Bab 9

1351 Words
Pagi itu sang surya kelihatan enggan menampakan dirinya, ketika Mala terbangun dari tidurnya yang tak begitu nyenyak dan rasanya dia masih ingin tidur kembali, tapi rutinitas paginya sebagai seorang ibu rumah tangga tidak membiarkan dia untuk tetap berbaring dan bermalas-malasan di tempat tidurnya yang empuk. Tidak terasa sudah sebulan Mala bersama Evant dan kedua anaknya yaitu Julliant dan Clara menempati rumah barunya itu. Kelihatannya, Mala semakin lama semakin betah saja tinggal di rumahnya. Suasana rumahnya memang sangat indah dan juga bersih. Mala benar-benar menata rumah itu dengan sangat rapi, warna dinding rumahnya juga selalu terlihat seperti baru. Biru muda dan kuning adalah perpaduan warna yang sangat Mala sukai. "Huumm...." Mala menggeliat sembari membuka matanya yang masih mengantuk dan sesekali dia menguap, kemudian bergegas bangun dan beranjak dari tempat tidurnya. Mala membuka pintu kamarnya yang masih terkunci rapat karena tadi malam suaminya Evant tidak pulang ke rumah. Setelah pindah ke rumahnya yang baru, Mala semakin sering di tinggalkan suaminya bepergian keluar kota untuk mengurus perusahaannya. Keberadaan Bik Minah dalam membantu Mala untuk meringankan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga sungguh membuatnya merasa sangat terbantu karena dia tidak harus capek-capek menyelesaikan pekerjaan rumah dan mengurus kedua anaknya sendiri. Tapi di samping itu, Mala tidak ingin ada orang lain yang tinggal bersama keluarganya selain suami dan kedua anaknya, sehingga Bik Minah hanya dia pekerjakan mulai dari pagi hingga menjelang sore hari. Ketika malam hari, Mala lebih senang mengerjakan pekerjaan rumahnya sendiri. Kadang di bantu oleh suaminya Evant jika dia sedang ada di rumah. Mala berjalan ke arah kamar Julliant untuk membangunkannya agar segera bersiap untuk sekolah. Namun, betapa terkejutnya Mala ketika tiba di kamar Juliant karena ternyata anak laki-lakinya itu sudah bangun dan sudah berpakaian lengkap dengan seragam sekolahnya. Mala hanya bisa tersenyum melihat tingkah anaknya itu. Dia sangat bersyukur karena telah di beri anugerah terindah berupa anak-anak yang pintar dan penurut serta memiliki suami yang sangat sayang kepadanya. Semuanya terasa begitu lengkap. Kehidupan yang hampir terasa sempurna. "Julliant... Tunggu sebentar, Mamah akan menyiapkan bekal untukmu," panggil Mala seraya berkata, kemudian pergi ke dapur untuk menyiapkan bekal anaknya. "Mamah, aku juga lapar," tiba-tiba suara mungil nan lucu dari si kecil Clara mengejutkan Mala dari belakang. Mala membalikan badannya ke arah belakang dan di lihatnya tubuh mungil Clara sudah berdiri tepat di belakangnya. Mala tersenyum manis kemudian memeluk Clara anak perempuannya itu. Mala sangat menyayangi kedua anak-anaknya, bagi Mala mereka berdua adalah kehidupannya, segalanya hanyalah tentang kedua putra dan putrinya. "Baiklah... Mamah akan buatkan juga untukmu iya Clara ku yang cantik," sahut Mala sembari mencubit pipi tembem anak perempuannya. Kemudian, Mala bergegas untuk menyiapkan bekal Julliant yang sebentar lagi akan berangkat ke sekolah dan akan di antar oleh Pak Sugeng. Tidak butuh waktu lama, Mala sudah siap dengan dua bekal kecil di tangannya menuju ruang makan, terlihat di sana Julliant dan Clara sudah duduk manis di meja makan. Sebelum menyiapkan sarapan untuk Julliant dan Clara, Mala lebih dulu memasukan kotak bekal ke dalam tas Julliant lalu meletakkan sarapan untuk Julliant di meja makan, kemudian menyerahkan satu kotak bekal lagi untuk sarapan Clara, karena Clara yang juga ingin makan bekal seperti kakaknya. Julliant bergegas untuk berangkat kesekolah karena Pak Sugeng sudah menunggunya di depan pintu rumahnya. Beberapa saat kemudian Bik Minah pembantu rumah tangga mereka pun datang ke rumah dan mengambil alih semua pekerjaan rumah. Clara duduk di ruang tengah untuk menonton acara kartun kesayangannya dengan cemilan bersamanya yang baru saja di buatkan oleh Bik Minah untuknya. Mala mencoba bersantai sambil duduk di ruang tamu dengan sebuah majalah di tangannya. Tidak berapa lama saat Mala duduk, smartphone kesayangannya berdering yang merupakan tanda panggilan video telah masuk dan kemudian Mala segera mengambil smartphone-nya dari atas meja yang ada di hadapannya. Mala menjawab panggilan video yang berada di smartphone-nya itu yang ternyata adalah panggilan video dari suaminya yaitu Evant yang selalu terbiasa untuk menanyakan keadaan Mala dan anak-anaknya. "Hai, Sayang," ucap Evant dengan lembut sembari melambaikan tangannya yang saat ini sedang berada di salah satu restoran di luar kota. Evant memang suami yang baik tutur sapanya juga sangat lembut, dia bahkan tidak pernah berkata-kata kasar kepada Mala bahkan ketika dia marah kepada istrinya itu. "Hai, Sayang," jawab Mala yang juga sembari melambaikan tangannya. "Di rumah gimana?" tanya Evant. "Hmm baik kok, Pah," jawab Mala dengan senyum manisnya. "Anak-anak gimana?" tanya Evant lagi. "Julliant udah berangkat ke sekolah seperti biasanya dan putri kecilmu lagi duduk di depan tv nonton kartun kesayangannya," jawab Mala sembari mengarahkan kamera depan smartphone-nya ke arah Clara yang tengah asyik duduk di depan televisi menonton kartun dan sesekali tertawa terbahak-bahak. Kemudian ketika Mala mengarahkan layar smartphone-nya ke arah Clara. Clara pun menengok ke belakang ke arah Mala yaitu ibunya dan seketika berlari ke arah ibunya. "Paaapaaaah," teriak Clara berlari menuju ke arah ibunya, "Mamah nggak bilang kalo Papah telpon," sambungnya dengan nadanya yang lucu dan menggemaskan. "Hai, putri kecilku," ucap Evant senyum sembari melambaikan tangan kepada Clara. "Papah, dede kangen Papah," ucap Clara dengan suaranya yang masih terdengar cadel. "Papah juga kangen Dede," sahut Evant kepada anaknya yaitu Clara, "Dede jangan bandel ya," sambung Evant. "Oke Pah," jawab Clara tersenyum sembari mengacungkan jari jempolnya ke arah kamera smartphone yang di pegang Mala. "Dadah Dede," ucap Evant sembari melambaikan tangannya yang tampak dari layar smartphone Mala ke arah Clara. "Dadah Papah," sahut Clara yang juga melambaikan tangannya dan kemudian berlari lagi menuju ke depan televisi melanjutkan menonton acara kartun kesayangannya. Evant pun tersenyum ketika melihat putri kecilnya itu, dia sangat merindukan keluarga kecilnya, tapi sayang dia masih sibuk karena kewajibannya sebagai kepala rumah tangga yang sudah seharusnya mencari nafkah untuk keluarganya. "Clara nggak rewel kan?" tanya Evant kepada Mala, setelah Mala mengarahkan kembali layar smarthpone-nya ke arahnya. "Nggak kok, dia sangat pintar dan sangat manis," jawab Mala dengan senyum sayunya, "Kamu kapan pulang?" sambungnya dengan wajah cemberutnya seketika meluncurkan pertanyaannya kepada Evant. "Belum tau, Sayang," jawab Evant, "Soalnya masih banyak meeting sama klien dari sahabat-sahabat ayah," sambungnya. "Terus, kapan?" tanya Mala lagi masih dengan wajahnya yang cemberut. "Mungkin besok, Sayang," jawab Evant yang berusaha membuat istrinya tersenyum. "Besok ya, janji!!" sahut Mala memaksa. "Iya...iya, besok," jawab Evant dengan wajah meyakinkan. Mala pun tersenyum ketika mendengar ucapan dari suaminya yaitu Evant. "Kamu nggak tanya aku udah makan atau belum sih?" sambung Evant ketika melihat Mala yang mulai tersenyum. "Ngapain aku nanyain itu sih, kan kamu lagi di restoran, tuh aku liat," jawab Mala yang semakin terlihat senyum manisnya. Kemudian terdengar suara laki-laki dari smarthphone Mala dan ternyata adalah teman Evant yaitu Ari yang juga sedang makan di restoran bersama Evant. "Vant, nih sudah waktunya kita meeting," ucap Ari yang suaranya samar terdengar dari smartphone Mala. "Itu suara siapa, Pah?" tanya Mala kepada Evant. "Ini Ari, katanya mau meeting," jawab Evant sembari mengarahkan kamera ke arah Ari dan Ari pun tersenyum sembari melambaikan tangannya yang terlihat dari layar smartphone Mala. Mendengar ucapan dari Evant, senyum Mala kembali memudar. "Kok cemberut lagi sih, Sayang?" sambung Evant bertanya ketika melihat istrinya kembali cemberut. "Aku masih kangen tau," jawab Mala sembari memalingkan mukanya ke samping. "Iya...iya, aku juga kangen, Sayang. Tapi besok aku janji bakal pulang," sahut Evant meyakinkan istrinya kembali. "Janji ya, besok harus pulang," ucap Mala. "Iya janji, Sayang," ucap Evant yang tetap meyakinkan istrinya, "Udah dulu ya, Sayang. Daaaah" sambungnya sembari senyum dan melambaikan tangannya. "Iya, Pah. Daaah," balas Mala dengan senyumnya yang juga sembari melambaikan tangannya, kemudian Mala menekan tombol berwarna merah yang berfungsi untuk menutup panggilan. Mala beranjak dari tempat duduknya yang berada di ruang tamu dan kemudian berjalan menuju ke dapur berniat membuat secangkir kopi untuk dia nikmati. "Non Mala," ucap Bik Minah yang sedang membereskan beberapa pakaian-pakaian kotor saat melihat Mala berjalan menuju dapur. "Ya, Bik?" sahut Mala tersenyum. "Baju-bajunya biar saya bawa pulang Non, nanti tak cuciin di rumah saya aja," ucap Bik Minah sembari memasukkan beberapa pakaian yang kotor ke dalam kantong plastik. "Iya, Bik," sahut Mala dengan tersenyum, "Nanti kalo bajunya udah di cuciin, biar di jemur di tempat Bik Minah ya," sambung Mala. "Ya, Non Mala," ucap Bik Minah sembari melangkah ke luar rumah dengan menjinjing sebuah kantong plastik yang ukurannya lumayan besar berisi pakaian kotor untuk di cuci di rumahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD