Bab 11

2289 Words
Malam itu ketika Mala tertidur dia kembali gelisah, suhu ruangan terasa lebih panas dari pada malam sebelumnya. Jam sudah menunjukan pukul dua belas malam. Angin di luar terlihat begitu sepoi-sepoi. Namun, hawa di dalam kamar Mala masih terasa begitu menusuk panasnya sampai ke tulang. Mala semakin gelisah di dalam tidurnya, dia membolak-balikan badannya ke kanan dan ke kiri, mengulurkan selimut yang sedari tadi menutupi badannya. Meskipun tidak mengurangi rasa panas yang sedang di rasakannya kini. "Malaaa...." Suara lirih seorang perempuan tua memanggil namanya. "Malaa... Aku lapar...!" teriaknya seketika membuat Mala sontak terbangun dari tidurnya. Mala melihat-lihat sekeliling kamarnya dan bertanya-tanya di dalam hatinya apakah ada seseorang di dalam kamarnya tengah malam begini. Mala pun memutuskan untuk beranjak dari kasur dan hendak melihat ke luar kamar. Namun, mendadak tubuhnya tidak bisa dia gerakan, tangan dan kakinya seperti terkunci, lehernya seperti tercekik oleh sesuatu yang membuat dia hampir kehabisan nafas. "Maalaa....!!" Suara teriakan perempuan tua itu kembali terdengar dan kali ini Mala begitu jelas mendengarnya karena dia telah terbangun dari tidurnya. "Maalaa, aku lapar!" Teriakan tersebut kembali di sertai hentakan pada tubuh Mala yang kini terasa terlepas dari cengkeraman benda berat yang tadi menindih serta mencekik lehernya. Mala ketakutan dan cepat-cepat menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Mala memaksa untuk memejamkan kedua matanya, tapi tidak mau terpejam dan dia tetap memaksakannya. Mala mencoba membaca ayat-ayat suci agar menghilangkan rasa takutnya. Suara itu sudah tidak lagi terdengar dan Mala pun kembali memejamkan kedua matanya yang sudah terasa berat karena kantuk. Namun, dari tadi di tahannya karena ketakutan. Mala akhirnya kembali tertidur dengan pulas dan tidak merasakan gelisah. Akan tetapi belum selang beberapa jam tertidur, Mala kembali di kejutkan dengan suara benda-benda di luar kamarnya yang seakan-akan berjatuhan di lantai. Mala terbangun dari tidurnya, lalu beranjak dari kasur tempat dia tidur dan bergegas melangkahkan kedua kakinya ke luar kamar untuk memastikan apa yang sedang terjadi sehingga menyebabkan kegaduhan di luar kamarnya. Dengan perlahan Mala membuka pintu kamarnya. Namun belum sempat ke luar kamar, Mala kembali mendengar ke anehan seperti suara seorang perempuan yang sedang menangis sehingga membuat Mala mengurungkan kembali niatnya untuk pergi ke luar kamar. Seketika Mala pun segera menutup kembali pintu kamarnya dan mengunci pintu itu rapat-rapat, dan kembali melompat ke kasurnya serta menutup tubuh beserta wajahnya dengan selimut. Mala kembali membaca ayat-ayat suci untuk menenangkan dirinya yang tengah merasakan goncangan hebat akibat gangguan makhluk halus yang berada di rumahnya. Matanya sudah tidak mampu lagi untuk terpejam karena rasa takut yang teramat dalam. Ingin sekali dia menghubungi dan menceritakan semua kejadian ini kepada suaminya, yaitu Evant. Namun, Mala tidak ingin mengganggu suaminya itu karena sudah sebulan terakhir ini Evant kelihatan begitu sibuk mengurus perusahaannya. Terlihat kedua mata Mala yang mulai berembun lalu menitikan air mata sembari mulutnya masih membaca ayat-ayat suci untuk menenangkan hati dan pikirannya yang masih terasa terganggu, dia tidak ingin jatuh sakit lagi sehingga tidak bisa menjaga anak-anaknya. Mata Mala tidak mampu terpejam hingga pagi datang kembali dengan warna kuning keemasannya. Mala cepat-cepat beranjak dari tempat tidurnya kemudian membuka pintu kamarnya dengan sangat hati-hati, dia sudah tidak sabar lagi untuk segera memastikan bahwa di luar sedang baik-baik saja karena suara anak-anaknya belum juga terdengar di telinganya. "Semuanya masih seperti pas aku tinggal tidur tadi malam, tidak ada yang berubah," gumam Mala setelah melihat-lihat kondisi di luar kamarnya, "Anak-anak juga kayaknya kelihatan baik-baik saja sepertinya mereka juga tidak mendengar apa-apa seperti aku," gumamnya lagi. Mala melanjutkan perjalanannya untuk memeriksa di setiap sudut rumah. Setelah memeriksa satu per satu kamar Julliant dan juga Clara yang ternyata masih tertidur pulas di dalam kamar mereka masing-masing. Mala berlanjut berjalan ke arah dapur untuk memastikan bahwa di dapur juga tidak terjadi insiden seperti yang Mala bayangkan dan setelah sampai di dapur, ia melihat dapur masih tetap rapi seperti sedia kala saat di tinggalkan. Semuanya terlihat baik-baik saja, tapi belum menimbulkan ketenangan di dalam hati Mala. Mala semakin bertambah panik karena terus memikirkan apa yang sedang terjadi malam tadi. Namun, Mala tidak ingin terlalu larut dengan semua yang terjadi dengan dirinya, dia memutuskan untuk kembali ke kamar Julliant dan membangunkannya untuk segera mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. "Julliant..." panggil Mala, "Ayo bangun sayang... sudah pagi nih, mandi yuk," sambungnya pelan mengajak sambil membuka tirai yang ada di kamar Julliant. "Hoam..." Julliant menggeliatkan tubuhnya yang gemuk karena masih mengantuk dan malas beranjak dari tempat tidurnya, "Udah pagi Mah?" tanyanya seketika menoleh ke arah Mala yang berdiri di dekat jendela setelah memaksa membuka kedua matanya yang masih terasa rait. "Iya dong sayang, masa Mamah banguninnya malam?" Mala tertawa gelak karena melihat anak laki-lakinya cemberut. "Mandi sana gih, entar telat loh keburu Pak Sugeng jemput." Julliant segera beranjak dari tempat tidurnya dan meninggalkan kamarnya untuk mandi kemudian bersiap-siap untuk segera pergi ke sekolah. Mala sengaja membiarkan Clara untuk tetap tertidur karena jika dia bangun maka akan rewel dan dia akan sedikit kesusahan untuk menjaganya. Tubuhnya masih terasa sangat kelelahan karena kurang tidur setelah kejadian yang di alaminya tadi malam. Biar saja nanti menunggu Bik Minah datang baru dia yang membangunkan dan mengurus putri kecilnya itu, bisik Mala dalam hati. Mala berjalan ke dapur untuk membuat kopi hangat yang ingin di nikmatinya sembari duduk di sofa yang ada di ruang tamu untuk bersantai. Tiba-tiba, Mala di kejutkan oleh dering dari smartphone yang di taruhnya di atas meja. Kring... Kring... Kring... Kring.... Mala segera meraih smartphone-nya yang tergeletak di atas meja dan melihat bahwa suaminya lah yang ternyata sedang menghubunginya melalui panggilan video. "Selamat pagi sayang." Evant melambaikan tangannya yang tampak dari layar smartphone Mala. "Pagi Pah," sahut Mala lembut juga di sertai senyum tipis di wajahnya yang masih terlihat kusut karena kurang tidur tadi malam sembari menatap layar smartphone-nya. "Kok muka kamu lesu gitu Mah, nggak tidur ya tadi malam?" tanya Evant menatap heran tampak dari layar smartphone Mala. Tok Tok Tok. Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu depan. Mala seketika beranjak dari duduknya kemudian berjalan menuju pintu depan sambil terus memegang smartphone di tangannya lalu membukakan pintu. Kreek... Tampak Pak Sugeng yang sudah siap berdiri di depan pintu menunggu sambil tersenyum ke arah Mala, "Selamat pagi Non Mala," sapanya seketika melihat Mala yang berdiri di depan pintu. "Selamat pagi Pak... Mari masuk," ajak Mala kemudian masuk lebih dahulu ke dalam rumah dan di susul oleh Pak Sugeng dari belakang. "Julliant, udah selesai belum sarapannya...? Ini Pak Sugeng sudah jemput!" seru Mala memanggil anak laki-lakinya yang dari tadi belum juga selesai sarapan. "Bentar Mah, sebentar lagi!" sahut Julliant yang terdengar samar dari ruang tengah dan tampak berlari menuju ke luar menghampiri Mala dan Pak Sugeng, "Itu Papah ya Mah...?" tanyanya seketika tiba dan berdiri di depan Mala dan segera meraih smartphone yang sejak tadi masih di pegang Mala. "Julliant...!" sentak Mala seketika setelah Julliant merebut smartphone dari tangannya. Julliant mengabaikan Mala, "Hai Pah," sapanya seketika melihat layar smartphone Mala yang masih terhubung dengan panggilan video dari Evant ayahnya. "Hai jagoan Papah, ayo cepat... Itu sudah di tungguin sama Pak Sugeng," sahut Evant seketika melambaikan tangannya. Julliant mengacungkan ibu jarinya dekat ke arah layar smartphone, "Siap, Pah...." Kemudian menyerahkannya kembali kepada Mala ibunya, "Hee.. Ini Mah...." Julliant kelihatan cengar-cengir kemudian memasang sepatunya dengan cepat dan berjalan ke arah luar. "Ayo Pak, Julliant sudah siap...." Julliant segera berjalan menuju motor milik Pak Sugeng yang terparkir di halaman rumah. "Ya Den... Mari Non Mala..." sahut Pak Sugeng kepada Julliant dan menoleh ke arah Mala kemudian menyusul Julliant yang sudah menunggunya di halaman rumah. "Iya Pak, hati-hati di jalan!" seru Mala. Setelah Pak Sugeng dan Julliant berangkat, Mala masuk dan menutup pintu rumahnya kemudian duduk kembali di sofa lalu menatap layar smartphone-nya kembali karena dari tadi dia biarkan Evant yang masih menunggunya di telepon. "Papah udah mandi apa belum?" tanya Mala. "Baru juga bangun Mah," jawab Evant. "Iya udah mandi gih sana terus sarapan dulu." "Emang Mamah udah mandi?" "Belum sih," jawab Mala malu-malu. "Kelihatan sih dari raut wajah Mamah yang masih kucel." Mala tertawa kecil, rasanya dia masih belum bisa tenang, di dalam pikirannya masih terasa dengan jelas kejadian tadi malam. Ingin sekali Mala segera menceritakan kepada Evant tentang apa yang di alaminya tadi malam. Tapi percuma, Evant juga tidak akan percaya kepadanya yang menganggap bahwa Mala hanya kelelahan saja sehingga menghayalkan sesuatu yang tidak jelas. Mala tahu bahwa suaminya itu sangat tidak percaya dengan hal yang seperti itu. "Hari ini jadi pulang kan Pah?" tanya Mala. "Iya, jadi dong Mah, mungkin agak sorean baru nyampe rumah, soalnya harus ke rumah ayah dulu Mah," jelas Evant. "Oh, sampaikan salamku untuk Ayah dan juga Ibu ya Pah," kata Mala senang. Kesepian di rumah barunya membuat Mala rindu kepada kedua mertuanya itu. "Iya baik Mah beres, oh iya... udah dulu ya Mah, aku mau siap-siap dulu ada meeting sebentar setelah itu aku pulang." "Oke deh Pah, semoga meetingnya berjalan lancar ya Pah, biar Papah bisa cepat-cepat pulang ke rumah, Mamah udah kangen banget nih Pah," kata Mala sambil sesekali cekikikan. "Siap istriku sayang, bye...." Evant mengakhiri panggilan videonya dan Mala pun meletakan kembali smartphone-nya di atas meja kemudian dia kembali termenung memikirkan kejadian tadi malam. Bik Minah datang dengan tergopoh-gopoh memasuki rumah Mala karena kelelahan sehabis berjalan kaki. "Bik, kok napasnya ngos-ngosan gitu?" tanya Mala heran. Bik Minah senyam-senyum, "Itu Non anu, saya habis jalan kaki tadi, makanya napasnya ngos-ngosan." "Oh, habis maraton ya Bik," canda Mala sambil tertawa cekikikan, "Bukannya bagus ya, biar Bibik tambah sehat." "Iya Non, maksudnya emang gitu, tapi ternyata capek juga ya, Bibik kan udah tua, nggak kuat lagi jalan jauh-jauh," sahut Bik Minah seraya duduk di sofa berdekatan dengan Mala. "Kalau capek istirahat dulu lah Bik, bikin minum dulu gih sana baru duduk sini nemenin Mala," sahut Mala menatap senyum kepada Bik Minah. "Iya, Non...." Bik Minah pun segera ke dapur untuk membuat teh kesukaannya, lalu kembali duduk di ruang tamu bersama Mala karena Clara belum juga bangun dari tidurnya jadi dia bisa mengobrol sebentar dengan Mala. "Mala mandi dulu ya Bik, nanti bangunin Clara ya kalau Bibik udah nggak capek lagi, soalnya udah siang banget nih," pinta Mala kepada Bik Minah kemudian segera berlalu pergi ke kamar mandi. "Beres Non," sahut Bik Minah dengan pasti. Di dalam kamar mandi Mala menemukan kejadian aneh kembali. Ketika Mala sedang asik mandi tiba-tiba dia di jatuhi oleh setumpuk rambut putih yang menggumpal dari atas, rambut itu tidak berhenti menjatuhi Mala sehingga membuat Mala menjadi panik. Mala menyalakan sower untuk membuang rambut yang masih berserakan di lantai dan juga yang masih menempel banyak di badannya. Namun, air yang keluar dari shawer kamar mandinya pun berubah menjadi warna merah darah dan berbau amis. Mala pun membuka pintu kamar mandinya yang telah terkunci dari dalam untuk segera berlari ke luar, tapi pintu kamar mandi tersebut tidak berhasil dia buka. Mala pun menjadi semakin panik. Mala berteriak meminta tolong sekeras-kerasnya, tapi anehnya, suaranya seakan tenggelam karena tidak ada satu pun antara Bik Minah dan Clara yang mendengarnya dari luar. "Toloong....!" "Toloong....!" Mala berteriak menjerit dari dalam kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Mala pun menunduk menangis di dalam kamar mandi sendirian. Betapa dia terlihat ketakutan karena tidak ada satu orang pun yang mendengar teriakannya meminta tolong. Tiba-tiba lampu di dalam kamar mandi pun mati dan Mala hanya bisa terus menangis ketakutan. "Bik Minah...." Mala berteriak kembali. Seketka lampu menyala kembali dan anehnya darah dan rambut putih yang tadinya berserakan kini sudah kembali bersih. Melihat itu semua Mala pun sontak berdiri terkejut. Ketika Mala berdiri lampu di dalam kamar mandi pun mulai hidup mati berkedip dan Mala pun terkejut karena kali ini dia mendengar kembali suara perempuan tua dari telinganya yang tadi malam memanggilnya. "Malaa, aku lapar...." Tawa cekikikan dari suara perempuan tua itu pun memenuhi ruangan kamar mandi. Mala segera menutup kedua telinganya sambil menangis kemudian dia membuka pintu kamar mandinya yang ternyata sudah bisa dia buka kembali. Mala pun berlari ke luar kamar mandi secepat-cepatnya karena takut. Mala segera berlari keluar dari kamarnya dan menabrak Clara yang tengah berdiri menunggunya di ruang tengah dan membuat Mala kembali terkejut. "Mamah kenapa?" tanya Clara heran setelah melihat Ibunya yang kelihatan panik. Nafas Mala pun masih terengah-engah. Namun, dia mencoba tenang dan membaringkan tubuhnya di atas sofa yang ada di ruang tengah bersama Clara. "Mamah nggak apa-apa kok sayang, Clara kapan bangunnya?" sahut Mala seketika bertanya. "Iya tadi Clara bangunnya kesiangan abisnya masih capek," jawab Clara dengan ucapannya yang lucu serta nada biacaranya yang masih cadel. Mala pun memeluk tubuh Clara erat. Mala merasakan ketakutan yang teramat sangat. Kemana dia harus menceritakan semua yang telah terjadi kepadanya sedangkan Evant tidak mungkin percaya dengannya, Ibunya juga pasti menganggap bahwa Mala hanya sedang berhalusinasi. Air mata Mala pun kembali mengalir berlinang membasahi pipinya yang merah karena menahan rasa bingung bercampur kesal yang ada di dalam hatinya. "Mamah...?" ucap Clara lirih seketika merasa heran di pelukan ibunya. Mala mengusap kedua matanya, "Clara sudah mandi?" tanyanya senyum menatap Clara. "Belum Mah, hehe..." jawab Clara. "Ya sudah... sana mandi sama Bik Minah gih," tunjuk Mala ke arah Bik Minah yang tengah sibuk menyapu di ruang tamu. Clara berlari kencang ke arah Bik Minah, lalu berteriak memanggil Bik Minah, "Bibik, ayo kita mandi!" serunya dengan polos. "Eh, Non Clara sudah bangun ya," kata Bik Minah seketika meletakkan sapu yang sejak tadi di pegangnya di balik pintu kemudian menggendong tubuh mungil Clara dan membawanya ke kamar mandi. Mala masuk kembali ke dalam kamarnya untuk mengenakan pakaian lengkap dan berniat untuk beristirahat, tubuhnya terasa lelah sekali. Mala ingin berbaring sebentar sembari menunggu suaminya yang akan datang. Mala mencoba melupakan semua kejadian yang baru saja di alaminya, karena menurut Mala semua itu hanyalah membuang-buang waktunya saja, sebab tidak akan ada yang percaya dengan apa yang sedang di rasakannya. Mala pun mencoba memejamkan kedua matanya sembari berbisik lirih membacakan ayat-ayat suci yang dia ingat, sehingga tertidur dengan nyenyak karena mengantuk dan sangat kelelahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD