala tersenyum tanda hatinya tenang. Dia sangat menyayangi kedua anaknya sehingga selalu mengkhawatirkan keadaannya. Dia berpikir sudah tertidur sampai sesore ini. Makanya dia cepat-cepat menanyakan keadaan kedua anaknya.
"Mamah!" teriak Clara yang sedang berlari menuju kamar Ibunya. Dia langsung menghambur ke dalam pelukan Ibunya. Mala langsung bangun dan ingin memangku Clara, namun dia tidak sadar bahwa tangannya tadi sudah di pasang infus oleh dokter.
"Uh," ringis Mala kesakitan menahan tangannya berdarah karena infus.
"Pelan-pelan sayang, tanganmu masih di infus," kata Ibu Ana kelihatan panik, "Dede jangan ganggu mamah dulu ya, mamah kan masih sakit," bujuk Bu Ana sambil mengangkat tubuh Clara yang masih melekat di pelukan ibunya.
"Dede mau sama mamah," kata Clara sembari mendorong bahu Neneknya.
"Dede!" bentak Julliant yang marah ketika melihat tingkah adik perempuannya itu. "Nenek kan udah bilang kalau mamah itu masih sakit, emang ya dede nih kalau di bilangin suka ngeyel," tambah Julliant.