Bab 13

1602 Words
Clara asik berlari kesana-kemari mengelilingi tubuh ayahnya yang sedang berdiri untuk menghidupkan lilin karena saat itu listrik di rumah mereka sedang padam. Mala mencoba menegur anak perempuannya itu karena takut akan terjatuh, tapi Clara tetap tidak menghiraukan ibunya itu. "Clara... Jangan lari-lari terus dong nanti jatuh!" teriak Mala menegur dengan lembut. "La la la... La la la...." Clara tetap tidak menghiraukan teguran ibunya dan terus berlarian sambil bernyanyi dengan senangnya. Namun saat Clara menatap ke luar kamar tepat menatap ke arah ruang tamu, tiba-tiba dia terdiam seketika dengan kedua bola matanya kaku dan ia tidak mengeluarkan sepatah-katapun. Tubuhnya yang mungil dia sembunyikan di belakang Evant yang masih menghidupkan lilin untuk seluruh ruangan. "Papah..." ucap Clara lirih berbisik, "Kita masuk ke dalam kamar aja, Pah... Clara takut... Ada hantu..." bisiknya pelan sambil gemetar. Evant tertawa kecil menoleh ke arah Clara, "Emangnya hantunya di mana sayang?" tanyanya menggoda anak perempuannya itu. "Itu, di sana, Pah..." sahut Clara menunjuk ke arah ruang tamu dengan jari telunjuk tangannya yang terlihat halus dan mungil. Mala pun terkejut seketika memandang tajam ke arah ruang tamu yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Sedangkan Evant hanya tertawa terbahak melihat tingkah lucu anak perempuannya yang terlihat gemetar karena ketakutan itu. Mala berjalan pelan ke arah ruang tamu untuk memastikan bahwa apa yang di lihat anak perempuannya barusan hanyalah sebuah leluconnya saja. Namun, ketika Mala hampir sampai di ruang tamu pemandangan yang tidak enak kembali dia lihat. Sebuah tubuh kurus yang menyerupai bayangan asap kabut berwarna putih sedang berdiri mengintip dari balik dinding di antara ruang tamu yang menuju ke ruang tengah tepat di mana Mala dan Evant serta kedua anaknya berada. Bayangan itu bertubuh tinggi sekali hampir menyentuh langit-langit rumah dengan tangan yang juga terlihat kurus dan panjang. Kuku-kukunya juga kelihatan sangat tajam berpegang pada dinding rumah Mala. Mala menutup mulutnya rapat-rapat ketika dia ingin berteriak sekeras-kerasnya, tapi dia tahan karena takut akan membuat kegaduhan di rumahnya. Mala mundur perlahan dari sosok mengerikan yang menyerupai bayang seorang kakek-kakek tua itu, lalu membaur kembali bersama Evant dan kedua anaknya seolah tidak terjadi apa-apa. "Mamah bawa Clara ke dalam kamar dulu ya Pah, mungkin Clara kelelahan karena tadi kelamaan main di halaman," ucap Mala kepada Evant sambil menggendong tubuh kecil anak perempuannya yang masih menutup matanya dengan kedua belah tangannya itu. "Oke Mah," sahut Evant, lalu bersantai bersama Julliant di atas sofa sambil meminum segelas s**u. Mala membawa Clara ke dalam kamar, lalu merebahkan tubuh kecilnya ke atas kasur dan menyelimuti tubuh mungil anak perempuannya itu. Sebelum Clara tertidur Mala mencoba bertanya dengan lembut kepada anak perempuannya itu tentang apa yang barusan di lihatnya di luar. "Clara," sapa Mala lembut, "Mamah boleh nanya nggak?" tanya Mala kemudian. Clara hanya mengangguk pelan dengan mata yang masih di tutup dengan dua belah tangannya. "Emangnya tadi di luar Clara lihat apa sih?" tanya Mala lagi. Clara bangun dan duduk di atas kasurnya, matanya menatap mata Mala dengan sangat ketakutan. "Clara lihat kakek mengintip Mah...." bisik Clara ke telinga Ibunya. 