Bab 12

1345 Words
Pak Sugeng dan Julliant pun tiba di rumah setelah pulang dari sekolah. Julliant pun segera masuk ke dalam kamar untuk mengganti bajunya setelah mencuci kaki dan tangannya. Pak Sugeng pulang ke rumahnya setelah menitipkan kunci mobil kepada istrinya, yaitu Bik Minah. "Jangan lupa angkat jemuran di rumah ya Pak," kata Bik Minah mengingatkan suaminya yang sudah menaiki motornya untuk pulang ke rumah. "Iya Bu, beres," sahut Pak Sugeng kemudian menghidupkan mesin motornya dan segera berangkat. "Bapak pulang dulu ya Bu... Assalamu'alaikum." "Iya Pak... Wa'alaikumsalam, hati-hati di jalan." Bik Minah pun masuk ke dalam rumah, tidak lupa menutup pintu rumah Mala kemudian ia pun bergegas menuju ke dapur untuk melanjutkan pekerjaan rumahnya yang belum juga selesai. "Duuhh, aku lupa masak," gumamnya lirih. Matahari masih terlihat terik dan jam dinding sudah menunjukan pukul setengah dua. Mala bangun dari tidurnya dan berniat pergi ke dapur untuk meminta Bik Minah membuatkan segelas teh hijau kesukaannya. "Bik, buatkan aku teh hijau ya," pinta Mala. "Baik Non," sahut Bik Minah cepat. Mala mendatangi Julliant dan Clara yang sedang asik menonton televisi di ruang tengah, lalu menyapa kedua kakak beradik itu. "Julliant sama Clara sudah makan?" tanya Mala. "Belum Mah, itu lagi di bikinin sama Bik Minah," jawab Julliant sambil menunjuk Bik Minah yang sedang asik memasakan makan siang sekaligus membuat teh hijau yang telah di pesan Mala di dapur. Mala melirik jam dinding yang ada di ruang tamu, lalu duduk di sofa sambil menunggu teh hijau pesanannya segera di bawakan oleh Bik Minah. Mala mengutak-atik smartphone-nya sebentar kemudian meletakannya kembali di atas meja. "Bosan deh, nggak ada yang kirim pesan," gumam Mala sambil mendengus kesal. Mala menghempaskan tubuhnya berbaring di atas sofa, dia merasa bosan karena kesepian di rumah. Tidak ada kegiatan yang bisa dia kerjakan selain melakukan pekerjaan rumah dan merawat kedua anak-anaknya, yaitu Julliant dan Clara. Mala memejamkan kedua matanya sebentar. Seketika Mala teringat kejadian tadi pagi yang telah di alaminya sewaktu di kamar mandi dan kembali terlintas di pikirannya. Mala bergegas mencoba melupakan kejadian yang baru saja di alaminya itu. "Ini tehnya Non, mau langsung di kasih gula atau tidak?" ucap Bik Minah seraya bertanya sembari meletakan segelas cangkir berisi teh hijau dan gula di atas meja. "Nggak usah Bik, taruh di sini aja biar nanti Mala sendiri yang kasih gulanya," jawab Mala pelan. "Bibik ke dapur dulu ya Non, mau siapin makan siang buat Non Clara sama Den Julliant," ucap Bik Minah, "Non Mala mau makan siang sekalian juga nggak?" tanyanya kemudian. "Nanti aja Bik, Mala belum lapar," jawab Mala di sertai senyuman tipis di wajahnya menatap Bik Minah. "Baik Non," kata Bik Minah seraya berlalu dari hadapan Mala. "Makasih ya Bik," ucap Mala. Ketika Mala tengah asik menikmati teh hijaunya, mobil berwarna hitam tiba di halaman rumahnya. Mobil hitam itu tidak lain adalah mobil suaminya, yaitu Evant. Mala terkejut karena Evant tiba di rumah lebih awal dari pada perkiraannya. Mala pun bergegas berlari untuk membukakan pintu depan rumahnya. "Papah, kok tiba lebih awal?" tanya Mala ketika suaminya sudah tiba di depan pintu rumah. "Iya nih Mah, tadi nggak jadi meeting," jawab Evant. "Kenapa nggak kasih kabar ke Mamah...?!" sahut Mala kesal seraya bertanya. "Sengaja nggak kasih kabar biar jadi kejutan buat Mamah," sahut Evant sambil mencubit hidung istrinya. Mala tersenyum senang, "Iya udah masuk dulu gih, pasti Papah capek," ajak Mala sambil menggandeng lengan suaminya. "Duduk dulu biar Mamah bikinkan kopi," kata Mala kemudian berlalu pergi ke dapur menyiapkan kopi untuk Evant. Evant mengangguk sambil tersenyum. Evant melepaskan jas tuxedo hitam yang masih terpasang rapi di badannya, lalu melonggarkan dasi yang masih terpasang di lehernya kemudian dia termenung seperti sedang memikirkan sesuatu. "Nih kopinya Pah." Mala metakan kopinya di atas meja kemudian duduk di sebelah suaminya. Sontak Evant terkejut dan terlepas dari lamunanya, "Makasih ya Mah," ucapnya seketika menatap senyum ke arah Mala. Evant menyeruput kopinya sedikit kemudian meletakan kopinya kembali ke atas meja yang ada di hadapannya, lalu terdiam beberapa saat. Mala tampak heran ketika melihat tingkah suaminya yang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. "Mamah ingat nggak sama Kamelia?" tanya Evant seketika setelah penatnya mulai terasa reda. "Hmm, Kamelia yang mana ya Pah?" Mala kelihatan berpikir mencoba mengingat nama yang tidak terasa asing di telinganya. "Itu Mah... Kamelia yang pacarnya Ari," lanjut Evant memberitahu. Mala menatap Evant seolah mengingat sesuatu dan terlihat penasaran tentang apa yang hendak di bahas oleh suaminya, "Oh, iya Mamah ingat, Kamelia pacar gelapnya Ari itu kan, Pah?" sahut Mala seketika bertanya mencoba meyakinkan. "Iya, itu...." Evant mengangguk mengiyakan. "Emangnya kenapa Pah?" selidik Mala seketika bertanya karena penasaran. "Kemarin dia masuk Rumah Sakit Mah," jawab Evant lalu terdiam sejenak dan menghela nafasnya yang panjang, "Di tusuk sama suaminya sendiri, karena ketahuan selingkuh," sambungnya menjelaskan. "Hah....!" sontak Mala terkejut seketika membelalakan kedua matanya yang sipit sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya, "Dia punya suami Pah?" tanyanya setengah heran, "Bukannya kemaren katanya udah pisah sama suaminya?" lanjutnya lagi melontarkan pertanyaan bertubi-tubi. "Iya Mah, kemaren emang pisah, tapi katanya rujuk lagi, terus Kamelia selingkuh dan ketahuan deh sama suaminya," jawab Evant lirih dan suaranya terdengar datar. "Terus gimana keadaannya sekarang Pah?" tanya Mala seolah tidak sabar mendengar kelanjutan kisah Evant. "Katanya sih, kondisinya masih sekarat Mah, kita doain aja yah supaya lekas sembuh," ucap Evant berharap sambil menatap Mala dengan mata sayunya. Mala mengangguk dan hanya diam membisu tanpa melontarkan kata-kata karena mulutnya seakan terkunci rapat. "Aku ke kamar dulu Mah, sekalian mau mandi," ucap Evant seraya berlalu dari hadapan Mala meninggalkan Mala yang masih terdiam dengan mulut yang terkantup rapat. Mala berdiri dan menengok ke depan rumah kemudian kembali berjalan ke dalam menuju dapur mengambil roti untuk dia makan. Seolah tidak terasa dan sore pun telah tiba, waktu seakan begitu cepat berlalu tanpa ada hal yang berguna di lakukannya selain mengurus rumah tangga dan mengurus anak-anaknya. Mala duduk kembali di atas sofa untuk menikmati dua lembar roti tawar dengan selai cokelat di dalamnya. Keheningan membawa diri Mala kembali dalam kebosanan batin yang kini melanda dan kian bergejolak di dalam hati juga pikirannya. Ada kalanya Mala merasa sangat merindukan sahabat-sahabatny, jauh dari tempat keramaian seakan dirinya telah terbuang. Mala menengok ke halaman rumahnya, terlihat di sana Evant dan kedua anaknya tengah bermain dengan begitu ceria. Mala tersenyum tatkala matanya beradu pandang dengan mata suaminya itu. Meskipun di dalam hati kecilnya, Mala menyimpan banyak rahasia yang tidak bisa dia ceritakan bahkan kepada suaminya tersebut, yaitu Evant. Sungguh teramat menyakitkan bagi Mala ketika mengalami kejadian demi kejadian janggal di rumahnya sendiri dan tidak ada satu pun orang yang percaya kepadanya. Walau pun Mala mencoba menceritakan, pasti sudah di anggap suaminya bahwa dia hanya berhalusinasi sehingga menyimpan rahasia batin dirinya sendiri dan membuat tekanan yang teramat berat sehingga membentuk rasa kesepian yang mendalam di dalam jiwa Mala. "Mah," sapa Evant seketika menepuk pundak Mala. Mala terkejut dan langsung menoleh, "Iya Pah," sahut Mala dengan gugup. "Mamah kok nggak ikut kita main?" tanya Evant heran seketika menyipitkan kedua matanya menatap wajah Mala ke kanan dan ke kiri. "Kamu lagi mikirin apa sih?" tanya Evant lagi seketika meraih kedua tangan istrinya itu. Mala hanya diam dan tersenyum ragu-ragu. Matanya seolah menyiratkan sesuatu agar Evant mengerti dengan apa yang tengah dia rasakan. "Apa jangan-jangan, kamu masih mikirin cerita tentang Kamelia, ya?" tanya Evant mencoba menyelidik. Mala melototkan matanya ke arah Evant. Evant langsung tertawa terbahak-bahak. Nalurinya untuk menggoda istrinya segera bangkit seketika. "Mamah takut ya," goda Evant. Mala tetap saja diam dan hanya memandangi Evant dengan wajah yang cemberut. "Udah... enggak usah di pikirin lagi deh Mah," ucap Evant seketika mencubit pipi chubi Mala, "Barusan Ari menghubungi Papah lewat telpon, katanya Kamelia udah sadar dan keadaannya juga udah baikan," sambung Evant seketika merangkul istrinya dan mengajaknya untuk ikut bermain di halaman rumah bersama kedua putra dan putrinya. Mala mencoba tersenyum pahit meskipun hatinya masih menyimpan kesepian yang mendalam dan pikirannya masih terbayang kejadian yang di alaminya tadi pagi. "Ayo Mah, ikut main!" teriak Julliant sambil memegang sebuah bola sepak di tangannya. "Mamah lagi capek... Jadi, nggak bisa ikutan main," kata Mala pelan. "Oh gitu... Ya udah, Mamah nonton aja," sahut Julliant kemudian melanjutkan permainannya bersama ayah dan juga adik perempuannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD