04
Sepanjang rapat pagi itu, Tanashree sulit berkonsentrasi. Sebab Samudra turut menghadiri pertemuan itu, dan terus memandanginya hampir sepanjang waktu.
Tanashree kaget, ketika Xander memperkenalkan Samudra sebagai komisaris 8 Adhitama Grup. Tanashree telah meminta Yori menyelidiki perusahaan itu, yang ternyata merupakan perusahaan besar di Indonesia, sekaligus salah satu company tertua di negara tersebut.
Tanashree membaca ulang data dari Yori, tetapi tidak ada nama seluruh komisarisnya. Tanashree baru menyadari jika jabatan Samudra adalah direktur utama Adhitama, dan bukan direktur operasional seperti pengakuan pria itu sebelumnya.
Seusai rapat, Tanashree hendak beranjak pergi. Namun Samudra lebih dulu berpindah duduk ke kursi sebelah kanan dan mengajaknya berbincang tentang bisnis. Tanashree takjub dengan pengetahuan pria itu tentang wilayah Thailand. Seakan-akan Samudra telah mengunjungi semua area yang disebutkannya.
"Cukup tentang bisnis. Sekarang, bagaimana dengan perjanjian kita tempo hari?" tanya Samudra.
"Perjanjian apa?" Tanashree balik bertanya.
"Aku membantumu, dan kamu bersedia jadi istriku."
"Tidak jadi."
"Kenaps?"
"Aku tidak mau menikah denganmu."
"Hatiku patah, Nona."
"Bukan urusanku."
Samudra mengamati perempuan di sebelah kirinya yang tampak gelisah. "Aku tidak memaksamu untuk mencintaiku. Yang penting, kita menikah. Itu saja."
Tanashree melengos. "Kenapa kamu sangat memaksa?"
"Karena aku menyukaimu."
"What?"
"Aku suka desahanmu. Aku suka gerakan atraktifmu. Terutama, aku suka memeluk dan menciummu."
Tanashree membeliakkan mata. "Sangat tidak sopan!"
"This is me, Miss. Dan aku tidak mau berpura-pura jadi pria sopan hanya untuk memikatmu."
Tanashree mendengkus kuat. "Aku tidak suka percakapan ini!" Dia berdiri dan menyambar tas kerja dari meja. "Permisi," lanjutnya sebelum jalan tergesa-gesa keluar ruangan.
Samudra memerhatikan perempuan bersetelan blazer salem itu, hingga Tanashree menghilang di balik pintu. Samudra mengulum senyuman. Dia makin tertantang untuk menaklukkan Tanashree, dan akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan keinginannya.
Puluhan menit terlewati. Tanashree tengah memelototi layar laptopnya, ketika pintu ruang kerjanya terbuka, dan seorang pria menerobos masuk tanpa dipersilakan terlebih dahulu.
Tanashree spontan tersenyum. Dia berdiri dan mengulurkan tangan kanan untuk menyalami pria itu, tetapi sang tamu langsung mendekapnya.
"Aku merindukanmu," bisik Arthit Rattana.
"Aku juga," sahut Tanashree seusai mengurai dekapan. "Kapan kamu datang dari Yunani?" tanyanya.
"Seminggu lalu. Aku mengabdi dulu pada orang tua, baru ke sini."
"Hmm, duduklah."
"Tidak. Aku mau mengajakmu keluar."
"Ke mana?"
"Tempat favorit kencan kita."
"Aku sedang banyak pekerjaan. Kita makan di restoran hotel saja."
"Baiklah. Kamu yang bayar."
Tidak berselang lama, kedua orang tersebut telah berada di restoran terbesar di hotel itu. Mereka menempati meja ujung kanan dan berbincang sembari sekali-sekali tertawa.
Tidak seorang pun menyadari jika tengah dipandangi Samudra, yang berada di area luar restoran. Pria itu mengerutkan dahi, karena tidak mengenali pria berkemeja putih yang menemani Tanashree.
"Xan, kamu kenal pria itu?" tanya Samudra sambil mengarahkan dagunya ke orang yang dimaksud.
"Kalau nggak salah, dia itu sobatnya Ree," jawab Xander di sela-sela mengunyah.
"Ree?"
"Panggilan akrabnya Tanashree."
"Hmm. Lalu, pria itu profesinya apa?"
"Enggak tahu, Bang."
"Cari tahu."
"Ke mana?"
"Lewat Yori."
"Nanti kuminta Kairav nanyain ke dia."
"Sekarang, jangan nanti."
"Anaknya lagi makan, Bang. Tunggu dia bereslah."
Samudra mengalihkan pandangan ke meja ujung kiri di mana ajudannya dan ajudan Xander tengah bersantap, sambil memegangi ponsel masing-masing.
"Pantesan lama makannya. Lagi mandangin hape," keluh Samudra.
"Mereka lagi ngirim laporan ke pusat. Ngisi spreadsheetnya itu yang lama," terang Xander.
"W sengaja memperumit laporan."
"Bukan Bang W, tapi Bang Adit dan Lazuardi."
"Oh, sudah dilimpahkan semuanya ke junior?"
"Ya, kata Bang W, supaya dia bisa nyantai."
"Harusnya dari dulu abangmu itu melepaskan semua urusan PBK. Cukup memantau aja."
"Dia, kan, sama dengan Koko Chyou. Selalu pengen turun tangan sendiri. Padahal bawahannya banyak "
"Begitulah. Ujung-ujungnya mereka ngeluh kecapean dan kurang waktu buat keluarga."
"Bagian itu, Abang dan Koko Dante menang dari mereka."
"Aku nggak mau ribet dengan urusan sepele. Koko itu saklek. Lepas jabatan, berarti dia benar-benar nggak mau ngasih arahan. Semuanya aku mesti mikir sendiri."
"Itu ciri bos yang bijak, Bang. Senang menantang penerusnya supaya makin pandai."
"Tapi, Koko pelit. Aku minta ganti mobil, ditunda mulu."
"Dia sengaja, supaya Abang merengek terus."
***
Rinai hujan malam itu mengiringi acara bersantap di mansion milik Tanashree. Perempuan berleher jenjang itu tampak antusias mendengarkan ocehan Arthit, hingga pria tersebut berhenti mengoceh.
"Ree, sebetulnya aku ke sini punya tujuan khusus," tutur Arthit.
"Bahasamu sopan sekali. Aku jadi curiga, kamu mau memintaku menjadi partner di pesta," seloroh Tanashree.
"Ternyata kamu sudah tahu."
"Kapan acaranya?"
"Sabtu ini, di Pattaya."
"Oke."
"Kita berdua saja."
"Hu um."
"Latihan dansa dulu."
"Jangan injak kakiku."
"Tidak. Aku sudah mahir sekarang."
Selama puluhan menit berikutnya, kedua orang tersebut fokus berdansa. Tanashree kagum dengan kemajuan gerakan sahabatnya, yang tidak lagi menginjak kakinya, seperti yang sering dilakukan Arthit di masa silam.
Pada putaran terakhir, Artio meminta Tanashree mengulangi gerakan hingga dua kali. Dia cepat-cepat memegangi perempuan itu ketika Tanashree kehilangan keseimbangan.
Arthit tersenyum kala perempuan tersebut memukul pelan pundaknya, sebelum Arthit menegakkan tubuh dan Tanashree bisa memperbaiki posisi badannya.
Bunyi bel pintu mengejutkan keduanya. Tanashree melepaskan diri dari pegangan Arthit, lalu dia melenggang untuk membuka pintu depan.
Satu buket bunga besar menghalangi pandangan Tanashree, hingga dia tidak bisa melihat orang yang tengah memegangi buket. Belum sempat Tanashree bertanya, orang itu menerobos masuk dan memberikan buket.
Samudra memandangi Tanashree yang tampak kaget dengan kehadirannya. Kemudian pria berkemeja hitam itu beralih mengamati lelaki berkemeja putih, yang balas menatapnya dengan santai.
Samudra menyambangi pria di tengah-tengah ruangan. Dia menyalami Arthit seraya menyunggingkan senyuman tipis.
"Hello, aku, Samudra Adhitama," cakap pria berbadan tinggi besar, dalam bahasa Inggris.
"Salam kenal. Aku, Arthit Rattana," jawab pria berkulit putih.
"Aku baru tahu, kalau kamu adalah sahabat calon istriku."
Arthit tertegun sesaat. "Calon istri?"
"Ya. Apa Ree tidak cerita padamu?"
"Tidak."
"Dia bohong. Aku bukan calon istrinya," kilah Tanashree sembari menghampiri kedua pria tersebut.
"Kita sudah deal, Honey," kukuh Samudra.
"Aku sudah menolak. Apa kamu tidak paham?"
"Tidak."
Tanashree mengeraskan rahang, lalu dia mendekati Arthit dan menggandeng lengan kanan pria tersebut. "Ini pacarku."
Samudra mengangkat alisnya. "Aku tahu kalau kamu bohong. Kalian cuma sahabatan."
Tanashree menggeleng. "Aku serius. Ya, kan Sayang?" tanyanya sambil melirik Arthit, yang spontan mengangguk.
Samudra menyipitkan mata. "Kalau begitu, Arthit, kamu harus tahu, jika pacarmu sudah tidur denganku."
"Apa?" Arthit membeliakkan matanya.
"Itu tidak benar!" desis Tanashree.
"Jangan membantah, Ree. Ada saksi dan bukti pemesanan hotel," ungkap Samudra.
"Kamu!"
"Kita harus segera menikah, karena mungkin saja saat ini kamu sedang mengandung anakku."
"Tidak mungkin!"
"Kenapa tidak mungkin? Aku tidak menggunakan pengaman, dan kita berulang kali bercinta."