'Deg.' Jantung Mala seakan mau copot mendengar pengakuan Clara. Berarti apa yang di lihat oleh anak perempuannya barusan persis sama dengan apa yang juga di lihat oleh Mala. "Ya sudah, Clara bobok dulu gih, jangan lupa baca doa ya," kata Mala sambil membelai lembut rambut putri kecilnya itu. Clara mengangguk, lalu berbaring di tempat tidurnya dan kemudian membaca doa meskipun masih di bantu oleh Mala karena Clara belum hapal doa sebelum tidur. Setelah Clara tertidur Mala ke dapur untuk membuat secangkir kopi sebelum kembali ke ruang tengah untuk berkumpul bersama Evant dan Julliant. Setelah Mala menghampiri Evant dan Julliant di ruang tengah, seketika lampu di dalam rumah kembali menyala. Julliant terlihat begitu senang karena bisa menonton televisi lagi bersama Ayah dan juga Ibunya. "Kok panas ya Pah, AC-nya udah nyala kan?" tanya Mala kepada Evant. "Nggak kok Mah, adem banget nih, tanya aja Julliant, iya kan Jull?" tanya Evant kepada Julliant yang tengah asik menonton televisi sambil menyantap cemilan. "Iya nih Mah, Julliant aja sampai kedinginan," sahut Julliant. Mala menaikan kedua alisnya keatas merasa pendapatnya tentang suhu ruangan yang terasa panas tidak di benarkan oleh suami dan juga anak laki-lakinya. Meskipun Mala merasakan suhu ruangan yang terasa begitu menusuk sehingga keringatnya terus mengalir membasahi tubuh dan juga wajahnya, tapi tidak terlalu di hiraukannya dan dia pun kembali santai menonton televisi bersama Evant dan Julliant sembari menikmati segelas kopi yang di buatnya setelah mengantar Clara tidur di kamar. Ketika sedang asik menonton televisi Mala tiba-tiba mendengar suara anjing melonglong yang begitu nyaring dan dalam terasa ingin menerkam dirinya. 'Aauuuuuuuuuuu....' Mala panik dan seketika melonjak dari atas tempat dia duduk sehingga membuat Evant terkejut melihatnya. "Kenapa Mah?" tanya Evant heran. "I-itu Pah, su-suara lolongan anjing... Papah denger nggak?" sahut Mala panik dan gemetar seketika melontarkan pertanyaan kembali kepada Evant. "Papah nggak dengar kok Mah," jawab Evant sembari mengerutkan kedua keningnya dan semakin merasa heran dengan tingkah dari istrinya itu. "Julliant, kamy dengar suara longlongan anjing, kan?" tanya Mala panik. Julliant menatap ke arah Ibunya heran kemudian menggelengkan kepalanya, "Julliant, nggak dengar apa-apa kok Mah, cuman suara televisi dari tadi yang Julliant, dengar." Mala melongo mendengar pengakuan suami dan anak laki-lakinya itu. Begitu jelas dia mendengar lolongan anjing yang begitu menyayat di telinganya, tapi kenapa Evant dan Julliant tidak mendengarnya sedikit pun. Mala terduduk lemas di sebelah Evant, lalu kembali merasakan sesak di dalam dadanya. 'Apa yang sedang terjadi kepadanya?' tanyanya di dalam hati. Rasanya Mala ingin menangis sekencang-kencangnya, namun dia tahan karena percuma jika dia menangis di hadapan anak laki-lakinya dan suaminya. Toh, tidak akan ada juga yang percaya padanya, baik suami atau pun anak laki-lakinya. "Kamu baik-baik saja kan, Mah?" tanya Evant sambil memusut lembut rambut istrinya. Mala tersenyum datar, "Mamah enggak apa-apa kok Pah, mungkin cuman sedikit kecapekan," sahutnya seketika. "Mamah istirahat duluan aja gih," kata Evant. "Nggak apa-apa Pah, nanti aja... Aku masih belum ngantuk," sahut Mala pelan. "Oh, iya udah kalau gitu." Evant tersenyum, lalu kembali menonton televisi acara kartun kesayangannya bersama anaknya Julliant. Sesekali mereka berdua tertawa terbahak-bahak, lalu kembali menonton dengan tegangnya. Berbeda dengan Mala yang hanya terdiam karena masih memikirkan kejadian demi kejadian aneh yang telah menimpanya. Hanya Clara yang merasakan hal yang sama dengannya, tapi siapa yang akan percaya dengan Clara kecil. Meskipun Mala tahu Clara tidak berbohong bahwa tadi dia benar-benar melihat hantu. Karena Mala juga melihat apa yang di lihat oleh anak perempuannya itu. 'Kriing... Kring... Kring... Kring...' Smartphone Evant tiba-tiba berdering sehingga mengejutkan Mala yang termenung. Seketika lamunannya pun berakhir. Evant mengangkat telephone-nya dengan segera, lalu berjalan ke arah ruang tamu. Mala memperhatikan suaminya dari kejauhan. Evant kelihatan sangat sibuk dan terlihat sedikit panik dan membuat Mala penasaran dengan apa yang sedang terjadi sehingga suaminya kelihatan panik. Evant mengakhiri panggilan telephone-nya dan mengerutkan kedua alisnya, kemudian berjalan lagi menuju ruang tengah untuk menghampiri Mala dan Julliant. "Ada apa Pah?" tanya Mala hati-hati. "Nggak apa-apa Mah, itu tadi Ary, katanya mau minta tolong sama Papah." Evant memotong kata-katanya kemudian duduk di samping kiri Mala dengan wajah yang datar. "Minta tolong apa Pah?" tanya Mala masih dengan hati-hati. "Minta sampaikan sesuatu sama Kamelia karena katanya Kamelia barusan telephone dia tadi dan dia nggak bisa angkat telephone-nya karena takut ketahuan istrinya," jawab Evant sambil terkekeh. "Sekalian dia ngajakin Papah buat jenguk Kamelia besok, Papah bilang aja minta ijin dulu sama Mamah." "Oh gitu, iya udah Papah temenin aja besok," sahut Mala sambil menyunggingkan senyum manis di bibirnya. "Mamah mau ikut jenguk Kamelia nggak? sekalian minta maaf gitu, kemaren kan Mamah sempat bertengkar kecil sama dia?" ajak Evant hati-hati karena takut istrinya itu akan marah. "Nggak deh Pah, nanti Papah aja ya yang sampaikan permintaan maaf Mamah ke dia karena kemaren sempat ngata-ngatin dia," jawab Mala sinis. Evant mencubit hidung Mala, "Iya nanti aku sampaikan permintaan maaf Mamah ke Kamelia," ucap Evant sambil tersenyum. "Hoam," Mala menguap kemudian berdiri sambil memegang smartphone-nya. "Mamah ke kamar duluan ya Pah, udah ngantuk nih," kata Mala seraya berjalan menuju ke kamarnya, "Oh iya, Julliant jangan tidur larut malam, besok dia sekolah, kan," kata Mala lagi mengingatkan Evant agar segera menyuruh Julliant untuk tidur karena malam sudah semakin larut. "Iya Mah, sebentar lagi kami nyusul Mamah ke kamar," sahut Evant sambil mengacungkan ibu jari kanannya ke arah Mala. Mala membuka pintu kamarnya kemudian masuk dan menutupnya kembali. Setelah itu dia langsung merebahkan dirinya di atas kasur untuk tidur karena kedua matanya sudah terasa rait begitu berat dan tidak mampu lagi bertahan untuk terus terbuka. Mala segera memejamkan matanya seraya membaca doa sebelum tidur kemudian dia hanyut di dalam tidurnya dengan lelap. Sementara itu, di luar kamar Evant sedang menyuruh anak laki-lakinya itu untuk segera tidur. Sedangkan dia sendiri masih asik menonton televisi karena matanya masih belum mengantuk. Kebiasaan Evant yang sering tertidur di ruang tengah sambil menonton televisi karena jam tidurnya yang tidak teratur dan rasa kantuk yang kadang enggan datang di malam hari membuat dirinya sendiri tidak tahu kapan dia akan mengantuk dan tertidur. Evant masih sibuk mengutak-atik smartphone-nya sambil sesekali menatap layar televisi dan meminum segelas s**u lagi agar perutnya terasa kenyang dan cepat mengantuk. Meskipun hal itu belum pernah berhasil dia lakukan. Kedua matanya masih sulit untuk terpejam dengan beberapa alasan tertentu yang bisa saja membuatnya begadang semalaman. Evant berjalan menuju kamar Julliant dan Clara kemudian memeriksa dengan rinci kedua kamar tersebut dan mematikan lampu di dalam kamar-kamar anaknya itu lalu menyalakan lampu tidur. Evant tersenyum melihat kedua anaknya yang sedang tertidur dengan pulasnya, dia pun merasakan kebahagiaan yang tidak ternilai harganya di banding apapun. Hidup bahagia bersama istri yang sangat di cintainya dan juga memiliki putra-putri yang membanggakan menurutnya, sehingga menumbuhkan rasa penyayang dan menahan rasa arogan dalam diri Evant.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD