Di dalam rumah, hanya tersisa Mala bersama Clara yang sedang asyik menonton televisi. Setelah Mala selesai membuat secangkir kopi kesukaannya, Mala pun kembali menuju ruang tamu bermaksud duduk kembali sembari menikmati kopi yang baru saja di buatnya.
"Maaah, lapeer," ucap Clara sembari mengusap-usap perutnya ketika melihat ibunya yang baru saja duduk kembali di atas sofa empuk yang berada di ruang tamu.
"Kan Dede baru aja makan, kok laper lagi? Nanti gemuk loh," ucap Mala kepada Clara sembari menggembungkan pipinya.
"Tapi Dede laper," sahut Clara memaksa dengan nadanya yang menggemaskan.
"Iya...iya, Mamah buatkan cemilan bentar ya, Sayang," ucap Mala yang kemudian beranjak lagi dari sofa dan berjalan menuju ke dapur.
Saat Mala sedang memasakkan cemilan untuk Clara, terdengar pelan suara dari depan pintu rumahnya yang ternyata adalah Julliant yang sudah pulang dari sekolah.
"Maaah," ucap Julliant sembari mengetuk pintu.
"Claraaa, tolong bukain kakaknya itu lo," teriak Mala yang masih berada di dapur sedang memasak.
"Deeee, bukain Dee," teriak Julliant dari depan pintu.
Mala pun berlari ke arah pintu depan bermaksud membukakan pintu, dan melihat Clara yang sangat asyik menonton kartun di televisi sehingga tidak mendengar kakaknya meminta untuk di bukakan pintu. Kemudian Mala pun membuka pintu depan rumahnya dan Julliant pun masuk ke dalam rumah dengan ekspresi wajahnya yang terlihat kelelahan.
"Kok Mamah nggak denger suara Pak Sugeng datang sih?" tanya Mala kepada Julliant anak laki-lakinya.
"Iya Mah, tadi pulangnya lebih awal jadi Pak Sugeng belum jemput, tapi aku pengen cepet-cepat pulang... Jadi, aku jalan kaki pulangnya, Mah," jawab Julliant sembari meletakkan tasnya di atas sofa yang kemudian duduk dengan ekspresi wajahnya yang lesu karena kelelahan.
"Duuuh, kasian banget pangeran Mamah ini," ucap Mala sembari mengusap kepala Julliant.
"Dede niih, nggak tau aku kecapean apa," ucap Julliant kesal kepada Clara yang masih asyik menonton televisi dan tidak menyadari bahwa kakaknya sudah pulang dari sekolah.
"Udah...udah, jangan ganggu Dede nya," ucap Mala, "Kamu mau makan?" sambung Mala bertanya kepada Julliant anaknya.
"Iya Maah, laper niih, haus juga," jawab Julliant yang masih menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Bentar ya, Mamah ambilin dulu," ucap Mala tersenyum yang kemudian kembali berjalan menuju ke dapur.
Saat hendak berjalan menuju dapur, Mala melihat jam yang menempel di dinding tepat di atas televisi yang sudah menunjukkan tepat pukul satu siang. Tiba-tiba terdengar bunyi smartphone Mala berdering tanda panggilan telepon masuk. Mendengar itu, Mala tidak menghiraukannya dan tetap berjalan melangkah menuju ke dapur bermaksud mengambilkan cemilan untuk anaknya yaitu Julliant dan Clara yang sejak tadi sudah merasa lapar, sehingga bunyi dering dari smartphone-nya pun berhenti dengan sendirinya. Setelah meletakkan camilan yang telah di buatnya, Mala pun mengambil smartphone-nya yang tergeletak di atas meja dan melihat siapa yang telah menelponnya.
"Oooh, Rima ternyata yang telpon," gumam Mala dalam hati sembari tersenyum ketika melihat layar smartphone-nya setelah mengetahui bahwa yang menelpon ternyata sahabatnya, "Video call balik ah," gumamnya lagi dalam hati tersenyum sembari mengusap-usap jari telunjuknya pada layar yang berada di smartphone-nya.
Tuuuut...Tuuuut....Tuuuuut... Bunyi dari smartphone Mala tanda panggilan videonya telah sampai ke salah satu smartphone sahabatnya itu.
"Hai Mala," terdengar suara yang begitu ramai berderu dari beberapa sahabatnya yang sembari melambai kepada Mala melalui smartphone-nya ketika Rima mengangkat panggilan video dari Mala.
"Iiih, ramenya," ucap Mala.
"Ya dooong," sahut Rima, "Kamu kesini ya, biar nanti Neta yang jemput," sambungnya.
"Nggak ah, kalian ngasih taunya baru aja," ucap Mala dengan nada kesalnya.
"Iya..., maaf deh," sahut Rima, "Kan kami mau ngasih kejutan buat kamu," sambungnya.
"Iya nih Mala, aku jemput sekarang ya," ucap Neta memaksa.
"Iya deh, aku siap-siap dulu ya," ucap Mala.
"Siap-siapnya jangan lama ya," sahut Rima.
"Iya kamu tuh, biasanya lama kalo dandan," sambung Karin.
"Iya...iya, nggak lama kok," sahut Mala.
"Aku otewe sekarang nih," ucap Neta sembari beranjak dari tempat duduknya yang terlihat dari layar smartphone Mala.
Seketika panggilan pun berakhir. Melihat itu, Mala pun dengan tergesa-gesa segera ke kamarnya bersiap dan menyusul sahabat-sahabatnya yang sedang berkumpul di sebuah kafe.
"Pake baju apa ya?" gumam Mala kebingungan ketika membuka lemari pakaiannya.
"Nah, pake ini aja deh," seketika Mala melihat dan mengambil sebuah sweater berwarna kuning kesayangannya.
Setelah selesai bersiap-siap, tak berapa lama terdengar bunyi klakson mobil dari depan rumah Mala yang ternyata bunyi klakson dari mobil milik Neta dan segera memasuki halaman rumah Mala karena pintu pagar rumah Mala sudah terbuka.
'Tiiiit...Tiiiiit'
Terlihat pintu mobil terbuka, tak lama kemudian Neta pun turun dari mobilnya lalu mengetuk pintu rumah Mala.
'Tok...Tok...Tok, terdengar suara ketukan pintu dari Neta.
"Maaaah, ada orang ketuk pintu," ucap Clara sembari berlari menuju kamar ibunya.
"Iya, Dede bilangin sama kakak ya, 'Tolong bukain pintunya, kata Mamah'" ucap Mala kepada Clara ketika mendengar suara lucunya Clara yang masih bebicara cadel.
"Iya, Mah," sahut Clara, kemudian Clara berlari menuju kakaknya yaitu Julliant yang sedang menonton televisi di ruang tamu sembari berteriak, "Kakaaaak, 'Tolong bukain pintunya' kata Mamah."
"Iya, iya De," sahut Julliant.
JLEK suara pintu terbuka.
"Eeh Julliant, Mamah kamu mana?" ucap Neta terkejut karena mendengar pintu yang tiba-tiba terbuka.
"Eh Tante Neta, masuk Tante, Julliant panggilin Mamah dulu," ucap Julliant ramah kepada sahabat ibunya yaitu Neta.
"Iya, makasih ya," sahut Neta, "Pinter banget sih anaknya Mala," gumam Neta dalam hati.
"Mah, Tante Neta dateng Mah," ucap Julliant ketika tiba di depan kamar Mala yang pintunya terbuka.
"Iya Pangeran Mamah, Yuk!!" sahut Mala sembari mengajak anaknya menuju ke ruang tamu.
"Anak kamu ajak aja, Mala," ucap Neta ketika melihat Mala yang berjalan dengan Julliant ke arahnya.
"Nggak usah deh, nanti Julliant sama Clara aku titipin ke rumah Ibuku aja," sahut Mala.
"Asyiik, bisa main PS di rumah nenek," teriak Julliant yang kegirangan karena akan di ajak ke rumah neneknya.
"Oh, yaudah, Yuk!!" ucap Neta sembari beranjak dari sofa dan tersenyum ketika melihat Julliant yang terlihat kegirangan.
"Mah, aku boleh main PS kan di rumah nenek?" tanya Julliant yang masih kegirangan.
"Iya boleh, Sayang," jawab Mala tersenyum melihat tingkah anak laki-lakinya itu, "Dedeee, ayo," sambungnya mengajak anak perempuannya yang ketika itu sedang asik bermain dengan beberapa bonekanya.
"Mau kemana, Mah?" tanya Clara sembari memegang tangan ibunya.
"Kita ke rumah Nenek, Sayang," jawab Mala.
"Asyiiik, kita ke rumah Nenek," teriak Clara kegirangan karena akan pergi ke rumah Neneknya.
"Ayo," ucap Neta mengajak Julliant dan Clara.
"Mah, itu kenapa Mah? Yang di perut Tante Neta itu, Mah?" bisik Clara kepada ibunya dengan nadanya yang lugu dan polos saat melihat perut Neta yang sedang mengandung.
"Huuus, Dede, nggak boleh kayak gitu," sahut Julliant menegur adeknya.
"Ooh inii, dalemnya ada dede bayi," sahut Neta sembari mengusap-usapkan tangannya ke rambut Clara yang kemudian mengusapkannya lagi ke perutnya yang sedang hamil muda.
Kemudian Mala, Julliant, Clara dan Neta pun berangkat dan tidak berapa lama mereka pun tiba di depan rumah ibunya Mala yang tidak jauh jaraknya dari rumah Mala.
"Assalamu'alaikum, Buu," ucap Mala sembari mengetuk pintu rumah ibunya.
"Wa'alaikumsalam. Iya sebentar," sahut Ibunya Mala samar terdengar dari dalam rumahnya, "Eeeh, cucu-cucu Nenek," sambung Ibunya Mala ketika melihat dua anak kecil yang tidak lain adalah cucunya.
"Bu, Mala titip Julliant sama Clara ya," ucap Mala kepada ibunya.
"Emangnya kamu mau kemana?" tanya Ibunya Mala.
"Mala mau nemenin Neta periksa ke dokter kandungan sebentar, Bu," jawab Mala memberikan alasan kepada ibunya.
"Oh ya sudah, jangan lama-lama ya," sahut Ibunya Mala.
"Iya Bu," sahut Mala yang kemudian pergi bersama Neta menyusul sahabatnya yang sudah menunggu di kafe.
"Dadah Mamaah," teriak Julliant dan Clara di depan rumah Neneknya ketika melihat mobil Neta mulai bergerak dan pergi membawa ibunya yaitu Mala.
"Kenapa nggak kamu ajak aja Julliant sama Clara, Mal?" tanya Neta ketika mereka sedang dalam perjalanan.
"Nggak usah ah, nanti ngerepotin kalian," jawab Mala.
"Anak-anak kamu itu pinter-pinter loh, Mal," sahut Neta, "Apalagi yang kakaknya, Julliant, pinter banget," sambungnya.
"Iya kalo Julliant sih nggak apa-apa," sahut Mala.
"Emangnya kalo Clara gimana?" tanya Neta.
"Clara itu anaknya rewel banget, ntar bukannya mau ngumpul-ngumpul, malah ngejagain Clara doang, soalnya dia itu suka jalan kesana-kemari kalo nemunin tempat yang baru menurutnya," jelas Mala.
"Kan anak seumuran Clara emang gitu, Mal," ucap Neta.
"Iya bener sih, tapi kasian Julliant nanti kalo aku suruh buat jagain adeknya," sahut Mala.
"Bener juga sih," sahut Neta tersenyum.
"Tapi, biar gitu, aku tetap sayang banget sama mereka berdua," ucap Mala tersenyum yang kemudian diikuti Neta yang juga tersenyum.
"Nanti aku juga pengen ah punya anak perempuan mirip Clara, Mal," ucap Neta sembari mengelus-elus perutnya yang sedang mengandung.
"Emangnya kenapa kamu pengen punya anak perempuan mirip Clara?" tanya Mala.
"Clara itu anaknya lucu banget, cantik juga mirip ibunya," jawab Neta tersenyum.
"Ah, kamu ada-ada aja, mana ada aku cantik sih, Net," sahut Mala merendah diri sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Neta hanya tersenyum.
Beberapa menit berlalu, sampailah Neta dan Mala di depan sebuah Kafe yang terbilang lumayan ramai. Mala menengok ke kiri dan kanan.
"Mana yang lain, Net?" tanya Mala kepada Neta ketika dia turun dari mobil Neta.
"Malaaaa, sini," terlihat seseorang melambai dan berteriak dari tempat duduk yang berada di pojok dalam Kafe.
"Mala, kamu samperin mereka duluan ya, aku mau ke parkiran mobil dulu," ucap Neta tersenyum.
"Iya, kamu hati-hati ya Net," sahut Mala.
"Iya," jawab Neta tersenyum.
"Haai," ucap Mala ketika dia mendatangi sahabat-sahabatnya, "Nggak lama kan?" sambungnya.
"Nggak lama kok," sahut Rima, "Wiiih, masih sempet aja kamu masang bulu mata, Mal?" sambungnya ketika melihat wajah Mala yang begitu cantik bak ratu sejagat.
"Ya dong, oh iya, siapa yang traktir nih?" tanya Mala tersenyum sembari duduk di kursi kosong yang sudah di siapkan.
"Tenang aja Mal, yang traktirin kita Rima, soalnya dia katanya dapet arisan," jawab Neta yang ketika itu juga datang setelah selesai meletakkan mobilnya di parkiran.
"Kamu nggak ngajak anak-anak, Mal?" tanya Karin.
"Nggak Rin, nanti ngerepotin," jawab Mala.
Mala, Rima, Neta dan Karin. Begitu asik keempat orang sahabat itu sembari berfoto ria dan saling berbincang-bincang sehingga gelak canda-tawa mereka pun sampai terdengar ke seluruh penjuru ruangan Kafe. Tidak terasa waktu yang mereka lalui, ketika Mala melihat jam yang berada di Kafe tersebut sudah menunjukkan pukul setengah enam. Mala pun kembali teringatkan oleh anak-anaknya yang dia titipkan kepada ibunya.
"Teman-teman, kita pulang yuk!" ucap Mala.
"Bentar lagi lah Mala, kan lagi asik nih, jarang-jarang kita bisa ngumpul-ngumpul kayak gini," sahut Karin.
"Tapi bener kata Mala, Rin," ucap Neta, "Nanti kemaleman loh," sambungnya.
"Iya bener, kasian anak-anak di rumah," sahut Rima, "Yuk kita siap-siap pulang!" sambung Rima mengajak para sahabatnya.
"Yuk!" sahut Mala seketika beranjak dari tempat duduknya.
Tepat pukul enam sore, Mala tiba di rumah ibunya.
"Assalamualaikum, Bu," ucap Mala sembari mengetuk pintu rumah ibunya.
"Wa'alaikumsalam," terdengar sahutan Ibunya Mala dari dalam rumah.
'JLEK' bunyi pintu terbuka.
"Mamaaah," teriak Clara sembari berlari ke arah ibunya itu.
"Hai Sayaaang," sahut Mala sembari memeluk erat Clara.
"Kok Mamah lama banget sih?" tanya Clara masih dengan cara bicaranya yang masih sangat polos dan lucu.
"Iya Dede, barusan Mamah ngantri di klinik nemenin Tante Neta, makanya jadi lama," jawab Mala sembari mencubit pipi Clara yang menggemaskan.
"Aduuuh," jerit Clara kesakitan ketika pipinya di cubit oleh ibunya yaitu Mala.
"Kita pulang yuk!!" ajak Mala kepada anak-anaknya
"Kaaaak, pulang yuuk!!" teriak Clara mengajak kakaknya yaitu Julliant yang ketika itu sedang asik bermain playstation yang terdapat di rumah neneknya.