06
Tanashree terbangun sambil terengah-engah. Dia memerhatikan sekeliling, sebelum mengembuskan napas lega, karena masih berada di kamarnya, dan bukan di tempat asing dalam mimpinya tadi.
Tanashree bangkit duduk dengan bertumpu pada kedua siku. Dia mengusap keringat di wajah dan leher dengan ujung lengan gaun tidurnya. Kemudian Tanashree menggapai gelas dari meja samping kanan dan meneguk air hingga tersisa separuh.
Setelah meletakkan gelas kembali, Tanashree memandangi dinding dengan tatapan kosong. Dia teringat tentang mimpi buruk tadi dan seketika bergidik.
Perempuan berambut panjang itu kembali berbaring. Dia memejamkan mata dan mencoba kembali tidur. Namun, usaha Tanashree gagal, hingga dia bangkit lagi dan berdiri.
Tidak berselang lama, Tanashree telah berpindah ke sofa. Dia menyalakan televisi, lalu menyambar kotak kue di meja, dan menikmati kudapan itu tanpa memikirkan timbangannya, yang mungkin akan naik.
Gerakan mengunyah Tanashree seketika berhenti, seusai melihat berita tentang Indonesia. Tanashree kembali teringat sosok Samudra yang seolah-olah lenyap ditelan bumi.
Tanashree menjengit, saat mendengar bunyi bel pintunya. Perempuan itu mengernyitkan kening, sebelum berdiri dan jalan ke depan. Tanashree membuka pintu dan seketika terhenyak menyaksikan sang tamu, yang tengah berdiri tegak sambil menatapnya dengan intens.
"Hai," sapa Samudra. Sebelum dia menerobos masuk dan melenggang dengan santai.
Tanashree mendengkus pelan. Dia menutup pintu, lalu berbalik dan menyambangi pria yang mengenakan t-shirt hijau tua. Tanashree duduk di tempat semula, sambil mengamati Samudra yang sedang mengunyah cake dengan santai.
"Kapan kamu datang?" tanya Tanashree.
"Tadi siang," sahut Samudra. "Awalnya, aku mau mengajakmu dinner, tapi aku ketiduran dan baru bangun 1 jam lalu," sambungnya.
"Kenapa nomormu tidak bisa dihubungi?"
Samudra menatap perempuan di kursi samping kiri itu lekat-lekat. Dia nyaris tersenyum ketika Tanashree menutupi mulutnya dengan tangan kiri. Pertanda jika perempuan itu telah keceplosan bicara.
"Itu nomor sini, Honey. Tidak aktif, setelah aku tiba di Jakarta," jelas Samudra, sebelum dia berdiri dan berpindah duduk di sebelah kanan perempuan bergaun satin biru. "Apa kamu merindukanku?" godanya.
"Tidak," kilah Tanashree sembari menurunkan tangan.
"Lalu, kenapa kamu menghubungiku?"
"Aku cuma mau minta maaf, karena telah menamparmu lagi."
"Maafmu diterima, kalau kamu mau menikah denganku."
Tanashree melengos. "Sudah puluhan kali aku bilang tidak. Jangan terus memaksa."
"Belum sampai puluhan. Baru 8 kali."
"Terserah kamu, tapi jawabanku tetap ti ...."
Tanashree tidak bisa meneruskan ucapan, karena bibirnya dibungkam Samudra dengan ciuman hangat. Pria itu mendekatkan diri pada Tanashree dan mendekap perempuan yang tengah berusaha menjauh.
Samudra memperdalam pagutan. Dia menyelipkan lidah untuk mengulum lidah Tanashree, hingga perempuan itu terengah-engah. Samudra kian merapatkan tubuhnya, saat mendengar gumaman meluncur dari mulut perempuan dalam dekapan.
Tanashree memaki badannya yang berkhianat. Dia tambah kesal, karena jiwanya perlahan melayang seiring dengan ciuman Samudra yang kian panas. Tanashree melenguh kala tangan pria itu menyelusup ke bagian bawah gaun dan meraba serta mengusap paha, hingga bagian sensitifnya.
Tanashree mengerang, ketika Samudra mengusap bagian sensitifnya dengan gerakan ahli. Alih-alih bergeser menjauh, Tanashree justru refleks membuka pahanya, hingga tangan Samudra bisa bebes berkeliaran.
Tanashree menjerit tertahan saat jemari Samudra menerobos celah sempitnya yang telah basah. Erangan Tanashree kian mengencang setelah pria itu menggerakkan jemarinya dengan lincah, dan menimbulkan sensasi kenikmatan.
Samudra membaringkan Tanashree ke sofa. Dia menurunkan kain pelapis bawah tubuh perempuan itu, sembari terus mencumbui Tanashree. Samudra membuka kancing dan ritsleting celana jeans, lalu menurunkan benda itu hingga batas lututnya.
Pekikan Tanashree mengiringi cairan kenikmatan yang keluar dari bawah. Samudra tersenyum, sebelum memasuki tubuh perempuan tersebut yang telah sangat basah.
"Menikah denganku, Ree," bisik Samudra.
"Tidak," cicit Tanashree.
"Aku tidak akan berhenti menyiksamu, hingga kamu bilang mau."
"Aku tidak .... argh!"
Pagutan Samudra membungkam mulut Tanashree yang sudah sangat pasrah. Tubuh perempuan itu menggelinjang, sesaat setelah Samudra menarik diri dan kembali menyiksanya dengan jemari.
"Bilang, iya," pinta Samudra, sembari terus menciumi leher Tanashree.
"Ehm. Aku ...." Tanashree kesulitan bicara akibat jilatan Samudra di bawah rahangnya.
"Katakan, Sayang." Samudra menarik tangan dan berganti memasuki perempuan dalam pelukan. "Katakan!" desaknya, sebelum bergerak dengan lambat, dan sengaja menyiksa Tanashree yang lenguhannnya kian panjang.
Tanashree mencengkeram pundak lelaki yang berganti menggempurnya dengan semangat. Tanashree kehilangan akal sehat, dan menarik tengkuk Samudra untuk menciumi pria tersebut dengan rakus.
"Ya, aku mau," bisik Tanashree, setelah melepaskan pagutan.
Samudra tersenyum, lalu kembali menciumi perempuan itu, sembari memacu dirinya dengan lebih cepat. Tanashree menjerit, demikian juga dengan Samudra. Tubuh keduanya bergetar seiring dengan pelepasan cinta mereka yang bersamaan.
***
Kehadiran para tamu dari luar negeri sore itu, mengagetkan kedua orang tua Tanashree. Terutama setelah Samudra menerangkan maksud kedatangannya, yakni untuk meminang Tanashree.
Cleon Punpredee beradu pandang dengan istrinya, Swari. Keduanya seolah-olah tengah berbicara menggunakan bahasa batin. Sebelum mereka kembali mengarahkan pandangan ke depan.
Cleon menenangkan diri terlebih dahulu, sebelum menanyai putri bungsunya yang sejak tadi hanya diam dan menunduk. Cleon menanyai Tanashree dengan suara lembut, karena dia tahu jika hati anaknya itu sangat rapuh.
"Ya, Pa. Aku mau menikah dengan Sam," terang Tanashree seraya menengadah.
"Apa kamu sudah benar-benar yakin?" tanya Cleon.
"Hu um. Aku sudah memikirkan ini dengan serius."
Cleon terdiam sejenak, sebelum melanjutkan perkataannya. "Papa hanya khawatir, kejadian lama itu akan terulang kembali."
"Semoga saja tidak." Tanashree melirik ke kiri. "Aku yakin, dia tidak berniat jahat padaku. Berbeda dengan yang dulu," ungkapnya sembari memandangi sang papa dengan saksama.
Cleon manggut-manggut. "Papa sebetulnya tidak ingin menghalangi, tapi masalahnya, Papa belum tahu tentang kepribadiannya."
Tanashree menyenggol lengan kanan Samudra. "Papa mau tahu tentang pribadimu," bisiknya dalam bahasa Inggris.
Samudra menjentikkan jemari kiri dan Kenji langsung menyerahkan map hitam pada Cleon. "Itu CV-ku, Tuan. Silakan dibaca " tukasnya menggunakan bahasa Inggris. "Tuan juga bisa mengecek data ini, melalui nomor di kartu itu," sambungnya sembari menunjuk kartu hitam, yang dijepit di atas berkas.
"Ar tio Lak sa mana Pra mud ya," ujar Cleon sambil membaca nama yang tertera di kartu. "Dia ini, siapa?" desaknya.
"Bosku. Owner PG," jelas Samudra.
"PG? Apa itu?"
"Ada infonya di halaman ketiga."
Cleon membaca setiap paragraf itu dengan teliti. Swari mendekati suaminya guna ikut membaca isi lembaran. Tanashree menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Dia menjengit saat Samudra memegangi tangan dan menggenggam jemarinya.
"Aku tidak bisa menjawab sekarang, Samudra. Hal ini harus dibicarakan dulu dengan keluarga," cakap Cleon.
"Siap, Tuan," jawab Samudra.
"Aku harap kamu tidak tersinggung. Ini hanya, karena kamu orang asing, yang tiba-tiba datang dan melamar anakku."
"Aku paham."
"Kamu di sini, sampai kapan?"
"Minggu depan. Kalau bisa, sebelum aku pulang sudah ada keputusan. Karena aku akan menerangkan tentang ini ke keluargaku," pinta Samudra yang dibalas anggukan Cleon.