Bab 8

2004 Words
Rima memasuki rumah Mala, pandangan matanya seketika menyebar dan mencoba memperhatikan sekeliling. Perasaannya mulai terasa tidak enak, hawa panas yang terasa menusuk, tapi di tutupi oleh dinginnya AC yang berada di rumah Mala. Semua sudut rumah Mala hampir tidak luput dari pandangan Rima, dia melihat-lihat setiap lukisan yang terpajang di dinding. Namun, tubuhnya semakin merasakan hawa panas yang sangat menusuk kedalam kulit sehingga membuat keringatnya bercucuran dan membasahi seluruh tubuhnya. "Kok rumah Mala kayaknya nggak enak gini ya," gumam Rima pelan. "Kenapa Rim?" tanya Neta yang mengira Rima sedang berbicara kepadanya. "Eh, nggak apa-apa kok Net, aku cuma ngomong sendiri nih AC-nya kayaknya kekencangan," sahut Rima mengelak. Rima kembali diam sejenak menghentikan langkahnya. Lamunannya seketika membuatnya larut karena merasa ada sesuatu yang menjanggal di rumah Mala, tapi, dia tidak tahu apa itu. "Bener juga kata Rima ya," sahut Karin yang tiba-tiba saja muncul di sebelah Rima dan Neta sehingga membuyarkan lamunan Rima akan keadaan rumah Mala. "Bukannya Mala nggak suka dingin," katanya sambil tertawa terbahak-bahak. Rima menoleh sambil cemberut ke arah Neta dan Neta pun ikut tertawa cekikikan melihat tingkah konyolnya Karin. "Kirain dia mau ngomong apa Net," kata Rima kesal. "Tapi, perkataan Karin ada benernya juga Rim, jangan-jangan gara-gara AC di rumah Mala terlalu kencang dia jadi sakit-sakitan gitu," sahut Neta mencoba menjelaskan pola pikir yang di anggapnya benar. "Ya sih, tapi, kan yang ngatur rumah dia sendiri bukan Evant," kata Rima seraya berjalan meninggalkan Neta dan Karin menuju kamar Mala. Clara melihat teman-teman Ibunya datang, lalu berlari dan bersembunyi ke dalam kamarnya. Entah kenapa Clara memang suka takut kalau melihat orang lain yang jarang di temuinya meskipun sudah pernah bertemu sebelumnya. "Eh, ada Clara... lucu banget sih...." Karina cepat-cepat mencubit pipi Clara yang tembem sebelum Clara berhasil masuk ke dalam kamarnya. Clara lari terbirit-b***t kemudian menangis sekencang-kencangnya, "Nenek!" serunya memanggil Neneknya yang sedang meminta Bik Minah membuatkan minuman dingin untuk teman-temannya Mala. "Nangis kan dia, kamu sih Rin... Udah tahu Clara takut sama orang," ucap Rima dengan nada kesal. "Diihh, kok takut sama orang harusnya kan dia takutnya sama hantu," sahut Karin tidak kalah kesal. "Udah deh, jangan pada ribut, mendingan kita buru-buru ke kamar nyamperin Mala," kata Neta seketika mencoba melerai Rima dan Karin yang sedang berdebat. Rima buru-buru pergi ke kamar Mala yang pintunya setengah terbuka. Setelah sampai di depan pintu, dia langsung masuk dan mendatangi Mala yang masih tertidur pulas. "Mala!" seru Rima berlari ke arah Mala dan seketika Mala terbangun dari tidurnya. "Aduh, berisik banget deh," gerutu Mala lirih sembari mengucak-ucak kedua matanya. "Kamu sakit apa sih, Mal...?" tanya Neta yang tiba-tiba saja sudah ada di sebelah Mala. "Hmm... Kayaknya cuman kecapekan deh, Net," jawab Mala pelan. "Biasanya kamu nggak pernah sakit Mal," sahut Rima. "Emangnya kenapa kalau sekarang Mala sakit?" kata Karin, "Pasti dia kurang hiburan di sini... Betul nggak Mal...?" sambungnya seketika bertanya sambil menyenggol bahu Mala. Mala tersenyum datar kemudian matanya menatap ke arah Rima seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi di tahannya. Karena Mala belum siap untuk menceritakan kejadian yang baru saja dia alami di rumah barunya ini. "Kita ngobrolnya di ruang tamu aja yuk?" ajak Mala kemudian beranjak berdiri dari tempat tidurnya, "Kayaknya badanku juga udah agak enakan..." sambungnya memberitahu. Kemudian Mala bersama ketiga sahabatnya pergi menuju ruang tamu. Bik Minah datang dengan membawa empat buah gelas berisi jus alpukat di atas nampan kemudian meletakannya di atas meja yang ada di dalam kamar Mala tepat di ruang tamu. "Ini minumnya Non, pasti sudah pada haus semua kan?" ucap Bik Minah mempersilahkan setelah meletakkan nampan dengan empat gelas berisi jus alpukat tersebut di atas meja. Setelah itu Bik Minah kembali ke ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum juga selesai. Mala dan teman-temannya pun berbincang. Selang beberapa saat Evant dan Julliant pun pulang ke rumah dan Julliant pun langsung berlari mendatangi Mala. "Mamah!" seru Julliant. "Hai sayang," sahut Mala. "Hai Tante Rima, Hai tante Neta, Hai Tante Karina," sapa Julliant kepada teman-teman Ibunya sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman. "Hai Julliant sayang," sahut Rima tersenyum seketika mengusap-ucap rambut Julliant. Ketika di ruang tamu bersama ketiga sahabatnya, Mala melirik ke arah pintu depan rumahnya, dan melihat Evant yang tampak sibuk sambil berbicara dengan seseorang lewat smartphone-nya. Mala yang sedang duduk di ruang tamu bersama ketiga sahabatnya kemudian melangkah meninggalkan teman-temannya dan mendatangi Evant yang dari kerut di wajahnya terlihat cemas. Dengan hati-hati Mala mencoba bertanya kepada suaminya itu tentang apa yang terjadi sehingga suaminya kelihatan begitu cemas. "Ada apa Pah?" tanya Mala dari belakang sehingga membuat Evant sentak terkejut. Evant segera mengakhiri panggilannya kemudian berpaling menatap ke arah Mala, "Mamah... Kok sudah bangun? Emangnya sudah baikan?" ucapnya seketika bertanya. Bukannya menjawab pertanyaan Mala, Evant malah melontarkan pertanyaan balik. Mala hanya mengerutkan keningnya kemudian menjawab pertanyaan dari suaminya itu. "Iya Pah, udah baikan kok," sahut Mala seraya tersenyum kaku, " Lagian, kan nggak enak juga sama teman-teman kalau akunya cuma rebahan di tempat tidur terus." "Oh iya, jadi teman-teman Mamah udah pada datang ya?" tanya Evant sambil tertawa lirih. Mala kembali mengerutkan keningnya, bukannya dari tadi teman-temannya sudah berada di ruang tamu, jadi dari tadi Evant tidak melihat teman-temannya, gerutu Mala dalam hati. Apa sih yang sedang terjadi dengan suaminya itu, tidak biasanya dia seperti itu? Mala bertanya di dalam hatinya. "Ayo Pah masuk, kalau kelamaan di luar nanti masuk angin loh," ajak Mala seketika menggenggam tangan suaminya kemudian membawa Evant masuk ke dalam rumah untuk membaur bersama teman-temannya. Setelah lama berbincang teman-teman Mala pun berpamitan untuk pulang. "Mom, kita pulang dulu yah," kata Neta berpamitan kepada Ibu Ana sambil bersaliman di susul oleh Karina dan juga Rima. "Iya, hati-hati di jalan ya... Jangan pada ngebut... Kapan-kapan, main lagi loh ke sini, biar Mala ada temennya dan nggak kesepian," ucap Ibu Ana tersenyum. "Beres Mom..." sahut Neta tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya kemudian berlalu menuju keluar. "Vant, kita pulang yah, makasih nih udah di ijinin main kesini," ucap Neta sambil mencubit lengannya Mala. Mala tersenyum melihat tingkah suaminya yang cengar-cengir karena tidak terlalu suka di ganggu oleh teman-temannya Mala yang suka lupa waktu kalau main ke rumah. "Sip, nggak apa-apa kok, kalian hati-hati yah," sahut Evant dengan pasti. "Oke lah, bye Mala... Kapan-kapan kita main ke sini lagi yah," kata Neta sambil memeluk Mala. "Kalian hati-hati yah, kalau udah sampai rumah kabarin aku ya..." sahut Mala. "Beres..." sahut Neta. "Assalamualaikum." "Waalaikumsallam." Neta, Rima, dan Karin pun memasuki mobil, lalu segera berangkat dan keluar dari halaman rumah Mala. Setelah itu, Mala pun masuk kembali ke dalam rumah dan menghempaskan tubuhnya yang lelah di atas sofa yang ada di ruang tamu. Evant sedang asik mengutak-atik smartphone-nya. Sepertinya sedang membalas pesan dari seseorang yang dari tadi membuat pertanyaan besar di dalam benak Mala karena Evant tidak pernah menyahut jika di tanya oleh Mala, dan Mala pun tidak memaksa karena berfikir bahwa suaminya sedang sibuk dengan urusan perusahaan yang mungkin sedang ada masalah. Mala mencoba tidak menghiraukan Evant dan mengambil majalah yang ada di bawah laci meja ruang tamu, kemudian membolak-balikan halamannya. Meskipun sebenarnya Mala tidak serius membacanya karena dia diam-diam masih memperhatikan gerak-gerik dari suaminya yang dari tadi tidak menghiraukannya dan tetap serius membalas pesan dari smartphone-nya itu. Mala terkejut seketika karena Evant yang tiba-tiba beranjak berdiri dan tampak bergegas menyimpan smartphone-nya ke dalam kantong celananya, lalu cepat-cepat berjalan ke arah kamar untuk mengambil kunci mobil yang di taruhnya di dalam laci meja yang ada di dalam kamarnya itu kemudian kembali ke ruang tamu untuk menemui Mala yang sedang pura-pura tidak menghiraukan gerak-gerik dari suaminya itu. "Mah, aku mau ke tempat Ari dulu ya... Ada urusan pekerjaan nih... Mungkin agak lama, jadi kamu nggak usah nunggu, nanti aku pasti cepat-cepat pulang kalau sudah selesai." Evant terlihat tergesa-gesa sehingga Mala kebingungan untuk menyahut dan tidak sempat lagi bertanya banyak kepada suaminya itu. "Oh, ya Pah... Kamu hati-hati ya... Nanti kalau sudah sampai rumah Ari setidaknya kabarin aku, biar aku nggak khawatir, Pah..." sahut Mala yang kemudian cepat-cepat berdiri, lalu menyusul suaminya ke depan pintu rumah. "Oke Mah, aku pergi dulu." Evant langsung pergi dan berlalu begitu saja. Mala hanya bisa mengerutkan keningnya, dan kembali ke dalam rumah untuk menghapiri anak-anaknya yang sedang asik bermain bersama Neneknya di ruang tengah. "Ayo anak-anak kita mandi dulu!" seru Mala. "Baik Mah," sahut Julliant dan kemudian berlari lebih dahulu menuju kamar mandi. "Clara sini mandi sama Mamah." Mala tersenyum ke arah putri kecilnya. Clara berlari ke arah Mala. Mala menggendong dan membawa Clara ke dalam kamar menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya Mala untuk mandi. Setelah selesai mandi mereka pun kembali duduk di depan televisi yang ada di ruang tengah sambil bermain. "Non Mala... Bibik pamit pulang dulu ya, udah sore soalnya..." kata Bik Minah yang dari tadi sudah bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya karena pekerjaannya sudah selesai. "Ya Bik... Terima kasih ya," sahut Mala seraya tersenyum manis ke arah Bik Minah. Bik Minah pun bergegas menuju ke luar untuk segera pulang ke rumahnya. "Ibu juga mau pulang nih Mal... Mau istirahat, capek," kata Bu Ana sambil tersenyum, "Kamu kan udah mendingan juga, jadi Ibu nggak perlu nginep di sini lagi kan..." sambungnya lagi. Mala mengangguk dan tersenyum ke arah Ibunya, "Baik Bu, terima kasih ya... Ibu sudah bantu Mala jaga anak-anak," ucap Mala pelan. "Ya, nggak apa-apa Nak sudah menjadi tugas Ibu untuk jagain kamu sama cucu-cucu Ibu," sahut Bu Ana tersenyun sambil mengusap rambut Mala dengan penuh kasih sayang. Mala mengantar Ibunya sampai ke depan rumah dan menunggu di depan rumah sampai Ibunya tidak lagi terlihat dari pandangan matanya. Mala masuk ke dalam rumah setelah mengunci pagar rumahnya. Setelah itu Mala juga mengunci pintu depan rumahnya, kemudian mendatangi putra dan putrinya yang sedang asik bermain di ruang tengah. Mala duduk sambil melamun karena memikirkan Evant yang masih membuatnya gelisah karena belum juga memberikan kabar kepadanya. "Mah... buatin jus alpukat dong..." pinta Julliant yang tiba-tiba sudah ada di depan Mala. Mala tersentak seketika membuyarkan lamunanya. "Clara juga ya Mah!" seru Clara dengan gaya khas suaranya yang masih cadel. "Oke deh, sebentar ya Mamah buatin dulu," sahut Mala. Mala beranjak ke dapur untuk membuatkan jus alpukat kesukaan anak-anaknya. Beberapa saat kemudian dia kembali dengan membawa dua gelas berisi jus alpukat di tangannya. "Mau sekalian Mamah bawakan camilan juga nggak?" tanya Mala kepada Julliant dan Clara. "Mau dong Mah!" seru Julliant. "Oke deh... Sebentar ya Mamah ambilkan dulu ke dapur." Mala pun melangkahkan kedua kakinya kembali ke dapur untuk mengambil camilan yang sudah di buatkan oleh Bik Minah di dalam lemari penyimpanan makanan tepat di dapur, lalu kembali lagi ke ruang tengah mengantarkannya untuk Julliant dan Clara yang masih asik bermain sambil sesekali menyeruput jus alpukatnya. "Ini camilan untuk anak-anak pinter.... " Mala menyuguhkannya dengan lucu, "Pelan-pelan ya... Jangan rebutan," kata Mala seketika tersenyum. "Baik Mah," sahut Jullian. Setelah meletakan camilan di atas meja Mala pun kembali duduk di sofa dan mulai mengutak-atik smartphone-nya sambil berharap ada kabar dari suaminya. Namun, ternyata Evant tidak juga memberikan kabar kepadanya. Mala yang mengantuk mulai terlarut dan bersandar di sofa kemudian tanpa di sadarinya, dia pun tertidur. Mala tertidur begitu lama sehingga dia tidak tahu bahwa Evant sudah kembali ke rumah dan baru sadar ketika Evant membangunkannya. "Mah, tidurnya di dalam kamar aja gih, biar Papah yang jaga anak-anak," ucap Evant lirih sambil menepuk-nepuk bahu Mala perlahan untuk mencoba membangunkannya. "Papah kapan datang?" tanya Mala seketika membuka kedua kelopak matanya yang masih terasa rait. "Barusan Mah, tadi Julliant yang bukain pintu, soalnya pintu kan, Mamah kunci dari dalam jadi Papah nggak bisa buka," jawab Evant. "Oh iya Pah, pintunya memang sengaja Mamah kunci karena takut ketiduran, kan nggak ada yang jaga dan benar juga ternyata Mamah ketiduran... Hehe..." "Iya udah, Mamah lanjut bobo gih ke kamar, Papah mau mandi dulu terus jaga anak-anak," kata Evant. "Terus gimana urusannya Pah? Udah kelar?" tanya Mala. Evant terdiam sesaat kemudian menjawab pertanyaan Mala, " Sebenarnya belum sih Mah... Tapi, besok langsung Papah urus sama Ari." "Oh, gitu... Mamah ke kamar dulu ya Pah..." Mala melangkahkan kakinya untuk melanjutkan tidurnya di dalam kamar karena masih sangat mengantuk, "Titip anak-anak!" serunya lagi ketika sudah berada di dalam kamar. "Iya..." sahut Evant balas menyeru.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD