05
Satu tamparan mendarat di pipi kiri Samudra. Namun, pria itu tidak marah dan justru tersenyum miring. Samudra maju sedikit, lalu memajukan wajahnya mendekati Tanashree yang balas memelototinya.
"Ayo, tampar lagi," tantang Samudra. Dia menarik tangan kanan Tanashree dan mengarahkan ke pipinya. "Kenapa diam?" desaknya.
Tanashree menggertakkan gigi. Dia menghempaskan tangan kanan, tetapi gagal. Tanashree memukuli Samudra dengan tangan kiri sembari memaki pria itu dalam bahasa Thailand.
Arthit bergegas menarik sahabatnya, supaya menjauhi Samudra. Arthit kaget kala tubuh Tanashree melemas, sebelum perempuan itu terkulai dalam pelukannya.
Samudra terhenyak, sebelum mendekat dan membantu Arthit menggotong Tanashree ke kamarnya. Perempuan berambut panjang itu direbahkan ke kasur, lalu Arthit menelepon Yori untuk segera datang.
Samudra mengedarkan pandangan ke sekeliling, sebelum dia menyambangi meja rias untuk mencari apa pun yang beraroma tajam. Pilihan Samudra jatuh pada botol kecil kaca hijau, dan dia membawa benda itu ke kasur.
"Apa itu?" tanya Arthit yang tengah memijat kepala Tanashree.
"Eucaliptus," jawab Samudra sembari mengoleskan cairan mirip minyak kayu putih itu, ke bawah hidung Tanashree.
"Harusnya kamu jangan mendesaknya seperti itu. Akibatnya begini."
"Aku kesal, dia menamparku lagi. Jadinya aku spontan melawannya dengan cara itu."
"Menamparmu lagi?"
"Ya, ini ketiga kalinya dia menamparku."
Arthit hendak kembali bertanya, tetapi tertunda karena kehadiran Yori dan pengurus mansion. Arthit mengajak Samudra keluar kamar dan berpindah ke balkon. Kedua pria berbeda tampilan itu duduk berhadapan di kursi, lalu mereka saling menatap.
Arthit meminta Samudra menerangkan peristiwa yang tadi disebutkan pria itu. Arthit mendengarkan dengan serius tanpa menyela sedikit pun. Hingga Samudra usai bertutur.
"Ternyata begitu," ucap Arthit. Dia mengamati pria yang lebih tinggi sedikit darinya itu sesaat, lalu dia berkata, "Wajahmu sekilas memang mirip dengan Zack. Terutama bentuk wajah dan postur kalian yang sama-sama besar. Ditambah rambutmu juga modelnya sama dengan dia. Hingga Ree salah paham."
"Dan aku benci karena disamakan dengan si bo-doh itu!" sungut Samudra.
"Kamu sudah tahu tentang kisah mereka?"
"Ya. Aku dapat info dari Yori."
"Kupikir, karaktermu juga ada kesamaan dengan Zack, yaitu pemaksa. Dan itu yang buat Ree kurang menyukaimu."
Samudra terdiam. Ucapan Arthit menyentil egonya, karena ternyata kemiripannya dengan Zack cukup banyak. Samudra mendengkus pelan sambil menyugar rambutnya dengan sedikit kasar.
"Jawab dengan jujur. Apa kalian memang pacaran?" tanya Samudra.
"Tidak," jawab Arthit. "Aku menyayanginya sebagai Adik dan sahabat. Aku juga tidak bisa mencintainya, karena ... dia adalah pasienku," sambungnya yang mengejutkan Samudra.
"Pasien?"
"Ya. Aku psikiaternya."
"Hmm, apa dia depresi?"
"Betul. Butuh waktu setahun pengobatannya. Tapi, semuanya lenyap, setelah dia bertemu denganmu. Padahal dia baru sebulan kembali ke sini."
"Setahun, dia di mana?"
"Yunani, tempatku tinggal."
Samudra manggut-manggut. "Kami, maksudku, PG, punya resor di sana. Gabung dengan keluarga Paraskevas."
"Mereka pengusaha terkenal."
"Ya." Samudra berpikir cepat, sebelum dia bertanya "Menurutmu, apa yang harus kulakukan untuk mendapatkan Ree?"
Arthit mengangkat alisnya. "Kamu benar-benar serius dengannya?"
"Betul."
"Aku penasaran. Kenapa kamu bisa langsung menginginkannya jadi istrimu? Padahal kalian baru bertemu?"
"Apa kamu percaya ramalan tetua tempo dulu?"
"Tidak terlalu, tapi aku menghargai budaya leluhur."
"Kapan kamu ada waktu? Karena ini ceritanya panjang, dan kurasa, aku memang butuh masukan dari psikiater."
***
Hari berganti. Tanashree mulai penasaran, karena Samudra tidak pernah lagi menelepon ataupun datang tiba-tiba ke mansionnya. Perempuan berhidung bangir itu akhirnya meminta Yori untuk mencari tahu ke resepsionis.
Yori kembali kr ruang kerja sang bos guna menyampaikan informasi, bila Samudra telah check out, tepat sehari setelah pertengkaran pria itu dengan Tanashree, yang menyebabkan perempuan tersebut pingsan.
Tanashree termangu. Dia tidak menduga bila Samudra akan langsung menjauhinya. Tanashree merasa bersalah, karena telah kembali lepas kendali, hingga menampar Samudra.
Sepanjang pagi hingga sore itu Tanashree gelisah. Dia sudah berulang kali menelepon Samudra, tetapi tidak tersambung. Begitu pula dengan Xander yang bahkan sama sekali tidak bisa dihubungi.
"Ri, apa kamu punya nomor telepon Kenji?" tanya Tanashree.
"Ada, Nona," jawab Yori.
"Telepon dia, aku mau bicara," pinta Tanashree.
Yori menelepon Kenji hingga berulang kali, tetapi nomornya tidak aktif. Yori beralih menghubungi Kairav, tetapi gagal. Yori berpikir sejenak, sebelum memandangi Tanashree yang terlihat cemas.
"Kenji dan Kairav tidak bisa dihubungi, Nona," ucap Yori.
Tanashree mendengkus pelan. "Ke mana mereka?"
"Nona, aku mau menghubungi asisten Tuan Xander."
"Ya, lakukanlah."
Selama sekian menit berikutnya, Yori terlibat perbincangan dengan Dakota. Namun, Yori tidak bisa mengorek keterangan apa pun, karena Dakota mengaku tidak tahu tentang keberadaan bosnya dan juga Samudra, serta kedua ajudan.
Sementara itu, di Jakarta, Samudra tengah duduk di kursi teras belakang rumah adiknya. Tatapan kosong diarahkan pria itu pada sekelompok bocah dan remaja, yang tengah membantu Zulfi membersihkan kolam ikan.
Seorang perempuan berdaster hijau motif daun, menyambangi Samudra. Dia meletakkan nampan ke meja, lalu duduk di samping kanan pria berkaus abu-abu.
Sabrina mengamati Samudra yang sejak tadi melamun. Sabrina teringat cerita Xander dan Kenji, tentang kelakuan Samudra di Thailand.
"Siapa namanya, Bang?" tanya Sabrina.
"Ha? Siapa?" Samudra balas bertanya.
"Perempuan yang tengah Abang pikirkan."
"Enggak ada."
"Jangan bohong. Aku sudah dengar semuanya."
Samudra berdecih. "Siapa yang cerita?"
"Xander."
"Bukan Kenji?"
Sabrina menggeleng. Dia sengaja melindungi Kenji, karena tahu jika Samudra akan memarahi ajudannya, akibat melapor pada Sabrina. Namun, pada Xander, Samudra tidak akan berani marah.
"Aku lihat fotonya di hape Xander. Cantik dan tinggi. Tipe kesukaan Abang," tutur Sabrina.
"Hmm, ya," balas Samudra.
"So, namanya, siapa?"
"Tanashree Punprede."
"Unik. Panggilannya apa?"
"Ree."
"Usianya?"
"Tiga puluh."
"Berarti beda 12 tahun sama Abang. Masih okelah."
"Aku sudah memintanya buat jadi istri, tapi dia nolak."
"Alasannya?"
"Dia punya trauma sama mantan pacarnya. Sialnya, wajah si bren-gsek itu mirip denganku. Ree jadi benci sama aku."
Sabrina mengulum senyuman. "Nasib Abang buruk."
"Jangan ngeledek!"
"Aku ngomong apa adanya, Bang. Dari dulu, tiap suka sama cewek, ada aja kendalanya dan nggak bisa beneran nikah."
Samudra mendengkus. "Kupikir, ramalan gurunya Kakek Edwars itu betul. Jodohku sulit ditemui."
"Aku lebih percaya dengan terawangan Pak Mulyadi. Beliau bilang, Abang akan ketemu jodoh di umur 42, dan umur Abang sudah segitu."
"Bantuin aku, Na. Stres berat ini."
"Abang coba rayu Ree lagi. Kalau dia masih nggak mau, berarti Abang terima aja perjodohan dari Papa."
"Tapi, Na ...."
"Yang penting nikah, Bang. Nanti juga bisa cinta. Orangnya baik, kok, dan sayang banget ke orang tua kita."
"Aku, tuh, ...."
"Jangan banyak alasan. Ingat, anak laki-laki Papa cuma 1. Sudah tugas Abang menurunkan nama Adhitama pada anak-anak Abang."
"Anak-anakmu sudah cukup buat meneruskan keturunan keluarga kita."
Sabrina menggeleng. "Mereka separuh Adhitama. Jelas beda dengan anak Abang. Selain itu, Papa dan Mama pasti akan sangat bahagia, bila punya cucu laki-laki dari garis dar-ah asli."