Bab 6

1555 Words
Evant menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak beberapa lama dia telah tiba di rumah kediaman ayahnya untuk menyerahkan laporan tentang keuangan perusahaan kepada ayahnya sekaligus menengok ayah dan ibu-sambungnya. Mobil berhenti di depan gerbang kediaman keluarga Andrean, tidak lama kemudian terlihat satpam rumah besar tersebut menekan tombol dari dalam posnya untuk membuka gerbang. Evant membawa mobilnya masuk ke dalam dan berhenti tepat di depan rumah. Dia cepat-cepat masuk dan menemui ayahnya. "Ini laporan perusahaan kita,Yah," ucapnya sambil menyerahkan sebuah map berisi dokumen perusahaan, "Omset perusahaan masih naik turun," sambungnya setelah ayahnya menyambut dokumen tersebut yang sedang duduk sambil menikmati segelas kopi hitam kesukaannya. Tuan Arnold membuka berkas-berkasnya dengan santai, sesekali beliau mengerutkan keningnya, kemudian beliau tersenyum tipis. "Kamu urus sebisamu Vant, ayah sudah terlalu tua untuk memikirkan perusahaan," kata beliau sambil menepuk-nepuk pundak anaknya, "Kalau kamu tidak terlalu mengerti, kamu kan bisa minta bantuan sama Ari, dia orangnya kan pintar pasti bisa bantu kamu," kata beliau lagi. "Baik Yah," sahut Evant mengangguk. "Gimana keadaan istri kamu sama anak-anak?" tanya Tuan Arnold. "Anak-anak alhamdulilah baik Yah, tapi Mala sedang sakit, makanya aku langsung pulang habis ini," jawab Evant. "Sakit?" Pak Arnold mengerutkan keningnya. "Ya, Yah," sahut Evant. "Kok bisa, pasti istri kamu kecapekan ngurus anak-anak sendirian di sana, kemaren kan sudah ayah bilang, tinggal di sini saja, malah ngotot mau pindah," kata Tuan Arnold dengan nada tinggi. Evant hanya menarik nafas panjang, dia tidak tahu harus berkata apa untuk membela dirinya, lalu dia putuskan hanya diam membisu. "Ya sudah, kamu pulang gih sana, siapa yang ngurus anak-anak kalau istri kamu sakit," "Baik Yah, Evant pulang dulu,". Evant berjalan dengan cepat menuju ke luar rumah dan langsung memasuki mobilnya yang masih terparkir di depan rumah, dengan kecepatan tinggi pula dia kembali membawa mobilnya. Badannya sudah terasa capek sekali rasanya dia ingin cepat-cepat pulang ke rumah dan mandi. Butuh waktu beberapa jam dari rumah kediaman Andrean baru lah sampai kerumahnya yang berada di jalan cempaka. Evant sudah sangat letih, setelah sampai dia langsung memarkirkan mobolnya ke dalam garasi hingga rapi. Evant masuk ke dalam rumah yang pintunya tidak terkunci. "Julliant," panggilnya. Julliant yang sedang asik menonton televisi bersama neneknya di ruang tengah menoleh ke belakang, dia tahu itu adalah suara ayahnya. Julliant begitu kegirangan melihat ayahnya sudah tiba di rumah. "Yee, Papahm" Peluk Julliant setelah ayahnya berada tepat di hadapannya. Evant tersenyum senang, "Dede mana?" tanyanya. "Dede sudah tidur Pah tuh dalam kamar," tunjuk Julliant ke arah kamar adik perempuannya. Evant langsung menuju ke arah kamar anak perempuannya itu, kemudian masuk ke dalam. Dia menciumi putri kesayangannya dengan penuh rasa rindu, tapi Clara tetap tidak mau bangun dari tidurnya. Membuat Evant tertawa geli melihat tingkah lucu anak perempuannya itu. "Mala gimana keadaannya Bu?" tanya Evant menoleh kepada ibu mertuanya, yaitu Bu Ana. "Udah lumayan kok Nak Evant, tuh lagi tidur di dalam kamar," jawabnya pelan takut suaranya membangunkan anaknya. "Oh, syukur lah," sahut Evant, "Aku ke kamar dulu Bu, mau lihat keadaan Mala," kata Evant sambil berlalu di hadapan Bu Ana menuju kamarnya. Evant membuka pintu kamar secara perlahan, pelan sekali agar Mala tidak terbangun dari tidurnya. Dia menatap wajah teduh milik istrinya itu dengan penuh kasih sayang, kemudian membelai rambutnya dengan lembut. "Pah..." sentak Mala yang tiba-tiba terbangun. "Ups." Evant tersenyum manis. "Baru sampai Pah?" tanya Mala. "Udah dari tadi Mah, niatnya Papah nggak mau bangunin Mamah, tapi Mamahnya kebangun," jawab Evant dengan senyum rasa bersalah di wajahnya. "Papah, sih nggak hati-hati," cubit Mala di lengan suaminya, "Auhh," Ringis Mala kesakitan menahan tangannya yang masih di pasang infus. "Nah, makanya Mamah hati-hati, tuh kan, tangannya sakit," balas Evant kemudian mencubit hidung istrinya. Mala cemberut. "Papah, iihh, Mamah kan lagi sakit, bukannya prihatin malah di kata-katain," kata Mala dengan nada manjanya. "Emang ya, Papah itu nggak romantis." Evant tertawa terbahak-bahak, dia tidak tahu harus menjawab apa, karena dia memang bukan tipikal suami yang gemar beromantis-romantisan, dia lebih suka membuat istrinya tertawa bahagia dengan canda tawanya, meskipun kadang malah berujung dengan melow dramatis Mala yang memang pantas menyandang gelar Ratu Drama. "Papah, kok bau sih," ucap Mala sambil mendengus-dengus pakaian yang di pakai Evant. "Belum mandi ya?" tanya Mala. Evant tersenyum cengengesan, "Kan tadi ceritanya Papah itu pengen banget lihat keadaannya mamah jadi lupa mandi deh," jawab Evant sambil cengar-cengir. "Ihh, pantesan bau, mandi sana gih,". Mala mendorong-dorong tubuh suaminya dengan lembut. Membuat Evant mendengus kesal, dia tahu kalau istrinya itu memang paling tidak suka melihat dia yang tidak mandi. Makanya sebelum menemui istrinya Evant lebih dulu mandi, tapi, karena dia sangat mengkhawatirkan keadaan Mala dia sampai lupa mandi. "Ya, nih mau mandi juga kok," kata Evant dengan nada kesal. "Nah, gitu dong," sahut Mala. Evant memasuki kamar mandi yang berada di dalam ruangan kamarnya sendiri. Sebelum itu dia menyiapkan baju tidur yang akan di pakainya untuk malam ini. Biasanya istrinya lah yang selalu menyiapkan semua keperluannya setelah mandi sepulang dia kerja, tapi, saat ini Mala sedang sakit dan dia bukan lah tipikal suami yang manja yang selalu istrinya harus menyiapkan segala keperluannya. Evant sebenarnya lebih suka menyiapkan segala keperluannya sendiri dari pada harus menyuruh istrinya seperti pembantu, dia lebih suka melihat Mala duduk manis dan hanya menemaninya saja. Evant tidak ingin istrinya kecapekan mengurusnya, lalu, sakit seperti sekarang ini. Evant keluar dari kamar mandi setelah beberapa saat kemudian, dia, lalu memasang piyama tidurnya dan menyisir rambutnya dengan sangat rapi. "Gimana mah, udah wangi nggak?" tanyanya setelah sampai di sebelah istrinya. "Nah, gitu dong," sahut Mala sembari tersenyum manis. "Mal, kamu makan malam dulu ya, sini biar ibu suapin," panggil Bu Ana yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu kamarnya Mala. "Mala, nggak lapar Bu," sahut Mala. "Kamu kan lagi sakit, di cobain sedikit aja nanti kalau nggak makan malah tambah sakit," bujuk Bu Ana perlahan. Mala hanya terdiam, dia benar-benar tidak selera makan, tapi ibunya pasti lah tetap akan memaksanya untuk makan. Karena perkataan ibunya itu memang ada benarnya juga kalau dia tidak makan pasti lah tubuhnya akan bertambah lemas. Makanya dia hanya diam dan menurut saja dengan bujukan ibunya. "Nak Evant juga belum makan malam kan, makan gih sana sudah ibu siapkan, Julliant sudah menunggu di meja makan," ucap Bu Ana. "Baik Bu," sahut Evant yang kemudian segera menemui anaknya yang sudah menunggunya di meja makan. Evant berjalan ke arah dapur sebelum sampai di meja makan dia membuat s**u hangat dulu untuknya dan untuk Julliant yang memang sangat suka sekali meminum s**u hangat sebelum tidur. "Hallo jagoan Papah, ini s**u hangatnya," kata Evant sambil mengusap rambut anak laki-lakinya itu. "Makasih Pah," sahut Julliant sambil mengunyah makanan di mulutnya. Suaranya hampir tidak jelas terdengar karena makanan yang penuh di mulutnya. "Makannya hati-hati, nanti tersedak." "Hehe." Evant kemudian mulai menyantap makan malamnya dengan santai sambil sesekali matanya melirik ke arah smartphone yang ada di samping piringnya. Smartphone itu terus saja bergetar karena ada pesan masuk, namun, Evant tidak menghiraukannya, karena dia sedang menyantap makan malamnya. Julliant yang baru saja selesai menyantap makan malamnya dan membersihkan wajahnya dengan air dan tisu kering. Kemudian dia ke kamar kecil dulu supaya tidak ngompol pas tidur nanti. Setelah selesai Julliant kemudian langsung meminum susunya sampai habis. "Habis itu langsung tidur ya Jul, jangan nonton tv lagi," pinta Evant kepada anak laki-lakinya itu. "Baik Pah," sahutnya pelan karena kekenyangan. "Sini cium dulu, biar tidurnya nyenyak." Julliant pun mendekat ke arah ayahnya yang masih menyantap makan malamnya begitu santai. "Julliant tidur dulu ya Pah," katanya seraya pergi meninggalkan ayahnya. Evant mengangguk dengan pasti. "Jangan lupa baca do'a sebelum tidur ya Jul." Setelah selesai menyantap makan malam dan membersihkan wajahnya Evant masih saja duduk di meja makan sambil meminum segelas s**u yang di buatnya tadi. Kemudian dia mengecek smartphone yang sedari tadi selalu bergetar karena pesan masuk yang ternyata dari sahabat sekaligus rekan kerjanya, yaitu Ari. Evant membalas pesan dari Ari, kemudian kembali meminum susunya sampai habis. Evant kembali ke kamar untuk istirahat. Sebelumnya dia mengecek dulu kamar Clara yang lampunya masih menyala, kemudian mematikannya dan menyalakan lampu tidur untuk anak perempuannya itu. Lalu, dia mengecek lagi ke kamar anak laki-lakinya yang ternyata sudah mematikan sendiri lampu di kamarnya, lalu menyalakan lampu tidurnya sendiri. "Hmm, Julliant ternyata sudah besar dan sangat pintar," gumamnya lirih hampir tidak terdengar. Kemudian dia melanjutkan kembali langkah kakinya untuk menuju kamar tidurnya. Ibu Ana yang ternyata masih mengobrol dengan anaknya, yaitu, Mala, setelah selesai menyuapinya makan langsung permisi untuk keluar kamar setelah Evant masuk ke dalam kamarnya. "Ibu permisi dulu ya, kalian pasti sudah mengantuk, istirahat dulu." Ibu Ana lalu, menuju ke luar kamar kemudian membersihkan peralatan makan bekas Evant dan Julliant yang tadi makan malam di meja makan. Setelah itu kemudian Ibu Ana pun juga menyiapkan makan malam untuk dirinya sendiri yang sedari tadi juga belum makan karena sibuk mengurus kedua cucu kesayangannya. Evant dan Mala pun bersiap-siap untuk tidur karena sudah sangat mengantuk. Mala yang masih terbaring lemas di tempat tidurnya setelah selesai meminum vitamin yang sudah di berikan resepnya oleh dokter, kembali mencoba memejamkan matanya untuk tidur. "Aku tidur duluan ya Pah," kata Mala pelan. "Ya Mah, Papah juga mengantuk nih, hoam," sahut Evant sambil menguap. Evant mematikan lampu di kamarnya dan menyalakan lampu tidur. Kemudian dia menyalakan AC dan setelah itu dia kembali ke atas kasur untuk merebahkan tubuhnya yang lelah, lalu memasang selimut untuk menutupi tubuh istrinya yang sudah tertidur, kemudian memasang selimut juga untuknya. "Good Night sayang," ucapnya lirih sambil mencium kening istrinya dengan lembut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD